Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 67 Awal dari kerinduan


__ADS_3

"Ayo Bie berangkat," ucap Rhea yang masih mematut dirinya di depan cermin.


Ustad Fariz duduk di tepi ranjang memandang Rhea yang sudah berdandan cantik memakai setelan gamis syar'i berwarna baby pink dengan make up natural yang membuat Rhea benar-benar cantik menawan tanpa make up yang tebal.


Mata Ustad Fariz tidak berkedip memandang bayangan Rhea yang berada di cermin sambil berkata dalam hati,


Cantik, sangat mempesona, pantas saja aku tidak bisa melupakannya meskipun jarak dan waktu telah memisahkan kita.


"Bie.... Bie... ngelamun ya?" Rhea sedang membenarkan hijabnya dan melihat Ustad Fariz yang memandangnya dari cermin yang ada di depannya.


Ustad Fariz tersadar ketika Rhea memanggilnya berkali-kali. Kemudian dia berdiri, berjalan mendekat ke arah istrinya.


Tangan Ustad Fariz melingkar di pinggang Rhea dari belakang. Kepala Ustad Fariz berada di pundak Rhea, matanya menatap lurus ke arah cermin depan mereka.


"Cantik, istrinya siapa sih ini?" Ustad Fariz malayangkan candaannya sambil tersenyum menatap cermin yang ada di depannya.


"Istrinya siapa ya? Mmmm...," Rhea pura-pura berpikir sambil menatap lurus ke arah cermin, melihat ekspresi wajah dari suaminya.


Ustad Fariz menoleh melihat wajah istrinya dengan kepala masih berada di pundak istrinya.


Melihat ekspresi suaminya seperti itu, Rhea tidak tega menggoda kembali suaminya.


"Istrinya Hubby dong, istrinya Ustad Fariz, Ustad idolanya Rheina Az Zahra," Rhea menjelaskannya bermaksud agar suaminya tersenyum kembali.


Namun anehnya, Ustad Fariz malah memandang wajah Rhea dengan lekat. Rhea tidak tega melihat suaminya seperti itu. Tangan Rhea mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih sayang dan melihat dari cermin yang ada di depannya.


Ustad Fariz beralih memandang istrinya dari cermin dan berkata,


"Rasanya berat sekali akan jauh dari kamu. Bisa gak ya aku nanti berjauhan dengan istri cantikku ini dan anak kita," ucap Ustad Fariz dengan memandang cermin dan tangannya beralih mengusap perut istrinya.


Rhea melepaskan tangan suaminya, dan dia menghadap ke arah suaminya. Kedua tangannya memegang kedua pipi suaminya, memandang lekat wajahnya dan setiap bagian wajah suaminya, hingga matanya tertuju pada mata suaminya. Ada kesedihan yang mendalam di sana.


"Bie, aku pun tidak ingin jauh darimu. Hubby tau itu kan? Apalagi aku sedang hamil, aku selalu ingin dimanja oleh suamiku yang ganteng ini loh," Rhea mengeluarkan candaannya berharap Ustad Fariz bisa tersenyum kembali.


"Kenapa kita jadi berjauhan di saat seperti ini? Harusnya aku menjaga kamu kapanpun sebagai suami yang siap siaga ketika istrinya sedang hamil," Ustad Fariz benar-benar merasa kehilangan jika berada jauh dengan istrinya.


"Sungguh aku tidak mau berpisah sedetik pun darimu Bie, hanya saja.... huffftt... semoga semuanya bisa cepat selesai ya Bie, dan cepat jemput aku di rumah orang tuaku, agar kita bisa bersama kembali," Rhea berucap dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


Sungguh berat dijauhkan dari orang yang dicintai. Rhea dan Ustad Fariz kembali merasakan ini setelah perjuangan mereka bertahun-tahun untuk bisa bersatu.


Bukannya mereka cengeng ataupun lebay, mereka hanya merasa tidak adil karena baru saja mereka bahagia bisa bersama setelah perjalanan kisah mereka yang panjang, namun kini mereka harus berjauhan entah sampai berapa lama.


