
"Izam...."
"Umi.... Wah Umi cantik sekali, Umi bersinar. Umi mau ke mana pakai baju putih-putih seperti itu?"
Izam yang tadinya sedang bermain di sebuah taman yang indah yang berada di sebelah sungai dengan air terjun di sana membuat dia berlari ke arah Umi Sarifah ketika beliau memanggilnya.
"Izam," Umi Sarifah menjeda ucapannya sambil menatap Izam dengan senyum yang menenangkan serta mengusap rambut Izam dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Izam menatap Umi Sarifah dengan senyuman khasnya. Kemudian dia berkata,
"Ada apa Umi?"
"Izam, cucu Umi yang paling Umi sayang, Umi ingin berpesan pada Izam agar taat pada perintah Allah dan jangan sekali-sekali melanggarnya. Turuti apa yang dikatakan oleh Abi dan Bunda. Jadilah anak saleh dan jagalah Salsa serta adikmu yang baru lahir. Umi titipkan mereka semua padamu."
Umi Sarifah mengatakan itu semua pada Izam dengan lemah lembut dan senyum sehingga membuat Izam merasa tenang dan mengangguk menyetujui keinginan Umi Sarifah.
Setelah itu Umi Sarifah berdiri dan mundur satu langkah menjauhi Izam.
"Umi mau ke mana?" Izam bertanya dengan suara lantang pada Umi Sarifah.
Umi Sarifah tersenyum dan berkata,
"Umi akan pergi. Izam tidak boleh lupa akan janji Izam pada Umi ya. Umi pasti akan sedih jika Izam tidak menepati janji Izam."
"Izam janji Umi. Tapi Umi jangan pergi, Izam-"
Tiba-tiba Umi Sarifah hilang bersama cahaya putih sebelum Izam menyelesaikan ucapannya.
"Umi!"
Izam berteriak memanggil Umi Sarifah yang sudah hilang dari hadapannya. Kini dia seorang diri di tempat indah itu dengan menangis melihat ke sekelilingnya.
"Tempat ini indah, tapi kenapa hanya aku sendiri di tempat ini? Mana Abi, Bunda, Abi jaki, Manda dan Salsa?"
"Kenapa Umi tega meninggalkanku sendiri?"
"Umi.....!"
Izam menangis tersedu-sedu di tempat yang indah tersebut seorang diri. Kini dia hanya seorang anak kecil yang tersesat dan harus menemukan jalan keluar dari tempat tersebut agar bisa bertemu dengan keluarganya.
...----------------...
"Lihatlah sayang, Umi sangat bahagia menggendong Izam," ucap Ustadz Fariz pada Rhea yang berada di sampingnya.
"Sepertinya Izam akan menjadi cucu kesayangan Umi ya Bi," Rhea menanggapi ucapan Ustadz Fariz.
"Sepertinya begitu. Lihat saja, pasti Izam nanti akan membantu Umi setiap butuh bantuannya," ucap Ustadz Fariz kembali.
__ADS_1
Mereka berdua tersenyum melihat Umi Sarifah yang sangat bahagia menggendong Izam. Namun tidak lama setelah itu, Umi Sarifah memberikan Izam pada Ustadz Fariz.
"Umi titip Izam ya. Bimbing dia baik-baik agar menjadi anak yang saleh," ucap Umi Sarifah setelah memberikan Izam pada mereka.
"Umi juga bisa membantu kami mendidiknya. Pasti Izam sayang sekali punya nenek seperti Umi," sahut Rhea kemudian.
Umi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Izam sangat sayang pada Umi. Dia telah menunjukkan baktinya pada Umi dengan menyelamatkan Umi. Biarlah Izam meneruskan hidupnya, dan biarkan Umi pergi untuk bertemu dengan Abah."
"Umi!"
"Umi!"
Ustadz Fariz dan Rhea bersamaan berseru menyahuti perkataan Umi Sarifah.
Namun Umi Sarifah kini perlahan menghilang dari hadapan mereka. Tubuh Umi Sarifah bagaikan cahaya yang memudar dan hilang setelahnya.
"Umi!"
Rhea berseru memanggil Umi Sarifah seraya dia membuka matanya. Nafas Rhea ngos-ngosan dengan keringat dingin menetes di pelipisnya.
"Rhea kamu udah sadar? Ada apa? Sepertinya kamu sedang bermimpi," ucap Shinta sambil memberikannya minuman.
Rhea hanya diam dan mengingat-ingat apa yang dia lihat tadi dalam mimpinya.
