
Di dalam mobil, di sepanjang perjalanan Rhea enggan untuk berbicara, dia tidak seceria biasanya. Hanya saja jika dia ditanya pasti dia akan menjawabnya dan tak lupa senyumnya selalu dia sertakan agar tidak ada yang mengetahui jika dia kini sedang memikirkan suatu hal.
"Sayang, kenapa? Apa ada masalah?" Ustadz Fariz menyadari perbedaan pada sikap istrinya yang tidak seceria tadi.
Rhea hanya menggeleng sembari tersenyum. Kemudian Ustadz Fariz meraih tubuh Rhea dan membawanya dalam dekapannya. Kepala Rhea diletakkannya pada dadanya agar istrinya itu merasa nyaman dan bisa beristirahat. Mereka tidak lagi merasa sungkan pada Ustadz Jaki dan Umi Sarifah jika bermesra-mesraan, dan kebetulan Umi Sarifah duduk di sebelah Ustadz Jaki yang sedang mengemudi.
"Ya udah, istirahat aja nanti aku bangunin kalau udah sampai," ucap Ustadz Fariz.
Ustadz Fariz tersenyum melihat wajah Rhea yang masih menempel di dadanya yang juga melihatnya, kemudian dia mencium lama kening Rhea. Dan mereka saling melempar senyum manisnya ketika Ustadz Fariz melepaskan bibirnya dari kening Rhea.
Sungguh indah cintamu Bie, aku sangat bahagia kamu cintai seperti ini. Sungguh aku tidak akan bisa jika nantinya berpisah darimu. Ya Rab, tolong jaga hati suami hamba, jangan biarkan wanita lain mengambilnya dan mengambil hatinya dariku. Amin..., Rhea membatin sambil tersenyum melihat wajah suaminya yang sangat dicintainya.
Ada apa Sayang? Kenapa kamu murung seperti itu? Apa ada yang kamu sembunyikan padaku? Mengapa kamu tidak membagikannya padaku agar kamu tidak murung seperti ini? Ustadz Fariz pun berbicara dalam hati ketika mereka masih beradu pandang dan saling tersenyum.
Mobil berjalan masuk ke dalam gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin. Rhea mengetahui itu, dan matanya terpejam, dia berpura-pura tertidur karena dia ingin bermanja-manja dengan suaminya agar pikirannya tadi tidak lagi mengganggunya.
Dan benarlah, sesuai dengan dugaan Rhea. Tanpa mencoba membangunkannya, Ustadz Fariz segera menggendong istrinya itu ala bridal style berjalan masuk ke dalam rumah.
"Rhea tidur Le?" Umi Sarifah bertanya ketika melihat Ustadz Fariz menggendong tubuh Rhea berjalan masuk ke dalam rumah.
"Iya Umi, sepertinya dia kelelahan. Fariz bawa ke kamar dulu ya Umi," Ustadz Fariz melanjutkan langkahnya menuju kamarnya setelah mendapatkan anggukan dari Umi Sarifah.
Diletakkannya tubuh istrinya dengan sangat hati-hati. Tiba-tiba mata Rhea terbuka, dam tersenyum melihat ekspresi kaget dari suaminya.
"Nakal kamu ya," Ustadz Fariz mencubit gemas hidung Rhea dan mereka tertawa bersama.
"Bie, sini deh," Rhea menepuk ranjang sebelahnya.
Ustadz Fariz menuruti kemauan istrinya, dia merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya dan membawa tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
"Hubby janji kan gak akan tinggalin aku sampai kapanpun?" tiba-tiba Rhea mengeluarkan pertanyaan itu yang sedari tadi ingin dia tanyakan.
__ADS_1
Sebenarnya Rhea tahu jika suaminya tidak akan meninggalkannya ataupun mengkhianatinya, namun dia hanya ingin mendengar langsung dari mulut suaminya agar pikiran dan hatinya menjadi tenang.
"Sayang, kamu gak usah mikirin itu semua. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sampai kapanpun. Kamu tau bukan proses kita untuk bersama itu panjang dan penuh dengan ujian. Gak mungkin aku bisa dengan mudahnya meninggalkan kamu. Kamu pasti tau itu kan?" Ustadz Fariz menjawabnya berharap Rhea akan tenang dengan jawabannya.
"Aku tau Bie. Hanya saja meskipun aku tidak memikirkannya, pikiran itu tiba-tiba saja selalu datang, dan itu... itu membuat aku takut. Aku takut jika sewaktu-waktu Hubby meninggalkanku demi wanita lain," suara Rhea melemah seiring ucapannya berakhir.
"Astaghfirullahaladzim.... Sayang kenapa punya pikiran seperti itu? Kamu tau kan cintaku tidak selemah itu, meskipun aku berniat mengenyahkan rasa itu sewaktu dulu kita punya pasangan masing-masing, nyatanya sampai sekarang rasa cinta itu lebih menguat dan tidak bisa dihilangkan. Aku mohon Sayang, aku mohon kamu gak usah memikirkan hal itu lagi. Dan aku janji, aku akan melindungi cinta kita. Kamu harus janji tidak memikirkan hal itu lagi ya," Ustadz Fariz menatap lekat manik mata Rhea yang sudah berkaca-kaca mendengar ungkapan cinta darinya.
