Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 150 Pondok Pesantren Al-Mukmin


__ADS_3

"Di daerah sini memang ada Pondok Pesantren Pak, tapi saya tidak tau Bapak bisa bekerja dan tinggal di sana atau tidak. Tapi bisa Bapak coba bertanya saja siapa tau memang rejeki Bapak dan keluarga Bapak bisa bekerja dan tinggal di sana," ucap Anita ragu-ragu karena kini kakinya sedang diinjak oleh Mirna.


Mirna takut jika nantinya mereka mengatakan pada Ustadz Fariz jika mereka bisa ada di sana karena diberitahu oleh Mirna. Memang sekarang ini Mirna dalam misi adem ayem untuk penyembuhannya dan untuk membuat mantan suaminya kembali percaya padanya jika dia sudah berubah. Harapan Mirna masih sangat besar untuk bisa kembali menjadi istrinya, oleh sebab itu dia berusaha untuk mengambil kembali kepercayaan mantan suaminya.


"Terima kasih Mbak atas infonya. Nanti saya akan coba ke sana, siapa tau memang rejeki saya dan keluarga saya bisa mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal di sana. Kami permisi dulu," ucap Pandu pada Anita dan Mirna.


Anita dan Mirna tersenyum paksa pada Pandu dan Hana. Kemudian Hana mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Anita dan Mirna, sesuai yang diajarkan oleh Ani dan Pak Minto mulai dari kecil.


"Eh pinternya, namanya siapa?" tanya Anita pada Hana dengan mengusap rambutnya setelah bersalaman dengan Hana.


"Hana Mbak. Nama Mbak siapa?" celoteh Hana yang memang sangat aktif berbicara semenjak kecil.


"Nama Mbak Anita dan ini Bu Mirna," jawab Anita sambil menunjuk Mirna.


"Bu Mirna, Hana mau salim," ucap Hana sambil mengulurkan tangannya di depan Mirna.


Mirna pun menerima uluran tangan Hana dengan terpaksa karena memang Mirna sebenarnya tidak begitu menyukai anak kecil, baginya mereka merepotkan. Namun melihat Hana yang manis dan menggemaskan membuat Mirna menyukainya. Tanpa sadar Mirna mencium pipi Hana dan Hana pun tersenyum senang.


"Da da Bu Mirna, Mbak Anita....," Hana melambaikan tangannya seiring kepergiannya dalam gendongan Pandu.


Mirna tersenyum senang dengan membalas lambaian tangan Hana tanpa sadar. Anita yang melihat Mirna tersenyum senang, karena setahu dia Mirna tidak pernah menyukai anak-anak. Karena itulah Anita berpikir jika Allah tidak memberikan anak pada Mirna karena dia tidak mempunyai sikap keibu-ibuan.


Namun sekarang pikiran Anita berubah, karena mungkin saja Mirna akan menyukai anak kecil apabila dia sudah dekat dengan anak kecil seperti Hana yang manis dan menggemaskan.


Dari situ Anita memiliki keinginan agar Mirna bisa dekat dengan Hana supaya Mirna bisa menyukai anak kecil di usianya yang semakin dewasa ini.


"Lucu banget ya Mbak si Hana," Anita mencoba mengetahui penilaian Mirna tentang Hana.

__ADS_1


"Iya, Hana manis dan menggemaskan, pinter lagi, sopan juga," jawab Mirna tanpa sadar sambil melihat kepergian Pandu yang menggendong Hana.


"Hana masih punya ibu gak sih Mbak? Kok mereka cuma beli dua bungkus aja?" tanya Anita dengan menampilkan wajah herannya.


Tiba-tiba raut wajah Mirna berubah kembali menjadi kesal. Dia membereskan piring-piring masih dengan wajah kesalnya sambil berkata,


"Ya mana aku tau. Coba aja kamu tanya sendiri sama mereka. Kenapa Nit, kamu naksir sama Bapaknya Hana?"


"Ih Mbak Mirna, apaan sih? Aku kan cuma nanya aja," Anita kini menjadi sewot karena apa yang dituduhkan Mirna tidak sesuai dengan apa yang dirasakan oleh Anita.


"Ya kali aja Nit. Kamu kan udah waktunya nikah," ucap Mirna sambil terkekeh.


Warung milik Mirna ini berada di daerah jalan raya. Setelah kabar perceraiannya dengan Ustadz Fariz didengar oleh kakak-kakak Mirna, mereka memberikan modal usaha pada Mirna agar Mirna tetap berada di sana dan tidak kembali lagi ke kota mereka, karena mereka malu dengan warga sekitar jika mengetahui tentang penyebab perceraian Mirna dengan Ustadz Fariz.