"Bunda, Bunda kenapa?"
"Izam.... Umi...," ucap Rhea dengan menyingkap selimutnya ingin turun dari ranjangnya.
"Di sini saja. Aku akan panggilkan suamimu."
Shinta mencegah Rhea untuk turun dari ranjangnya. Dan dia bergegas keluar untuk memanggilkan Ustadz Fariz karena lebih baik Ustadz Fariz lah yang menjelaskan tentang keadaan Umi Sarifah pada Rhea.
Salsa memang belum tahu perihal kematian Umi Sarifah. Hanya Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Shinta lah yang sedang berselimut duka saat ini, namun mereka menahan ekspresi kesedihan mereka di depan Salsa dan Rhea.
Bukan maksud mereka untuk menyembunyikannya, hanya saja mereka akan mengatakannya di saat yang tepat dan tentu saja sebelum Umi Sarifah dimakamkan.
"Anakku?!"
Rhea berseru melihat perutnya yang sudah rata ketika dia akan menyelimuti dirinya sendiri setelah selimutnya tadi dia singkap.
Langkah kaki Shinta berhenti, dia yang kini hendak menyampai handle pintu memutar balik badannya dan kembali berjalan mendekat ke arah Rhea.
"Kamu hebat Rhea. Kamu sudah melahirkan putri yang cantik," ucap Shinta sambil tersenyum menyembunyikan kesedihan di dalam hatinya.
"Apa anakku perempuan?" tanya Rhea kembali.
__ADS_1
"Iya, dia sangat cantik, sama seperti bundanya," jawab Shinta.
"Aku ingin melihatnya Shin," ucap Rhea dengan mata yang berbinar.
"Baiklah akan aku ambilkan, sekalian akan aku panggilkan Ustadz Fariz untuk datang ke sini," tukas Shinta kemudian berjalan kembali menuju pintu.
"Apa mereka belum sadar Shin?" Rhea bertanya kembali pada Shinta.
Pertanyaan Rhea itu kembali menghentikan langkah Shinta dan membuat Shinta kembali memutar badannya untuk menghadap Rhea.
Shinta tersenyum dan berkata,
"Aku panggilkan suamimu dulu ya. Dan sekalian aku ambilkan putrimu."
Rhea hanya diam saja, dia melihat ada yang aneh dengan Shinta saat ini.
Ada apa sih? Kenapa Shinta tidak seperti biasanya? Rhea bertanya-tanya dalam hatinya.
Kemudian Rhea melihat ke arah Salsa yang sedang asik melihat film kartun kesukaannya di ponsel Shinta yang dibawa oleh Salsa saat ini.
Tiba-tiba air mata Rhea kembali menetes. Dia ingat akan Izam yang biasanya menonton film kartun tersebut bersama dengan Salsa.
"Salsa," Rhea memanggil Salsa yang duduk di kursi sampingnya.
Salsa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya pada Rhea.
"Bunda, bunda menangis?" tanya Salsa sambil mendekat dan mengusap air mata Rhea.
"Izam, apa Izam sudah sadar?" tanya Rhea pada Salsa dengan suara tercekat menahan tangisnya.
"Izam... Izam... Umi...."
Kini Salsa ikut menangis karena teringat akan Izam dan Umi Sarifah. Tadinya Salsa sudah sedikit lupa ketika teralihkan oleh hal lain karena Ustadz Fariz memberinya minum air yang sudah diberi doa olehnya.
Tujuannya bukan untuk melupakan hal itu, melainkan hanya untuk menenangkan hati Salsa saja.
Dan kini dia kembali teringat akan Umi Sarifah dan Izam. Bahkan dia histeris mengingat kejadian kecelakaan yang menimpa Izam dan Umi Sarifah.
Rhea merasa bersalah karena mengingatkan Salsa yang mungkin bisa menjadi trauma dalam hidupnya karena umurnya yang masih kecil.
"Salsa, sini," Rhea memanggil Salsa dan melambaikan tangannya agar Salsa mau mendekat kepadanya.
Dengan isakan tangisnya itu Salsa pun mendekat pada Rhea.
"Maafkan Bunda ya sayang. Kita berdoa ya agar Umi dan Izam baik-baik saja," ucap Rhea sambil memeluk Salsa yang masih menangis.
"Assalamu'alaikum...."
__ADS_1
Terdengar suara salam dari arah pintu yang kini dibuka oleh orang tersebut.
"Wa'alaikumussalam... Abi....," ucap Rhea dengan suara bergetar dan matanya yang berkaca-kaca.