
Wilayah di Pondok Pesantren Al-Mukmin juga tak kalah gelap dengan rumah Umi Sarifah. Bedanya banyak cahaya kecil dari lilin yang dinyalakan dari setiap kamar.
"Ustadzah, Ustadzah Farida... ssst...," Ustadzah Indri memanggil Ustadzah Farida karena dia tidak bisa tidur dengan lampu yang padam.
"Apaan sih Ustadzah," jawab Ustadzah Farida yang sangat mengantuk.
"Ustadzah, ini bukan doa dari Ustadzah Farida kan?" tanya Ustadzah Indri yang bermaksud mencari teman untuk mengobrol.
Ustadzah Farida memang sekamar dengan Ustadzah Indri. Sedangkan Ustadzah Anisa kamarnya terletak di samping kamar Ustadzah Farida dan Ustadzah Indri.
"Maksud Ustadzah?" Ustadzah Farida bertanya karena bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Ustadzah Indri.
"Ya kali aja Ustadzah Farida mendoakan agar malam pertama Ustadz Jaki dan istrinya gagal," ucap Ustadzah Indri sambil terkekeh.
"Astaghfirullahaladzim Ustadzah... saya gak punya pikiran seperti itu Ustadzah. Udah ah, saya mau tidur dulu," ucap Ustadzah Farida kesal atas tuduhan Ustadzah Indri.
"Ya maaf, saya kan cuma nanya aja. Tapi Ustadzah, gimana malam pertamanya ya kalau gelap-gelapan gini?" ucap Ustadzah Indri yang benar-benar penasaran pada apa yang dilakukan oleh sepasang pengantin baru.
"Udah, Ustadzah tidur aja. Ngapain coba ngurusin malam pertamanya orang lain. Udah tidur sana, biar pikirannya gak kemana-mana," Ustadzah Farida memutus percakapannya dengan Ustadzah Indri.
......................
Mirna merasakan kembali sakit yang luar biasa di perutnya. Pada pesta pernikahan Ustadz Jaki, ingin sekali dia hadir, bukan karena ingin memberikan selamat karena Ustadz Jaki dan dirinya tidak pernah akur. Hanya saja dia ingin merasakan berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin pada acara besar seperti perayaan pernikahan itu.
Pasti sangat menyenangkan jika aku berada di sana, ada banyak orang yang mengenalku sebagai istri dari Kyai Pondok Pesantren Al-Mukmin dan pastinya semua orang akan menaruh hormat padaku, Mirna berkata dalam hatinya ketika melihat dari jauh tenda yang berada di dalam Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Mirna berpura-pura berjalan disekitar wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin dan berhenti di daerah depan gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin yang banyak sekali penjual untuk membeli jajanan.
"Eh bagaimana kabarnya Bu Mirna ya, mantan istrinya Kyai Fariz yang diceraikan karena menyakiti istri kedua dari suaminya?" suara ibu-ibu yang berjualan di daerah depan gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Apa dia tidak hadir di acara ini?" tanya ibu-ibu penjual lainnya.
"Bukannya dia sedang sakit parah? Masa' iya bisa jalan-jalan?" suara dari ibu-ibu yang lain.
"Beneran sakit parah? Tau dari mana?" tanya ibu-ibu yang satunya lagi.
"Ibu belum tau? Semua orang sudah tau loh," jawab ibu yang tadi memberitahu.
"Lagian gak mungkin dia ada di sana, kabarnya sih dia sudah dilarang masuk ke area Pondok Pesantren Al-Mukmin," sahut ibu-ibu lainnya.
Loh kenapa dilarang? Masa' mantan suaminya setega itu? Dia Kyai di Pondok Pesantren Al-Mukmin kan?" tanya ibu-ibu penjual dari desa sebelah.
__ADS_1
"Gimana gak dilarang, wong Bu Mirna kalau datang kesitu selalu menyakiti istri mantan suaminya. Sudah dua kali dia membuat istri dari suaminya hampir keguguran," jelas ibu-ibu penjual yang lain.
Mirna tidak mau mendengar tentang gosip dirinya, akhirnya dia yang pergi dari tempat itu. Dan ibu-ibu yang berjualan di sana menatap penuh curiga wanita yang memakai gamis syari hitam dengan cadar tersebut yang pergi setelah mereka membicarakan tentang Mirna.
