Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 247 Apendisitis


__ADS_3

"Kenapa Zam?" tanya Ustadz Fariz yang ikut panik.


"Salsa Bi, Salsa sakit, sekarang mereka ada di warung bakso depan Pondok," jawab Izam sambil berjalan menuju pintu.


"Apa? Sama Yasmin?" tanya Ustadz Fariz yang ikut berjalan keluar ruangannya mengikuti Izam.


"Iya Bi. Izam mau ke sana dulu. Assalamu'alaikum," ucap Izam sebelum dia berlari meninggalkan Ustadz Fariz yang masih berjalan di belakangnya.


"Ustadz Jaki, aku harus memberitahu Ustadz Jaki tentang Salsa," Ustadz Fariz bermonolog seraya mengambil ponselnya dari saku celananya.


Izam berlari tanpa menghiraukan sapaan dari orang sekitarnya. Dia sangat cemas dan panik mendengar Salsa kesakitan. Yang diinginkannya saat ini hanyalah cepat sampai warung bakso tersebut.


"Yasmin, Salsa," sapa Izam dengan nafas tersengal-sengal ketika sudah sampai warung bakso tersebut.


Mata Izam menelisik seluruh ruangan warung bakso tersebut untuk mencari Yasmin dan Salsa.


"Kak Izam, di sini!" seru Yasmin yang berada di pojokan dengan berjongkok mengikuti Salsa melambaikan tangannya ke arah Izam.


Izam segera berlari kecil menuju tempat Salsa dan Yasmin berada.


Salsa berjongkok meringkuk dengan memegangi perutnya. Dia merintih dan meringis kesakitan, sedangkan Yasmin menemaninya dengan memegangi badan Salsa.


Kebetulan kondisi warung bakso masih sepi, hanya ada mereka yang sedang makan bakso saat itu. Dan kebetulan penjualnya sedang berada di belakang.


"Salsa kenapa?" tanya Izam panik dan dia ikut berjongkok di dekat Salsa.


"Sa-kiiiit... gak ku-at," jawab Salsa sambil meringis kesakitan.


Terlihat keringat dingin membanjiri wajah Salsa hingga hijabnya pun sedikit basah terkena keringat.


"Ayo cepat kita ke klinik Pondok," ucap Izam sambil membantu Salsa untuk berdiri.


Wajah Salsa sudah mulai sedikit pucat, dan dia lemas ketika akan berjalan sehingga tanpa berpikir panjang Izam membopong Salsa menuju Klinik Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Dengan langkah lebar dan cepatnya Izam berjalan menuju Klinik Pondok Pesantren Al-Mukmin.

__ADS_1


Dan kebetulan sekali dokter yang bertugas di klinik tersebut sedang berhalangan hadir dan dokter pengganti belum juga datang, hanya ada seorang perawat yang berjaga di klinik tersebut.


"Kita bawa Kak Salsa ke rumah sakit aja Kak," ucap Yasmin.


Izam pun mengangguk dan dia kembali membopong tubuh Salsa untuk keluar dari klinik itu.


"Zam, Salsa kenapa?" tanya Ustadz Jaki yang kebetulan lewat bersama dengan Ustadz Fariz.


Tadi Ustadz Jaki segera meninggalkan kelasnya ketika Ustadz Fariz menghubunginya menceritakan tentang Salsa. Niat Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki akan mendatangi warung bakso untuk menyusul mereka, tak disangka malah bertemu mereka di Klinik Pondok Pesantren Al-Mukmin.


"Perut Salsa sakit, di klinik gak ada dokternya. Ini mau ke rumah sakit," jawab Izam dengan cepat.


"Ya udah bawa cepat ke mobil," tukas Ustadz Jaki sambil berjalan cepat menuju rumah Ustadz Fariz untuk mengambil mobil mereka.


Banyak pasang mata yang melihat Izam membopong Salsa. Waktu itu mereka dikagetkan ketika Izam membopong Yasmin yang masih mereka panggil dengan nama Zahra, kini mereka kembali dikagetkan dengan melihat Izam membopong Salsa.


"Kok Ustadz Izam gendong Mbak Salsa sih? Apa mereka pacaran?" ucap salah seorang santri yang melihat mereka.


"Huss... kamu ini ada-ada aja. Gak boleh pacaran, tau gak?" sahut teman santri tersebut.


"Lah itu...," ucapnya sambil menunjuk Izam yang sedang berjalan cepat membopong Salsa menuju mobil.