"Doakan semuanya segera berakhir dengan lancar ya Sayang, agar aku bisa cepat menjemputmu untuk kembali ke sini," Ustad Fariz meraih tubuh Rhea dan memeluknya dengan erat, rasanya tidak ingin melepaskannya.

__ADS_1


Tok... tok... tok...tok...


"Wahai saudara saudariku, apa kita jadi berangkat? Ataukah jadi di kamar saja? Sopirmu ini sudah lelah menanti sedari tadi," Ustad Jaki terpaksa menyusul Ustad Fariz dan Rhea karena sedari tadi tidak turun ke bawah untuk berangkat ke rumah orang tua Rhea.


Ustad Fariz membuka pintu kamarnya dan terlihat Ustad Jaki yang tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.


"Ganggu aja sih," ucap Ustad Fariz dengan nada kesal.


"Ckckck... mau berangkat Bro masih sempat-sempatnya ngadon," Ustad Jaki berucap sambil menggelengkan kepalanya.


"Belum, baru juga pemanasan, ente keburu dateng, gagal deh," Ustad Fariz menjawabnya dengan kesal merasa acara perpisahannya dengan Rhea terganggu.


"Yes berhasil, kapan lagi bisa menghentikan acara ngadon mengadon dari seorang Kyai Pondok Pesantren Al-Mukmin, Kyai Fariz, tapi sayangnya minta dipanggil Ustad Fariz," candaan Ustad Jaki membuat dirinya sendiri tertawa melihat wajah kesal dari Ustad Fariz.


"Ck, awas aja kalau giliran kamu bercocok tanam, pasti aku gangguin. Liat aja nanti," wajah kesal Ustad Fariz berganti dengan seringai di bibirnya.


Ustad Jaki yang tadinya tertawa seketika tawanya berhenti ketika mendengar perkataan Ustad Fariz.


Wah gawat kalau pas malam pertama digangguin, batin Ustad Jaki mengkhawatirkan sesuatu hal yang tidak tahu kapan bisa terjadi.


"Jangan pas malam pertama ya, pas malam-malam berikutnya aja sekalian aku jadikan wasit, gimana?" canda Ustad Jaki agar Ustad Fariz melupakan ucapannya tadi.


"Bahlul ente," Ustad Fariz menggeleng tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Ustad Jaki, sedangkan Ustad Jaki terkekeh melihat ekspresi dari Ustad Fariz.


"Udah siap semua?" tanya Ustad Fariz yang pandangan matanya tidak rela melepas istrinya.


Rhea mengangguk dan menunjuk barang bawaannya berupa koper-koper yang ada di dalam kamarnya.


"Semua itu Sayang? Kamu gak lagi pindahan kan? Pasti balik ke sini kan?" Ustad Fariz khawatir istrinya tidak kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin dengan membawa semua barangnya.


"Cuma dua koper Bie, banyak gimana sih? Malah mau tiga koper aku bawanya, tapi takut kebanyakan, jadi aku bawa dua koper aja," Rhea menunjuk koper yang sudah berjejer di dalam kamarnya.


"Lah itu tasnya juga?" tanya Ustad Fariz dengan menunjuk tas yang ada di atas kopernya.


Rhea mengangguk dan menampilkan senyum lebarnya yang memperlihatkan deretan Giginya.


"Ayo jadi berangkat gak nih? Nanti aja Ustad Fariz perpisahannya di sana pas mau pulang, keburu sore nanti," Ustad Jaki menyudahi obrolan sepasang suami istri di depannya yang sebenarnya enggan untuk berpisah.


"Ya udah yuk Sayang," Ustad Fariz menggandeng Rhea keluar dari kamarnya.


"Eh Bro bantuin angkat kopernya," Ustad Fariz berteriak pada Ustad Jaki yang sudah berada di tengah-tengah tangga.


"Buset dah ngerepotin aja sih, bawa sendiri napa," Ustad Jaki mengomel di setiap langkahnya menaiki tangga.

__ADS_1


"Ada dua Bro, kita satu-satu bawanya," Ustad Fariz tersenyum lebar melihat Ustad Jaki mengomel karena harus naik tangga kembali untuk mengambil koper Rhea.


