Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 196 Kuda-kudaan


__ADS_3

"Abi.... Bunda.... Izam pengen ke pasar malam dong. Teman-temannya Izam di sekolah udah pada ke sana. Cuma Izam aja yang belum ke sana."


Izam berucap sambil ngos-ngosan karena berlari menuju Abi dan Bundanya yang sedang berada di ruang tengah bersama Ustadz Jaki dan Shinta.


"Abi.... Manda... Salsa juga....! Salsa juga pengen ke pasar malam," teriak Salsa dengan suara cemprengnya.


Salsa berlari sambil berteriak mengikuti Izam di belakangnya hingga menabrak punggung Izam dari belakang.


"Awww!"


"Aduuuuh!"


Izam dan Salsa bersamaan berseru kesakitan akibat benturan dari tubuh mereka berdua.


"Hati-hati dong Salsa!" seru Izam dengan kesal.


"Gak sengaja Kak.... habisnya remnya blong, jadi gak bisa ngerem deh," jawab Salsa sambil tersenyum lebar.


Ustadz Fariz, Rhea, Ustadz Jaki dan Shinta saling menatap dan menahan tawa mereka agar Izam tidak marah pada mereka.


Izam memang sangat sensitif, dia tidak suka jika ditertawakan, sehingga apabila Izam sedang bertingkah lucu sekalipun, mereka hanya menahan tawanya. Jika tidak, bisa dipastikan dia akan mengomel pada semua orang yang menertawainya.


Berbeda dengan Salsa yang selalu saja suka membuat Izam marah dengan tingkah lucu dan konyolnya. Dia sangat enerjik dan ceria, mampu membuat orang disekitarnya terhibur karenanya.


"Udah jangan bertengkar, habis ini kita berangkat. Kalau mau ganti baju, sekarang aja gantinya."


Ustadz Fariz melerai Izam dan Salsa yang berdebat seperti biasanya. Bahkan mereka sudah tidak asing lagi dengan suara ribut ataupun perdebatan di antara dua bocah tersebut.


"Nunggu setelah shalat isya' sekalian aja ya," sahut Ustadz Jaki sambil berdiri dari duduknya.


"Sebentar lagi adzan isya', kita siap-siap ke masjid dulu ya. Setelah itu kita berangkat ke pasar malam."


Ustadz Fariz pun beranjak dari duduknya dan memerintahkan agar mereka semua segera bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Setelah itu satu persatu dari mereka pun mulai bersiap dan berangkat bersama-sama.


"Yeeee... Izam mau naik yang itu!" ucap Izam sambil menunjuk salah satu wahana yang ada di sana.


Izam bersorak sambil berlonjak-lonjak kegirangan ketika baru saja sampai di pasar malam


"Salsa juga mau naik yang itu!" ucap Salsa sambil menunjuk wahana yang sama dengan yang ditunjuk oleh Izam.


"Ck, kebiasaan ikut-ikutan," Izam mulai menggerutu setelah mendengar ucapan Salsa.


"Biarin, kan gak ada tulisannya 'Salsa dilarang naik'. Jadi, Salsa bebas dong mau naik mana aja," tukas Salsa sambil menjulurkan lidahnya setelah mengucapkan hal itu pada Izam.

__ADS_1


"Udah. Stop! Mau naik gak? Kalau gak mau naik, biar Abi yang naik."


Ustadz Jaki melerai perdebatan mereka berdua dan tanpa dia lihat bahwa yang ditunjuk Izam dan Salsa adalah komidi putar yang berbentuk kuda-kudaan.


"Hah, Abi beneran mau naik kuda-kudaan itu?" tanya Salsa dengan wajah tidak percaya sambil menunjuk wahana tersebut.


Sontak saja Ustadz Jaki mengikuti arah telunjuk Salsa dan dia membulatkan matanya ketika mengetahui bahwa wahana yang Izam dan Salsa maksud adalah komidi putar.


"Serius mau naik itu?" kini giliran Shinta yang bertanya pada Ustadz Jaki.


"Ya enggaklah. Mendingan main kuda-kudaan aja sendiri sama kamu di rumah," jawab Ustadz Jaki sambil menaik turunkan alisnya pada Shinta.


"Isss... mulutnya," ucap Shinta sambil menutupkan telapak tangannya pada mulut Ustadz Jaki.


"Tolong ya bapak mulutnya dikondisikan, di depan anda saat ini sedang ada dua orang bocah yang belum saatnya main kuda-kudaan," Rhea menyemprot Ustadz Jaki dengan kata-katanya.


"Kita berdua pernah main kuda-kudaan. Iya kan kak?" Tiba-tiba Salsa menyahut dan bertanya pada Izam.


