
Andri Mahendra, kini yang berganti nama menjadi Pandu, mantan suami Rhea, dan sekarang sudah menjadi suami dari Ani. Dia masih saja ingin merebut kembali milik dia di masa lalu, karena memory nya mengatakan bahwa kehidupannya di masa lalu lebih indah, menyenangkan, bahagia dan tidak sesusah sekarang.
Pandu yang dikenal oleh Ani tidak seperti Pandu yang dia tahu hari ini. Sikapnya jauh berbeda. Pandu yang Ani kenal adalah Pandu yang penuh dengan kasih sayang dan tanggung jawab pada anak dan istrinya.
Tapi sekarang, hari ini Ani mendengarnya sendiri dengan indera pendengarnya. Pandu menginginkan masa lalunya kembali. Dia ingin mengambil kembali apa yang dia punya dulu sebelum dia kehilangan ingatannya.
Bagaimana ini? Bagaimana aku dan anak-anakku bisa hidup tanpa Mas Pandu? Bapak sudah tidak ada lagi bersamaku, apa aku bisa menjaga dan menghidupi anak-anakku sendiri? beberapa pertanyaan Ani pertanyakan dalam hatinya.
Ani hanya bisa duduk diam dan mendengarkan bersama dengan Hana di samping Pandu. Seolah tidak melihat mereka, Pandu masih saja dengan gigih meminta Rhea kembali padanya.
"Rhea, apa yang terjadi padamu hingga kamu berada di sini?" tanya Pandu setelah mereka semua berkumpul di ruang tamu seperti tadi.
"Aku rasa itu sudah menjadi takdir, dan aku bahagia berada di sini bersama keluargaku, bersama suami dan anakku," jawab Rhea dengan datar dan memandang suaminya serta tersenyum padanya ketika mengatakan itu.
"Apa kamu juga hilang ingatan seperti aku hingga kamu berada di tempat ini?" tanya Pandu kembali pada Rhea.
"Alhamdulillah aku masih seratus persen mengingat semuanya. Bahkan aku mengingat tentang Silvi. Lalu apa hubunganmu dengan Silvi?" tanya Rhea pada Pandu, mantan suaminya.
"Silvi?" celetuk Pandu dan dia tampak mengingat-ingat nama Silvi.
"Iya, Silvi sekretaris kamu dan selingkuhan kamu. Dia yang selalu menemanimu ke mana pun kamu pergi. Bahkan ke luar kota pun kalian selalu bersama. Dan dia ditemukan di dalam mobil bersamamu dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi," Rhea dengan mata berbinar menatap Pandu, dia antusias mengingatkan Pandu akan sosok Silvi dalam hidupnya.
"Kami selalu bersama karena dia sekretarisku," jawab Pandu tak kalah antusias dengan Rhea.
Rhea tersenyum meremehkan pada Pandu, kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Bahkan bersama dalam satu kamar di setiap hotel yang kalian singgahi?"
"A-apa?" Pandu kaget hingga dia gagap.
"Tidak perlu seperti itu, aku sudah tau semuanya. Dan aku tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi, karena Allah sudah mentakdirkan semuanya seperti ini. Mungkin kita hanya jodoh yang numpang lewat saja, dan kamu juga harus menerima semua itu," kini Rhea sudah tidak terbawa emosinya lagi.
"Itu semua karena Silvi. Dia yang selalu mengatakan jika diantara kita pasti ada yang tidak bisa menghasilkan keturunan, oleh sebab itu kita belum mendapatkan seorang anakpun waktu itu," tukas Pandu untuk membela dirinya.
"Astaghfirullahaladzim...," Ustadz Fariz, Rhea, Ustadz Jaki, Umi Sarifah dan Shinta beristighfar bersama.
"Lalu, apa itu yang membuatmu berselingkuh dengan wanita itu?" tanya Rhea dengan sedikit emosi, dia benar-benar sakit hati mendengar alasan dari Pandu.
Ustadz Fariz memegang erat telapak tangan Rhea agar dia lebih tenang dan tidak terbawa emosi.
"Dia ingin aku membuktikan jika aku tidak mandul," jawab Pandu dengan entengnya.
"Dengan berhubungan suami istri tidak hanya satu kali?" ucap Rhea dengan tersenyum sinis pada Pandu menanggapi jawaban dari Pandu.
"Dia selalu mengejekku dan memprovokasiku, jadi aku harus membuktikannya pada dia," jawab Pandu dengan entengnya seolah dia tidak bersalah.