Di dalam mobil, Salsa tak henti-hentinya merintih kesakitan dan wajahnya sangat pucat dengan keringat dingin membasahi wajah serta hijabnya.


Dia duduk bersandar di pundak Yasmin. Mereka bertiga duduk di belakang dengan Yasmin yang berada di tangah. Sedangkan yang mengemudikan mobilnya adalah Ustadz Jaki dan Ustadz Fariz berada di sebelahnya.


Rhea sangat panik dan cemas ketika tadi melihat Salsa, sangat disayangkan Rhea tidak diperbolehkan ikut karena sebentar lagi dia mengajar santriwati di Pondok sehingga dia hanya bisa mengiringi dengan doa dari rumah.


Sesampainya di rumah sakit, mereka sudah disambut Shinta di ruang UGD. Salsa pun segera ditangani oleh dokter yang bertugas.


Semuanya sangat panik menunggu di luar ruang UGD mengingat Salsa merintih dengan sangat keras dan keadaannya sangat lemas dan pucat.


Shinta yang ikut memeriksa bersama dengan dokter jaga UGD tampak keluar dari ruang UGD setelah beberapa saat memeriksa Salsa sejak kedatangannya ke UGD tersebut.


"Gimana Sayang keadaan Salsa?" tanya Ustadz Jaki pada Shinta.

__ADS_1


Ustadz Fariz, Izam dan Yasmin ikut mendekat ke arah Shinta dan dokter jaga UGD yang menangani Salsa.


"Salsa terkena apendisitis. Radang usus buntu nya sudah parah dan harus segera dilakukan pengangkatan usus buntu. Kita doakan saja semoga semua lancar," ucap Shinta sambil memegang tangan Ustadz Jaki.


"Tapi Manda, apa Salsa akan baik-baik saja?" tanya Izam yang terlihat sangat cemas.


Shinta tersenyum melihat kecemasan di raut wajah Izam. Dia berharap kecemasan Izam itu bukan hanya kecemasan biasa terhadap Salsa.


"Doakan saja ya supaya operasinya berhasil dan dia baik-baik saja," jawab Shinta sambil tersenyum.


"Kak Salsa," seru Yasmin memanggil Salsa ketika melihat Salsa yang terbaring di atas brankar keluar dari ruang UGD menuju ruang operasi.


Semua mata tertuju pada Salsa. Mereka mendekati Salsa dan memberikan dukungan dan doa padanya sebelum melakukan operasi.


"Salsa, kamu harus kuat. Kak Izam tau kamu perempuan yang hebat dan kuat. Kamu akan baik-baik saja. Kakak akan mendoakan kamu. Kamu harus berusaha agar cepat sembuh," ucap Izam tanpa berpikir.


Izam mengatakannya seiring langkahnya berada di samping brankar Salsa dan menatap penuh kecemasan pada Salsa serta mengikutinya hingga ke ruang operasi.


"Kak Izam, Salsa minta maaf. Maafkan Salsa," ucap Salsa lirih.


Entah mengapa hati Izam terasa sakit dan bergetar mendengar permintaan maaf Salsa dengan matanya yang berkaca-kaca serta wajahnya yang sangat pucat.


Langkah Izam terhenti setelah mendengar permintaan maaf dari mulut Salsa. Kini dia menatap tubuh Salsa yang berada di atas brankar itu masuk ke dalam ruang operasi.


Semua orang menunggu di depan ruang operasi. Mereka cemas tapi tak secemas Izam. Semuanya duduk menunggu di tempat tunggu depan ruang operasi.


Hanya Izam saja yang berjalan mondar mandir di depan ruang operasi. Dia sangat cemas dan tak henti-hentinya berdoa dalam hatinya.


Setelah beberapa saat, terlihat brankar yang keluar dari ruang operasi tersebut. Di atas brankar tersebut tampak Salsa yang masih belum sadarkan diri pasca operasi.


Kini Salsa dipindahkan ke ruang pemulihan.Di ruangan ini, dokter akan memantau tanda-tanda vital pasien, meliputi tekanan darah, denyut jantung, dan laju napas pasien.


Sedangkan usus buntu yang telah diangkat akan dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.


"Zam, Abi mau tanya sesuatu," ucap Ustadz Fariz ketika berada di Mushola Rumah Sakit tersebut.

__ADS_1


"Silahkan Bi," ucap Izam sambil mengarahkan badannya berhadapan dengan Ustadz Fariz.


"Sebenarnya apa yang kamu rasakan pada Salsa?" tanya Ustadz Fariz dengan tatapan menyelidik pada Izam.


__ADS_2