
"Nak Ustad, masih ingat dengan janji yang waktu itu kan?" tanya Ibu Rhea.
"Janji?" tanya Ustad Fariz heran.
"Waktu tempo hari pada saat Ibu berada di rumah neneknya Rhea," jawab Ibu mengingatkan tentang waktu itu.
Ustad Fariz menundukkan kepalanya, dia menyadari mungkin kesalahannya sudah tidak bisa dimaafkan oleh Ayah dan Ibu Rhea. Karena dia sudah berjanji untuk menjaga Rhea dan sekarang Rhea hampir saja keguguran karena kelalaiannya.
"Iya Bu saya ingat," ucap Ustad Fariz masih menunduk sambil memejamkan matanya.
"Sekarang bagaimana?" tanya Bu Ratih dengan tegas.
"Maaf Bu, maaf atas kelalaian saya sehingga terjadi hal seperti ini," ucap Ustad Fariz penuh penyesalan.
"Jangan meminta maaf sama Ibu, tapi tepatilah janjimu," ucap Ibu penuh penegasan.
"Bu maaf, tolong beri saya kesempatan lagi. Tolong jangan pisahkan saya dengan Rhea dan anak yang masih dalam kandungannya," ucapan Ustad Fariz dan tatapannya penuh dengan permohonan.
"Ibu... jangan salahkan suami Rhea bu... Rhea yang bersalah, Rhea yang tidak hati-hati. Suami Rhea udah melarang Rhea agar tidak bekerja terlalu berat, Rhea yang sembrono Bu," Rhea mendekati Ibunya dan berlutut di depan Ibunya.
"Sayang, berdirilah tidak seharusnya kamu melakukan ini. Biarlah aku yang melakukannya karena aku yang bersalah," Ustad Fariz membantu Rhea berdiri dan dia berlutut di depan Ibu Rhea.
"Bie...," Rhea memegang pundak suaminya untuk membantunya berdiri namun Ustad Fariz tidak mau berdiri.
"Udah... udah, kalian ini malah main drama salah-salahan. Ibu cuma mau tanya aja bagaimana penyelesaiannya agar tidak terjadi lagi seperti ini?" Ibu mengeleng heran dengan tingkah anak dan menantunya ini.
"Kalian duduklah," kini Ayah yang bersuara.
Ustad Fariz dan Rhea kembali duduk di tempat mereka duduk tadi. Umi Sarifah dan Ustad Jaki hanya diam saja melihat keluarga tersebut berbicara karena mereka tadi sudah menceritakan semua yang terjadi pada Ayah dan Ibu Rhea.
Bukannya tanpa sebab Umi Sarifah dan Ustad Jaki menceritakannya pada Ayah dan Ibu Rhea. Mereka bercerita karena sebelumnya Ayah dan Ibu Rhea sudah mengetahui dari Bik Darmi bahwa Rhea dirawat di rumah sakit karena pendarahan.
Ibu Rhea ingin membawa Rhea kembali ke rumahnya untuk dirawat sampai melahirkan, namun Umi Sarifah dan Ustad Jaki tahu jika Rhea dan Ustad Fariz tidak akan mau dipisahkan meskipun hanya beberapa hari saja, oleh karena itu Umi Sarifah dan Ustad Jaki menceritakan yang sebenarnya pada Ayah dan Ibu Rhea.
"Rhea janji Bu akan lebih hati-hati lagi atau Rhea gak ngapa-ngapain deh biar gak jatuh lagi," Rhea mengatakannya dengan nada memohon.
"Ini bukan karena kamu ceroboh Rhea, ini karena orang itu-"
"Maaf Bu, Yah, bisakah kita berbicara bertiga di luar?" Ustad Fariz menjeda perkataan Ibu.
"Kenapa Bie?" tanya Rhea heran sambil menoleh dan memegang tangan suaminya.
__ADS_1
Ustad Fariz tersenyum dan menggeleng. "Gapapa kok, sayang disini aja ya."
Kemudian Ustad Fariz mengajak Bu Ratih dan Pak Adrian menuju ruangan kantornya di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Ustad Fariz mempersilahkan Pak Adrian dan Bu Ratih untuk masuk dan duduk di dalam, kemudian dia menceritakan tentang keputusannya. Bu Ratih dan Pak Adrian kaget dengan keputusan Ustad Fariz, namun tak dipungkiri jika mereka merasa lega mendengarnya.
Mereka berharap jika Ustad Fariz sebagai menantu mereka bisa menjaga dan membahagiakan putrinya.
Setelah itu mereka membahas apa-apa yang mereka ingin tanyakan selama ini pada Ustad Fariz sebagai menantunya.
