Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 249 Mencari jawaban hati


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Izam langsung masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Rhea dari dalam kamarnya dan berjalan keluar menemui anak dan suaminya.


Ternyata Rhea sempat melihat Izam masuk ke dalam kamarnya. Dia heran karena tidak biasanya dia seperti itu.


"Kenapa Izam Bi? Kok main nyelonong aja? Biasanya selalu nyariin Bunda terlebih dahulu kalau pulang," tanya Rhea pada Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz tersenyum pada istrinya yang sedang mencium punggung telapak tangannya. Kemudian dia mencium sedikit lama kening istrinya.


"Nanti Abi ceritakan. Apa Bunda mau ikut ke rumah sakit nanti setelah Abi sama Izam mengajar?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea.


"Bunda mau Bi. Bagaimana keadaan Salsa sekarang Bi?" tanya Rhea penasaran.


"Alhamdulillah dia sudah sadar dan dipindahkan ke ruang perawatan. Kita ke kamar dulu Sayang, Abi mau ganti baju dulu," ucap Ustadz Fariz sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya mengajaknya berjalan menuju kamar mereka.


Di dalam kamarnya, Izam mengganti pakaiannya dan berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya.


Dia memperhatikan dirinya sendiri mulai dari atas hingga bawah melalui pantulan cermin.


Apa yang Salsa suka dari diriku? Aku tidak sehebat teman-teman kami yang lain. Dan kami sudah terbiasa bersama sejak kecil. Apa dia yakin mencintaiku? Atau dia salah mengartikan rasa terbiasa dengan rasa cintanya?


Izam bertanya-tanya dalam hatinya sambil menatap bayangan dirinya yang ada dalam cermin tersebut.


Tangannya dia letakkan di atas dadanya, mata nya terpejam, dia niatkan untuk mengetahui apa isi hatinya yang sesungguhnya.


Beberapa menit berlalu, matanya terbuka, bibirnya tersenyum, sepertinya dia sudah menemukan jawaban dari hatinya.


"Tinggal nanti malam saja meminta petunjuk pada Allah," ucap Izam yang masih menatap dirinya di cermin.


Di dalam kamar, Rhea menanyakan kembali tentang Salsa. Ustadz Fariz pun menceritakan semuanya pada istrinya.

__ADS_1


Tentu saja Rhea terkejut karena dia tidak menyangka jika Putranya dan Salsa saling mencintai.


"Apa Abi yakin?" tanya Rhea penasaran.


"Kalau untuk Salsa, kamu bisa tanyakan pada Shinta, atau mungkin Yasmin sudah tau. Memang Abi hanya mengira-ira saja, tapi menurut penglihatan Abi sih memang benar Salsa mencintai Izam. Dan putra kita itu belum menyadari perasaannya pada Salsa yang sebenarnya, tapi apa yang dia lakukan itu menunjukkan bahwa dia sebenarnya mencintai Salsa. Entahlah itu semua benar atau tidak. Kita hanya perlu mengawasi dan mendoakan yang terbaik untuk mereka," tutur Ustadz Fariz sambil tersenyum dan memegang kedua tangan istrinya.


"Apa Abi merestui jika mereka memang saling mencintai?" tanya Rhea menyelidik.


Ustadz Fariz kembali tersenyum, tangannya kini mengusap kedua pipi istrinya. Lalu dia berkata,


"Memangnya Bunda menyetujui mereka?" tanya Ustadz Fariz sambil tersenyum.


Baru saja Rhea akan menjawab, mulutnya sedikit terbuka dan dia terkejut karena suaminya itu malah mencuri ciuman darinya.


Ustadz Fariz mencium kedua pipi istrinya, setelah itu dia berjalan keluar kamar sambil terkekeh dan mengucapkan salam.


Ternyata di ruang tengah Izam sedang menunggu Abi nya. Mereka berangkat bersama ke Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk melakukan kewajibannya memberikan ilmu yang mereka punya pada para santri.


Saat mengajar pun Izam terlihat cemas. Dia selalu melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Sepertinya dia ingin sekali menyelesaikan kegiatannya itu.


Izam memang akan segera memberitahukan bagaimana perasaannya sebenarnya pada Salsa. Apakah dia juga mencintainya atau hanya menganggapnya sebagai adik saja seperti Yasmin? Tentu saja dia akan memberitahukan hal itu, tapi bukan sekarang.


