
"Bie, kok kayaknya Ustadzah Anisa suka ya sama Ustad Jaki," Rhea bertanya pada Ustad Fariz ketika mereka sudah berada di teras rumah sambil menikmati kue dan teh yang disiapkan oleh Rhea.
"Biarkan aja Sayang, bukan urusan kita," jawab Ustad Fariz dengan senyumnya yang ditujukan pada istrinya.
"Iya sih, cuma tadi....," ucapan Rhea menggantung, ragu untuk memberitahukan pada suaminya.
"Kenapa?" tanya Ustad Fariz ingin tahu.
"Ya tadi Ustadzah Farida tanya-tanya tentang Shinta dan tanya kedekatan Ustad Jaki dengan Shinta. Mmmm... ada lagi, tatapan Ustadzah Farida pada Ustad Jaki seperti tatapan mendamba gitu," jawab Rhea sambil mengingat-ingat ucapan Ustadzah Farida dan ekspresi Ustadzah Farida ketika bertanya padanya serta cara pandang Ustadzah Farida pada Ustad Jaki.
Ustad Fariz hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi perkataan istrinya. Dan dia baru ingat jika belum menanyakan tentang Ustad Jaki.
"Lalu Ustad Jaki sekarang di mana?" tanya Ustad Fariz sambil menengadahkan wajahnya pada wajah istrinya yang semakin hari semakin dia cintai.
"Ngejar Shinta yang mau pulang sendiri, padahal rencananya tadi mau diantar pulang setelah Ustad Jaki menyelesaikan urusan persiapan acara buat besok. Tapi sayangnya Shinta minta pulang sendiri gara-gara melihat Ustad Jaki bicara sama Ustadzah Farida tadi. Sepertinya Shinta cemburu sama Ustadzah Farida," Rhea bercerita dengan sangat antusias membuat Ustad Fariz tersenyum melihat ekspresi istrinya ketika bercerita.
"Jadi tadi Ustad Jaki yang ngajakin Shinta ke sini?" tanya Ustad Fariz yang masih ingin melihat ekspresi istrinya ketika bercerita.
"Iya, katanya mau sekalian ke rumah Shinta, mau ketemu orang tuanya," jawab Rhea sambil mengunyah kue yang ada di meja.
"Wah kemajuan dong," Ustad Fariz terkekeh, dia senang akhirnya Ustad Jaki bisa mendapatkan cinta pertamanya, seperti dirinya yang akhirnya bisa menjadikan Zahra nya, si cinta pertamanya menjadi istrinya.
Akhirnya Ustad Jaki gagal membujuk Shinta. Padahal Ustad Jaki sudah membujuknya semaksimal mungkin. Namun Ustad Jaki tidak tahu jika Shinta cemburu karena dia berdekatan dengan Ustadzah Farida.
Shinta hanya diam dan tidak menanyakan apapun tentang Ustadzah Farida padanya. Karena ini pengalaman baru untuk Shinta, dia hanya bisa menyimpannya dalam hati.
Apa begini ini rasanya menyukai dan mencintai seseorang? Hufft... sakit ternyata jika melihat orang yang kita cintai dekat dengan orang lain, Shinta berbicara dalam hati dengan satu tangan yang memegang dadanya.
__ADS_1
Akhirnya Ustad Jaki pulang dengan wajah lesu. Langkahnya tidak bersemangat, padahal sedari tadi pagi dia sangat bersemangat sekali karena rencananya akan menemui kedua orang tua Shinta.
"Mana Shinta nya Ustad?" tanya Rhea sambil matanya mencari keberadaan Shinta.
"Huffft...," hanya helaan nafas kekecewaan yang keluar dari mulut Ustad Jaki.
"Gak berhasil membujuk Shinta?" tanya Ustad Fariz pada Ustad Jaki yang kini sudah duduk di dekat mereka.
"Gak mau dianter, malah nekat pulang sendiri naik kendaraan online," jawab Ustad Jaki lesu.
"Hahahaha... Ustad sih pakai ngobrol berduaan sama Ustadzah Farida, cemburu kan tuh jadinya Shinta," Rhea terkekeh menertawakan Ustad Jaki yang biasanya selengehan kini menjadi lesu hanya karena seorang Shinta.
Ustad Jaki memandang ke arah Rhea kaget karena mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rhea.
"Hah, beneran Shinta cemburu?" Ustad Jaki antusias bertanya pada Rhea ingin tahu yang sebenarnya dan ada rasa bahagia mendengar bahwa Shinta merasakan cemburu padanya.
