Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 202 Datang dan pergi


__ADS_3

Di dalam ruang persalinan layaknya medan perang yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa seorang ibu dan bayinya.


Datang dan pergi adalah suatu hal yang selalu berdampingan seiring berjalannya waktu.


Begitupula dengan nyawa, ada kelahiran dan adapula kematian. Semuanya menjadi misteri yang tidak diketahui makhluk ciptaan Nya.


Cobaan yang datang silih berganti tak ubahnya seperti ujian kita untuk selalu mawas diri.


Ini lah yang sedang dirasakan oleh Ustadz Fariz dan Rhea. Umi Sarifah yang sudah melebihi ibu kandungnya kini sedang memperjuangkan hidupnya di ruang ICU dan Izam , anak laki-laki mereka yang akan menjadi seorang kakak kini juga berjuang untuk hidupnya di ruang ICU.


Sedangkan Rhea, di masa terberatnya yang sedang hamil besar, kini harus menghadapi beban pikiran yang membuatnya syok.


"Shin, a-aku.... sepertinya aku... gak ku-at," ucap Rhea dengan nafas tersengal-sengal berjuang untuk melahirkan anaknya.


Mata Rhea sudah berkabut, wajahnya diselimuti peluh sehingga ingin rasanya Rhea tidur untuk sekedar beristirahat.


Pikiran Rhea terbagi antara Izam serta Umi Sarifah yang masih berada di ruang ICU dan bayinya yang harus diperjuangkan agar bisa lahir ke dunia ini.


"Rhea, jangan tidur! Kamu harus kuat! Jangan menyerah! Kamu pasti bisa! Bertahanlah, ingat suamimu dan Izam yang menunggumu di luar sana!"


Shinta berseru memberi semangat pada Rhea. Dan ucapan Shinta itu berhasil membuat mata Rhea yang tadinya sempat sedikit menutup, kini kembali terbuka dengan lebar karena mendengar kata Izam disebut oleh Shinta.


"Allahu Akbar!"


Rhea berseru dengan sekuat tenaga mengejan agar bayinya bisa segera keluar.


"Ayo sedikit lagi!"


Shinta berseru memberikan perintah dan semangat untuk Rhea.


"Allahu Akbar!!"


Rhea kembali berseru bersamaan dengan mengejan sekuat tenaganya.


"Sedikit lagi! Kamu pasti bisa Rhea!"


Shinta pun tak kalah dengan Rhea ketika berseru memberi semangat pada Rhea.


"Allahu Akbar!!!"


Seketika suara bayi menggema di dalam ruang persalinan tersebut setelah Rhea mengejan dengan sisa-sisa tenaga yang dia kumpulkan.


Dengan menyebut nama Allah bayi tersebut berhasil lahir ke dunia.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap Shinta sambil menggendong bayi tersebut untuk di dekatkan pada Rhea.


"Alhamdulillah," ucap Rhea lirih sambil tersenyum, kemudian dia memejamkan matanya.


"Rhea!"


......................


Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki menunggu di depan ruang ICU. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, dan menampilkan nama kontak Shinta di sana.


Tanpa berpikir panjang, Ustadz Fariz mengangkat telepon tersebut dan seketika wajahnya menjadi tegang. Matanya melihat ke arah ruang ICU sedang di datangi oleh para dokter yang mengoperasi Umi Sarifah dan Izam setelah itu dia melihat ruang persalinan yang berada tidak jauh dari ruang ICU.


"Ada apa?" tanya Ustadz Jaki yang mengetahui ekspresi wajah Ustadz Fariz berbeda setelah mengangkat teleponnya.


"Rhea."


"Rhea kenapa?" tanya Ustadz Jaki dengan penasaran dan ikut cemas melihat Ustadz Fariz yang mendadak menjadi panik.


"Rhea melahirkan sekarang," jawab Ustadz Fariz.


Sebenarnya Ustadz Fariz ragu untuk melangkah karena hatinya berat untuk meninggalkan ruang ICU yang sekarang juga bak medan peperangan. Mereka para medis berjuang menyelamatkan nyawa Umi Sarifah dan Izam di dalam sana.


Sedangkan Ustadz Fariz ingin sekali menemani istrinya yang sedang melahirkan seperti sebelumnya. Dia ingin memberikan semangat dan berdoa untuk istri dan bayi yang akan dilahirkannya.


"Tapi di dalam.... Dokter-dokter itu....," ucapan Ustadz Fariz tidak bisa diteruskannya, dia ragu untuk mengucapkannya.