Rhea berjalan mondar-mandir, dia berharap-harap cemas karena sesungguhnya dia senang jika tinggal bersama kedua orang tuanya, namun dia tidak mau jika dipisahkan dari suaminya.
"Nduk... duduklah, tenangkan dirimu," Umi Sarifah merangkul pundak Rhea dan menuntunnya untuk duduk.
"Tapi Umi-"
"Percayakan saja sama suamimu," Umi Sarifah kembali menenangkan Rhea.
"Kamu sebaiknya tidak memikirkan apa-apa lagi, serahkan semuanya sama suamimu," kini Ustad Jaki yang berbicara setelah dari tadi hanya diam mengamati.
Tugas Ustad Jaki di sini sekarang menjaga Umi Sarifah dan Rhea dari Mirna, karena Ustad Fariz sedang berbicara dengan kedua orang tua Rhea. Dan semua itu bukan Ustad Fariz yang memintanya, itu semua inisiatifnya sendiri untuk mencegah hal lain yang mungkin akan terjadi.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam...."
"Bie...," Rhea menyambut suaminya dan mendekatinya.
Ustad Fariz tersenyum melihat istrinya yang terlihat mengkhawatirkannya. Kemudian dia menyambut istrinya yang mendekatinya dengan mengulurkan tangannya.
"Kalian ini pisah sebentar saja udah kayak pisah seminggu," sindir Ibu yang baru duduk di kursi tamu.
"Ah Ibu, mangkanya Rhea sama suami Rhea aja ya Bu, ya... ya... ya...," pinta Rhea merengek sambil menggerak-gerakkan tangan suaminya.
"Kamu itu udah mau jadi Ibu masih aja kayak anak kecil," cibir Ibu pada Rhea.
"Biarin, Ibu kan Ibunya Rhea, jadi boleh dong merengek sama Ibu," ucap Rhea kesal.
"Udah yuk duduk dulu," Ustad Fariz mengajak Rhea duduk di kursi tamu.
Rhea tidak mau pisah dengan suaminya. Sampai duduk pun tangannya masih melingkar di lengan suaminya dan duduknya sangat mepet sekali, hampir tak berjarak.
__ADS_1
"Bu, sepertinya anak Ibu takut sekali dipisahkan. Liat aja, sampai gak mau lepas gitu tangannya," ucap Pak Adrian yang merupakan Ayah Rhea.
"Terus, gimana dong enaknya Yah?" Ibu mencoba menggoda Rhea.
"Emmm.. gak mauuuu...," Rhea lebih mengeratkan tangannya pada lengan suaminya, hal itu membuat semua orang di ruangan itu tertawa.
"Apaan sih semua pada ketawa?" Rhea kesal melihat semua orang menertawakannya.
"Kamu lucu sayang," Ustad Fariz mencubit hidung Rhea dengan gemas.
"Assalamu'alaikum...," suara wanita terdengar dari luar pintu.
"Wa'alaikumussalam...," jawab semua orang yang ada di ruangan tersebut dan menoleh pada arah sumber suara.
"Mirna," ucap Umi Sarifah.
Suasana yang tadinya ramai dan penuh tawa mendadak sepi setelah Mirna masuk ke dalam ruang tamu.
"Rhea, kamu udah sembuh?" tanya Mirna tiba-tiba dan dia masih bingung mencari tempat duduk, karena tempat duduk yang tersisa hanya dekat Ustad Jaki saja.
"Ngapain lagi sih," ucap Ustad Jaki lirih namun bisa di dengar semua orang karena ruangan tersebut sepi dan tidak ada yang bersuara.
"Eh Mbak, duduk sini Mbak, gabung sama kita," Rhea tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Udah situ aja, gak ada tempat di sini," ucap Ustad Jaki dengan nada kesal.
"Ustad!" Rhea berseru dan melotot pada Ustad Jaki, namun mata Rhea ditutup oleh tangan Ustad Fariz dan dihadapkan padanya.
"Apaan sih ini?" tanya Rhea sambil membuka tangan suaminya yang menutup matanya.
"Udah jangan lihat dia, nanti kesenangan dianya," ucap Ustad Fariz.
"Rhea maaf ya aku gak sempat datang ke rumah sakit. Habisnya aku gak ada yang ngasih tau," ucap Mirna.
"Alasan," sahut Ustad Jaki lirih dan itu membuatnya mendapatkan tepukan kecil dari Umi Sarifah di punnggungnya.
"Gapapa Mbak," jawab Rhea sambil tersenyum.
"Kandungan kamu gimana? Apa kamu keguguran?" tanya Mirna tidak sabar.
"Mirna!" seru Ustad Fariz.
__ADS_1