Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 76 Surat


__ADS_3

"Gak tau apa kalau ada yang kangen sampai uring-uringan?" sahut Bu Ratih yang mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Rhea.


"Kan bener Sayang yang Ibu bilang. Iya kan Yah?" Bu Ratih meminta pendapat Pak Adrian.


"Sampai gak bisa tidur dan ngotot minta dianter kesini karena khawatir sama suaminya," imbuh Pak Adrian yang membuat Rhea bertambah kesal karena malu.


Namun kekesalan Rhea hanya sementara karena kekesalannya itu hilang ketika Ustad Fariz mengecup lama kening istrinya dengan senyum yang merekah.


"Udah sana kalian kangen-kangenan di kamar, tapi jangan lupa makan ya," Umi Sarifah menggoda sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu.


Rhea dan Ustad Fariz hanya tersenyum malu mendengar perkataan dari Umi Sarifah dan pandangan semua orang mengarah pada mereka.


...----------------...


"Mbak Mirna, ini ada kiriman buat Mbak," Anita memberikan amplop pada Mirna.


"Halah, pasti surat panggilan sidang seperti kemarin-kemarin. Males bacanya, sama aja," Mirna menjawab tanpa melihat amplop tersebut, dia lebih memilih melihat layar TV yang berada di depannya.


"Terus ini diapain Mbak?" Anita membolak-balik amplop tersebut.


"Taruh situ aja, atau kalau kamu mau, buat kamu aja," Mirna menunjuk meja yang ada di hadapannya.


"Mbak, apa Mbak Mirna gak pengen datang ke persidangan perceraian Mbak Mirna, barangkali Mbak Mirna pengen tau apa yang terjadi," Anita menaruh amplop tersebut di meja dan dia duduk di kursi yang ada di dekat Mirna.


"Enggak, buat apa? Aku itu gak mau bercerai dengan Mas Fariz. Kamu sih disuruh bantuin gak mau. Kamu gak mau kalau Mbak mu ini kembali menjadi istri Kyai dari Pondok Pesantren Al-Mukmin?" Mirna menyalahkan Anita yang tidak mau membantunya.


"Bukannya gak mau Mbak, cuma aku takut ikut terseret dalam masalah Mbak Mirna," Anita mencoba tidak membuat Mirna emosi seperti yang sudah-sudah.


"Halah, terseret gimana? Wong jelas-jelas aku itu istri pertamanya Mas Fariz, kok bisa aku yang kalah sama wanita pelakor itu? Harusnya dia yang pergi dari Pondok Pesantren Al-Mukmin, bukannya aku," tanpa pancingan kata-kata dari Anita pun emosi Mirna kembali naik jika menyangkut tentang Rhea.


"Mbak, Mbak Mirna sendiri yang katanya nyuruh mereka nikah, ya Mbak Mirna harus legowo nerima pernikahan mereka Mbak, jangan malah membuat hati Mbak membencinya. Mungkin saja Mbak Mirna akan lebih bahagia jika Mbak Mirna mengikhlaskan semuanya dan menjauhkan hati Mbak Mirna dari rasa benci," tutur Anita pada Mirna.


Sebenarnya Anita merasa kasihan dengan Mirna, oleh karena itu Anita sedikit demi sedikit memberitahu Mirna agar tidak terjerumus dalam kebenciannya pada Rhea. Bukan berarti dia ingin menggurui Mirna, hanya saja dia ingin Mirna benar-benar sadar akan kesalahannya.


"Sok tau kamu. Coba kamu jadi aku, bisa gak kamu kayak gitu? Gak usah menggurui orang lain kalau kamu sendiri belum tentu bisa menjalaninya," Mirna kembali tersulut emosi oleh perkataan Anita.


"Aku gak ada niatan menggurui Mbak Mirna, aku hanya ingin Mbak Mirna bahagia, itu aja Mbak," Anita ikut tersulut emosinya mendengar ucapan Mirna.


"Bahagia? Harusnya kamu mau membantuku jika kamu ingin aku bahagia," Mirna sekali lagi menyalahkan Anita.


"Aku mau membantu Mbak Mirna, asalkan jangan hal yang membuat kita malu Mbak," Anita membela dirinya, dia tidak mau disalahkan kembali oleh Mirna.


