
"Assalamu'alaikum Umi....," Dokter Shinta memberi salam pada Umi Sarifah dan mencium punggung tangan Umi Sarifah.
"Wa'alaikumussalam....," jawab Umi Sarifah dengan senyuman yang meneduhkan.
"Oh ini Dokter Shinta ya yang pernah ke sini waktu meriksa Rhea kan?" Umi Sarifah mengingat-ingat wajah Dokter Shinta pada waktu itu.
Dokter Shinta tersenyum malu serta mengangguk dan menjawab,
"Iya Umi."
"Eh Dokter Shinta, tumben Dok kesini? Ada perlu sama saya?" Rhea bertanya pada Dokter Shinta untuk menggoda Dokter Shinta dan Ustad Jaki.
"Enak aja, Shinta ke sini sama aku kok," sahut Ustad Jaki.
"Masa'? Gak percaya tuh," Rhea semakin gencar menggoda Dokter Shinta dan Ustad Jaki.
"Tanya aja sendiri itu sama Shinta," jawab Ustad Jaki.
"Beneran Dok?" tanya Rhea pada Dokter Shinta.
"Jangan panggil Dokter kalau tidak sedang bertugas, panggil Shinta saja," pinta Dokter Shinta pada Rhea.
Rhea pun mengangguk setuju, dan dia mengulangi pertanyaannya,
"Beneran kamu ke sini sama Ustad Jaki?"
Dokter Shinta akan menjawab, namun terdengar suara dering telepon dari ponsel Ustad Jaki, sehingga Dokter Shinta tidak jadi menjawab pertanyaan dari Rhea, dan Ustad Jaki pun menerima telepon tersebut.
"Assalamu'alaikum... iya Ustadzah, sebentar lagi saya akan ke sana. Assalamu'alaikum....," Ustad Jaki berbicara di telepon dengan Ustadzah Farida.
"Shin, aku ke Pondok Pesantren sebentar ya, setelah itu kita ke rumah kamu," ucap Ustad Jaki sebelum keluar dari rumah.
"Eh ngapain ke rumah Shinta?" tanya Rhea menjahili Ustad Jaki yang juga suka jahil padanya.
"Mau ngelamar. Udah ah aku berangkat dulu biar cepat selesai. Assalamu'alaikum....," Ustad Jaki mencium punggung tangan Umi Sarifah sebelum keluar dari rumah.
"Beneran Shin?" tanya Rhea pada Dokter Shinta.
Dokter Shinta mengangguk dan tersenyum malu. Sedangkan Umi Sarifah hanya mendengarkan dan tersenyum ketika mengetahui jawaban dari Dokter Shinta.
"Wah... Umi bakalan dapat mantu lagi nih," Rhea semakin menggoda Dokter Shinta dan membuatnya benar-benar malu.
"Udah... udah jangan digodain mulu. Shinta mau gak keliling Pondok Pesantren Al-Mukmin?" tanya Umi Sarifah pada Dokter Shinta.
"Mau Umi," jawab Dokter Shinta antusias.
"Ya sudah kamu diantar Rhea ya keliling Pondok Pesantren Al-Mukmin sambil melihat persiapan acara untuk besok," Umi Sarifah memerintahkan Rhea agar mengantar Shinta berkeliling Pondok Pesantren Al-Mukmin.
__ADS_1
"Ya udah yuk Shin kita ke sana," Rhea menggandeng tangan Dokter Shinta dan berjalan ke arah Pondok Pesantren.
Di setiap perjalanan ke Pondok Rhea dan Dokter Shinta bercerita banyak hal, tentang kehamilan Rhea dan tentang kejahilan Ustad Jaki pada Dokter Shinta dulu selama mereka satu kelas bersama di waktu SMA.
"Rhea, itu siapa?" Dokter Shinta bertanya pada Rhea.
Rhea mengikuti arah telunjuk Dokter Shinta, dan dia melihat Ustad Jaki sedang berbicara dengan Ustadzah Farida di depan panggung yang dihias oleh para santri untuk acara esok hari.
