Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 189 Malam peralihan


__ADS_3

Malam ini Mirna dan Pandu merasa gelisah, pasalnya esok adalah hari pergantian status mereka menjadi suami dan istri.


Batin mereka bergejolak untuk menolak pernikahan tersebut, namun pikiran mereka membenarkan pernikahan ini.


"Assalamu'alaikum.."


Terdengar dari luar suara orang yang memberi salam di depan pintu rumah Pak Ratmo.


"Siapa yang datang malam-malam begini Nit?" Mirna bertanya pada Anita yang kini sedang bersamanya di dalam kamarnya.


"Kurang tau Mbak. Anita lihat dulu ke depan ya Mbak," ucap Anita sambil beranjak dari duduknya.


"Wa'alaikumussalam....," jawab Anita sambil berjalan menuju pintu rumahnya dan membuka pintu tersebut.


"Anita ya? Udah besar ya kamu sekarang," ucap orang tersebut sambil terkekeh.


"Eh Mas Robi, kan dikasih makan, mangkanya tambah besar," jawab Anita sambil terkekeh dan disambut tawa oleh Robi, orang yang ada di depannya saat ini.


"Iya ya, udah lama gak ketemu sih jadi pangling," Robi menimpali ucapan Anita.


"Mas Robi sih jarang main kemari. Oh iya Mas lupa, silahkan masuk dulu," ucap Anita setelah menggeser tubuhnya ke samping dan melebarkan bukaan pintunya.


Robi pun berjalan masuk ke dalam ruang tamu sambil berkata,


"Paman mana Nit?"


"Ada Mas, sepertinya di kamar. Sebentar Anita panggilkan dulu," jawab Anita sambil berjalan masuk untuk memanggil bapaknya.


"Siapa Nit?" tanya Mirna ketika berpapasan dengan Anita yang sedang berjalan dari ruang tamu.


"Mirna sini, Mas mau bicara," Robi meninggikan suaranya memanggil Mirna ketika dia mendengar suara Mirna bertanya pada Anita.


"Mas Robi?!" seru Mirna ketika mendengar suara kakaknya dari ruang tamu.

__ADS_1


"Iya Mbak, Mas Robi yang datang barusan," Anita menyahut sebelum meninggalkan Mirna untuk memanggil bapaknya.


Mirna pun segera berjalan menuju ruang tamu untuk menemui kakaknya yang sudah sangat lama sekali tidak ditemuinya.


"Mas Robi," Mirna memanggil kakaknya dengan raut wajah senang.


Dia menghampirinya dan mencium tangan kakaknya itu.


"Udah lama ya Mir kita gak ketemu," ucap Robi sambil tersenyum memandang Mirna.


"Maafkan Mas ya Mir. Mas tau kamu pasti marah sama kami, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tau sendiri kan kondisi kami di sana bagaimana," Robi menyambung kembali ucapannya.


Mirna mengangguk lemah, dia sebenarnya sangat sedih selama ini karena semua kakak-kakaknya seolah tidak memperhatikan ataupun menyayanginya. Namun dia tidak bisa memelas kasih sayang pada mereka.


Dia sebagai seorang adik perempuan paling muda harus kehilangan sosok seorang ibu pada saat melahirkannya membuatnya haus kasih sayang dan perhatian, namun dia juga harus kuat dan berani karena kakak-kakaknya yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Mir, kamu pasti marah pada kami. Mas mewakili kakak-kakakmu meminta maaf padamu. Dan Mas Robi mohon Mir, menikahlah untuk yang terakhir kalinya. Jangan sampai pernikahan gagal seperti waktu itu. Kurangi sikap egois dan keras kepalamu itu Mir. Kami semua tau semua itu, namun kami juga tau jika kamu seorang wanita yang baik hati. Maka pertahankan lah itu agar keras kepala dan egoismu itu bisa berkurang dan insya Allah pernikahanmu akan langgeng. Kami semuanya mendoakan itu Mir," Robi memberikan nasehat pada adiknya yang sudah sangat lama sekali tidak ia temui.


Entah kenapa malam itu Mirna sangat melow, hatinya trenyuh mendengar apa yang diucapkan oleh kakaknya. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya ketika dia berkedip menahan air mata yang mendesak ingin keluar dari matanya.


