Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 59 Orang yang terzalimi?


__ADS_3

Sontak saja jamaah ibu-ibu yang lain menoleh ke arah yang ditunjuk oleh ibu yang bersuara tadi.


"Iya ya, sepertinya memang dia. Lihat itu dia sedang bersama Ustad Fariz," ucap ibu-ibu yang lain.


"Cantik sekali ya," ucap ibu-ibu yang lainnya.


"Iya, pantas saja Bu Mirna kalah," ibu-ibu yang lain ikut berbicara.


"Langsung dicerai," sahut ibu-ibu yang lainnya.


Ustad Fariz menutup satu telinga Rhea yang berada searah dengan ibu-ibu tadi dan satu telinganya dibisiki oleh Ustad Fariz.


Rhea menatap mata Ustad Fariz dan mengangguk. Kemudian Ustad Fariz berjalan menuju tempatnya untuk berdakwah. Sedangkan ibu-ibu yang lain melongo melihat adegan tersebut yang menurut mereka romantis.


Ustad Fariz segera meminta panitia untuk memulai acaranya. Dia berharap agar acara tersebut bisa cepat selesai agar dia bisa mengajak Rhea pulang dan tentu harapannya agar ibu-ibu jamaah tidak menggunjingkan Rhea karena tujuan mereka berada di sini adalah untuk beribadah bukan untuk menghibah.


Ustad Fariz memulai pembicaraannya yang bertema tentang istri shalihah.


"Hadirin sekalian yang kami hormati.


Setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika seorang wanita akhirnya menikah, ladang pahala pun kian bertambah. Berumah tangga, melayani suami, dan merawat anak adalah kunci lain selain taat kepada Allah dan Rasulnya untuk memasuki surga. Dengan menjadi istri sholehahlah kita mampu mendapatkan kunci tersebut," Ustad Fariz menjabarkan secara jelas serta memberikan hadis-hadis yang berhubungan dengan hal-hal yang dibicarakannya dan juga memberikan contoh-contohnya.


"Ada yang ditanyakan ibu-ibu?" tanya Ustad Fariz pada jamaah yang ada di sana.


Seorang ibu-ibu mengangkat tangannya dan bertanya, "Jadi apa saja ciri-ciri istri shalihah?"


"Ciri-ciri wanita shalihah, jadi seperti yang saya jabarkan tadi masing-masing sudah saya berikan contohnya, banyak sekali sebenarnya seperti yang saya jelaskan tadi dan sekarang saya berikan garis besarnya saja. Yang pertama yaitu tidak meninggalkan kewajiban agama. Yang kedua, mampu menjaga diri dan harta suami. Yang ketiga adalah taat pada suami. Yang keempat, terlihat menyenangkan di depan suami. Yang kelima, menutup auratnya. Dan yang keenam adalah mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir. Termasuk yang tadi betah tinggal di rumah, bersyukur dengan pemberian suami dan banyak lagi seperi yang saya contohkan tadi," jawab Ustad Fariz.


"Masa' iya Bu Mirna bukan istri shalihah jadi dia diceraikan?" tanya ibu-ibu di sekitar Rhea dengan suara yang lirih namun bisa didengar sekitarnya.


"Tapi kata Bu Mirna bukan itu alasannya dia diceraikan," sahut ibu-ibu yang satunya lagi.


"Oh yang katanya karena suaminya terkena hasutan istri keduanya itu ya Bu?" sahut ibu-ibu yang lainnya.


"Katanya Bu Mirna selalu di fitnah sama istri keduanya, jadi Bu Mirna selalu disalahkan sama suaminya. Mangkanya dia diceraikan," ibu-ibu yang lainnya menimpali.


"Kasihan ya Bu Mirna. Abisnya dia kalah cantik sih ya, kalah muda juga," sahut ibu-ibu yang lain dengan cekikikan.


Masih banyak lagi obrolan mereka, namun Rhea seolah mengacuhkannya seperti tidak mendengar apapun sesuai perintah suaminya. Rhea hanya menulis materi yang dia dengar dari suaminya saat berdakwah tadi.


