Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 205 Kesedihan yang mendalam


__ADS_3

"Izam... Bunda dan Abi di sini. Izam bangun ya.... Bunda dan Abi ingin bermain sama Izam. Bunda... Bunda dan Abi... kangen sama Izam."


Suara Rhea tercekat, tak kuasa menahan kesedihan melihat anak pertamanya terbaring lemah tanpa bereaksi apapun.


"Izam harus berusaha bangun ya, Abi ingin menggendong Izam lagi."


Ustadz Fariz tidak bisa berkata banyak, dia pun tidak tega melihat jagoan kecilnya lemah tidak seperti biasanya.


Lantunan ayat-ayat Al-quran dibacakan lirih Ustadz Fariz di dekat telinga Izam. Dia berharap agar Izam bisa mendengarnya dan mampu tergerak hatinya untuk kembali sadar.


Ustadz Jaki masih mengurus jenazah Umi Sarifah. Dia sama sekali belum menjenguk Izam. Kesedihan sudah pasti dirasakannya dan pikirannya terbagi antara Izam dan Umi Sarifah yang sekarang sudah berada di tempat yang berbeda, tidak seperti sebelumnya yang berada di ruangan yang sama.


Tanpa di sadari oleh Rhea dan Ustadz Fariz jari-jari Izam bergerak sedikit ketika mendengar suara Bunda dan Abi nya.


Lantunan ayat-ayat Al-qur'an yang dibacakan oleh Ustadz Fariz berhasil menggetarkan hati Izam.


Bunda.... Abi.... bantu Izam ke luar dari tempat ini. Tempat ini indah, tapi Izam kesepian. Izam takut.... Umi meninggalkan Izam sendirian di sini.


Izam berteriak dan menangis mendengar suara Rhea dan Ustadz Fariz yang berbicara padanya. Di tempat itu, Izam ingin sekali mencari jalan keluarnya, namun dia tidak menemukan jalan untuk keluar dari tempat itu.


Izam tidak patah semangat. Seperti ajaran dari Abi dan Bundanya, dia harus bisa mengatasi masalahnya sendiri sebelum meminta bantuan orang lain.


Mengingat pesan dari Abi dan Bundanya itu, Izam berlari kecil mencari-cari jalan untuk keluar dari tempat indah itu dan kembali bersama keluarganya.


Setelah beberapa saat, Shinta masuk ke dalam ruang ICU dan memberitahukan bahwa jenazah Umi Sarifah sudah siap untuk disemayamkan.


"Izam sayang, Bunda sama Abi tinggal keluar sebentar ya. Nanti Bunda sama Abi ke sini lagi. Izam harus sudah bangun kalau Bunda sama Abi ke sini ya."


Rhea berpamitan pada Izam dengan menahan tangisnya yang sedari tadi ingin sekali keluar dari matanya.


"Izam, jagoan kecil Abi. Sekarang Izam sudah jadi kakak. Adik Izam sudah lahir. Izam harus cepat bangun agar bisa main dengan adik Izam ya"


Setelah mengucapkan itu, Ustadz Fariz dan Rhea mencium pipi Izam secara bergantian. Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, Ustadz Fariz membisikkan sesuatu di telinga Izam.


"Shin, di mana putriku?" tanya Rhea dengan suara lemah karena mendengar tentang jenazah Umi Sarifah.

__ADS_1


"Ada bersama kakek dan neneknya," jawab Shinta sambil membukakan pintu untuk Ustadz Fariz yang mendorong kursi roda yang diduduki oleh Rhea.


"Kakek dan neneknya? Maksud kamu Ayah dan Ibuku?" tanya Rhea pada Shinta yang berjalan di sebelahnya.


"Iya, mereka baru datang pas aku mau menitipkan bayimu ke ruang perawatan bayi," jawab Shinta.


"Kok bisa? Abi yang ngasih tau?"


Rhea mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.


"Iya, tapi maaf Abi telat menghubungi mereka," jawab Ustadz Fariz yang menundukkan kepalanya melihat wajah istrinya.


"Gapapa Bi, terima kasih Abi sudah ingat menghubungi mereka. Bahkan Bunda saja tidak ingat untuk menghubungi mereka."


Rhea tersenyum tipis pada suaminya sambil memegang tangan suaminya yang berada di dorongan kursi rodanya.


Kini Rhea berada di ruang jenazah untuk bertemu dengan Umi Sarifah yang terakhir kalinya.


Untuk kali ini air matanya tidak bisa ditahannya. Lolos sudah air mata itu turun membasahi pipinya.


