
"Mau kemana kita Paman? Kok cuma kita berdua, Anita gak diajak?" Anita sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi dengan Pak Ratmo.
"Anita tidak perlu ikut, kita akan pergi ke suatu tempat yang pasti kamu sukai," jawaban Pak Ratmo membuat Mirna bersemangat.
"Beneran Paman, dimana itu?" rasa penasaran Mirna pun timbul.
"Mirna, kamu mau kan ke Pondok Pesantren Al-Mukmin?" Pak Ratmo mengatakannya ketika mereka sudah berada di teras rumah.
"Pondok Pesantren Al-Mukmin? Kita mau ke sana Paman? Apa aku diperbolehkan masuk?" Mirna ragu bisa masuk ke Pondok Pesantren Al-Mukmin karena berita tentangnya yang mencelakakan Rhea pasti sudah tersebar di kawasan seluruh Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Kita berdua diundang oleh mantan suami kamu untuk datang ke sana. Katanya sih ada acara sekarang. Ayo berangkat sekarang," jawab Pak Ratmo.
"Beneran Paman? Udah lama aku menantikannya, akhirnya hari ini datang juga," binar bahagia terpancar jelas di mata Mirna.
"Ayo Paman, berangkaaaat.....," Mirna berjalan terlebih dahulu dengan gembira, bahkan jalannya saja diiringi dengan nyanyian yang keluar dari mulutnya.
Pak Ratmo menghela nafas berat membayangkan apa yang nanti akan terjadi. Sungguh dia tidak akan tega memperlakukan hal seperti ini pada keponakannya sendiri. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena keponakannya sendiri yang telah membuat masalah ini terjadi.
Mirna lah yang menggali lubang untuk jebakannya sendiri, dia akan terluka jatuh kedalam lubang yang dibuatnya karena terlalu dalam, mungkin saja dia akan butuh waktu lama untuk merangkak naik kembali ke atas permukaan dengan selamat.
Mirna bersenandung di setiap langkahnya. Dalam benaknya dia mengatakan bahwa inilah harinya, ini saatnya dia kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin sebagai istri dari Kyai Fariz, penanggung jawab Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Mirna lupa jika dia sudah mendapatkan talak tiga dari mantan suaminya karena persidangan cerai mereka belum dimulai, Mirna hanya mendapatkan surat panggilan dari pengadilan agama untuk pelaksanaan sidang beberapa hari ke depan.
__ADS_1
Di ruang pertemuan Pondok Pesantren Al-Mukmin, semua orang yang diundang sudah hadir dan menempati tempat duduk yang telah disediakan untuk mereka.
Ustad Fariz dan Ustad Jaki sudah berada di tempat tersebut sejak satu jam yang lalu sebelum mereka semua datang. Ada juga Ustad Bani dan Ustadzah Anisa yang hadir untuk mewakili pihak Pondok Pesantren Al-Mukmin yang merupakan ruang lingkup tempat tinggal mereka.
Sesampai di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Pak Ratmo memimpin jalan untuk menuju ruangan pertemuan tersebut, karena Mirna tidak mengetahui dimana acaranya akan diadakan.
Mirna berjalan dengan perasaan yang sangat gembira dan langkah kakinya terasa sangat ringan.
Untung aja tadi udah pakai baju bagus dan dandan juga, coba kalau tadi aku pakai baju biasa, pasti akan malu nantinya pas ada di sana. Paman sih gak ngasih tau kalau mau ke sini, tapi ya udahlah, kan untungnya aku sekarang udah tampil cantik di sini, Mirna menggerutu dalam hati namun tidak mengurangi kegembiraannya.
Pak Ratmo membuka pintu ruangan tersebut dan semua mata memandang ke arah pintu yang terbuka.
Masuklah Pak Ratmo di ikuti oleh Mirna di belakangnya. Semua orang berkasak-kusuk, ada yang menerka-nerka siapa sebenarnya orang yang barusan datang, adapula yang sudah mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Mirna, mantan istri dari Kyai Fariz yang bertanggung jawab atas Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Mirna berjalan mendekat ke arah Ustad Fariz, namun tangannya ditarik oleh Pak Ratmo.
