Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 225 Kemalangan Zahra


__ADS_3

"Maaf Pak, Bu, Zahra harus dirawat. Seperti yang saya beritahukan waktu itu, akan berbahaya jika Zahra kepalanya kembali terbentur. Apalagi dia terjatuh dari tempat yang tinggi. Jadi sama seperti sebelumnya, kita akan memantau kondisinya seperti waktu itu."


Dokter Randi menjelaskan hasil pemeriksaan Yasmin pada Bu Yati dan Pak Anto.


Pak Anto menghela nafasnya berat, sedangkan Bu Yati terlihat sangat khawatir pada Yasmin.


Mereka berdua sangat menyayangi Yasmin seperti anak mereka sendiri, hanya saja kondisi keuangan mereka yang membuat mereka seperti tidak perhatian pada Yasmin.


Waktu mereka berdua habis untuk bekerja di klub malam milik Bos Leo agar hutang mereka bisa segera terlunasi. Naasnya, kini mereka kembali membutuhkan uang untuk biaya pengobatan dan perawatan Yasmin.


"Pak, biayanya gimana?" tanya Bu Yati dengan suara lirih pada suaminya.


Pak Anto kembali menghela nafasnya, kemudian dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk pertanyaan yang diberikan istrinya padanya.


"Pak, sepertinya kita harus meminjam kembali pada Bos Leo."


Bu Yati bersuara lirih di sebelah telinga suaminya.


"Bu, hutang yang kemarin saja belum lunas. Jika kita berhutang lagi pada Bos Leo entah sampai kapan kita akan terjerat hutang padanya," ucap Pak Anto dengan berat hati.


"Lalu bagaimana Pak? Sepertinya biayanya juga gak murah," Bu Yati kembali berucap.


"Bapak kan sudah bilang Bu, kita kembalikan saja bayi itu. Ibu sih ngotot aja mau merawatnya. Dan kita sekarang malah punya hutang banyak sama Bos Leo."


Pak Anto berkata dengan kesal pada istrinya, kemudian dia meninggalkan istrinya berjalan ke taman depan klinik tersebut untuk menjernihkan pikirannya.


"Sudah terlanjur Pak, mau gimana lagi? Kita pinjam uang Bos Leo saja untuk membiayai pengobatan Zahra," suara Bu Yati membuat Pak Anto terperanjat.


Ditolehnya ke belakang, dan ternyata Bu Yati sudah berada di belakang Pak Anto yang sedang berdiri di taman klinik tersebut.

__ADS_1


"Nanti, setelah ini Zahra bagaimana Bu? Apa dia akan kita tinggal sendiri di rumah? Tadi saja dia kita ajak ke tempat kerja, tapi Ibu bisa kecolongan. Zahra jatuh sampai seperti ini. Kasihan dia Bu, pasti menyakitkan untuk anak seusia dia bu, apalagi dia sudah pernah seperti itu ketika bayi," Pak Anto berusaha mempengaruhi istrinya.


"Lalu bagaimana Pak? Sudah terlambat mengembalikan anak itu. Kita juga sangat menyayanginya," ucap Bu Yati dengan kesal.


"Belum terlambat Bu, sebaiknya kita kembalikan saja. Kita serahkan anak itu pada pihak kepolisian," ucap Pak Anto dengan antusias.


"Ibu gak mau dipenjara Pak. Biar Ibu titipkan saja Zahra pada Maria, dia kan punya bayi juga, pasti dia bisa menjaga Zahra dengan baik," ucap Bu Yati dengan sangat antusias.


Bu Yati mengatakan apa yang ada dipikirannya saat tiba-tiba dia mengingat Maria, saudara sepupunya yang baru melahirkan sekitar sebulan yang lalu.


"Maria? Bu, apa Ibu sadar siapa Maria itu? Apa Ibu tidak takut jika Zahra nantinya akan terpengaruh dengan Maria?"


Pak Anto keberatan jika harus menitipkan Zahra pada Maria.


Maria merupak saudara sepupu Bu Yati yang juga tinggal di daerah tersebut. Setelah adanya pembangunan klub malam di daerah tersebut, Maria menjadi salah satu bagian wanita malam dalam klub itu. Tuntutan ekonomi membuatnya menerima tawaran tersebut.