"Umi... Umi...," suara Rhea lirih menyayat hati orang yang mendengarnya memanggil Umi Sarifah.


"Umi... maafkan semua kesalahan Rhea. Maaf jika Rhea-"


Suara Rhea tidak bisa keluar lagi. Hanya suara tangisan yang sudah tidak dapat ditahannya lagi yang terdengar di sana.


Ustadz Fariz memeluk tubuh istrinya agar istrinya itu lebih tenang ketika berada di dalam pelukannya.


"Umi... Fariz banyak sekali menyakiti hati Umi. Maafkan Fariz Umi. Fariz janji akan melakukan kewajiban Fariz sesuai dengan apa yang Umi harapkan."


Ustadz Fariz pun tidak dapat meneruskan apa yang ingin dia ucapkan dihadapan Ustadz Fariz untuk yang terakhir kalinya.


Suara tangisan pilu Rhea membuat Ustadz Fariz bertambah sedih. Apalagi dia mengingat Izam yang masih belum sadar setelah mendapatkan operasi.


Semua kejadian ini terjadi sangat cepat. Kecelakaan yang menimpa Umi Sarifah dan Izam, kelahiran anak keduanya, serta kematian Umi Sarifah.

__ADS_1


Semua itu mampu mengobrak-abrik perasaan mereka dan menjungkir balikkan kehidupan mereka.


Penyemangat mereka kini sudah meninggalkan mereka. Umi Sarifah, sosok ibu terbaik bagi mereka selain ibu kandung mereka sendiri, kini tidak lagi ada bersama dengan mereka.


"Apa semua sudah siap Ustadz?"


Ustadz Fariz bertanya pada Ustadz Jaki yang sedang menunggu di ruang tunggu dekat kamar jenazah.


"Untuk pemakaman di Pondok sudah disiapkan oleh para Ustadz dan Ustadzah. Kita hanya tinggal membawa Umi pulang ke rumah," jawab Ustadz Jaki yang tiba-tiba air matanya menetes ketika menyebutkan bahwa mereka akan membawa Umi Sarifah pulang ke rumah mereka.


Ustadz Fariz memalingkan wajahnya, dia tidak kuat sebenarnya menahan cobaan yang diberikan oleh Allah padanya, namun dia mencoba bertahan dan berusaha agar semua orang disekitarnya juga tidak menyerah akan cobaan ini.


"Salsa bagaimana? Apa dia sudah tau bahwa Umi tiada?" tanya Ustadz Fariz pada Ustadz Jaki.


Ustadz Jaki menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa mengatakan hal itu pada anak sekecil Salsa yang sangat menyayangi neneknya.


Dan dia juga tidak mengerti bagaimana caranya agar dia bisa menyampaikan berita duka itu pada Salsa tanpa membuatnya kembali menangis histeris dan syok.


"Coba kasih tau dia pelan-pelan saja. Dan segera tenangkan dia agar dia bisa melepaskan kepergian Umi dengan tenang."


Ustadz Fariz mencoba memberi pengarahan pada Ustadz Jaki, karena dia sendiri juga merasakan hal yang sama ketika akan memberitahukan pada Rhea.


Dan nantinya jika Izam sudah sadar, maka dia akan bertambah berat menyampaikannya pada Izam karena Umi Sarifah dan Izam bersama pada saat kecelakaan saat itu.


Persis seperti dugaan Ustadz Jaki, Salsa menangis histeris tanpa henti. Dia bahkan sangat susah ditenangkan. Hingga ketika dia ikut dalam proses pemakaman pun masih saja menangis tanpa henti.


"Umi... Umi... Kak Izam, Umi....."


Sungguh sangat menyayat hati tangisan seorang cucu pada neneknya yang telah berpulang pada Nya.


Semua orang mengantar kepergian Umi Sarifah untuk yang terakhir kalinya. Semua keluarga besar Pondok Pesantren Al-Mukmin merasa kehilangan ibu mereka. Para Ustadz, Ustadzah, santri, santriwati dan abdi di Pondok Pesantren Al-Mukmin diselimuti rasa duka yang mendalam.


Semua keluarga, sahabat, ulama dari berbagai tempat berkumpul untuk menghormati Umi Sarifah untuk terakhir kalinya.


Keluarga Rhea dan Shinta pun ikut mengantar ke pemakaman Pondok Pesantren Al-Mukmin.

__ADS_1


Makam Umi Sarifah bersanding dengan makan suaminya, Kyai Farhan, pemilik dan pendiri Pondok Pesantren Al-Mukmin.


"Mau apa kamu ke sini? Dasar pembunuh!"


__ADS_2