
Izam terhenyak dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ustadz Fariz. Dia tidak menyangka jika Abi nya akan menanyakan hal itu padanya.
Izam masih terdiam tidak menjawab. Dia masih berpikir karena jujur saja pertanyaan itu sudah dua kali ditanyakan oleh Abi nya padanya, sehingga Izam berpikir bahwa Abi nya tidak mungkin hanya menanyakan hal iseng padanya.
"Zam, kenapa tidak jawab? Apa kamu merasakan hal yang tidak kamu ketahui? Atau mungkin kamu mengingkarinya?" tanya Ustadz Fariz menyelidik.
Izam menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari Abi nya. Kemudian dia berkata,
"Izam tidak tau Bi. Yang Izam tau sekarang, Izam menganggapnya sebagai adik seperti Yasmin. Mereka sangat penting bagi Izam. Dan Izam harus menjaga dan melindungi mereka."
"Benarkah? Apa dia sangat berarti bagimu? Abi melihat kamu sangat cemas dan khawatir ketika mengetahui Salsa sedang sakit. Apa benar dia kamu anggap sebagai adik kamu, sama seperti Yasmin?" tanya Ustadz Fariz kembali.
"Maksud Abi...."
"Tanyakan pada hatimu Zam. Jangan sampai nantinya kamu akan menyesal karena memilih istri yang bukan pilihan hatimu. Hanya itu pesan dari Abi. Jika kamu bertanya pada Abi, Insya Allah Abi akan siap membantumu," Ustadz Fariz menyela perkataan Izam.
Izam diam, dia mencerna baik-baik perkataan Abi nya. Dia kini mengerti ke mana arah pertanyaan dan pembicaraan Abi nya kali ini.
"Izam akan pikirkan baik-baik Bi. Sejujurnya Izam mengulur waktu perjodohan itu karena Izam sendiri tidak yakin Bi," ucap Izam sambil menatap Abi nya.
Ustadz Fariz tersenyum, dia tahu sebenarnya apa yang dipikirkan oleh putranya.
"Abi tau Zam," ucap Ustadz Fariz sambil menepuk-nepuk pelan pundak Izam.
"Sudahlah, kita balik ke sana sekarang. Biar Abi nya Salsa bisa salat sekarang," tukas Ustadz Fariz seraya berdiri dari duduknya.
Kemudian mereka menuju ruang pemulihan. Dan ternyata Salsa sudah sadar dan dipindahkan di ruang perawatan.
Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki membicarakan masalah Pondok Pesantren Al-Mukmin sebelum Ustadz Fariz kembali pulang. Sehingga Izam meninggalkan mereka menuju ruang perawatan Salsa.
"Kak Izam khawatir sekali loh, iya gak Manda?" ucap Yasmin berusaha meledek Salsa yang masih lemah pasca operasi.
"Iya loh, dia sangat cemas tadi ketika kamu sedang berada di dalam ruang operasi," sahut Shinta sambil tersenyum.
Salsa hanya tersenyum lemah dan dia terlalu lemah untuk berbicara menanggapi perkataan Yasmin dan Shinta.
"Ini pasti gara-gara kamu suka makan yang pedas-pedas. Akhir-akhir ini kan kamu selalu membeli makanan yang super pedas. Jangan kira Manda gak ngerti ya," tutur Shinta seolah dia memarahi Salsa dan Salsa hanya tersenyum lemah menanggapinya.
"Tadi aja sebelum kesakitan, Kak Salsa makan bakso dengan sambal tujuh sendok loh Manda," adu Yasmin pada Shinta.
"Apa? Kamu mau ma-"
__ADS_1
Ucapan Shinta terhenti, dia sadar tidak boleh mengatakan hal itu. Dihelanya nafasnya, kemudian dia mengatakan kembali apa yang ingin dia katakan tanpa menyebutkan hal yang dia hindari tadi.
Hufffttt...
"Apa kamu tidak menyayangi dirimu sendiri? Tidak menyayangi kesehatanmu? Apa kamu tidak memikirkan Abi sama Manda? Apa cuma Izam saja yang kamu pikirkan?" ceplos Shinta.
"Manda...," ucap Salsa dengan suara lemah.
"Maaf, Manda kelepasan," tukas Shinta, kemudian duduk di sofa ruangan tersebut.
"Aku tau kok Kak Salsa. Kak Salsa suka kan sama Kak Izam?" ucap Yasmin sambil tersenyum dan tangannya menggenggam tangan Salsa.
Deg!
Izam yang sedari tadi berada di balik pintu, kini dia telah mendengar semuanya. Dia sangat terkejut ketika namanya disebut oleh Shinta dan Yasmin.
Berarti benar Salsa selama ini menghindari aku karena perjodohan itu? Ah... bodohnya aku. Aku harus mencari jawabannya dalam hatiku, siapa yang sebenarnya ada dalam hatiku, Izam berkata dalam hatinya.