"Itu hanya alasanmu saja. Sebenarnya kamu juga mau melakukan itu. Buktinya itu sudah terjadi lama sekali dan berkali-kali. Jika kamu memang tidak menginginkannya, pasti sampai kecelakaan itu terjadi kalian tidak akan bersama. Dan juga ada cara lain untuk membuktikannya, bukan hanya dengan cara salah seperti itu," Rhea benar-benar mengeluarkan semua kekesalan dan kemarahannya pada Pandu hingga air matanya menetes tanpa dia sadari pada saat mengatakan itu.
"Dia menjebakku. Dia selalu mengolok-olok kita yang belum juga mempunyai anak dan terus merayuku, bahkan dia sendiri yang datang ke kamarku karena dia yang mengurus setiap kali kita check in di hotel. Aku gak tau jika dia hanya memesan satu kamar saja. Aku gak cinta sama dia. Oleh sebab itu aku gak mau menikahinya meskipun dia selalu memaksaku. Itu karena aku hanya mencintaimu. Dan akhirnya terjadi kecelakaan itu karena ulahnya," Pandu kembali menjelaskan keadaannya pada saat itu.
"Apa maksudmu kecelakaan itu karena dia?" tanya Rhea yang sedikit kaget.
__ADS_1
"Karena dia memaksaku menikahinya. Aku gak mau dan dia terus memaksaku hingga mengancam akan mati bersama dengan mencoba merebut kemudi mobilku, sehingga mobilnya kehilangan arah dan masuk ke dalam jurang," Pandu menjelaskan pada Rhea bermaksud agar Rhea luluh padanya.
"Sudahlah, tidak usah berkelit. Kamu hanya beralasan saja. Jika memang kamu mencintaiku pasti kamu akan menolak dengan tegas pada saat dia merayumu," Rhea berucap dengan sangat berapi-api, hingga dia berhenti untuk bernafas sejenak.
"Tapi dia-"
"Ini sudah takdir kita. Allah tau yang terbaik untuk kita. Dan buktinya kita sekarang sudah membuktikan bahwa kita tidak mandul dan bisa menghasilkan keturunan. Karena Allah tau persis kapan saatnya kita mendapatkan rejeki dari Nya. Mungkin kita memang tidak diberi keturunan pada saat itu karena nantinya kamu akan seperti ini. Dan aku sangat bersyukur Allah memberiku akhir yang membahagiakan setelah aku mendapatkan ujian dari Nya," ucap Rhea dengan tegas dan menatap bengis penuh kecewa pada mantan suaminya itu.
"Tidak, kita tidak seharusnya seper-"
"Karena itu, sekarang aku minta kamu jangan ganggu hidupku lagi. Aku sudah sangat-sangat bahagia dengan keluargaku. Dan sudah saatnya kamu bahagia dengan keluargamu yang sekarang. Bertanggung jawablah pada mereka layaknya pria sejati," Rhea menyahuti ucapan Pandu, sehingga mantan suaminya itu tidak bisa meneruskan ucapannya.
"Tapi kita belum bercerai, kita masih suami istri yang sah di mata hukum dan agama," sahut Pandu tidak terima dengan ucapan dari Rhea.
"Jangan bermimpi. Kamu sudah dinyatakan meninggal oleh pihak kepolisian. Dan secara agama dan hukum, aku sudah menjadi istri dari suamiku yang sekarang. Lebih baik belajarlah terlebih dahulu tentang agama dan hukum jika kamu akan mengatakannya," ucap Rhea dengan tegas, kemudian dia beranjak dari duduknya dan menarik tangan Ustadz Fariz yang berada di sampingnya untuk pergi dari tempat itu.
"Wah... Rhea keren...," celetuk Ustadz Jaki sambil mengangkat jempolnya pada saat Rhea dan Ustadz Fariz akan meninggalkan tempat tersebut.
Shinta tersenyum dan salut dengan ketegasan Rhea yang selama ini jarang ditampilkannya.
"Ternyata seorang Rhea tidak selemah yang kita duga," ucap Shinta lirih.
"Karena dia Bundanya Izam. Seorang ibu akan melindungi keluarganya dengan cara apapun tanpa keluar dari jalur kebenaran," tukas Ustadz Jaki menanggapi ucapan istrinya.
Hal itu didengar oleh Ani, sehingga Ani merasa termotivasi oleh ucapan Ustadz Jaki yang dengan sengaja diucapkan untuk didengar oleh Ani.
__ADS_1
Sedangkan Pandu, yang merupakan mantan suami Rhea menatap punggung Rhea dan Ustadz Fariz dengan kesal seolah dia tidak terima dengan apa yang terjadi saat ini.
Kita lihat saja nanti, Pandu berkata dalam hatinya dengan senyum jahatnya.