Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 166 Kebahagiaan dan kesedihan


__ADS_3

Tangisan bayi yang baru saja lahir dari dalam ruang operasi membawa tawa kebahagiaan bagi semua orang, baik di dalam ruang operasi ataupun di luar ruang operasi.


Mereka semua merasa bersyukur dan bisa bernafas dengan lega pasalnya bayi yang mereka takutkan keselamatannya sudah lahir dengan selamat.


"Selamat Pak anak Bapak sudah lahir, dia-"


"Dok! Pasiennya.....," seru perawat dari dalam ruang operasi memanggil Shinta.


Sontak saja Shinta yang merupakan dokter pemimpin operasi kelahiran bayi Shinta menjadi panik dan berlari masuk kembali ke dalam ruang operasi.


Deg!


Ada apa dengan Ani? Bayinya sudah lahir dan harusnya Ani juga baik-baik saja. Sekarang apa lagi yang sedang terjadi? Pandu hanya bisa bertanya dengan dirinya sendiri dalam hatinya.


"Pak, ada apa? Apa Ibu baik-baik saja?" Hana bertanya karena bingung dengan situasi yang ada.


"Bapak belum tau Hana, Ibu masih di dalam ruangan itu," Pandu menjawab pertanyaan Hana dengan tersenyum agar Hana tidak lagi mengkhawatirkan ibunya.


"Lalu kenapa Ibu gak keluar-keluar Pak? Adek bayinya aja udah keluar," Hana kembali lagi bertanya pada Pandu.


Pandu berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Hana, kemudian dia memandang Hana dan tersenyum padanya sembari tangannya mengusap rambut Hana dengan lembut.


"Kita doakan saja ya agar Ibu baik-baik saja dan bisa berkumpul dengan kita," ucap Pandu untuk menenangkan Hana.


Terdengar suara sepatu orang yang berlari mendekati mereka. Pandu melihat ke arah tersebut, dan dia mendapati dokter Dion sedang berlari masuk menuju ruang operasi.


Ya Allah, ada apa ini? Kenapa suasananya jadi seperti ini? Kenapa hatiku jadi tidak tenang? Pandu kembali bertanya-tanya dalam hatinya.


Beberapa menit berlalu, Pandu tampak semakin gelisah, namun dia tidak menampakkannya agar Hana tidak merasa khawatir seperti dirinya saat ini.


"Hana, Bu Mirna sudah sadar. Apa adik Hana sudah lahir?" tiba-tiba suara Anita mengalihkan perhatian Pandu dan Hana yang sedari tadi menatap pintu ruang operasi, dan kini mereka menoleh pada Anita.


"Mbak Anita....," Hana berhambur memeluk Anita.

__ADS_1


"Adek Hana sudah lahir, dia-"


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" suara Pandu menyela ucapan Hana yang sedang berbicara pada Anita.


Dokter Shinta dan dokter Dion mendekat pada Pandu. Wajah kedua dokter itu tampak tidak baik-baik saja.


"Kami sudah berusaha sekuat tenaga kami Pak, tapi sepertinya istri Bapak tidak mau berkerja sama dengan kami," dokter Dion berkata pada Pandu dengan penuh penyesalan dan keringat yang terlihat masih ada di pelipisnya.


"Sepertinya istri Bapak tidak mau berjuang untuk tetap hidup. Sebenarnya tadi kami sudah berhasil mengembalikan detak jantungnya yang melemah Pak, namun beberapa saat kemudian kondisi pasien kembali menurun dan ketika kami berusaha untuk mengembalikannya, kami tidak berhasil Pak. Maafkan kami dan kami turut berduka cita," Shinta menyambung ucapan dokter Dion pada Pandu.


Seketika tubuh Pandu lemas dan dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa mematung dan air matanya lolos begitu saja jatuh ke pipinya.


Dokter Dion dan dokter Shinta meninggalkan mereka setelah memberikan kabar duka tersebut dan berpamitan pada mereka.


"Ada apa Pak? Kenapa Bapak menangis?" Hana bertanya pada Pandu.


Anita memeluk Hana yang tidak tahu apa-apa. Air mata Anita pun luruh tak bisa dikendalikannya karena merasakan kesedihan Pandu dan Hana.


Karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Pandu, Hana pun bertanya pada Anita yang kini sedang memeluknya.