"Sok-sokan nyeramahin orang, mentang-mentang kamu pernah mondok gitu? Mau jadi ustadzah kamu? Sana ceramah di pengajian, biar dapat uang!" Mirna berseru penuh emosi pada Anita, kemudian dia meninggalkan Anita sendiri dengan perasaan kesal dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Bruak!


"Astaghfirullahaladzim.. punya saudara sepupu kok segitunya ya," Anita mengusap dadanya karena kaget mendengar suara bantingan pintu yang ditutup oleh Mirna.


"Assalamu'alaikum....," Pak Ratmo mengucap salam ketika masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikumussalam... eh Bapak udah pulang? Sebentar Pak, aku buatkan kopi dulu," Anita mencium punggung tangan Bapaknya, kemudian dia pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Bapaknya setelah mendapat anggukan kepala dari Bapaknya.


Seperti biasa, Pak Ratmo duduk di kursi dan menyalakan layar TV untuk sekedar santai sambil menikmati kopi dan camilan yang disediakan Anita setelah pulang bekerja.


"Capeknya.... mana sih tayangan beritanya?" Pak Ratmo menekan-nekan remote TV guna memindah-mindah chanel TV sesuai tayangan program yang dicarinya.


"Lah ini ketemu," remote TV diletakkan kembali oleh Pak Ratmo di meja yang berada di depannya.


"Apa ini?" Pak Ratmo mengambil amplop yang ada di meja tersebut dan membukanya.


"Astaghfirullahaladzim... sudah benar-benar diputuskan ternyata," ucap Pak Ratmo dengan wajah menyesalnya.


"Mirna... Mir... Mirna...," Pak Ratmo berteiak memanggil nama Mirna yang tak kunjung datang ketika dipanggil.


"Ada apa Pak?" tanya Anita yang datang dengan membawa kopi dan singkong rebus untuk Bapaknya.


"Ini kapan datangnya?" Pak Ratmo bertanya pada Anita.


"Oh itu tadi Pak. Memangnya kenapa?" tanya Anita ingin tahu apa yang terjadi, karena raut muka Bapaknya berbeda dengan tadi pada saat sebelum ditinggal Anita ke dalam untuk membuatkannya kopi.


"Mirna dimana? Kenapa dari tadi dipanggil gak datang-datang?" Pak Ratmo sungguh kesal dengan keponakannya itu.


"Ada di kamar kok Pak. Apa perlu aku panggilkan Pak?" tanya Anita yang sudah berdiri dari duduknya bersiap untuk ke kamar Mirna.


"Iya, tolong panggilkan dia," Pak Ratmo menghela nafasnya ketika Anita sudah pergi untuk memanggil Mirna di kamarnya.


"Maafkan aku Mas, telah gagal menjaga anakmu. Bahkan suami yang berakhlak baik pilihan Mas sendiri saja sudah menyerah menghadapi Mirna," Pak Ratmo bermonolog meminta maaf pada Bapaknya Mirna, menyesali dirinya yang tidak bisa mendidik Mirna menjadi wanita yang lebih baik.


Tok... tok... tok... tok...


"Mbak... Mbak Mirna... Mbak... dipanggil Bapak di depan," Anita memanggil-manggil Mirna dengan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


Namun Mirna tak kunjung keluar dari kamarnya. Anita khawatir pada sepupunya itu, sehingga dia langsung saja membuka pintu kamar Mirna tanpa permisi.


"Astaghfirullahaladzim... Mbak, Mbak Mirna... Anita menepuk pundak Mirna yang sedang memakai headset nya sambil berjoget-joget.


"Anita, kok kamu gak ketuk pintu dulu sih? Gak sopan banget," Mirna kaget, kemudian dia melepas headset nya sambil menggerutu memarahi Anita yang masuk tanpa permisi ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Aku udah ketuk pintu berkali-kali Mbak, dan juga aku udah manggil-manggil Mbak Mirna berkali-kali, Mbak Mirna nya aja yang gak denger, lah wong Mbak Mirna pakai beginian," Anita mengambil headset milik Mirna dan menunjukkannya pada Mirna.