"Aku sangat mencintaimu istriku... Zahra ku... pemilik hatiku," Ustadz Fariz kembali mencium kening Rhea yang membuat air mata Rhea mengalir ke pipi karena matanya terpejam, kemudian ciuman itu beralih kepada kedua mata Rhea agar matanya tidak lagi mengalirkan air mata dan terakhir bibir mereka bertemu, saling menyambut seolah mengungkapkan perasaan mereka yang sangat dalam.
Di dalam kamarnya, Ustadz Jaki merebahkan tubuhnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia sangat bahagia, keinginannya dari dulu untuk menikahi Shinta dan menjadikannya untuk menjadi istrinya akan segera terwujud.
Selama ini dia belum memberanikan diri untuk mendekatinya, dia merasa tidak pantas untuknya. Namun ketika mereka bertemu pada saat membawa Mirna pada waktu itu membuat Ustadz Jaki sadar bahwa Shinta bukanlah orang sombong seperti yang teman-temannya bicarakan. Mungkin sombongnya Shinta karena dia selalu menolak perasaan laki-laki yang mendekatinya.
"Aaah... berasa dapat jackpot dah dapat istri yang belum pernah pacaran. Shinta... Shinta... I love you full dah... ," Ustadz Jaki benar-benar terkena penyakit cinta yang selalu membuat orang waras menjadi seperti orang gila, dia tersenyum sambil berbicara sendiri di dalam kamarnya.
Drrrt.... drrtt.... drrtt...
"Assalamualaikum...," Ustadz Jaki mengucapkan salamnya ketika menerima telepon tersebut.
Wa'alaikumussalam..., jawab suara seorang wanita yang sedang ada dalam pikiran Ustadz Jaki.
"Shinta? Tumben telepon?"
Gak boleh nih?
"Boleh dong, seneng malahan. Cuma tumben aja kamu telepon malam-malam gini. Kangen ya.... baru aja ditinggal pulang, udah kangen aja," keluarlah sudah kejahilan Ustadz Jaki yang kini telah menggoda calon istrinya.
Dih, mana ada? Gak usah kepedean deh. Lagian udah nyampe rumah bukannya ngabarin dari tadi. Gak tau apa kalau ditungguin kabarnya? Shinta mengucapkannya dengan nada kesal.
"Cieee yang nungguin telepon dari calon suami," Ustadz Jaki kembali meledek Shinta.
__ADS_1
Cuma nunggu kabarnya aja kali.... Shinta meralat ledekan Ustadz Jaki padanya dengan nada malas.
"Sama aja Shinta..."
Udah ah bercandanya. Aku mau nanya nih, apa Rhea baik-baik aja? Dia gak mengalami kram perut lagi kan?
"Sepertinya gak deh, tadi dia memang agak sedikit aneh sih, tadi diam aja dia selama perjalanan di dalam mobil. Biasanya kan ramai tuh dia."
Jangan-jangan dia masih kepikiran yang tadi. Padahal udah aku larang dia untuk terlalu banyak memikirkan hal seperti itu, tapi yang namanya wanita apalagi dia sedang hamil, pasti pikiran itu tetap ada, bahkan mungkin pikiran itu bisa menghantuinya.
"Kamu ini ngomong apa sih Shin? Gak ngerti aku."
Huffftt... sebenarnya aku gak dibolehin Rhea untuk memberitahu kalian, tapi aku khawatir sama dia, mangkanya aku tanya ke kamu keadaan dia tadi bagaimana.
"Ada apa sih Shin? Udah ngomong aja, barangkali ini sangat penting kan kita bisa cari solusinya."
Tadi Rhea dengar kalian berbicara tentang Ustadzah Indri. Aku tau dia tadi sangat terpukul dan sedih meskipun dia mengetahui suaminya sangat setia padanya. Aku takut dia masih memikirkannya. Aku takut jika itu akan mempengaruhi kondisi kandungannya.
"Apa? Jadi kalian tadi mendengar semuanya? Pantas aja dia tadi diam terus di mobil sampai ketiduran."
Ketiduran? Jangan-jangan dia kepikiran soal itu tadi sampai ketiduran. Terus... terus... gimana? Dia ngomong apa?
"Ya gak ngomong apa-apa Shin, wong dia aja digendong sama Ustadz Fariz dari mobil ke kamar karena gak mau membangunkan Rhea."
Digendong? Wah... so sweet...
"Apaan sih, gitu aja pakai sweet-sweet an."
Ck, romantis tau gak? Aku yakin kamu gak bakal seperti itu kalau aku dalam keadaan yang sama seperti Rhea.
"Gak usah nunggu ketiduran, besok setelah nikah kita adakan acara gendong-menggendong, ok?!"
__ADS_1