"Izam, kamu ikut ke rumah sakit atau di rumah saja?" tanya Rhea setelah Izam mengucap salam dan mencium punggung tangannya.


"Ikut dong Bun, masa' Izam ditinggal sendirian di rumah sih?" jawab Izam.


Rhea tersenyum, sebenarnya dia ingin sekali menanyakan tentang perasaan Izam pada Salsa, tapi keinginannya itu hanya ditahannya saja.


Seperti kata Ustadz Fariz, suaminya, dia harus menunggu Izam dan Salsa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mereka harus mencari tahu tentang perasaan mereka masing-masing.


Selama di rumah sakit, perhatian Izam hanya tertuju pada Salsa. Matanya enggan menatap ke arah manapun. Rupanya Izam juga berusaha mencaritahu tentang perasaannya yang sebenarnya pada Salsa.

__ADS_1


Tring!


Suara notifikasi ponsel Izam mengalihkan perhatian semua mata yang ada di ruang perawatan Salsa.


Izam segera membaca pesan tersebut. Ternyata pesan tersebut dari Adiba. Dia mengajak Izam bertemu dengannya. Tentu saja mereka ditemani oleh Ammar dan Adiba ingin Izam mengajak Yasmin dan Salsa.


Alasan Adiba menyuruh Izam mengajak Yasmin dan Salsa adalah agar dia bisa lebih dekat dengan mereka.


Namun, tanpa Adiba tahu jika hal itu menyenangkan hati Ammar. Dia memang ingin sekali kembali bertemu dan mencoba berbincang dengan Yasmin serta Salsa.


Sayangnya ajakan Adiba untuk bertemu itu ditolak oleh Izam. Dia mengatakan bahwa Salsa sedang sakit sehingga mereka tidak bisa bertemu.


Selang beberapa saat, mereka dikejutkan oleh kedatangan Adiba dan Ammar di ruang perawatan Salsa.


"Adiba kok tau jika Salsa dirawat di rumah sakit?" tanya Rhea pada Adiba ketika mereka sudah beberapa saat berada di ruangan tersebut.


"Tadi Kak Izam yang memberitahu," jawab Adiba sambil tersenyum dan sekilas menoleh ke arah Izam.


Ternyata Izam tidak memperhatikan Adiba, dia sibuk memperhatikan Ammar yang mencoba berbicara pada Salsa dan Yasmin.


Salsa yang merasa sakit melihat Adiba apalagi mendengar jika Izam yang memberitahukan pada Adiba tentang sakitnya, dia lebih memilih berbicara pada Yasmin dan Ammar.


Sepertinya Ammar benar-benar ingin lebih dekat dengan Yasmin dan Salsa. Apa Ammar menyukai di antara mereka berdua ya? Atau jangan-jangan Ammar menyukai Yasmin dan Salsa. Enggak, itu gak boleh terjadi. Paling tidak dia harus memilih salah satu di antara mereka. Tapi kenapa aku gak suka lihat Ammar dekat dengan mereka ya? Izam berkata dalam hatinya dengan memandang mereka bertiga.


Ternyata Adiba tidak mempunyai kesempatan berbicara dengan Izam. Dia bergabung dengan Yasmin, Salsa dan Ammar ketika Izam ikut mengobrol dengan mereka.


Salsa, dia terlihat sangat tidak nyaman. Dan dia berpura-pura menguap agar Ammar dan Adiba segera pulang.


Melihat Salsa menguap, Ammar segera mengajak Adiba berpamitan pulang pada semuanya.


"Izam, antar lah mereka sampai luar," ucap Ustadz Fariz pada Izam.

__ADS_1


Bukannya Ustadz Fariz berpihak pada salah satu di antara Salsa atau Adiba, dia hanya ingin Izam, putranya itu benar-benar mengetahui perasaannya jika berdekatan dengan Adiba ataupun Salsa. Dan Ustadz Fariz berharap agar Izam dengan gentle nya bisa menyelesaikan masalah tersebut secara baik-baik ketika menolak salah satu di antara mereka.


"Izam, apa sudah kamu temukan jawabannya?" tanya Ustadz Fariz pada Izam ketika mereka berada dalam mobil menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin.


__ADS_2