"Cepatlah pergi, Rhea menunggumu!"


Ustadz Jaki berseru untuk menyadarkan Ustadz Fariz yang sedang memandang pintu ICU dengan tatapan aneh.


Sontak saja Ustadz Fariz tersadar dan dia segera berjalan cepat untuk menuju ruang persalinan yang tidak jauh dari ruang ICU.


Pintu ruang ICU terbuka, dokter Dion dan dokter spesialis yang menangani Umi Sarifah serta Izam tadi kini keluar dari ruang ICU.


Mereka berjalan mendekat ke arah Ustadz Jaki.


"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain," ucap dokter Dion yang menangani Umi Sarifah dan Izam sejak awal masuk UGD.


Seketika langkah kaki Ustadz Fariz terhenti mendengar suara dokter Dion yang memang terdengar jelas di indera pendengarannya karena situasi daerah ruang ICU yang sangat tenang dan sepi.


Ustadz Fariz memutar badannya menoleh ke arah belakang, terlihat di sana Ustadz Jaki yang masih menggendong Salsa dan dua orang dokter yang berbicara padanya.


"Ibu anda telah berpulang. Kami turut berduka cita," ucap dokter Dion selanjutnya.

__ADS_1


"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un....," ucap Ustadz Jaki dengan rasa tidak percaya.


"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un....," Ustadz Fariz pun berucap lirih dari tempatnya sekarang berada.


Kini Ustadz Fariz berada di tengah-tengah antara ruang ICU dan ruang persalinan. Dan perasaan berat untuk meninggalkan ruang ICU itu kini terbukti. Orang yang paling dia hormati dan segani kini berpulang pada Nya.


Ustadz Jaki menoleh ke arah Ustadz Fariz yang terlihat syok, sama sepertinya saat ini.


Namun suara lantang bayi yang menangis dari ruang persalinan membuat Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki beralih melihat ke arah ruang persalinan tersebut.


Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki terlena dengan pikiran mereka masing-masing hingga ketika kedua dokter tersebut berpamitan pada Ustadz Jaki, mereka tidak mendapatkan respon apa-apa darinya.


Dan suara bayi yang menangis dengan lantangnya itu kembali menyadarkan Ustadz Fariz. Tanpa berpikir, dia melangkah menuju ruang persalinan dengan sejuta rasa bersalah pada Umi Sarifah.


Kesedihan Ustadz Fariz bertambah ketika dia mendengar Shinta meneriakkan nama Rhea dari dalam ruang persalinan hingga terdengar di depan pintu ketika Ustadz Fariz akan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Brak!


Pintu ruang persalinan dibuka dengan lebarnya oleh Ustadz Fariz setelah menggunakan baju khusus untuk masuk ruangan tersebut.


Memang Shinta tadi sebelum melakukan persalinan sudah berpesan pada perawat yang berada di sana untuk membiarkan Ustadz Fariz masuk ke dalam ruang bersalin.


"Rhea kenapa?" tanya Ustadz Fariz dengan panik melihat Rhea yang memejamkan matanya dan Shinta sedang memeriksanya.


"Zahra, bangun sayang.... aku di sini. Bangunlah, anak kita sudah lahir. Jangan tinggalkan aku.... ku mohon."


Ustadz Fariz menciumi kening Rhea dengan berurai air mata. Air mata kesedihan yang sedari tadi ditahannya, kini berhasil keluar begitu saja.


"Ustadz, lebih baik adzan kan dulu putri Ustadz. Sudah sejak tadi dia menunggu Abi nya," ucap Shinta setelah memeriksa keadaan Rhea.


Untung saja bayi tersebut masih dalam tahap perawatan para bidan di ruangan tersebut, sehingga Ustadz Fariz dengan segera bisa memberikan adzan di telinga putrinya yang baru saja dilahirkan oleh Rhea.


Ustadz Fariz memberikan bacaan adzan di telinga sebelah kanan dan memberikan bacaan iqomah di telinga sebelah kiri bayi tersebut.


Setelah itu bayi tersebut diserahkan kembali pada para bidan untuk dibawa ke ruang bayi agar mendapatkan perawatan yang selanjutnya.


Perawat yang berada di ruangan tersebut membawa Rhea keluar dari ruang persalinan masih dengan mata yang terpejam.


"Rhea!"


"Zahra!"


"Sayang....!"

__ADS_1


__ADS_2