
Hari ini, hari yang sangat mendebarkan bagi Pandu dan Mirna. Pasalnya hari pernikahan mereka kini sudah tiba. Kakak Mirna sebagai walinya sudah datang dan penghulu pun sudah siap di tempat yang telah disediakan.
Untuk saksinya, tentu saja warga sekitar yang menginginkan pernikahan mereka ikut serta menjadi saksi pernikahan mereka.
"Saya nikahkan saudara......."
Deg!
Apa ini sudah mulai? Apa benar aku akan menikah dengannya? Sebentar lagi aku akan jadi istri sahnya. Lalu bagaimana dengan Mas Fariz? Berarti aku tidak bisa kembali dengannya untuk sekarang? Atau memang dengan jalan ini aku nantinya bisa kembali lagi?
Mirna bertanya-tanya dalam hatinya hingga dia tidak mendengar ijab kabul yang sedang dibacakan oleh penghulu dan Pandu saat itu.
"Dengan seperangkat alat shalat dibayar tunai," ucap Pandu mengakhiri bacaan kabulnya.
Hah?! Apa? Cuma seperangkat alat shalat? Paling enggak kan harus ada duitnya atau apa gitu. Bodoh sekali sih kamu Mir, lagian apa yang bisa kamu harapkan dari dia? Rumah aja masih nebeng sama Paman.
Sah!
Sah!
Seruan kata 'sah' menyadarkan Mirna dari lamunannya. Dan kini Mirna dan Pandu sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Huh... nasib... nasib.... nikah dua kali tapi sama orang miskin semua. Dulu Mas Fariz juga gitu, nikah sama aku pas gak punya apa-apa, sekarang sama juga, Mas Pandu juga gak punya apa-apa. Kenapa nasibku gini banget ya? Apa aku gak bakat jadi orang kaya?
Mirna berkata dalam hatinya hingga bacaan doa yang dibacakan oleh penghulu setelah bacaan ijab kabul pun dia tidak mendengarkannya.
Setelah itu rangkaian seperti mencium tangan suami dan mencium kening istrinya pun dilakukan oleh Mirna dan Pandu sesuai arahan dari penghulu.
Hanya acara sederhana yang bisa dilakukan oleh Pak Ratmo untuk menikahkan Mirna dan Pandu. Itupun dia mendapatkan sumbangan dana dari Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk acara tasyakuran pernikahan Mirna dan Pandu.
Pak Ratmo, Anita dan Robi tersenyum lega melihat prosesi ijab kabul berjalan dengan lancar. Sedangkan Hana bertanya-tanya pada Anita yang sedari tadi menggendong baby Emir dan duduk di sebelah Hana.
"Mbak Anita, Bu Mirna dan Bapak sedang apa, kok mereka ada ditengah-tengah orang-orang?" dengan polosnya Hana bertanya pada Anita.
Anita tersenyum mendengar pertanyaan dari Hana. Dengan tangan kirinya yang tidak menggendong Emir, Anita mengusap rambut Hana dengan lembut dan senyumannya masih melekat di bibirnya. Kemudian dia berkata pada Hana,
"Bu Mirna dan Bapak Hana sekarang sudah menikah. Dan itu artinya Bu Mirna sekarang jadi ibunya Hana. Sekarang Emir dan Hana sudah memiliki ibu lagi. Pasti Hana senang kan?"
Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Namun beberapa detik berikutnya Anita melihat mata Hana berkaca-kaca.
__ADS_1
"Hana kenapa? Jangan menangis, harusnya Hana bahagia, sekarang Hana sudah punya Bu Mirna sebagai ibu Hana dan Emir," ucap Anita untuk menghibur Hana.
"Hana bahagia Mbak, cuma Hana lagi ingat sama Ibu Hana. Apa Ibu Hana juga bahagia kalau Hana punya ibu baru?" tanya Hana pada Anita dengan wajah polosnya yang matanya masih berkaca-kaca.
"Ibu Hana pasti bahagia di sana melihat Hana dan Emir sudah punya ibu pengganti yang sayang dan bisa mengurus kalian. Hana harus selalu mendoakan ibu Hana agar ibu Hana bahagia di sana," jawab Anita dengan tersenyum pada Hana untuk menenangkan Hana.
"Hana akan selalu berdoa untuk ibu Hana agar ibu Hana bahagia di sana. Doanya habis shalat ya Mbak?" tanya Hana kembali pada Anita.
Anita pun tersenyum dan mengangguk pada Hana, tangan Anita mencubit pipi Hana yang sangat menggemaskan karena kepolosannya itu menurut Anita.
"Hana, sini!"
Hana pun menoleh, ternyata Hana dipanggil oleh Pandu untuk diajak foto bersama setelah Mirna dan Pandu foto berdua.
"Ibu!"
Hana berseru memanggil Mirna dan berhambur memeluk tubuh Mirna yang masih berdiri.
Tangan Hana menarik tangan Mirna sehingga membuat Mirna memandangnya. Hana pun segera melambaikan tangannya sebagai tanda agar Mirna mendekat padanya.
Mirna menundukkan tubuhnya dan dia kaget karena mendapatkan hadiah ciuman di pipi kiri dan kanannya dari Hana.