Rhea menganggukkan kepalanya dan berkata, "Sepertinya nama Ustadzah Farida udah terekam di otak Shinta pada saat itu, jadi sekarang setiap dia mendengar nama Ustadzah Farida, dia jadi gimana ya... mmm... seperti waspada mungkin. Tapi tadi dia kelihatan cemburu karena Ustad Jaki berbicara berdua dengan Ustadzah Farida."
"Meskipun gitu, yang berhadap-hadapan ngobrol kan cuma Ustad Jaki sama Ustadzah Farida, yang lain pada sibuk sendiri. Jadi fokus perhatian Shinta cuma pada kalian berdua" Rhea menjelaskan dari segi pandang Shinta.
"Mangkanya Ustad, hati-hati kalau mau ngobrol sama wanita, meskipun tidak ada niatan apa-apa dan tidak sendiri, tapi bisa disalah artikan sama wanita yang kita ajak ngobrol dan pasangan kita juga bisa salah paham," ucap Ustad Fariz yang seperti memberi nasehat Ustad Jaki namun berniat meledeknya.
Ustad Jaki mengernyitkan dahinya, dia bingung maksud dari ucapan Ustad Fariz.
"Disalah artikan sama wanita yang kita ajak ngobrol? Maksudnya?" tanya Ustad Jaki bingung.
"Ehemm... Ustadzah Farida kelihatannya suka sama Ustad Jaki. Tatapannya itu loh, beda sama kalau menatap ke orang lain," jawab Rhea sambil menahan senyumnya.
__ADS_1
"Hah, masa' sih?" Ustad Jaki bertambah bingung dengan apa yang disampaikan oleh Rhea.
Rhea mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membuat Ustad Jaki tidak percaya.
"Palingan juga bohong. Kamu kan suka jahil. Ustad, nih istrinya jangan suka jahilin orang," Ustad Jaki mengadu pada Ustad Fariz.
"Ketularan kamu jahilnya," Ustad Fariz membela istrinya dan mendapatkan senyuman senang dari Rhea.
"Ya udah kalau gak percaya, buktikan aja sendiri," ucap Rhea sambil terkekeh seraya berdiri dan menarik tangan Ustad Fariz untuk diajak masuk ke dalam rumah meninggalkan Ustad Jaki yang masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rhea mengenai Ustadzah Farida.
Pada sore harinya Ustad Jaki memutuskan untuk mendatangi rumah Shinta. Dia memantapkan dirinya untuk mendapatkan cinta pertamanya yang tidak pernah bisa dia lupakan selama ini.
"Mau kemana Le, kok pakaiannya rapi gitu?" Umi Sarifah bertanya ketika Ustad Jaki berjalan mendekati Umi Sarifah dengan penampilan yang rapi.
"Mau ke rumah Shinta Umi. Doakan ya Umi semoga Jaki bisa menjadikan Shinta sebagai menantu Umi," Ustad Jaki meminta doa pada Umi Sarifah seraya mencium punggung tangannya.
"Iya Umi doakan. Segera bawa dia jadi menantu Umi, biar tambah rame di sini," jawab Umi Sarifah yang mendapat anggukan kepala dan senyuman dari Ustad Jaki.
"Assalamu'alaikum...," salam dari Ustad Jaki sebelum keluar dari pintu.
"Wa'alaikumussalam....," jawab Umi Sarifah seiring kepergian Ustad Jaki.
Sesampainya di rumah Shinta, Ustad Jaki dengan berani dan tegasnya memperkenalkan dirinya serta mengutarakan keinginannya pada kedua orang tua Shinta.
Kedua orang tua Shinta menyambut kedatangan Ustad Jaki dengan tangan terbuka, mereka senang karena baru kali ini ada laki-laki yang serius berani datang ke rumahnya dan meminta restu pada mereka.
Banyak lelaki yang mendekati Shinta tapi tidak berani datang langsung ke rumahnya. Mereka hanya mengajak Shinta jalan ataupun makan, tetapi tidak meminta ijin pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kalau kita berdua sebagai kedua orang tuanya Shinta hanya bisa menyetujui pilihan Shinta. Kalau Shinta mau, ya kita setuju aja. Kita kasih restu kalian jika memang Shinta mau," Papa Shinta mengatakannya pada Ustad Jaki dengan senyum ramahnya.
"Shinta, gimana Nak, apa kamu mau menerimanya?" kini Mama Shinta yang bertanya pada Shinta.