Pak Ratmo mengerti masalah tersebut, oleh sebab itu dia membantu Mirna untuk memiliki usaha sebagai penunjang hidupnya. Dan Anita lah yang membantu Mirna untuk mengelola warung tersebut dan memasak untuk warung tersebut. Memang masakan Mirna tidak seenak Anita, namun mereka tidak tahu lagi akan memiliki usaha apa jika tidak mendirikan warung nasi yang tidak begitu besar itu karena modal yang diberikan oleh kakak-kakak Mirna tidak banyak.


"Ibu....," seru Hana berlari menuju ibunya yang sedang duduk bersandar di bawah pohon di pinggir jalan.


"Ini nasinya, makanlah bersama dengan Hana," ucap Pandu sembari memberikan kantong plastik yang berisikan dua nasi bungkus.


Ani menerima kantong plastik tersebut dan membukanya. Kemudian dia mengeluarkannya dari kantong plastik tersebut.


"Kok cuma dua bungkus Mas?" tanya Ani heran sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya, takut gak cukup uangnya. Kita kan belum punya tempat tinggal dan pekerjaan. Kamu makan saja itu bersama Hana," jawab Pandu dengan menghela nafasnya.


"Ibu... Hana yang ada ayam gorengnya," seru Hana dengan gembira.

__ADS_1


Ani membuka kedua bungkusan nasi tersebut, kemudian melihat suaminya yang duduk di dekat Hana.


"Ayam goreng? Pasti mahal ya Mas?" ucap Ani sambil melihat Pandu dengan wajah sedihnya.


"Gapapa, kasihan Hana. Tapi maaf buat kamu aku hanya membelikan itu saja," Pandu menatap Ani dengan rasa bersalah.


"Ini lebih dari cukup Mas. Yang penting aku dan bayiku tidak kelaparan," Ani tersenyum untuk mengurangi rasa bersalah Pandu pada mereka.


"Ya sudah makanlah," ucap Pandu sambil menemani Hana yang sedang memakan nasi bungkusnya dengan lahapnya.


"Ini Mas, kita makan sama-sama," Ani mengatakannya sambil menyodorkan nasi bungkus yang sudah dibukanya.


"Tidak usah, aku tidak lapar. Lebih baik kamu makan sendiri saja supaya kamu benar-benar kenyang," Pandu menolaknya sambil mengarahkan kembali nasi bungkus tersebut di depan Ani.


"Emmmm.... enaaaaak...," Hana berceloteh sambil memakan ayam gorengnya dengan senyum yang tidak pernah pudar.


Ani dan Pandu tertawa mendengar Hana yang sangat bahagia memakan ayam goreng. Memang sudah lama mereka tidak makan ayam goreng, karena jika mereka akan makan ayam goreng, mereka akan menunggu besar dulu ayam yang mereka pelihara.


Pandu menghela nafasnya dengan berat. Tidak seperti yang dia bayangkan, karena pada kenyataannya jika membawa keluarganya ke tempat lain maka akan lebih sulit bagi mereka hidup di tempat asing. Berbeda jika dia bepergian sendiri.


Sekarang kita harus pergi ke mana? Aku tidak tau sama sekali daerah ini. Dan ingatanku tidak mengingat apapun tentang tempat ini. Oh iya Pondok Pesantren Al-Mukmin, apa kita harus pergi ke sana saja? Mungkin saja sama seperti yang Mbak tadi bilang. Siapa tau memang rejeki kami bisa diterima di sana, Pandu berkata dalam hatinya memikirkan nasib mereka ke depannya.


"Kita akan tinggal di mana Mas? Apa Mas udah mencari tau dari warga sekitar sini?" Ani bertanya pada Pandu disela makannya.


"Tadi penjual nasi bilang, di sekitar sini ada Pondok Pesantren. Mungkin saja mereka bisa memberi kita pekerjaan dan tempat untuk kita tinggal di sana," jawab Pandu sambil memperhatikan Hana yang tidak henti-hentinya berceloteh enak di setiap makannya.


"Pondok Pesantren?" tanya Ani untuk membenarkan pendengarannya.

__ADS_1


Pandu menoleh ke arah Ani dan menganggukkan kepalanya sambil berkata,


"Pondok Pesantren Al-Mukmin."


__ADS_2