
Senyum Ustad Jaki selalu mengembang setelah pertemuannya dengan Dokter Shinta. Hingga Umi Sarifah, Ustad Fariz dan Rhea pun heran dengan Ustad Jaki.
"Seneng banget Ustad, beneran diterima ya?" tanya Rhea yang heran memperhatikan Ustad Jaki senyum-senyum sendiri.
"Waras kan Ustad?" sahut Ustad Fariz meledek Ustad Jaki.
"Kalian ini gak ngerti orang lagi seneng apa?" ucap Ustad Jaki yang sedang kesal.
"Lah itu senyum-senyum sendiri kayak orang edan," canda Ustad Fariz sambil terkekeh.
"Ck, kayak gak pernah jatuh cinta aja," Ustad Jaki mencebik kesal.
"Cieee yang sedang jatuh cinta," kini giliran Rhea yang meledek Ustad Jaki.
"Hehehe.... tambahin dong, yang mau nikah," koreksi Ustad Jaki pada ledekan Rhea.
"Beneran Le? Kapan?" tanya Umi Sarifah dengan antusias.
"Masih belum tau Umi," Ustad Jaki tersenyum lebar menjawab pertanyaan dari Umi Sarifah.
"Kirain udah deal tadi. Kelamaan Ustad, mending langsung datengin aja rumahnya, minta sama orang tuanya biar cepat," Ustad Fariz memberi saran pada Ustad Jaki.
"Iya juga ya. Besok deh aku bilang sama Shinta mau ke rumahnya," Ustad Jaki setuju dengan saran dari Ustad Fariz.
"Eh Ustad, tadi pas aku berangkat lihat Mbak Mirna jalannya kayak gimana gitu, kayak orang lagi sakit. Mau kemana ya dia? Apa dia sakit?" Ustad Jaki memberitahukan apa yang dia lihat tadi sewaktu berangkat ke cafe yang menjadi tempat janjiannya bersama Shinta.
Ustad Fariz hanya menggedikkan bahunya tanda bahwa dia tidak tahu.
"Udah gak usah dibahas, dia udah bukan tanggung jawabku sekarang. Dan dia sudah bersama saudaranya, biar mereka yang mengurusnya," Ustad Fariz tidak mau berurusan kembali dengan Mirna karena dia tidak ingin membuat hati Rhea sedih, apalagi dia sedang mengandung.
"Iya, gak usah dipikirkan. Semoga saja dia baik-baik saja," Umi Sarifah menutup obrolan mereka tentang Mirna.
__ADS_1
......................
Sepulang dari bekerja, Pak Ratmo mendapat laporan dari Anita jika Mirna sedang sakit dan tidak keluar dari kamar sedari tadi.
"Pak, emang bener ya Mbak Mirna tadi ke Pondok Pesantren Al-Mukmin bikin onar lagi?" Anita bertanya karena ingin tahu yang sebenarnya terjadi, biasanya omongan orang berbeda dengan kenyataan, oleh sebab itu Anita lebih baik bertanya pada Bapaknya yang kebetulan berada di tempat yang sama dengan Mirna.
"Semua orang di Pondok Pesantren Al-Mukmin membicarakannya. Banyak yang melihat kejadian tadi, cuma saja Bapak tidak lihat sendiri karena Bapak pada saat itu sedang tidak berada di tempat kejadian. Huffft.... Bapak bingung Nduk harus bagaimana. Mbak mu itu ngeyel banget kalau dikasih tau, keras kepalanya itu loh membuat dia yakin kalau apa yang dia lakukan itu benar. Bapak harus gimana lagi?" Pak Ratmo berkata dengan nada lesu, dia bingung harus bagaimana dan dia malu pada keluarga Umi Sarifah serta semua orang yang ada di Pondok Pesantren Al-Mukmin karena mereka tahu jika Mirna adalah keponakannya.
"Anita akan bantu Pak jika Anita bisa, tapi ya itu dia Pak, Mbak Mirna memang keras kepala. Tapi melihat dia seperti sekarang ini, aku kasihan sama Mbak Mirna Pak," ucap Anita sesuai dengan apa yang dia rasakan.
"Kamu bantu Bapak awasi Mirna saja, jangan sampai dia datang kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin. Bapak takut dia kembali menyakiti Bu Rhea," Pak Ratmo tersenyum pada Anita dan mengusap rambut anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Iya Pak, pasti Anita akan bantu Bapak," Anita berkata untuk menenangkan hati Bapaknya.
"Oh iya Nduk, kamu ada rencana apa untuk ke depannya? Apa kamu mau sekolah lagi atau kerja?" tanya Pak Ratmo pada Anita.
"Kerja aja Pak, kalau sekolah lagi biayanya mahal. Firman aja belum lulus sekolahnya," Anita menjawab pertanyaan Bapaknya dengan senyum agar Bapaknya tidak merasa bersalah dan terbebani.
"Kamu itu pengertian sekali Nduk. Semoga nanti kami mendapat jodoh yang tepat, supaya tidak seperti Mirna. Sebenarnya suaminya Mirna sudah tepat, tapi Mirna nya yang tidak bisa menghargai apa yang dia punya," Pak Ratmo menyesalkan apa yang diperbuat oleh Mirna selama ini.
"Oh iya Nduk, apa kamu mau jika ada pekerjaan di Pondok Pesantren Al-Mukmin? Siapa tau kamu bisa bantu-bantu kerja apa gitu di sana," Pak Ratmo mengutarakan pemikirannya.