"Ck, ganggu kesenangan orang aja. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Mirna dengan nada kesal.


"Mbak Mirna dipanggil Bapak di depan. Cepetan Mbak, kasihan Bapak udah nunggu Mbak dari tadi," Anita menarik tangan Mirna dan menyeretnya menuju ruang televisi.


Mirna berjalan ogah-ogahan karena merasa kesenangannya telah diganggu. Dengan wajah cemberut Mirna menemui Pamannya. Pak Ratmo melihat Mirna yang datang dengan wajah cemberut dan berjalan malas membuatnya beristighfar dalam hati.


Astaghfirullahaladzim... pantesan kamu diceraikan suamimu Mir, lah wong sikap kamu masih saja seperti itu, tidak menghargai orang lain.


"Mirna, duduklah," Pak Ratmo mengatur emosi dan perkataannya.


"Ada apa sih Paman ganggu Mirna aja," kini Mirna malah berwajah kesal ketika bertanya pada Pak Ratmo.


"Kamu sudah datang sidang berapa kali?" tanya Pak Ratmo ingin tahu yang terjadi.


"Sidang? Sidang apaan?" tanya Mirna heran seperti orang yang mengalami amnesia.


"Sidang perceraianmu dengan suamimu," Pak Ratmo menjelaskan dengan heran, karena keponakannya malah tidak mengingat sidang perceraiannya.


"Mana aku tau, aku gak pernah datang kok," dengan entengnya Mirna menjawab seperti itu pada Pamannya.


"Astaghfirullahaladzim... kenapa kamu gak datang?" Pak Ratmo heran dan kaget mendengar jawaban dari Mirna.


"Lah kan aku gak mau bercerai dari Mas Fariz, biar aja dia nungguin, aku gak bakalan datang," Mirna menjawab dengan kesal mengingat tentang perceraiannya.


"Kamu tau gak hasilnya kalau kamu gak hadir dalam persidangan perceraianmu?" Pak Ratmo mencoba mencari tahu pemikiran Mirna.


"Kalau aku gak datang kan gak diproses perceraiannya, jadi aku sengaja gak datang tiap ada panggilan supaya Mas Fariz capek bolak-balik pengadilan tapi aku gak dateng. Siapa tau lama-lama dia bosan ke pengadilan akhirnya perceraiannya dibatalin," Mirna tersenyum menjelaskan rencananya pada Pamannya.


"Astaghfirullahaladzim Mirna, kamu salah, dengan kamu gak datang pada waktu sidang, perceraianmu malah lebih cepat prosesnya. Ini coba kamu lihat," Pak Ratmo memberikan lembaran isi dari amplop yang berada di atas meja tadi dan sudah dia baca.


"Apa ini Paman? Pasti surat panggilan lagi kan dari pengadilan?" Mirna mengambil lembaran yang di berikan oleh Pamannya.


"Itu hasil dari sidang perceraianmu," seru Pak Ratmo dengan nada kesal.


"Hah, hasil persidangan? Kok bisa? Kan aku gak datang?" Mirna mulai membaca lembaran tersebut dan matanya mulai membelalak ketika melihat tulisan resmi bercerai.


"Kamu percaya kan sekarang dengan apa yang Paman katakan? Justru kamu tidak datang itu bisa diartikan kalau kamu tidak keberatan dengan perceraian itu," Pak Ratmo memberikan pengertian pada Mirna dengan rasa kesal, karena keras kepala Mirna masih saja tidak berkurang sedikit pun.


"Enggak, gak mungkin ini bisa terjadi. Pasti ini palsu, atau mungkin ini hanya permainan mereka yang memaksaku untuk menyetujui perceraian ini. Aku gak terima ini," Mirna menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah yang penuh kekesalan, kemudian dia berdiri dari duduknya dengan membawa lembaran hasil putusan sidang tadi.


"Mau kemana kamu Mirna?" Pak Ratmo berteriak pada Mirna yang seperti kesetanan berjalan cepat dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Mau meminta penjelasan," teriak Mirna dengan berjalan tanpa menoleh ke arah Pamannya ketika menjawab pertanyaannya.


__ADS_2