"Yasmin...," ucap Salsa lemah tak bertenaga.
"Tenang aja Kak, aku sudah tau tanpa Kak Salsa ngomong sekalipun ke aku. Hanya orang yang gak peka aja yang gak tau," tukas Yasmin sambil terkekeh.
"Dan orang itu Kak Izam," ucap Yasmin kembali menyambung perkataannya sebelumnya.
Yasmin terkekeh dan Salsa tersenyum lemah mendengar perkataan Yasmin. Sedangkan Shinta, dia mendengar semua obrolan Salsa dan Yasmin. Dia senang melihat Salsa dan Yasmin sangat akrab meskipun mereka baru saja bertemu, seperti dirinya dengan Rhea kala itu.
Setelah beberapa saat tidak ada pembahasan tentang Izam di dalam ruangan itu, Izam mengetuk pintu ruangan tersebut.
Setelah itu dia masuk ke dalam ruangan tersebut setelah mengucapkan salam. Tampak Salsa yang kaget dan menghindari tatapan mata Izam. Dan Izam pun tahu itu.
Izam mendadak nafasnya jadi sesak, sepertinya hatinya merasakan sakit saat melihat keadaan Salsa saat ini.
"Gimana keadaanmu Sa?" tanya Izam ketika sudah berada di samping Salsa.
Salsa hanya mencoba tersenyum tipis dan dia mengangguk tanpa menjawab. Ada rasa malu dan sakit hati ketika melihat Izam.
Malu karena tadi dia meminta maaf pada Izam seolah-olah mereka tidak akan bertemu lagi dan sakit hati karena perjodohan itu.
"Apa udah gak ada yang sakit?" tanya Izam dengan menengadahkan wajahnya di depan wajah Salsa yang menunduk dan menatap intens mata Salsa.
Salsa kini menjadi gugup mendapati wajah Izam sangat dekat dengan wajahnya. Jantungnya berdebar sangat cepat, hingga dia merasa sangat susah bernafas karena terpaan nafas Izam mengenai kulit wajahnya.
__ADS_1
Astaghfirullahaladzim... kenapa aku ceroboh sekali? Mungkin karena aku sudah terbiasa sejak dulu menganggapnya seperti adikku sendiri hingga sampai sekarang pun masih terbiasa seperti itu, Izam berkata dalam hatinya.
Segera dia menjauhkan wajahnya dari wajah Salsa. Sangat terlihat sekali kegugupan dari keduanya. Hingga Shinta dan Yasmin pun bisa melihatnya.
Salsa hanya diam saja, dia berusaha keras menata hati dan menenangkan jantungnya. Sedangkan Izam, dia sekarang seperti kehilangan kata-kata karena kegugupannya.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Ustadz Fariz ketika masuk ke dalam ruangan tersebut.
Semua perhatian orang yang ada di ruangan tersebut beralih melihat ke arah pintu.
Ustadz Fariz masuk dan mendekati Salsa, kemudian dia berkata,
"Bagaimana keadaan kamu Salsa?" tanya Ustadz Fariz sambil tersenyum pada Salsa.
"Baik Bi," jawab Salsa lirih dan lemah.
"Kamu istirahat dulu aja ya, nanti Abi ke sini sama Bunda. Sekarang Abi sama Izam mau balik dulu ke Pondok. Kita masih ada tanggungan mengajar sebentar lagi," ucap Ustadz Fariz pada Salsa.
Salsa mengangguk dan tersenyum pada Ustadz Fariz.
"Terima kasih Abi," ucap Salsa lemah.
Ustadz Fariz mengangguk dan tersenyum pada Salsa. Kemudian dia menoleh pada Yasmin.
"Apa Yasmin di sini menemani Salsa?" tanya Ustadz Fariz pada Yasmin.
"Iya Bi," jawab Yasmin sambil mendekati Abi nya.
"Baiklah, Abi sama Kak izam pulang dulu ya," ucap Ustadz Fariz dan diangguki oleh Yasmin.
Yasmin mencium punggung tangan Abi nya dan Izam.
"Shin, kita balik dulu," Ustadz Fariz berpamitan pada Shinta.
Izam memandang Salsa yang sama sekali tidak memandangnya. Rasanya sakit sekali hati Izam ketika Salsa tidak memandangnya ketika dia akan pergi dari ruangan tersebut.
"Hati-hati dan bilang pada Rhea agar tidak cemas. Salsa baik-baik saja," ucap Shinta pada Ustadz Fariz.
Ustadz Fariz mengangguk dan berjalan keluar ruangan tersebut bersama dengan Izam. Mereka kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Dalam perjalanan Izam hanya diam saja merasakan rasa yang tidak pernah dia rasakan. Dia bertanya-tanya rasa apa itu dan dia akan mencari jawabannya pada Allah, sang kuasa atas semuanya.
__ADS_1