
"Ustadzah Indri?!" Ustadzah Farida dan Ustadzah Anisa kaget mendapati Ustadzah Indri yang tiba-tiba sudah berada di situ.
"Maaf tadi gak sengaja denger obrolan Ustadzah Anisa dan Ustadzah Farida," Ustadzah Indri menghampiri mereka.
Ustadzah Farida dan Ustadzah Anisa merasa canggung dan kikuk karena obrolan mereka di dengar oleh orang lain, padahal mereka tadi sudah memastikan tidak ada orang lain di sekitar tempat mereka berada.
"Gak usah kaget gitu Ustadzah, aku gak akan kasih tau yang lain kok," dengan senyumnya Ustadzah Indri meyakinkan Ustadzah Farida dan Ustadzah Anisa.
"Emmm.... Ustadzah Indri janji ya, soalnya malu kalau yang lain pada tau. Hehehe...," Ustadzah Farida meminta agar Ustadzah Indri merahasiakan apa yang dia dengar.
"Insya Allah Ustadzah. Tapi boleh kan aku gabung sama kalian? Soalnya aku juga butuh teman curhat," Ustadzah Indri meminta pada Ustadzah Farida dan Ustadzah Anisa.
Ustadzah Farida dan Ustadzah Anisa saling memandang, mereka heran dan bingung dengan permintaan Ustadzah Indri. Namun mereka merasa tidak enak jika menolak permintaan Ustadzah Indri. Jadilah mereka menyetujui permintaan Ustadzah Indri.
"Boleh Ustadzah, silahkan," Ustadzah Anisa menjawab dan diangguki oleh Ustadzah Farida.
"Ustadzah gak salahkan kalau kita mencintai suami orang lain?" Ustadzah Indri mulai menanyakan apa yang dirasakannya.
Ustadzah Anisa dan Ustadzah Farida saling menoleh dan berpandangan kembali, mereka heran dengan pertanyaan dari Ustadzah Indri.
"Menurut jumhur ulama mencintai suami orang hingga menyebabkan rusaknya rumah tangga lelaki tersebut hukumnya haram. Dan Imam Al-Haitsami dalam kitabnya berjudul Al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kabair menjelaskan bahwa merusak hubungan wanita dengan suaminya adalah sesuatu yang haram," Ustadzah Anisa menjelaskan pada Ustadzah Indri.
__ADS_1
"Perbuatan tersebut dikategorikan dalam dosa besar," Ustadzah Farida menambahkan penjelasan dari Ustadzah Anisa.
"Tapi perasaan cinta itu bukan kita yang mengaturnya," Ustadzah Indri masih dengan pemikirannya.
"Lebih baik lagi jika kita bisa mengendalikannya, lebih baik mengaguminya sebagai panutan daripada mencintainya sebagai seorang laki-laki jika dia sudah beristri," tutur Ustadzah Anisa pada Ustadzah Indri.
"Bukankah lelaki bisa poligami jika dia mau?" Ustadzah Indri masih saja membenarkan pemikirannya.
"Tapi tidak dengan cara merusak rumah tangga mereka Ustadzah. Bukannya Ustadzah Indri sudah tau semua itu?" Ustadzah Anisa seperti agak kehilangan kesabarannya.
"Kan usaha dulu Ustadzah. Kalau gak diusahakan gak bakalan berhasil," ucap Ustadzah Indri sambil terkekeh.
"Memangnya Ustadzah Indri suka sama orang yang sudah beristri?" kini Ustadzah Farida menanyakan kecurigaannya.
"Beneran? Siapa orang itu Ustadzah?" Ustadzah Farida bertanya kembali karena merasa penasaran.
"Kyai Fariz," jawab Ustadzah Indri dengan entengnya dan itu sukses membuat Ustadzah Anisa dan Ustadzah Farida kaget dan mulut mereka sedikit terbuka sehingga satu tangan mereka menutupi mulut mereka yang terbuka.
Mata Rhea terbelalak dan berkaca-kaca, tangan kirinya mencengkeram kuat-kuat tepi gamis yang dia pakai. Dan tangan kanannya masih memegang ponsel yang merekam pembicaraan mereka mulai dari awal dia mendengar percakapan Ustadzah Farida dengan Ustadzah Anisa. Niatnya Rhea merekam percakapan mereka itu untuk ditunjukkan pada Shinta dan Ustad Jaki, namun kini dia mendapatkan fakta lain yang membuat hatinya sangat sakit.
Rhea segera bersembunyi di belakang tembok ketika para Ustadzah itu sudah mengakhiri obrolan mereka dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Beberapa detik Rhea tersadar ketika ponselnya bergetar ternyata Shinta mengirim pesan pada Rhea, menanyakan tentang permintaannya untuk memberitahukan agar Ustad Jaki menghubunginya.
Rhea segera membalas pesan dari Shinta dan mengirimkan rekaman suara tadi pada Shinta.
[Gawat, mereka akan segera bertindak]
Dengan perasaan yang gundah, Rhea melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan suaminya. Rhea bingung mencari suaminya ke mana, dia sengaja tidak bertanya pada suaminya di mana dia berada sekarang, karena Rhea ingin memberi kejutan padanya.
Mungkin Hubby ada di ruangan kantornya, aku ke sana saja siapa tau memang Hubby ada di sana, Rhea mengatakannya dalam hati seiring langkah kakinya menuju ruangan Ustad Fariz.
Dan ternyata Ustad Fariz, Ustad Jaki dan Ustad Bani berada di ruangan Ustad Fariz membicarakan sesuatu tentang Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Tok... tok... tok..
Rhea mengetuk pintu ruangan Ustad Fariz dan memberi salam.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumussalam...," jawab serentak oleh Ustad Fariz, Ustad Jaki dan Ustad Bani dari dalam ruangan tersebut.
Rhea tetap berdiri di depan pintu karena takut mengganggu pembicaraan mereka. Ustad Fariz bingung karena orang yang memberi salam tidak langsung masuk ke dalam setelah salamnya di jawab, maka dari itu Ustad Fariz membukakan pintu dan dia kaget karena melihat Zahra nya berdiri di luar pintu ruangannya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa berdiri di situ? Kenapa gak langsung masuk aja? Ayo masuk kamu pasti capek berdiri terus di depan pintu," Ustad Fariz merangkul pundak Rhea dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.