"Wah beneran Pak? Mau Pak, Anita mau," Anita menjawab dengan antusias.
"Nanti coba Bapak tanyakan, semoga saja ada kesempatan buat kamu," jawab Pak Ratmo.
"Iya Pak, semoga aja ada. Eh tapi Pak, gimana dengan Mbak Mirna kalau Anita tinggal kerja?" Anita kembali memikirkan Mirna.
"Iya juga ya, takutnya kalau gak ada yang ngawasin bisa-bisa dia nekat," Pak Ratmo kini benar-benar pusing memikirkan Mirna.
"Kita lihat saja dulu perkembangan Mirna bagaimana. Besok Bapak akan tanyakan barangkali ada pekerjaan buat kamu di Pondok Pesantren Al-Mukmin. Sekarang kamu istirahat saja dulu," ucap Pak Ratmo pada Anita.
__ADS_1
"Bapak juga istirahat aja sekarang. Mbak Mirna juga sudah tidur tadi setelah minum obat," ucap Anita seraya berdiri dari duduknya, kemudian dia meninggalkan Pak Ratmo setelah mendapatkan anggukan kepala dari Bapaknya.
Keesokan harinya, Mirna sudah merasa lebih baikan setelah meminum obat yang dibelikan oleh Anita. Karena merasa penat dan bosan dari selama sakit berada di dalam kamarnya, Mirna berniat untuk sekedar berjalan-jalan keluar mencari udara segar di pagi hari.
"Mau kemana Mbak?" tanya Anita yang melihat Mirna berjalan menuju pintu.
"Bosan Nit, pengen cari udara segar. Eh sekalian belanja aja yuk jam segini kan masih lengkap sayuran dan ikan-ikannya," Mirna mengajak Anita berbelanja, sepertinya Mirna lupa kejadian semalam dimana dia dicibir dan dihujat oleh para tetangganya.
"Ayo Mbak," jawab Anita.
Anita mengiyakan ajakan Mirna untuk keluar rumah dan berbelanja karena Anita senang melihat Mirna sudah sembuh dan sepertinya tidak mempermasalahkan tentang perceraiannya lagi. Saking senangnya melihat Mirna yang kembali ceria, Anita jadi lupa tentang tetangga-tetangganya yang membicarakan Mirna.
Anita dan Mirna berjalan santai sambil menikmati udara pagi yang sangat segar. Anita melihat Mirna sepertinya sudah lupa tentang perceraiannya dan cibiran tetangganya tentang dirinya. Anita menatap heran sikap Mirna, namun dia senang jika Mirna benar-benar bisa melupakan permasalahannya.
Tibalah mereka di warung sayur Bu Dian. Awalnya hanya Mirna dan Anita yang memilih-milih sayur dan ikan. Tapi kemudian ada beberapa ibu-ibu pembeli yang berbelanja dan pulang ketika sudah selesai.
Sayangnya sebelum Mirna dan Anita selesai berbelanja, gerombolan ibu-ibu yang berghibah dengan Mirna dulu keburu datang. Mereka kembali menghujat dan mencibir Mirna yang kemarin membuat onar di Pondok Pesantren Al-Mukmin dan kembali menyakiti Rhea.
Omongan mereka sangat pedas mengalahkan pedasnya seblak level 10. Hingga Mirna yang biasanya tidak mempan dengan sindiran orang lain, kini merasakan sakit hati dengan omongan-omongan dari kumpulan ibu-ibu itu.
"Yuk Nit buruan pulang," Mirna mengajak Anita pulang sambil membayar belanjaannya.
Anita menurut karena Anita juga mendengar apa saja yang ibu-ibu bicarakan tentang Mirna.
Mirna menarik tangan Anita dengan berjalan cepat diiringi dengan cibiran dan hujatan dari ibu-ibu tersebut. Kini Mirna merasakan sakit hati karena dibicarakan, dicibir dan dihujat oleh ibu-ibu yang dulunya ada dipihaknya untuk menjelek-jelekkan Rhea.
"Mbak, Mbak Mirna gapapa? Mbak Mirna baik-baik aja kan?" Anita bertanya seiring langkah cepatnya yang dipandu oleh Mirna.
Namun pertanyaan Anita tidak dijawab oleh Mirna. Anita heran, karena biasanya Mirna sangat cerewet jika berada dalam situasi seperti ini. Biasanya dia akan ngomel di setiap langkahnya, seperti waktu itu dia menyerang balik dengan kata-katanya pada ibu-ibu yang membicarakannya.
Sesampainya di rumah, Mirna menghempaskan tangan Anita dan menaruh belanjaannya di meja dapur tanpa mengeluarkannya ataupun memasaknya. Mirna langsung masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Anita yang melihatnya kembali heran dengan sikap Mirna. Sungguh tidak biasa Mirna seperti itu.
Mbak Mirna kenapa sih? Apa ada masalah lagi? Atau dia masih sakit? Atau sakitnya itu membuat Mbak Mirna berubah? Lah kalau sampai bisa merubah Mbak Mirna jadi seperti ini, sakit apa dong dia? Wah... gawat, sepertinya Mbak Mirna harus diperiksakan ini, Anita berkata dalam hatinya dengan masih menatap heran dan bingung pada kamar Mirna yang tertutup pintunya dan sudah ada Mirna di dalamnya.