Bohong kalau Rhea tidak mendengar. Dia masih mampu mendengar dengan jelas meskipun perhatiannya tertuju pada suaminya yang ada di depan dan dia mencatat semua materi yang didengarnya, namun telinganya juga mendengarkan obrolan ibu-ibu yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Bagaimana tidak terdengar, suara mereka jelas masuk ke telinga Rhea. Dan Rhea hanya bisa beristighfar sesuai dengan yang diterangkan suaminya tadi pada saat berdakwah salah satunya dengan banyak-banyak beristighfar.


Mata Rhea menangkap mereka yang membicarakannya selalu melihat ke arahnya, seperti kebanyakan orang yang membicarakan orang tersebut pasti melihat ke arah orang yang dibicarakan.


Rhea tetap bersikap seperti biasa dan selalu menebar senyum seperti biasanya meskipun dalam hati dia selalu beristighfar.


Setelah acara selesai, Rhea masih sibuk dengan acara tulis menulisnya. Rhea hanya mempersibuk diri karena tadi pada saat salaman dengan ibu-ibu jamaah yang lain malah dia digunjingkan.


"Eh tangannya halus banget deh, pasti gak pernah kerja, cuma leha-leha, gak pernah masak," kata ibu-ibu yang berbicara lirih pada ibu-ibu di sebelahnya.


"Tapi cantik loh, gapapa kan sedap kalau dipandang mata," sahut ibu-ibu yang diajak berbicara tadi.


"Modal cantik doang tapi kelakuan minus buat apa? Kasihan kan Bu Mirna di zalimi terus," sahut ibu-ibu di sebelahnya.


Rhea hanya tersenyum manis menghadapi ibu-ibu yang masih menggunjingnya dengan merapal istighfar dalam hatinya.


"Sayang, udah selesai? Yuk pulang," Ustad Fariz menghampiri Rhea yang terlihat masih sibuk dengan catatannya.


Rhea mendongak melihat wajah suaminya kemudian dia tersenyum. Namun Ustad Fariz menangkap kesedihan dalam mata Rhea.


Rhea memasukkan semua peralatannya ke dalam tas. Sedangkan Ustad Jaki baru saja datang untuk membantu membereskan kamera yang tadi dipasang oleh Rhea karena tadi jamaah penuh memadati ruangan tersebut sehingga Ustad Jaki menunggu di luar Masjid.


Rhea dan Ustad Fariz bergandengan tangan berjalan menuju mobil mereka, dan Ustad Jaki berjalan di belakang mereka.


"Iya Bu," jawab Ustad Fariz sambil tersenyum dan Rhea pun ikut tersenyum pada ibu-ibu tersebut.


"Kok Bu Mirna gak diajak sih?" sahut ibu-ibu disebelahnya.


Ustad Fariz hanya tersenyum kemudian meneruskan jalannya sambil menggandeng Rhea agar dia lebih cepat berjalan karena Ustad Fariz tidak mau Rhea mendengar perkataan-perkataan buruk dari mereka.


"Gimana mau ikut orang udah dicerai," sahut ibu-ibu yang lain.


"Kok gitu sih, udah dapat yang lebih muda dan cantik, yang lama ditinggalin," sahut ibu-ibu yang lain.


Suara mereka masih bisa di dengar dengan jelas oleh Ustad Fariz, Rhea dan Ustad Jaki, namun Ustad Fariz memutuskan agar cepat-cepat mereka meninggalkan tempat tersebut karena Ustad Fariz akan menyelesaikan masalah tersebut tanpa adanya Rhea, dia takut Rhea akan lebih terluka lagi jika terlalu banyak mendengar hujatan yang ditujukan untuknya.


Jelas sekali terlihat pada wajah Rhea kesedihan, sakit hati dan terluka. Ustad Fariz untuk saat ini hanya bisa memberikan rangkulan saja pada Rhea ketika mereka berada di dalam mobil. Karena seperti biasa, Ustad Jaki yang bertindak sebagai sopir mereka saat ini, sehingga Ustad Fariz merasa tidak enak jika menenangkan hati istrinya dengan cara lain di depan Ustad Jaki.


Ustad Fariz sangat terluka dan khawatir melihat Rhea yang sedang bersedih, apalagi saat ini dia sedang mengandung, sehingga Ustad Fariz takut Rhea akan kembali stress menghadapi masalah ini.


Sesampai di rumah, Rhea termenung ketika memasuki rumah. Jelas sekali Umi Sarifah menangkap ketidakberesan dalam wajah Rhea, namun Umi Sarifah tidak berani bertanya karena sepertinya Ustad Fariz terburu-buru mengajak Rhea untuk ke kamar mereka.