Anita pun tidak bisa menjawab, dia juga tidak mempunyai hak untuk menjawab pertanyaan Hana. Anita takut jika dia salah menyampaikan kabar pada Hana. Biarlah Pandu sebagai bapaknya yang menjelaskan pada Hana, pikirnya.


Anita hanya diam. Dia melepaskan pelukannya pada Hana agar Hana bisa bertanya pada bapaknya.


Dan benar saja, Hana mendekati Pandu dan bertanya pada Pandu. Hana ikut menangis karena melihat Pandu dan Anita mengeluarkan air mata mereka.


"Ibu kenapa Pak? Ada apa dengan ibu?" tanya Hana pada Pandu disela isakan tangisnya dan tangannya menggoyang-goyangkan tangan Pandu agar Pandu mau menjawabnya.


Pandu tersadar dari kesedihannya. Dia berjongkok dihadapan Hana yang sedang terisak dalam tangisnya.


"Hana, ibu sudah tiada. Ibu sudah menyusul Kakekmu di sana," ucap Pandu sambil menunjuk ke arah atas.


"Apa itu berarti Ibu sudah meninggal pak?" tanya Hana disela isakan tangisnya.

__ADS_1


Pandu pun mengangguk dan berkata,


"Kita harus sabar ya Hana, ibu pasti tidak mau melihat kita bersedih ataupun menangis," Pandu menyambung kembali ucapannya.


"Lalu Hana sama siapa Pak? Adek Hana bagaimana?" tangisan Hana semakin besar ketika mengucapkannya.


Pandu memeluknya dan ikut menangis ketika berpelukan bersama Hana. Anita yang melihat mereka menjadi semakin sedih melihat Hana yang masih kecil ditinggal oleh ibunya dan adiknya yang baru saja lahir pun tidak sempat merasakan kasih sayang ibu yang telah berjuang keras mempertaruhkan nyawanya demi melahirkannya.


Tiba-tiba suara pintu ruang operasi terbuka, dan itupun mengalihkan perhatian Pandu, Hana dan Anita.


Pandu dan Hana melihat bed pasien yang keluar dari ruang operasi bertutupkan kain putih. Pandu menghentikan mereka yang sedang mendorong bed pasien tersebut.


Dibukanya kain penutup berwarna putih itu dan dilihatnya wajah istrinya yang pucat pasi yang ditutupi kain berwarna putih.


"Tidak, Ani... bagaimana aku harus mengasuh anak-anak kita jika kamu pergi? Bayi yang baru saja kamu lahirkan sangat membutuhkanmu Ani. Bangunlah.... ayo kita pulang ke rumah kita. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Bangunlah...," ucap Pandu disela tangisnya sambil mengusap pipi Ani yang sudah memucat.


"Maaf Pak, kita harus segera memprosesnya. Silahkan Bapak ikut kami jika masih ingin melihatnya sebelum kami proses lebih lanjut jasadnya," ucap salah satu perawat yang berada di sana.


"Ikutlah Pak, biar Hana bersama dengan saya," Anita menyahuti dari belakang Pandu sambil menggendong Hana yang tangisannya semakin menjadi ketika melihat jasad ibunya.


"Ibu... Ibu.. Hana mau ikut Ibu... Jangan tinggalkan Hana Bu....," Hana berucap disela tangisnya yang semakin menjadi.


"Tolong jaga Hana, saya akan mengurus istri saya dulu," Pandu meminta tolong pada Anita setelah menghentikan tangisnya.


"Hana gak mau Pak, Hana mau ikut Ibu aja," tangis Hana semakin menjadi.


Anita pun mengajak Hana pergi dengan menggendongnya meskipun Hana memberontak meminta untuk diturunkan dari gendongan Anita.


Anita membawa Hana masuk ke kamar Mirna. Sontak saja Mirna kaget ketika suara tangis Hana yang semakin menjadi dan histeris memanggil ibunya masuk ke dalam kamarnya.


"Loh... loh... loh... ada apa Nit? Kenapa dia menangis seperti itu? Kenapa dia kamu bawa ke sini?" Mirna kaget dan bertanya pada Anita.


"Ibunya meninggal setelah melahirkan bayinya, Mbak," jawab Anita yang berwajah sedih sedari tadi pada saat masuk kamar inap Mirna.

__ADS_1


Deg!


Mirna merasa kaget dan bersamaan dengan itu, air mata Mirna jatuh tanpa dia sadari.


__ADS_2