Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 99 kesialan atau keberuntungan?


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan ini Mirna masih merasakan sakit di perutnya. Rasa kram dan nyeri yang sangat menyiksa kadang-kadang dia rasakan.


Anita dan Pak Ratmo sudah meminta padanya agar memeriksakannya ke dokter karena rasa sakitnya berbeda dengan yang biasanya.


"Mir, apa tidak sebaiknya kamu periksakan saja, sepertinya perutmu sering sakit," ucap Pak Ratmo yang sedang makan bersama Anita dan Mirna.


"Iya loh, Mbak Mirna sekarang malah gak pernah keluar rumah gara-gara sering sakit kan perutnya," sahut Anita menyetujui perkataan Bapaknya agar Mirna mau memeriksakan dirinya ke rumah sakit.


"Ck, aku gak keluar rumah itu kan di larang sama Bapakmu Nit, bukan karena perutku sakit," Mirna menjawab setelah menelan makanannya.


"Itu kan demi kebaikanmu Mir. Kamu mau mendengar mereka ngomong jelek-jelek tentang kamu?" Pak Ratmo kembali mengingatkan Mirna.


"Tapi aku bosan Paman, setiap hari aku hanya di dalam rumah saja. Kalau dulu, aku pasti berjalan-jalan di kawasan Pondok Pesantren," ucap Mirna yang sedikit kesal.


"Jangan coba-coba kamu masuk ke dalam kawasan Pondok Pesantren Al-Mukmin Mirna. Jika kamu melanggarnya, Paman tidak akan segan-segan mengusirmu," ancaman diberikan oleh Pak Ratmo kembali pada Mirna.


"Tuh kan Bapakmu ngancam lagi Nit. Padahal aku kangen sama Mas Fariz," ucap Mirna dengan kesal.


"Buat apa kamu kangen sama suami orang? Kamu itu sudah menjadi mantan istrinya Mirna. Tidak boleh kangen sama mantan suamimu yang sudah punya istri," Ucap Pak Ratmo ketika menghentikan makannya karena mendengar perkataan Mirna.


"Mantan... mantan. Kenapa sih semua orang gak mau ngerti, aku tuh gak mau cerai sama Mas Fariz," Mirna menaikkan nada bicaranya.


"Semua sudah terjadi Mir, kamu tidak bisa mengulanginya lagi. Sekarang kamu hanya bisa belajar dari kesalahanmu selama ini, jangan sampai nantinya kamu gagal kembali jika berumah tangga lagi," Pak Ratmo ikut menaikkan nada bicaranya, namun di akhir kalimat dia merendahkan nada bicaranya agar Mirna mau mengerti.


Mirna diam, karena dia tahu jika Pamannya sedang marah padanya. Dia tidak mau diusir dari rumah Pamannya karena dia masih ingin tinggal di kawasan Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Mirna memakan makanannya dengan kesal. Dengan rasa besungut dia melahap makanannya.


"Awww...," Mirna mengernyit dan mendesis kesakitan dengan memegang bawah perutnya.


"Mbak Mirna gapapa?" Anita yang sedari tadi makan dan menyimak percakapan Bapaknya dan Mirna kini menghentikan makannya dan bertanya pada Mirna.


"Kenapa Mir?" Pak Ratmo cemas karena melihat raut wajah Mirna yang mendadak sedikit pucat dan seperti menahan rasa sakit.


"Pe-perutku nyeri lagi, kram, a-aku ke kamar dulu aja," ucap Mirna sambil memegangi bawah perutnya yang rasanya luar biasa, nyeri dan kram menjadi satu.

__ADS_1


Mirna berjalan agak sedikit merunduk menahan rasa sakit di bawah perutnya dengan mengeluarkan suara desisan dikala rasa sakitnya muncul kembali.


"Mir, Paman gak mau tau. Sepertinya kita harus membawamu ke rumah sakit. Keadaan kamu semakin membuat kita khawatir tiap kamu mengeluh sakit," Pak Ratmo berdiri hendak berjalan membawa Mirna ke rumah sakit.


"Gak mau! Aku takut disuntik Paman. Gak mau.... lepasin...," Mirna berontak ketika tangan Pak Ratmo dan Anita memegangnya.


"Aaww... aawwwww... ," Mirna berseru kesakitan dan menjatuhkan tubuhnya duduk di lantai dengan memegang perut bawahnya.


"Mirna!" seru Pak Ratmo.


"Mbak Mirna!" Anita pun berseru tak kalah lantang dengan Pak Ratmo.


Mereka berdua menolong Mirna untuk duduk di kursi. Anita bergegas mengambilkan minuman hangat untuk Mirna, dan Pak Ratmo berlari meminjam mobil ke Pondok Pesantren Al-Mukmin dengan alasan keperluan yang sangat mendadak.


Mirna lemas tidak ada tenaga untuk memberontak lagi. Dia pasrah saat dituntun oleh Anita masuk ke dalam mobil bersamanya. Mereka bertiga menuju rumah sakit menggunakan mobil Pondok Pesantren Al-Mukmin yang biasa Pak Ratmo kendarai.