Ustad Jaki dan Ustadzah Farida sedang mengecek dekorasi panggung dan urutan acara untuk esok hari. Mereka tidak hanya berdua saja, karena di sana banyak para santri yang sedang mendekorasi panggung dan menata tempat duduk dan yang lainnya untuk acara esok hari.
Namun yang menjadi fokus penglihatan oleh Dokter Shinta hanya Ustad Jaki dan Ustadzah Farida yang sedang bicara berdua. Dan tatapan Ustadzah Farida pada Ustad Jaki seperti tatapan kagum terhadapnya.
Tiba-tiba saja raut wajah Dokter Shinta berubah, dari semula yang ceria ketika bercerita banyak hal dengan Rhea, kini menjadi kesal karena melihat Ustad Jaki dengan Ustadzah Farida.
"Oh itu, dia Ustadzah Farida. Kenapa, cemburu ya?" tanya Rhea dengan nada menggoda.
"Oh itu Ustadzah Farida?" celetuk Dokter Shinta setelah mendengar nama Ustadzah Farida dari Rhea.
Ternyata dia Ustadzah Farida yang sering menghubungi Ustad Jaki, Dokter Shinta berkata dalam hatinya dan matanya tidak lepas dari Ustad Jaki yang sedang berbicara dengan Ustadzah Farida.
Rhea melihat perubahan ekspresi Dokter Shinta, dia mengerti jika kini Dokter Shinta sedang cemburu melihat Ustad Jaki dengan Ustadzah Farida.
"Yuk ke sana," Rhea menarik tangan Dokter Shinta untuk berjalan ke arah Ustad Jaki dan Ustadzah Farida.
"Assalamu'alaikum....," Rhea memberi salam ketika berada di dekat Ustad Jaki dan Ustadzah Farida.
Ustad Jaki dan Ustadzah Farida menoleh ke arah sumber suara berada. Ternyata di sebelah mereka sudah ada Rhea yang tangannya masih menggandeng tangan Dokter Shinta.
"Eh Shinta, kok nyusul ke sini, kangen Abang ya?" seperti biasa Ustad Jaki menggoda Dokter Shinta, namun kali ini dihadapan Rhea dan Ustadzah Farida.
Dokter Shinta melotot pada Ustad Jaki namun ada semburat merah di pipinya. Sedangkan Ustadzah Farida memperhatikan Dokter Shinta dari atas sampai bawah dan heran mendengar candaan Ustad Jaki pada Dokter Shinta.
"Aku mau pulang sekarang, biar aku naik taksi aja. Assalamu'alaikum....," Dokter Shinta berjalan cepat meninggalkan Rhea yang masih berdiri di sana.
"Loh... loh.. Shin, kok pulang sekarang, nanti aja aku antar. Shin... Shin... Shinta...," Ustad Jaki mengejar Dokter Shinta dan meninggalkan Rhea di sana bersama Ustadzah Farida.
Rhea tertawa melihat Ustad Jaki yang kewalahan membujuk Dokter Shinta untuk tetap tinggal menunggunya selesai mempersiapkan acara tersebut untuk esok hari.
"Siapa itu Mbak?" tanya Ustadzah Farida yang membuat tawa Rhea terhenti.
"Oh itu Ustadzah, dia Dokter Shinta," jawab Rhea.
Rhea tidak memberitahukan perihal kedekatan Ustad Jaki dan Dokter Shinta pada Ustadzah Farida karena dia merasa tidak berhak memberitahu hubungan seseorang pada orang lain. Biarlah mereka sendiri yang mengetahuinya ataupun orang yang bersangkutan sendiri yang memberitahu.
"Kok sepertinya deket banget ya sama Ustad Jaki?" Ustadzah Farida mencoba mencari tahu pada Rhea tentang hubungan Ustad Jaki dengan Dokter Shinta.