Yang kedua, Robi sedari dulu sibuk dengan dirinya sendiri, dan ketika dia sudah bekerja, dia pun sibuk membantu keuangan bapaknya yang sudah berumur dengan membiayai biaya hidup semua adik-adiknya yang masih membutuhkan biaya untuk bersekolah.


Sekarang dia baru sadar jika adik bungsunya ini menjadi seperti itu karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari semua anggota keluarganya yang semuanya berjenis kelamin laki-laki.


Menyesal? Ya memang dia menyesal saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur dan takdir mereka sudah tertulis seperti itu. Kini Robi hanya bisa mendoakan adik bungsunya yang sudah dewasa ini agar bisa memiliki hidup yang lebih baik lagi.


"Udah datang rupanya kamu Robi," suara Pak Ratmo membuat suasana di ruang tamu tersebut kembali seperti semula.


"Iya Paman baru saja," jawab Robi sambil tersenyum pada Pamannya itu.


"Bagaimana kabar di sana Robi?" tanya Pak Ratmo sambil duduk di kursi dekat Robi duduk saat ini.


"Alhamdulillah baik-baik saja semuanya Paman," jawab Robi yang terlihat sungkan pada Pak Ratmo.

__ADS_1


"Ini minumnya Mas," ucap Anita sambil meletakkan minuman di meja tamu.


"Mirna mau ke dalam saja sama Anita," ucap Mirna sambil berdiri memegang tangan Anita.


"Ya sudah kamu sebaiknya istirahat saja Mir, sudah malam. Biar Mas mu juga istirahat, pasti dia capek setelah perjalanan," Pak Ratmo menanggapi perkataan Mirna.


Mirna pun berjalan masuk dengan menarik tangan Anita.


"Mbak, kenapa sih narik-narik tangan Anita?" tanya Anita sambil berjalan dengan tangan yang masih ditarik oleh Mirna.


"Temani Mbak Mirna tidur ya Nit," jawab Mirna lirih.


"Hah?! Yang benar saja Mbak, sejak kapan Mbak Mirna jadi penakut seperti ini?" tanya Anita yang merasa heran pada Mirna.


"Ck, udahlah Nit gak jadi. Aku tidur sendiri saja. Percuma minta tolong sama kamu, selalu saja kamu meledek Mbak," Mirna berkata dengan sewot sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Tenang aja Mbak, besok Mbak Mirna udah ada teman tidurnya, gak usah minta Anita temenin lagi Mbak," ucap Anita sambil terkekeh menyertai kepergian Mirna.


Mirna menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Anita. Dengan cepatnya sandal yang dipakai oleh Mirna sudah mendarat dengan indah di tubuh Anita.


"Mbak Mirna ih... sandalnya kan kotor. Kena baju Anita lagi," Anita merengek mengambil sandal Mirna yang mengenai tubuhnya dan terjatuh di depannya.


"Mangkanya kalau ngomong dijaga, jangan asal nyablak aja," jawab Mirna yang masih kesal mendengar ucapan Anita.


"Nyablak gimana? Anita kan ngomong yang sebenarnya Mbak," sahut Anita tidak terima pada perkataan Mirna.


"Ngomong lagi sandal satunya lagi melayang nih," ucap Mirna dengan mengangkat tinggi sandalnya yang baru saja dia lepas.


Dengan segera Anita lari masuk ke dalam kamarnya dengan melempar kembali sandal milik Mirna yang ada padanya tadi.


"Kurang ajar kamu Nit. Awas kamu Nit!" Mirna berseru menyertai kepergian Anita.


Mirna besungut kesal masuk ke dalam kamarnya. Dia duduk memandangi ruang kamarnya itu dan berakhir memandang ranjang yang dia duduki sekarang ini.

__ADS_1


"Besok gimana ya? Gak mungkin banget kalau kita gak tidur seranjang bersama meskipun toh kami nantinya gak ngapa-ngapain. Tapi....,"


"Eh kenapa aku jadi seperti ini ya? Dulu aja ketika aku akan menikah dengan Mas Fariz gak sampai deg-degan kayak gini. Apa karena aku gak ada perasaan apa-apa sama dia ya?"


__ADS_2