Kenapa di rumah sakit ini lagi? Semoga dokternya berbeda, Mirna berkata dalam hatinya sambil menahan rasa nyeri yang masih terasa.


"Bu Mirna...." seorang perawat memanggil nama Mirna untuk masuk ke dalam ruangan periksa.


Shinta memang sudah tau dari Ustadz Jaki tentang Ustadz Fariz dan Mirna. Jadi Shinta untuk kali ini bisa mengontrol pertanyaannya agar tidak menyinggung perasaan Mirna.


Karena biasanya jika melakukan pemeriksaan pasti ditanyakan tentang suaminya, namun karena Shinta sudah mengetahuinya, dia tidak akan menanyakan itu pada Mirna.


Kenapa dokter ini lagi? Apa gak ada dokter lainnya? batin Mirna, sebenarnya dia sendiri yang tidak sadar jika di luar sudah tertera nama dr.Shinta, Sp.OG.


Mirna hanya tersenyum kecut karena do'anya tadi ketika sebelum masuk rumah sakit ternyata tidak dikabulkan oleh Allah. Dia berdoa agar dokternya bukan dokter yang dulu menanganinya, Dokter yang diketahui Mirna sebagai teman dari Ustadz Jaki, namun sialnya sekarang malah Dokter Shinta yang memeriksanya.


"Apa keluhannya Bu?" Dokter Shinta bertanya pada Mirna dengan ramah dan sopan seperti biasanya.


"Em itu dok, perut saya sakit," ucap Mirna sambil berekspresi menahan rasa sakit.


"Sakit yang bagaimana Bu?" tanya Dokter Shinta kembali.


"Nyeri dok, kram. Tapi kadang-kadang aja," Mirna menjawab seperlunya, rasanya dia ingin sekali berganti dokter dengan yang lain.

__ADS_1


"Apa Bu Mirna sedang menstruasi?" tanya Dokter Shinta kembali.


"Iya dok," jawab singkat Mirna tanpa menjelaskan.


"Tapi dok, menstruasinya Mbak Mirna lama. Iya kan Mbak?" sahut Anita yang sudah tidak tahan ingin ikut menjawab, karena Mirna menjawabnya hanya singkat-singkat saja.


"Benarkah? Berapa hari?" Dokter Shinta bertanya dengan serius.


"Hampir satu bulan, iya kan Mbak," lagi-lagi Anita yang menjawabnya.


"Benarkah Bu? Selama itu? Lalu menstruasinya gimana?" Shinta bertanya lebih serius sekarang.


"Awal-awalnya banyak dok, lama-kelamaan sedikit, tapi kadang banyak lagi, dan kadang ngeflek," jawab Mirna dengan menunduk, tangannya memainkan ujung hijabnya.


"Boleh kita periksa sekarang Bu?" Shinta meminta persetujuan Mirna dan Mirna pun mengangguk.


"Silahkan tiduran di sini Bu," Shinta berjalan menuju ranjang pemeriksaan.


Mirna pun merebahkan dirinya di ranjang pemeriksaan dan perutnya diolesi dengan gel untuk pemeriksaan USG oleh perawat yang membantu Dokter Shinta.


Berkali-kali Dokter Shinta memeriksanya, dia takut jika terjadi kesalahan ketika memeriksanya.


Setelah perawat membersihkan gel pada perut Mirna, dia dipersilahkan kembali duduk di depan meja Dokter Shinta untuk mendengarkan hasil pemeriksaannya.


"Berdasarkan pemeriksaan saya barusan, ada mioma terletak di dinding rahim dan bentuknya menonjol ke rongga endometrium atau permukaan rahim Bu Mirna," Dokter Shinta menjeda penjelasannya.


"Mi-miom?" ucap Mirna kaget dengan memandang Dokter Shinta tidak percaya dan dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.


Dokter Shinta mengangguk dan menjelaskan untuk pengobatannya dan apa saja yang perlu dilakukan oleh Mirna. Setelah itu Dokter Shinta memberikan lembaran resep obat untuk ditebus di apotek rumah sakit.


Badan Mirna terasa lemas, dan kakinya seolah tidak bisa menopang tubuhnya. Mirna dibantu Anita untuk berjalan keluar ruangan karena Pak Ratmo menunggu di luar ruangan praktek Dokter Shinta.


"Harusnya periksa di dampingi suaminya ya Dok biar bisa diberikan support dari suaminya," ucap perawat Dokter Shinta yang tidak mengetahui bahwa Mirna telah bercerai.


Ternyata telinga Mirna sungguh tajam, dia bisa mendengar ucapan perawat tersebut yang masih berada di dalam ruangan bersama Dokter Shinta.

__ADS_1


Apa aku memberitahu Mas Fariz aja ya, siapa tahu dia iba padaku setelah mengetahui aku sakit, Mirna membatin seiring langkahnya yang dituntun oleh Shinta.


__ADS_2