"Itu karena tebak-tebakanmu aja yang aneh. Kalau gak aneh mana mungkin aku kalah dan jadi kudamu. Harusnya aku tuh bisa menjawab biar kamu jadi kudaku," ucap Izam dengan kesal.


Seketika Ustadz Fariz, Rhea, Ustadz Jaki dan Shinta saling menatap seolah saling bertanya.


"Mereka main tebak-tebakan, terus Izam kalah, jadi Izam yang jadi kudanya," tutur Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz dan Rhea.


"Udah lama," jawab Ustadz Jaki.


"Tebak-tebakannya yang gak bener Abi. Mangkanya Izam kalah. Jawabannya dipleset-plesetin. Mana tau Izam jawaban kayak gitu," Izam mengadu pada Abi nya.


Sontak saja Ustadz Fariz mengalihkan perhatiannya dari Izam ke Ustadz Jaki dan menatapnya sambil berkata,


"Anak sama bapaknya gak jauh beda."


Kemudian Ustadz Fariz berjalan sambil menggandeng Izam setelah mengatakan itu pada Ustadz Jaki dan disambut tawa oleh Ustadz Jaki.


Sedangkan di tempat lain, seorang anak gadis juga menginginkan untuk pergi ke pasar malam. Dia merengek pada Bapaknya untuk diajak pergi ke pasar malam karena mendengar teman-teman sekolahnya bercerita tentang pasar malam.


"Bapak, Hana udah siap. Ayo kita ke pasar malam sekarang," ucap Hana dengan sumringah.


"Besok aja ya Hana. Tadi uangnya udah Bapak belikan susu buat Emir," ucap Pandu dengan wajah menyesal melihat Hana yang sudah bahagia ketika akan mengajak pergi ke pasar malam.


Seketika senyum lebar dengan wajah sumringahnya musnah dari wajah Hana. Kini wajah Hana berubah menjadi sedih.


"Hana gak minta apa-apa kok Pak. Hana cuma pengen pergi ke sana aja. Hana diejek teman-teman Hana karena belum pernah ke sana."

__ADS_1


Hana mengatakannya dengan suara lirih dan wajah memohon mendekati Bapaknya.


"Tapi, Hana-"


"Udah yuk Hana kita berangkat," ucap Mirna yang sudah rapi dan tiba-tiba menggandeng tangan Hana.


"Tapi Mir aku-"


"Gak usah dipikirin mas. Aku ada uang kok. Tenang aja. Sekarang Mas Pandu ganti baju aja. Kita tunggu di sini," Mirna menyela ucapan Pandu.


Tanpa berdebat Pandu segera masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.


"Terima kasih ya Bu Mirna, Hana jadi bisa ke pasar malam. Hana janji gak akan minta belikan apa-apa," ucap Hana sambil memeluk Mirna.


Wah kesempatan ini supaya Hana bisa lebih dekat denganku dibanding dengan Anita, Mirna berkata dalam hatinya dengan mengembangkan senyumnya.


"Kata siapa Hana gak boleh beli apa-apa? Hana boleh kok beli yang Hana mau. Nanti ibu yang beliin kamu apa yang kamu mau," ucap Mirna setelah pelukan mereka berakhir.


"Beneran Bu?" tanya Hana dengan raut wajah tidak percaya.


Mirna pun mengangguk membenarkan apa yang dia ucapkan sebelumnya. Dan hal itu membuat Hana melompat-lompat kegirangan.


"Yeee... Hana sayang banget sama Bu Mirna," ucap Hana sambil mencium pipi Mirna.


Tanpa sadar Mirna pun tersenyum dan reflek membalas ciuman Hana dengan mencium pipi Hana.


Pandu yang baru keluar dari kamarnya berdiri mematung melihat Hana dan Mirna yang saling berpelukan dan berbalas mencium pipi.


Ada rasa tenang dan lega melihat Hana dan Mirna seperti itu. Hanya saja tiba-tiba dia teringat dengan Ani yang biasanya melakukan itu dengan Hana.


"Yuk berangkat!"


Pandu mengagetkan Hana dan Mirna yang saling tersenyum setelah mereka saling berbalas ciuman pipi.


"Sebentar mas, biar Emir aku bawa ke Anita dulu," ucap Mirna sambil berjalan menuju kamar.


"Loh, Emir gak dibawa Mir?" tanya Pandu menanggapi ucapan Mirna.


"Lebih baik Emir di rumah mas. Gak baik nanti kena angin malam," jawab Mirna yang sudah keluar dari kamar dengan menggendong Emir.


Setelah itu mereka pergi ke pasar malam dengan menggunakan motor berboncengan bertiga.


"Loh kalian di sini juga?"

__ADS_1


__ADS_2