
Berita bahagia atau berita sedih? Mirna dan Pandu sama-sama belum mengerti arah dari pernikahan mereka nantinya. Tujuan mereka hanya untuk bisa tetap berada di daerah tersebut.
"Bagaimana, apa kalian setuju?" tanya Pak Ratmo pada Mirna dan Pandu pada saat dia sudah duduk di depan mereka.
"Kami bersedia Pak," jawab Pandu mewakili Mirna dan dirinya sendiri.
"Alhamdulillah.... Kapan kalian menikah?" tanya Pak Ratmo kemudian.
Pandu menoleh pada Mirna untuk bertanya padanya, namun Mirna menundukkan kepalanya sehingga membuat Pandu tidak mendapatkan jawaban jika tidak bertanya langsung padanya.
"Mir, Paman akan mengabari Kakakmu untuk bisa datang kemari menjadi wali mu. Kapan sekiranya kalian akan melangsungkan pernikahannya?" Pak Ratmo kini bertanya pada Mirna.
"Mirna terserah Paman saja," jawab Mirna.
Mau kapanpun sama aja kan, gak bisa nolak juga, Mirna menggerutu dalam hatinya.
"Kalau Pandu bagaimana?" kini giliran Pak Ratmo bertanya pada Pandu.
"Saya juga terserah saja Pak," jawab Pandu dengan ragu.
"Kalau begitu secepatnya saja biar kalian tidak jadi omongan warga. Biar Paman kabari kakakmu dulu Mir," ucap Pak Ratmo sambil berdiri hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Mmm... Pak maaf, bagaimana dengan mas kawinnya? Apa Mirna mau seadanya yang saya punya?" tanya Pandu ragu pada Pak Ratmo.
"Kalau masalah itu sebaiknya kamu bicarakan pada Mirna. Tanyakan padanya apa yang dia mau," jawab Pak Ratmo dan dia kembali duduk untuk mendengar jawaban dari Mirna.
"Mir, bagaimana? Apa yang kamu mau untuk mas kawinnya?" tanya Pandu ragu-ragu.
Sebenarnya sedari tadi Pandu ragu untuk bertanya pada Mirna tentang mas kawin. Dia sadar diri jika sekarang ini dia tidak mempunyai apapun untuk diberikan. Jika dia dulu menikah bersama Ani, dia tidak perlu khawatir karena Ani tidak meminta apapun darinya.
Flashback
"Bagaimana dengan maharnya?" tanya mereka dengan dahi berkerut.
Mereka semua tampak berpikir, melihat bagaimana kondisi laki laki itu saat ini. Hanya ada satu setel pakaian yang melekat, dan tak mungkin juga pakaiannya yang akan menjadi mahar.
__ADS_1
Hingga salah satu dari mereka berceletuk.
"Apa kau tak punya apa pun selain pakaian yg melekat di tubuhmu? Apa pun itu, yang kau miliki?"
Suasana seketika hening. Laki laki itu tampak gugup, matanya menatap tubuhnya dari bawah ke atas, mencoba mengamati apa yang ia punya selain pakaian. Hingga gelengan lemah ia berikan.
"Apa kau bisa baca Fatihah?"
Laki laki itu menggeleng lagi. Semua yang menyaksikan itu menahan nafas.
"Apa kau bisa Basmalah?"
Dahi laki laki itu berkerut, hingga ia bergumam dengan pelan.
"Apa basmalah itu, bismillahirrahmanirrahim?" tanyanya polos.
Semua yang menyaksikan itu tersenyum.
"Ya, betul. Jika seperti itu, kita sepakat memakai mahar bismillah, bagaimana Ani?" tanya Pak Ratmo kala itu.
Anggukan kepala dari Ani membuat semua orang di tempat itu bisa bernafas lega.
Flashback end
"Mas kawin itu memang hak kamu Mir, tapi sebaiknya tidak memberatkan calon suami kamu," Pak Ratmo memberitahukan pada Mirna sebagai bahan pertimbangannya.
"Mir... Mirna, jawab itu pertanyaan Pandu," Pak Ratmo bertanya kembali pada Mirna.
"Mirna gak tau Paman. Terserah Mas Pandu aja deh," jawab Mirna lirih.
Apa yang bisa aku pikirkan kalau pernikahan ini saja karena maksud lain, Mirna berkata dalam hatinya.
