Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 119 Ucapan adalah doa


__ADS_3

Shinta jengah dengan ocehan dari dokter Randi. Ingin sekali dia berjalan menghampiri suaminya dan menariknya menjauh dari Ustadzah Farida dan wanita paruh baya yang Shinta yakin itu ibu dari Ustadzah Farida. Namun apa daya, Shinta masih lemas, dia tidak yakin jika dia bisa berjalan seperti yang dia pikirkan. Sedangkan kursi rodanya di pegang erat oleh dokter Randi, sehingga Shinta tidak bisa beranjak pergi darinya.


"Dok, tolong lepaskan kursi roda saya!" Shinta mengeraskan suaranya dengan harapan Ustadz Jaki mendengarnya dan segera menolongnya agar menjauh dari dokter Randi.


"Dokter Shinta mau ke mana? Itu suamimu saja masih asyik berbicara dengan wanita lain. Dokter Shinta di sini saja saya temani," ucap dokter Randi dengan memasang senyum manisnya.


Shinta memandang suaminya yang juga memandang ke arahnya, namun wanita paruh baya yang sedang bersama suaminya itu berbicara tanpa henti. Dan setiap suaminya hendak bergerak melangkah, pasti tangan wanita paruh baya tadi memegang tangan suaminya yang berbalut baju koko, sehingga suaminya tidak bisa menghindar dari mereka.


Menurut pandangan Shinta, suaminya saat ini hampir sama dengan dirinya. Ustadz Jaki tidak bisa menghindar karena merasa tidak sopan jika meninggalkan orang yang lebih tua berbicara padanya. Berbeda dengan Shinta, dia tidak bisa menghindar dari dokter Randi karena dia tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman dokter Randi.


"Maaf Bu, istri saya sudah menunggu, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum," Ustadz Jaki menyela perkataan dari ibu Ustadzah Farida yang tak kunjung berhenti dan berjalan menuju istrinya berada.


"Yuk kita pulang Sayang," ucap Ustadz Jaki sambil berjongkok di depan Shinta dengan senyum manisnya yang mengembang.


Shinta pun mengangguk dan tersenyum untuk membalas senyum suaminya. Dan dia ingin memperlihatkan pada mereka, dokter Randi, Ustadzah Farida dan ibunya bahwa mereka sangat harmonis dan saling mencintai.


"Bisakah tangan anda menyingkir dari kursi roda istri saya?" Ustadz Jaki berbicara tegas dengan lebih menekankan kata istri ketika berbicara.


Tangan dokter Randi lepas dari kursi roda yang diduduki oleh Shinta dan tersenyum seolah meremehkan Ustadz Jaki.


Tanpa membuang banyak waktu, Ustadz Jaki segera meninggalkan tempat itu dengan berbelok mencari jalan lain agar tidak berpapasan dengan Ustadzah Farida dan ibunya.


"Kok lewat sini sih? Lebih jauh loh Sayang kalau mau ke parkiran," Shinta bersuara untuk mengurangi kecanggungan mereka karena terlihat jelas kemarahan yang tersirat pada wajah suaminya.


"Biar gak ketemu sama mereka," jawab Ustadz Jaki hanya seperlunya saja.


"Mereka? Siapa?" tanya Shinta ingin tahu.


"Ustadzah Farida dan ibunya," lagi-lagi Ustadz Jaki menjawab hanya seperlunya saja.

__ADS_1


Tidak ada candaan, kejahilan dan godaan dari Ustadz Jaki untuk istrinya. Shinta merasa agak sedikit tidak nyaman dan dia merasa rindu akan sosok suaminya yang selalu berhasil membuatnya malu, tertawa dan melongo tidak menyangka dengan tingkah dan kekonyolan suaminya.


Baru saja tadi di kamar inap Shinta merasa sangat senang dan terhibur dengan tingkah suaminya tapi sekarang setelah beberapa menit mereka turun ke lantai bawah, Shinta sudah merindukan kembali tingkah suaminya yang seperti biasanya, namun kini dia merasa diabaikan sehingga kesedihannya tentang kegugurannya kembali membayanginya dan menyalahkan dirinya. Dia tidak ingin suaminya diam dan cuek padanya seperti ini.


Suasana di dalam mobil terlalu sunyi untuk mereka berdua. Tidak pernah seperti ini sebelumnya, Shinta merasa aneh karena Ustadz Jaki biasanya tidak pernah berhenti menggoda ataupun berbicara padanya ketika berada di dalam mobil meskipun dalam keadaan menyetir sekalipun.


"Sepertinya ibunya Ustadzah Farida sangat dekat denganmu," Shinta mencoba membuka obrolan dengan suaminya.


Ustadz Jaki menoleh sebentar melihat istrinya, kemudian dia melihat ke arah depan kembali dan berkonsentrasi dengan jalanan.


"Kamu cemburu?" Ustadz Jaki bertanya pada istrinya.


"Iya. Dengan Mama Papaku aja kamu gak sedekat itu," Shinta mulai terprovokasi dengan keadaan.


Ustadz Jaki tahu jika sekarang Shinta sedang tersulut emosi, sehingga dirinya lah yang harus bersikap lebih tenang agar tidak terjadi pertengkaran dalam rumah tangga mereka.