__ADS_1


"Ada apa Le, kok kayaknya ada sesuatu dengan Rhea. Apa ada yang terjadi?" tanya Umi Sarifah pada Ustad Jaki.


"Enggak ada Umi. Udah Umi istirahat aja biar cepat sembuh, dan jangan lupa obatnya di minum," jawab Ustad Jaki sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Umi sudah sembuh, cuma sakit biasa aja kalian besar-besarkan," ucap Umi Sarifah yang mendapat kekehan dari Ustad Jaki.


Umi Sarifah merasa Ustad Jaki juga berbohong padanya.


Jelas sekali seperti ada yang terjadi. Ada apa sebenarnya? Umi Sarifah membatin sambil berpikir barangkali ada kejadian yang dia lupakan.


"Sayang, aku minta maaf atas apa yang terjadi. Aku mohon kamu jangan pikirkan semua yang mereka ucapkan karena itu semua tidak benar. Dan aku akan menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut. Kamu yang sabar ya, dan jangan dipikirkan semuanya. Pikirkan saja anak kita yang ada di sini," Ustad Fariz mengatakannya dalam posisi berjongkok di hadapan Rhea yang duduk di sisi ranjang dengan menggenggam tangan Rhea dan menunjuk perut Rhea ketika membicarakan kandungannya.


Seperti biasa seolah terhipnotis Rhea mengangguk dan tersenyum pada suaminya, karena dia juga ingin menjadi istri shalihah seperti yang dia dengar dari penjelasan suaminya. Kemudian Ustad Fariz memeluknya untuk menyalurkan perasaannya dan memberi kekuatan pada istrinya seolah dia mengatakan bahwa Rhea tidak sendirian.


Ustad Fariz meminta ijin pada Rhea pergi sebentar untuk menyelesaikan masalah tersebut. Rhea hanya mengangguk, dia tidak ingin tahu apa yang dilakukan suaminya untuk menyelesaikannya karena pasti nantinya suaminya akan memberitahu padanya dengan sendirinya.


Selepas kepergian suaminya, Rhea tidak ingin berdiam diri di kamar karena dia takut jika hanya berdiam diri di kamar sendirian dia akan teringat akan perkataan-perkataan dan gunjingan-gunjingan yang ditujukan padanya.


Rhea turun ke bawah untuk sekedar menemani Umi Sarifah dan mengobrol dengannya. Namun Rhea tidak menemukan Umi Sarifah di manapun, akhirnya dia memutuskan untuk menonton TV agar pikirannya teralihkan.


Keluar dari kamarnya, Umi Sarifah melihat Rhea duduk melamun di depan TV. Tatapannya ke arah TV tapi dia tidak sedang menontonnya. Pikiran Rhea melayang entah kemana.


Detik kemudian, bulir bening menetes di pipi Rhea. Umi Sarifah yang sedari tadi memperhatikannya, kini mendekat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Nduk," sapa Umi Sarifah memegang pundak Rhea.


Rhea kaget dan segera menghapus air matanya ketika dia merasakan ada sesuatu di pipinya. Umi Sarifah duduk di sebelah Rhea dan mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya.


Rhea menoleh ke arah Umi Sarifah dan tersenyum manis padanya.


"Cerita Nduk ada apa, biar Umi bisa bantu," ucap Umi Sarifah.


Luluh sudah benteng pertahanan Rhea yang menganggap masalah itu tidak ada, perkataan-perkataan dan gunjingan-gunjingan ibu-ibu jamaah yang menyakiti hatinya membuat air matanya memaksa untuk keluar ketika Umi Sarifah bertanya padanya.


Umi Sarifah mengusap air mata Rhea dan berkata, "Ayo Nduk cerita sama Umi."


Rhea pun bercerita pada Umi Sarifah apa yang terjadi di pengajian tadi. Air matanya kembali menetes di sela dia bercerita.


Umi Sarifah meraih tubuh Rhea dan mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan Rhea seraya berkata,


"Percaya sama suamimu Nduk, pasti dia akan menyelesaikannya. Kamu tau kan suamimu tidak akan membiarkanmu terluka ataupun sedih."

__ADS_1


Rhea menghapus jejak air matanya dan mengangguk menyetujui perkataan Umi Sarifah.


__ADS_2