Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 95 Usaha tidak akan mengkhianati hasil


__ADS_3

"Umi... Umi... Umiiii....," Ustad Jaki berteriak memanggil-manggil Umi dari dalam kamarnya hingga turun ke bawah menuju ruang tengah dengan berlari-lari.


"Ada apa toh Le... Le... bikin Umi kaget aja," ucap Umi Sarifah sambil memegang dadanya.


"Hehehe... maaf Umi. Itu... eh... anu... itu...," saking senangnya Ustad Jaki jadi gugup sehingga gagap pada saat berbicara.


"Apa toh, itu anu, ada apa?" tanya Umi Sarifah kembali ingin tahu.


"Shinta Umi, hehehehe....," Ustad Jaki menampilkan tawa senangnya.


"Kenapa? Ada apa dengan Shinta?" tanya Umi Sarifah penasaran.


"Itu Umi, orang tuanya udah pulang besok. Jadi kapan kita ke rumah Shinta Umi?" Ustad Jaki bertanya pada Umi Sarifah dan duduk di dekatnya.


"Emangnya mau ngapain?" sahut Rhea yang sudah ada sedari tadi disitu duduk di dekat Umi Sarifah.


"Ck, pura-pura lupa. Ya mengkhitbah Shinta lah, mau ngapain lagi ke sana," jawab Ustad Jaki kesal, sedangkan Rhea dan Umi Sarifah terkekeh melihat Ustad Jaki yang seperti anak kecil.


"Terserah kamu aja. Maunya kapan Le?" tanya Umi Sarifah memastikan.


"Kalau Jaki sih maunya secepatnya Umi," Ustad Jaki kembali tersenyum lebar menjawab pertanyaan Umi Sarifah.


"Kalau gitu-"


"Assalamu'alaikum....," ucapan salam dari Ustad Fariz menyela pembicaraan Umi Sarifah.


"Wa'alaikumussalam....," mereka bertiga serentak menjawab salam dari Ustad Fariz.


Ustad Fariz masuk dengan muka yang terlihat kesal, namun berubah ketika melihat wajah istrinya. Dia tersenyum melihat wajah Rhea yang sangat dirindukannya walaupun baru beberapa jam tidak bertemu.


"Gimana Ustad, udah selesai?" tanya Ustad Jaki pada Ustad Fariz.


"Udah. Ustad tadi kemana kok gak balik ke sana?" Ustad Fariz bertanya dengan sedikit kesal.


"Maaf, lagi ada yang penting. Shinta tadi telepon, ngasih tau kalau besok orang tuanya udah pulang," jawab Ustad Jaki menjelaskan.


Coba kalau Ustad Jaki tadi ada disitu, pasti gak akan terjadi kan ini tadi, batin Ustad Fariz dengan kesalnya.

__ADS_1


"Saking lupanya sampai lupa tuh," Rhea meledek Ustad Jaki.


"Ada masalah apa?" tanya Umi Sarifah ingin tahu.


"Biasa Umi, ada santri yang melanggar peraturan," jawab Ustad Fariz yang kini sudah duduk di sebelah Rhea yang bersebelahan dengan Umi Sarifah.


"Kok kamu ikut turun tangan Le? Apa sangat fatal?" tanya Umi Sarifah khawatir.


"Tidak Umi, alhamdulillah semuanya sudah selesai," Ustad Fariz tersenyum untuk menenangkan hati Umi Sarifah.


"Ya sudah kalau gitu kita bahas saja tentang Ustad Jaki yang mau mengkhitbah Shinta," Umi Sarifah mengalihkan pembicaraan mereka.


"Jadi kapan acara khitbah nya Ustad?" Ustad Fariz bertanya pada Ustad Jaki.


"Rencananya sih secepatnya Ustad, biar gak cemburu-cemburu lagi kayak kemarin," jawab Ustad Jaki.


"Meskipun udah nikah masih bisa cemburu kali Ustad. Asal kalian para kaum pria tidak macam-macam, kami para kaum wanita pasti gak akan cemburu. Ingat, insting wanita itu tajam," Rhea menyindir Ustad Jaki dan Ustad Fariz.


"Ustad, ternyata wanita itu nyeremin ya," Ustad Jaki mengucapkan pada Ustad Fariz dengan suara lirih dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang menghadap ke arah Ustad Fariz.


"Kata siapa? Istriku gak nyeremin kok. Iya kan Sayang?" Ustad Fariz tersenyum pada Rhea meminta dukungan Rhea.


"Udah, ini jadi kapan ke rumah Shinta nya?" Umi Sarifah menengahi perdebatan mereka, namun dia sangat bahagia melihat mereka berdebat dan bercanda sehingga membuat rumah serasa tidak sepi.


"Jadi kapan Ustadz biar kita bantu menyiapkan," Rhea kini bersikap serius untuk membantu agar Ustad Jaki bisa segera menikah dengan Shinta.


"Secepatnya dong biar cepat terlaksana," jawab Ustad Jaki sambil tersenyum lebar.


"Ya udah gimana kalau lusa saja, besok kita siapkan semuanya," Ustad Fariz memberikan usulnya.