"Ayo kita duduk disitu Mirna," Pak Ratmo mencoba mencegah Mirna mempermalukan dirinya kembali.
"Issh.. Paman, Mirna kan mau ke Mas Fariz dulu, mau cium tangan dulu biar dia tau kalau aku udah datang," Mirna masih saja keras kepala dan tidak sadar diri.
"Dia sudah tau Mirna," Pak Ratmo mencoba untuk meyakinkan Mirna.
"Dari mana Paman tahu?" Mirna tidak percaya dan meragukan perkataan Pamannya.
__ADS_1
"Semua orang melihat ke arah kita pada saat kita datang, jadi tidak mungkin Ustad Fariz tidak tau jika kita sudah datang di sini," Pak Ratmo menyadarkan Mirna agar dia bisa lebih tenang dan tidak berbuat kesalahan lagi di depan orang banyak.
"Ya udah, aku duduk di sini aja kalau gitu. Eh tapi iya loh Paman, mereka semua ngeliatnya ke aku terus, kayak aku ini bintang utamanya malam ini," Mirna bertambah senang melihat semua orang menatap padanya, tapi dia tidak memperhatikan arti tatapan semua orang padanya.
Ya memang kamu bintang utamanya Mirna, kamu yang akan dibahas di sini sebentar lagi. Owalah Mir... Mir... kamu kok yo bisa jadi kayak gini seh? Harusnya kamu bisa bahagia bersama suamimu di sini, Pak Ratmo membatin dengan menatap iba pada Mirna, sedangkan Mirna senyum-senyum sendiri karena merasa jadi bintang utama acara tersebut.
Pasti benar aku yang jadi bintang utamanya, liat aja, Rhea gak ada di sini, mungkin Mas Fariz akan memintaku rujuk di hadapan orang banyak supaya orang-orang pada tau aku gak jadi diceraikan, Mirna senyum-senyum sendiri sambil membatin.
Sesuai dengan motto Mirna selama ini, I don't care, aku gak ngurusi kamu, gak ngurusi kalian, terserah kalian mau ngomong apa tentang aku. Mirna hanya memandang lurus ke satu arah, sosok mantan suaminya yang masih diharapkannya untuk menjadi suaminya kembali.
Tidak dipungkiri jika Mirna sangat dihormati setelah Ustad Fariz menjadi penanggung jawab Pondok Pesantren Al-Mukmin, oleh karena itu dia tidak ingin menyerah begitu saja untuk mendapatkan posisinya kembali.
"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....," Ustad Fariz membuka acara tersebut agar tidak terlalu lama.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh....," jawab mereka semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut secara bersamaan.
"Terima kasih atas kedatangan Bapak Ibu yang ada di sini telah menyempatkan waktunya untuk datang ke tempat ini memenuhi undangan yang saya berikan. Langsung saja saya akan memberikan konfirmasi tentang berita perceraian saya yang beredar di luaran sana dan sekarang sudah menjadi gosip yang belum tentu kebenarannya. Maaf sebelumnya, saya ingin menkonfirmasi semuanya agar Pondok Pesantren Al-Mukmin dan pihak yang dirugikan tidak lagi menjadi bahan omongan masyarakat luas," Ustad Fariz mengambil nafas sejenak untuk merilekskan pikirannya agar tidak tegang dan bisa berbicara lancar agar tidak ada keraguan dalam pikiran semua yang hadir untuk mendengarkan klarifikasi dari dirinya.
Hah, apa maksudnya? tanya Mirna dalam hatinya.
Karena terlalu asyik dengan perasaan senangnya, Mirna tidak bisa mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Ustad Fariz.
"Paman, Mas Fariz ngomongin apa sih? Mau bilang tidak jadi menceraikan aku aja pakai ngomong muter-muter gitu," Mirna mengucapkannya lirih hampir seperti berbisik pada Pak Ratmo.
__ADS_1
"Udah kamu dengarkan dulu aja ya, nanti kamu pasti tau apa tujuannya diadakan acara ini," Pak Ratmo ikut mengucapkannya dengan suara lirih mengikuti yang dilakukan Mirna padanya tadi.