Sesampainya di depan rumah, dia disambut Anita yang sudah berpakaian rapi hendak menghadiri pesta pernikahan Ustadz Jaki dan Shinta. Sedangkan Pak Ratmo sudah berada di sana sejak pagi tadi.
"Dari mana Mbak?" tanya Anita yang berdiri di depan pintu hendak menutup pintu.
"Cuma jalan-jalan," jawab Mirna singkat.
"Mbak Mirna di rumah aja ya, aku mau-"
"Udah kamu berangkat aja," ucap Mirna sambil melewati Anita untuk masuk ke dalam rumah.
Anita tidak mau ambil pusing, dia pergi meninggalkan rumah menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin. Sedangkan Mirna sendiri di dalam rumah merasakan kebosanan melanda dan perasaan resah tentang kehidupannya.
Karena terlalu banyak pikiran, Mirna kembali merasakan sakit di perutnya. Namun pikiran-pikiran itu tak kunjung hilang, malah bertambah ketika dia merasakan sakit. Dia berandai-andai jika dia sakit seperti ini pasti suaminya akan merawatnya, memanjakannya dan khawatir sehingga suaminya akan rutin memeriksakannya ke rumah sakit.
Sakit di perutnya semakin menjadi ketika pikirannya semakin dalam membuat kesedihannya semakin meningkat. Mirna beranjak dari ruang TV menuju kamar ketika rasa sakitnya dirasakan tidak bisa ditahannya. Dia merebahkan dirinya dengan tengkurap menaham rasa sakit di perutnya, namun kadang dia melengkungkan tubuhnya dan menekan bagian perutnya yang sakit.
Sudah lama Anita dan Pak Ratmo berada di ruang TV, namun Mirna tidak keluar dari kamarnya. Anita disuruh Pak Ratmo untuk melihat Mirna di kamarnya.
Tak terasa Mirna berada di dalam kamar tertidur hingga Anita dan Pak Ratmo pulang ke rumah. Anita melihat Mirna yang tertidur dengan keringat dingin yang membasahi pelipis dan dahinya.
"Mirna kenapa?" tanya Pak Ratmo sedikit kaget.
"Mbak Mirna tidur tapi keringat dinginnya banyak Pak..Coba deh Bapak lihat. Cepetan Pak. Ayo...," ucap Anita sambil menarik tangan Pak Ratmo menuju kamar Mirna.
Pak Ratmo melihat wajah Mirna yang pucat dan berkeringat dingin membuatnya sangat khawatir padanya. Nduk, coba kamu bangunkan Mbak mu itu, siapa tahu dia mau bangun," ucap Pak Ratmo menyuruh Anita.
Kemudian Anita membangunkan Mirna dan Mirna pun sedikit membuka matanya.
"Mbak Mirna gapapa" tanya Anita yang sudah duduk di ranjang membangunkan Mirna.
Mirna menggeleng dan berkata, "Sama seperti biasanya Nit."
"Mirna, kita periksa lagi ke rumah sakit ya. Paman rasa kamu harus mendapatkan perawatan lebih daripada yang sekarang," Pak Ratmo memberikan pendapatnya pada Mirna.
"Aku kan takut disuntik Paman," ucap Mirna menolak.
"Paman tidak menerima penolakan Mir, pokoknya kita harus ke rumah sa-"
__ADS_1
Tiba-tiba lampu padam sehingga ucapan Pak Ratmo tidak diteruskan.
"Lilin... lilin... cepat kalian nyalakan lilin. Bapak mau memeriksa di depan dulu," ucap Pak Ratmo sambil berjalan perlahan dan tangannya meraba-raba untuk keluar dari kamar Mirna menuju luar rumah.
Dan ternyata Pak Ratmo melihat di luar rumahnya juga gelap gulita. Kemudian dia masuk kembali ke dalam rumahnya dengan hati-hati dan kembali menemui Anita dan Mirna untuk memberitahu bahwa terjadi pemadaman listrik dari pusat. Dan memaksa Mirna untuk menurut padanya agar besok Mirna mau memeriksakan dirinya ke rumah sakit kembali.