"Tetap aja aku gak suka melihat Ustadzah Farida dan ibunya dekat denganmu. Apalagi jelas sekali kalau Ustadzah Farida masih menaruh harapan padamu. Dan itu terlihat jelas dari pandangan matanya ketika melihatmu dan senyumnya yang malu-malu itu ketika berbicara padamu," Shinta meluapkan kekesalan hatinya pada suaminya.


"Tapi aku kan gak seperti itu Shin. Aku tetap memegang teguh kesetiaanku pada istriku dan aku hanya mencintai istriku seorang," Ustadz Jaki mencoba meyakinkan istrinya untuk percaya padanya.


"Tetap aja aku gak suka lihatnya. Dan...," Shinta ragu untuk meneruskan ucapannya.


"Dan apa?" tanya Ustadz Jaki bingung dengan ucapan Shinta yang tidak diselesaikannya.


"Dan kamu gak punya cita-cita untuk poligami kan?" Shinta menanyakan pertanyaan yang sedari tadi mengganggunya setelah dokter Randi memprovokasinya.


"Astaghfirullahaladzim... gak pernah Sayang, aku gak pernah punya pikiran untuk berpoligami,. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh kayak gitu, aku gak suka. Dan ingat jika ucapan itu ibarat doa, jadi janganlah berbicara seperti itu lagi jika tidak ingin hal itu terjadi," ucap Ustadz Jaki yang sebenarnya menahan kekesalannya mendengar ucapan dari istrinya.


"Ya kali aja, Ustadz Fariz kan dulu...," Shinta tidak melanjutkan ucapannya karena dia lupa jika apa yang akan dia ucapkan merupakan hal tabu yang dibicarakan dalam keluarga mereka karena takut akan membuat Rhea bersedih.

__ADS_1


"Kamu tau kan jika Ustadz Fariz sebenarnya gak ingin menikahi Mirna? Dia hanya menjalankan wasiat dari Bapaknya Mirna aja, dan buktinya pernikahan mereka pun tidak berjalan dengan baik. Dan kamu pasti tau cerita selanjutnya bukan? Jadi stop bicara masalah poligami, karena sebenarnya aku dan Ustadz Fariz hanya ingin menikah dengan satu wanita yang kami cintai saja. Dan kami sudah mendapatkan cinta kami, lalu apa lagi yang kami cari dengan kami menikah lagi?" Ustadz Jaki berbicara sedikit kesal pada Shinta dan itu dirasakan oleh Shinta, namun Shinta sadar jika itu karena kesalahannya dalam berbicara.


"Bagaimana dengan dokter Randi? Sepertinya dia selalu mendekatimu. Apa kamu gak ngerasa dia menaruh hati padamu?" Ustadz Jaki menanyakan apa yang ingin dia tanyakan sedari tadi di rumah sakit karena merasa waktunya sangat tepat.


"Aku gak tau dan aku gak mau tau tentang dia. Aku akan menjauhinya jika memang suamiku menyuruhku untuk menjauhinya. Tapi aku juga ingin meminta hal yang sama, aku ingin kamu menjauhi Ustadzah Farida, apapun alasannya," Shinta menutup pembicaraannya karena dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka yang hanya akan merujuk pada pertengkaran.


Shinta memejamkan matanya agar tidak lagi ditanya atau diajak bicara oleh suaminya. Ustadz Jaki melihat sekilas istrinya yang tidak menyahuti ucapannya, dan dia tersenyum ketika melihat istrinya sudah memejamkan matanya untuk menghindari obrolan mereka.


Sesampainya di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ustadz Jaki sengaja tidak membangunkan Shinta meskipun dia hanya berpura-pura memejamkan matanya. Ustadz Jaki meniru Ustadz Fariz yang menggendong istrinya menuju kamar mereka.


Shinta berteriak kegirangan dalam hatinya hanya karena digendong oleh suaminya dari mobil menuju kamar. Rasanya perlakuan manis dari suaminya ini ingin selalu dia ulang agar dia bisa merasakan ketulusan cinta dari suaminya.


Malam harinya, ketika mereka selesai makan malam bersama, Shinta diharuskan untuk istirahat di kamar. Ustadz Jaki membawa Shinta ke dalam kamar mereka, namun setelah beberapa menit pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang.


Ustadz Jaki membuka pintu kamarnya dan terlihatlah Mbak Atik yang berada di depan pintu kamar mereka.


"Ada apa Mbak?" Ustadz Jaki bertanya pada Mbak Atik yang sedikit gusar.


"Anu Ustadz... itu... anu.. apa...," jawab Mbak Atik gugup dan ragu-ragu.


"Anu itu apa Mbak?" tanya Ustadz Jaki yang merasa kebingungan dengan apa yang dibicarakan oleh Mbak Atik.


"Itu Ustadz, di bawah ada Ustadzah Farida dan ibunya ingin bertemu dengan Ustadz Jaki," Mbak Atik mengatakannya dengan sedikit takut.


"Mau apa mereka?" tanya Ustadz Jaki yang sama sekali tidak mau menemui mereka.


"Tidak tau Ustadz, katanya penting sekali," jawab Mbak Atik.


Ada apa lagi ini? Apa benar perkataan suamiku tentang ucapan yang berarti doa tadi? Ya Allah... aku gak mau jika harus dipoligami, ucap Shinta dalam hati dengan berpura-pura tertidur.

__ADS_1


__ADS_2