"Ya sudah kalau begitu terserah kamu saja Pandu. Untuk perkara mahar sudah selesai. Sekarang tinggal tanggal pelaksanaan pernikahannya dan wali nikahnya. Paman tinggal dulu ya. Kalian sebaiknya cepat selesaikan pembicaraan kalian dan cepatlah tidur," ucap Pak Ratmo sebelum meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke kamarnya.
Setelah itu mereka membicarakan tentang kesepakatan pernikahan mereka dan bagaimana ke depannya. Mereka berdua sudah saling menyetujui dengan kesepakatan yang telah mereka buat.
__ADS_1
Keesokan harinya, Pak Ratmo membawa kabar berita tentang kedatangan kakak dari Mirna. Sebenarnya kakak Mirna sudah memberikan hak perwaliannya pada Pamannya, namun Pak Ratmo membujuk kakak Mirna agar mau datang sebagai wali dari adiknya. Dan beruntunglah Mirna karena kakaknya akhirnya mau datang untuk menjadi wali nikahnya.
"Mas Pandu, gak usah grogi gitu. Kan ini udah pernikahan yang kedua kalinya," ucap Anita ketika sedang mengantarkan Hana pulang.
Pandu hanya tersenyum pada Anita. Dan dalam hatinya dia berkata,
Pernikahan yang kedua gimana? Udah yang ketiga ini.
"Untuk maharnya sudah aman kan Mas?" tanya Anita pada Pandu.
"Apa kamu yakin hanya itu saja? Apa Mirna tidak marah?" Pandu berbalik tanya pada Anita.
"Mbak Mirna gak akan marah kok Mas. Kan Mbak Mirna sendiri yang mengatakan bahwa maharnya terserah Mas Pandu. Udah... Mas Pandu tenang aja," ucap Anita sambil terkekeh.
"Terima kasih Nit kamu sudah membantu saya untuk mencarikan maharnya. Jika tidak ada kamu pasti saya akan bingung memilihnya. Mana Mirna gak ngasih tau dengan jelas lagi maunya apa," ucap Pandu dengan menghela nafasnya.
"Itu tantangan untuk Mas Pandu," Anita menyahut sambil terkekeh.
"Mbak Mirna itu baik kok Mas sebenarnya. Cuma orang yang belum kenal sama dia saja yang beranggapan bahwa dia judes lah, suka marah-marah gitu. Tapi insya Allah Mbak Mirna gak akan seperti itu sama Hana dan Emir. Anita lihat Mbak Mirna sayang sama mereka berdua. Jadi sekarang tugas Mas Pandu adalah mengambil hatinya Mbak Mirna. Jangan putus asa Mas, semuanya pasti akan lebih baik lagi sesudah Mas Pandu dan Mbak Mirna menikah. Mungkin ini semua sudah takdirnya dari Allah," Anita menyambung kembali perkataannya.
Kenapa bukan kamu aja sih Nit yang menikah sama aku? Kamu baik, bijak dan sudah pasti menyayangi Hana dan Emir. Apa iya ini takdir kami yang harus menikah dengan situasi seperti ini? Pandu berkata dalam hatinya sambil memandang wajah Anita yang masih tersenyum padanya.
Setelah itu Anita pergi ke kamar Mirna untuk melihat persiapan pernikahan Mirna esok hari.
"Mbak Mirna kenapa melamun gitu? Grogi atau lagi mikirin malam pertama?" Anita menggoda Mirna.
Mirna menatap Anita dengan kesal dan kemudian dia berbicara,
"Kamu itu Nit, gak lihat orang lagi bingung apa?"
"Bingung? Bingung kenapa Mbak?" tanya Anita dengan wajah serius bersiap menyimak apa yang akan dibicarakan oleh Mirna padanya.
"Ya bingung aja Nit. Tiba-tiba aja aku harus nikah sama dia. Kita sama-sama gak ada ketertarikan apa-apa. Bagaimana nantinya rumah tangga kita?" ucap Mirna dengan lesu.
"Mbak Mirna selama ini melihat Mas Pandu bagaimana? Dia laki-laki yang baik bukan? Dan Mbak Mirna juga sayang sama Hana dan Emir. Jadi apalagi yang perlu dikhawatirkan Mbak?" Anita mencoba menenangkan Mirna.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum.."
"Siapa yang datang malam-malam begini Nit?"