"Banyak bener bawaannya, mau pindahan?" tanya Ustad Jaki pada Rhea ketika melewati Rhea.


"Kalian ini para kaum adam tidak mengerti kaum hawa, selalu aja protes kalau kita para wanita bawa barang banyak," Rhea menjawab kesal karena sedari tadi semua memprotes barang bawaannya.


"Eits, jangan buat istri aku kesal ya, awas!" Ustad Fariz memperingatkan Ustad Jaki dengan mengangkat jari tangan manisnya di depan wajah Ustad Jaki.


"Buset, harusnya kan aku yang marah karena kalian repotkan, kenapa jadi aku yang dimarahi?" Ustad Jaki kembali mengomel saat menuruni tangga dengan membawa koper Rhea.


"Umi, kami berangkat dulu ya. Apa Umi mau ikut mengantar Rhea ke sana?" Rhea mengambil tangan Umi Sarifah dan mencium punggung tangannya.


"Umi di rumah aja. Kalian hati-hati ya. Umi doakan kalian sampai dengan selamat," Umi Sarifah memberikan doanya pada mereka sebelum mereka berangkat.


Kemudian Ustad Fariz dan Ustad Jaki juga berpamitan pada Umi Sarifah, dan tentunya mereka mengucapkan salam. Setelah itu mereka berjalan menuju garasi yang ada di sebelah rumah Umi Sarifah.


"Pakai mobil yang mana? Mobil Rhea apa mobil ini?" Ustad Jaki bertanya sambil menunjuk mobil Rhea dan mobil yang biasa dikendarai Ustad Jaki dan Ustad Fariz.


"Kamu mau naik mobil yang mana Sayang?" tanya Ustad Fariz pada istrinya yang berada di sampingnya.


"Mobil Rhea aja deh Bie, kan jarang digunakan," jawab Rhea dengan memandang wajah suaminya.


"Nanti aja pandang-pandangannya, keburu sore nanti. Cepetan ambil kuncinya," sindir Ustad Jaki tanpa menatap sepasang suami istri itu.


Sindiran Ustad Jaki membuat Rhea malu hingga membuat pipinya merona meskipun tidak memakai blush on.


"Ini aku bawa kuncinya di tasku Bie, kalau kunci cadangannya ada di laci kamar yang biasanya," Rhea memberikan kunci mobil yang ada di dalam tasnya.


"Ya udah keluarkan dulu Ustad mobilnya, ini aku kembalikan dulu kunci mobilnya ke dalam," Ustad Jaki berjalan cepat mengembalikan kunci mobil ke rumah Umi Sarifah.


"Sudah siap semuanya?" tanya Ustad Jaki yang kini sudah ada di belakang kemudi.


"Sudah Bapak sopir, silahkan menyetir dengan aman dan jangan ugal-ugalan," jawab Ustad Fariz yang disambut tawa dari Rhea.


"Ck, sopir. Nasib... nasib.. awas aja kalian kalau uwu-uwuan di belakang," Ustad Jaki memperingatkan Ustad Fariz dan Rhea dengan menoleh ke belakang.


"Terserah kita dong, kan kita udah halal. Emangnya situ yang digantungi kayak jemuran?" ledek Ustad Fariz pada Ustad Jaki membuat wajah Ustad Jaki menjadi kesal.


"Eh jangan salah, abis ini kalau kita gantian nyetir kan Rhea jadi duduk sama aku," Ustad Jaki ganti membuat kesal Ustad Fariz dengan memeletkan lidahnya untuk mengejek Ustad Fariz.


"Enak aja, gak ada. Kalau aku yang nyetir Rhea juga duduk di depan, kamu duduk sendirian di belakang," Ustad Fariz merasa kesal sedangkan Ustad Jaki tertawa puas bisa memancing kekesalan Ustad Fariz.


Dengan keadaan masih tertawa, Ustad Jaki mengemudikan mobilnya keluar Pondok Pesantren Al-Mukmin.

__ADS_1


"Loh bukannya itu Mbak Mirna ya?" Ustad Jaki menunjuk Mirna yang sedang berjalan masuk gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin.


__ADS_2