Rhea hanya menjawab dengan senyuman dan menggoda Ustadzah Farida.
__ADS_1
"Ustadzah Farida juga tadi deket banget sama Ustad Jaki. Tuh tadi aja jaraknya cuma satu meter," ucap Rhea sambil tersenyum.
Candaan Rhea membuat Ustadzah Farida malu, padahal niat Rhea hanya menghentikan Ustadzah Farida mencari tahu tentang kedekatan Ustad Jaki dan Dokter Shinta pada Rhea.
"Loh Sayang ngapain di sini? Nyariin aku?" tiba-tiba suara Ustad Fariz mengalihkan obrolan Rhea bersama Ustadzah Farida.
Ternyata Ustad Fariz sudah berada di dekat Rhea dan tersenyum padanya.
"Enggak Bie, tadi nganterin Shinta keliling Pondok Pesantren disuruh Umi," Rhea menjawab dengan senyum manisnya.
"Shinta? Dokter Shinta maksudnya?" tanya Ustad Fariz ingin tahu.
"Iya, tadi kan ke sini sama Ustad Jaki, terus ditinggal Ustad Jaki ke sini ngurusin ini katanya," Rhea menunjuk panggung yang berada tidak jauh dari mereka.
Bukannya meninggalkan tempat itu, Ustadzah Farida malah mendengarkan dengan seksama obrolan Ustad Fariz dengan Rhea.
" Lalu di mana mereka sekarang?" tanya Ustad Fariz yang heran tidak mendapati Ustad Jaki dan Dokter Shinta di sana.
Rhea menoleh pada Ustadzah Farida yang masih setia mendengarkan obrolannya dengan Ustad Fariz.
"Loh Ustadzah Farida masih di sini?" Rhea bertanya pada Ustadzah Farida yang masih berdiri dan menyimak obrolannya bersama suaminya.
"Eh, i-iya Mbak," Ustadzah Farida menjawab dengan kikuk karena sepertinya kehadirannya tidak diinginkan di sana.
"Ustadzah Anisa, saya tinggal dulu sebentar, kalau ada apa-apa hubungi saya saja," Ustad Fariz memanggil Ustadzah Anisa yang sedang berjalan ke arah lain.
Ustadzah Anisa menoleh dan mendekat ke arah mereka.
"Ada apa Kyai?" tanya Ustadzah Anisa yang ingin mendengar kembali perintah dari Ustad Fariz.
"Saya tinggal dulu Ustadzah, nanti kalau ada apa-apa atau ada yang mau ditanyakan, hubungi saya saja," Ustad Fariz mengulang kembali perintahnya pada Ustadzah Anisa.
"Oh iya, silahkan," jawab Ustadzah Anisa mempersilahkan Ustad Fariz untuk pergi.
"Yuk Sayang," Ustad Fariz menggandeng tangan Rhea meninggalkan tempat tersebut dan ketika berjalan tangan Ustad Fariz berpindah pada pinggang Rhea.
"Romantis sekali ya mereka," celetuk Ustadzah Farida melihat punggung Ustad Fariz dan Rhea yang berjalan berdampingan dengan tangan Ustad Fariz yang berada di pinggang Rhea.
"Iya, sepertinya mereka sangat bahagia dan saling mencintai," Ustadzah Anisa menambahi pendapat Ustadzah Farida.
"Eh ngapain kamu di sini?" tanya Ustadzah Anisa pada Ustadzah Farida.
"Tadi ngobrol sama Ustad Jaki di sini bahas acara besok," jawab Ustadzah Farida.
"Cieee yang lagi sering deket sama Ustad Jaki," Ustadzah Anisa menggoda Ustadzah Farida yang kini tersenyum malu.
Ustadzah Anisa dan Ustadzah Farida bersahabat sejak dulu, sehingga mereka saling bercerita satu sama lain. Dan Ustadzah Anisa pun mengetahui jika Ustadzah Farida menaruh hati sejak dulu pada Ustad Jaki.
__ADS_1