"Hana senang sekali, Bu Mirna sekarang menjadi ibunya Hana," bisik Hana di telinga Mirna.
"Terima kasih."
Setelah itu mereka melanjutkan untuk sesi foto keluarga. Dan anehnya raut wajah bahagia terpancar dari wajah Pandu dan Mirna. Entahlah mereka hanya berpura-pura ataukah memang benar-benar sedang bahagia menempuh hidup barunya.
Kenapa hatiku merasa seperti ini pada saat Hana melakukan itu padaku? Apa aku benar-benar sayang padanya? Tapi melihat Hana tersenyum bahagia seperti itu membuatku tenang. Apa karena kami memiliki nasib yang sama ya?
Mirna melihat Hana dengan tersenyum dan berkata dalam hatinya. Dia tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan saat ini. Mirna hanya berjalan mengikuti alur yang ada di depannya untuk saat ini.
"Mir, selamat ya. Semoga pernikahanmu kali ini bisa langgeng untuk selamanya. Anak-anak kamu lucu Mir. Tadi Mas sudah berbicara dengan Hana, dia anak yang baik. Jaga Hana dan Emir baik-baik Mir dan didik mereka dengan baik meskipun mereka bukan anak kandungmu," Robi berucap sambil menjabat tangan Mirna dan memeluk adiknya yang sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.
Setelah memeluknya sebentar, Robi melepaskan pelukannya dan memandang wajah adik bungsunya itu dengan senyum yang mengembang.
"Mas Robi gak bisa lama-lama di sini. Kamu hati-hati ya di sini. Nurut sama suami kamu. Dan juga jika Paman memberi saran, kamu harus mendengarkannya. Jangan selalu mendahulukan ego kamu. Mas Robi yakin jika kamu sudah banyak belajar dari semua kejadian yang pernah kamu alami dalam hidup kamu."
"Kapan Mas Robi pulang?" tanya Mirna dengan suara agak bergetar karena merasa haru dengan sikap Robi yang tidak pernah ditunjukkan padanya.
__ADS_1
"Nanti. Mas Robi akan menunggu setelah acara selesai. Oh iya, apa dia akan datang? Mas dengar dia masih di sini kan? Mas ingin bertemu dengannya," ucap Robi kemudian.
"Buat apa Mas? Apa Mas Robi akan memarahinya? Jangan Mas. Mirna saja berusaha berbuat baik akhir-akhir ini agar....," ucapan Mirna tidak diselesaikan karena dia sadar akan ucapannya.
"Agar apa Mir?" tanya Robi pada Mirna dengan mengerutkan dahinya.
"Oh itu... agar menjadi orang yang baik," jawab Mirna dengan cepat untuk menutupi kepanikannya.
Untung aja gak keceplosan. Kan gawat kalau mereka tau tujuanku selama ini, batin Mirna sambil tersenyum pada Robi.
Di lain sisi, tepatnya di rumah Umi Sarifah, Ustadz Fariz, Ustadz Jaki, Umi Sarifah, Rhea dan Shinta sedang berkumpul seperti biasanya sambil menunggui Izam dan Salsa main bersama.
"Nanti jadi datang kan ke acaranya mantan?" Ustadz Jaki bertanya pada Ustadz Fariz untuk menggodanya.
"Cieee mantan.....," sahut Rhea sambil terkekeh.
"Seneng bener Bu dengar mantan sama mantan menikah," sahut Ustadz Jaki meledek Rhea yang terlihat bahagia meledek suaminya sendiri.
"Biar gak ada yang gangguin ya?" kini Shinta yang ikut-ikutan menggoda Rhea.
Dan hal itu disambut tawa oleh Umi Sarifah dan Ustadz Jaki.
Sedangkan Ustadz Fariz menahan senyumnya karena dia takut jika istrinya yang sedang sensitif karena kehamilannya itu marah padanya.
Dan benar saja, sekarang bibir Rhea sudah maju karena kesal pada ledekan Ustadz Jaki dan Shinta.
"Nanti datang kan? Gak enak kalau gak datang, kan Pak Ratmo sendiri yang mengundang kita," Ustadz Jaki bertanya pada Ustadz Fariz.
"Apa gak bisa kalau kamu saja yang-"
"Datang dong. Kita nanti datang bareng mereka kan Bie?" Rhea menyahut dengan antusias dan memperlihatkan senyum lebarnya.
"Kamu yakin?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea.
"Jangan-jangan kamu pengen ketemu sama mantan kamu ya," Ustadz Jaki kembali meledek Rhea.
Plak!
Kini sandal kiri Rhea sudah mendarat dengan indah di muka Ustadz Jaki, setelah itu sandal tersebut jatuh ke pangkuannya, tepatnya jatuh di atas sarung yang dipakainya.
__ADS_1
"Yess!!!"
Sorak Rhea yang mendapat dukungan tawa dari Ustadz Fariz dan Umi Sarifah. Sedangkan Shinta hanya memperlihatkan ekspresi kaget melihat suaminya yang syok karena kecepatan sandal Rhea yang tidak bisa diprediksinya.