Kini dia sangat menyesal dengan pilihannya itu. Dia hamil dan tidak mengetahui siapa ayah biologis dari anaknya. Hanya penyesalan yang kini dia dapat. Oleh sebab itu dia berniat menebus dosanya dengan melahirkan dan merawat bayi miliknya tanpa mengetahui siapa ayah dari bayinya itu.


Jadilah kini hutang mereka bertambah banyak pada Bos Leo. Rasanya setiap hari hutang mereka tidak berkurang, hutang mereka bertambah banyak seiring dengan bunga tinggi yang diberikan oleh Bos Leo pada mereka.


Satu minggu lamanya Yasmin di rawat oleh dokter Randi dan biaya selama satu minggu itu lebih banyak dari perkiraan mereka.


Hutang mereka semakin menumpuk dan mereka harus bekerja ekstra keras daripada sebelumnya.


Tidak ada jalan lain kecuali menitipkan Yasmin pada Maria. Meskipun berat, tapi mereka harus melakukannya karena tidak ada orang lain yang bisa dimintai tolong oleh mereka.


"Maria, tolong jaga anak kami," ucap Bu Yati ketika sudah berada di rumah Maria.


"Anak? Anak siapa ini?" tanya Maria dengan memperlihatkan wajah herannya.

__ADS_1


"Dia Zahra, anak kami," jawab Bu Yati kemudian.


"Tidak mungkin. Memangnya kapan Mbak Yati hamil? Aku tidak pernah melihat Mbak Yati hamil," ucap Maria mencari tahu dengan menatap Bu Yati penuh curiga.


"Jangan-jangan kalian...." ucapan Maria tidak bisa dilanjutkan, matanya memicing seolah mencurigai Bu Yati dan Pak Anto yang berada di depannya.


"Tidak. Bukan seperti itu," sahut Pak Anto kemudian.


"Coba kalian jelaskan. Jika kalian tidak menjelaskan, aku tidak mau menerima anak ini," ucap Maria dengan melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.


Bu Yati menoleh ke arah Pak Anto, dan Pan Anto pun menoleh ke arah istrinya. Kemudian Pak Anto menghela nafasnya berat.


"Baiklah akan kami ceritakan," ucap Pak Anto, kemudian dia menceritakan awal mula bertemu dengan baby Yasmin hingga sampai sekarang.


"Kalian gila? Apa kalian tidak kasihan dengan orang tua anak ini?" Maria beranjak dari duduknya dan memandang kesal pada Bu Yati serta Pak Anto.


"Aku memang bukan wanita baik-baik, tapi aku tidak akan tega memisahkan anak dengan orang tuanya. Sekarang lebih baik kalian bawa saja anak ini ke kantor polisi," ucap Maria yang kemudian duduk kembali ke tempat duduknya semula.


"Maria, cobalah mengerti Mbak. Kami hanya ingin memiliki anak agar ada yang merawat kami ketika kami tua nanti," Bu Yati mengiba pada Maria.


"Tapi tidak dengan cara seperti ini. Kalian bisa mengadopsi anak dari panti asuhan," jawab Maria dengan kesalnya.


"Lihatlah dia Maria, aku sangat mengagumi dia ketika kami baru saja bertemu. Cantik sekali bukan?" ucap Bu Yati sambil memberikan Yasmin pada Maria.


"Sudah saatnya kami berangkat kerja. Tolong jaga dia baik-baik Maria. Jangan sampai dia terbentur apapun, apalagi sampai jatuh, bisa sangat membahayakan untuknya."


Pak Anto beranjak dari duduknya dan berjalan keluar rumah Maria. Sebenarnya Pak Anto hanya menghindari perdebatan antara istrinya dengan Maria. Karena mereka berdua sangat keras kepala dan egois, sehingga sangat sulit untuk mengalah dari keinginan mereka masing-masing.


"Aku berangkat kerja dulu. Tolong jaga dia. Dan semua perlengkapannya ada dalam tas itu," ucap Bu Yati dengan menunjuk tas perlengkapan milik Yasmin.

__ADS_1


Maria tidak bisa mengelak, dia memandang wajah Yasmin yang dipanggil dengan nama Zahra itu dengan bibir yang melengkung ke atas.


"Zahra, kamu cantik sayang. Pantas saja Mbak Yati tidak mau melepaskanmu."


__ADS_2