"Boleh. Gimana Umi?" Rhea kini bertanya pada Umi Sarifah.


"Terserah kalian saja, Umi setuju-setuju saja asal kalian siap semuanya," Umi Sarifah memberikan jawabannya.


Dan mereka pun mulai membahas untuk acara tersebut, apa saja yang akan mereka bawa dan siapa saja yang akan ikut ke sana.


Hari ini pun tiba, hari di mana Ustad Jaki akan mengkhitbah Shinta. Semua barang yang akan dibawa sudah siap. Mereka semua masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan.

__ADS_1


"Itu keluarga Kyai mau ke mana ya?" Ustadzah Indri bertanya pada Ustadzah yang lain ketika mereka keluar dari ruangan pengajar bersama-sama.


"Siapa? Eh semuanya ya, Kyai Fariz dan istrinya, Ustad Jaki dan Umi Sarifah. Bawaannya banyak banget, mau ke mana ya mereka?" kini Ustadzah Farida yang berbicara.


"Oh itu, mereka mau mengkhitbah seseorang," jawab Ustad Bani yang memang hanya dia yang tau jika hari ini Ustad Jaki mengkhitbah Shinta.


"Khitbah? Siapa?" tanya Ustadzah Nurul yang ikut mendengar percakapan mereka.


"Nanti juga kalian akan tau," Ustad Bani tersenyum ketika meninggalkan mereka yang masih bertanya-tanya tentang acara khitbah itu.


"Jangan-jangan Ustad Jaki yang mau mengkhitbah seseorang, kan hanya dia yang belum nikah," Ustadzah Anisa kini mengutarakan penikirannya.


"Belum tentu Ustadzah. Waktu itu Kyai Fariz kan udah nikah sama Bu Mirna, tapi dia nikah lagi sama Mbak Rhea," sahut Ustadzah Farida.


"Jadi menurut kamu Kyai Fariz mau nikah lagi gitu? Ngawur kamu itu," Ustadzah Nurul menyahut perkataan Ustadzah Farida.


"Kan belum tentu Ustadzah. Saya hanya mengatakan faktanya saja waktu itu," Ustadzah Farida membela dirinya.


"Jadi Kyai Fariz itu poligami ya? Lalu mana istrinya yang satunya?" Ustadzah Indri ingin mencari tahu lebih banyak lagi tentang Ustad Fariz.


"Istri pertamanya sudah diceraikan. Sekarang Mbak Rhea jadi istri satu-satunya dari Kyai Fariz," jawab Ustadzah Farida.


"Oh jadi penganut poligami juga ya. Berarti ada kesempatan dong buat aku. Siapa tau sama kayak istrinya yang sekarang, istri yang baru malah dijadikan istri satu-satunya," ucap lirih Ustadzah Indri, namun masih bisa didengar oleh Ustadzah Anisa dan Ustadzah Farida karena Ustadzah Indri berjalan ditengah-tengah mereka dan Ustadzah serta Ustad yang lain berjalan di depan mereka dengan jarak yang lumayan jauh.


"Husss, kamu ini belum kapok juga ya sama yang kemarin?" Ustadzah Anisa mengingatkan Ustadzah Indri tentang kejadian tempo hari.


"Namanya juga usaha Ustadzah, siapa tau berhasil, iya gak Ustadzah Farida? Ada yang bilang usaha tidak akan mengkhianati hasil," Ustadzah Indri masih saja membela keinginannya untuk mendekati Ustad Fariz.


"Ustadzah Indri lebih baik cari yang lain aja ya, istrinya sedang hamil loh, jangan membuat masalah," Ustadzah Anisa menegur Ustadzah Indri.


"Jangan sampai membuat Kyai Fariz marah, karena dia akan sangat marah jika Mbak Rhea disakiti oleh orang lain," Ustadzah Farida menambahi ucapan Ustadzah Anisa.


"Ya kan siapa tau jika cintanya bisa berpindah ke orang yang baru. Apalagi orang yang pernah berpoligami, pasti dia bisa membagi cintanya," Ustadzah Indri masih saja ngeyel meskipun sudah diberi tahu oleh Ustadzah Anisa dan Ustadzah Farida.


"Haduh Ustadzah Indri ini ngeyel banget sih kalau dikasih tau. Ya sudah lah terserah mau apa, yang penting saya sudah mengingatkan Ustadzah Indri," Ustadzah Anisa meninggalkan mereka berdua berjalan lebih dulu dengan rasa kesal.


"Tuh kan Ustadzah Anisa marah. Ustadzah Indri sih," Ustadzah Farida menyalahkan Ustadzah Indri dan berjalan cepat dengan sedikit berlari menyusul Ustadzah Anisa.

__ADS_1


Kok jadi aku yang salah? Kan memang benar kalau orang poligami berarti bisa membagi cintanya. Siapa tau aja cintanya bisa dibagi ke aku. Syukur-syukur kalau semua cintanya buat aku, Ustadzah Indri tersenyum di setiap langkah kakinya sambil berkata dalam hatinya.


__ADS_2