Keesokan harinya Mirna kembali menolak ketika Pak Ratmo mengajaknya untuk ke rumah sakit. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah lebih baik setelah meminum obatnya semalam dan memang wajah Mirna tidak sepucat kemarin namun hanya sedikit pucat saja, dan badannya juga tidak selemah kemarin.
Bahkan sekarang Mirna berusaha membuktikan bahwa badannya baik-baik saja dengan membantu Anita memasak di dapur dan membersihkan rumah agar Pak Ratmo percaya bahwa dirinya baik-baik saja.
Pak Ratmo pun percaya dan dia tidak lagi memaksa Mirna untuk pergi ke rumah sakit sekarang.
......................
Keesokan harinya, rutinitas mereka di Pondok Pesantren Al-Mukmin kembali seperti biasanya. Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki pun kembali sibuk di Pondok Pesantren. Sedangkan Shinta dan Rhea berada di rumah bersama Umi Sarifah untuk memasak sambil berbagi cerita. Mereka berencana memasak makanan yang spesial untuk hari ini. Shinta masih mendapatkan cuti dari rumah sakit tempat dia bekerja, sehingga dia bisa mendekatkan diri dengan orang-orang yang berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Ustadzah Farida menghindar tiap dia akan bertemu dengan Ustadz Jaki. Hal itu tak luput dari pandangan Ustadzah Anisa, namun Ustadzah Anisa tidak mau bertanya, dia ingin membiarkan Ustadzah Farida untuk menenangkan dirinya dan mengintrospeksi dirinya.
Ustadz Jaki pun menyadari bahwa Ustadzah Farida berusaha menghindarinya, dan itu membuat Ustadz Jaki lega karena tidak akan ada yang membuat istrinya cemburu.
Bagus deh dia tau diri, daripada istriku cemburu kan bahaya. Mana lagi indah-indahnya pengantin baru lagi. Bahaya kan kalau sampai gak dapat jatah, Ustadz Jaki terkekeh sambil berkata dalam hatinya.
"Ketawa mulu, lagi seneng-senengnya pengantin baru ya Ustadz?" canda Ustadz Bani ketika berada di samping Ustadz Jaki.
"Cieee pengantin baru," ledek Ustadzah Nurul yang juga berada di ruangan pengajar.
"Ah kayak gak tau aja," Ustadz Jaki menjawab ledekan dari Ustadz Bani dan Ustadzah Nurul.
Ustadzah Farida yang berada di dalam ruangan tersebut pun hanya menunduk berpura-pura tidak mendengar apapun, tidak seperti biasanya yang ikut bercanda bersama mereka.
Andai saja aku yang menikah dengan Ustadz Jaki, pasti suasananya tidak seperti ini. Pasti ledekan-ledekan dan candaan-candaan mereka untuk kami berdua... Huffft... andai saja Ya Allah...
Dan hadirlah ledekan-ledekan serta candaan-candaan yang lain dari para Ustadz dan Ustadzah yang berada di dalam ruangan pengajar tersebut yang membuat Ustadz Jaki sebagai target mereka.
"Iya Sayang, tunggu sebentar ya," suara Ustadz Fariz menghentikan kegaduhan di ruangan pengajar tersebut.
Tadi Rhea menelepon meminta agar Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki segera pulang ke rumah untuk makan bersama mereka. Oleh sebab itu Ustadz Fariz segera menghampiri Ustadz Jaki yang sudah pasti berada di dalam ruangan pengajar dengan posisi masih berbicara melalui telepon bersama istrinya.
"Ustadz ayo pulang, sudah ditunggu bidadari-bidadari kita di rumah," bisik Ustadz Fariz di telinga Ustadz Jaki.
Seketika raut wajah Ustadz Jaki menjadi senang dan matanya berbinar. Segera dia beranjak dari kursinya dan berjalan bersama Ustadz Fariz keluar dari ruangan tersebut menuju rumah Umi Sarifah. Mereka berdua tidak sabar untuk segera bertemu dengan istri mereka. Terutama Ustadz Jaki yang sedang merasa ingin selalu bersama dengan istrinya.
__ADS_1
"Kyai tunggu, saya mau berbicara," suara seorang wanita membuat Ustadz Fariz menghentikan langkahnya.