
Izam kembali bergabung bersama keluarganya untuk makan bersama keluarganya dan keluarga dari Kyai Anwar.
Duduknya gelisah dan makannya pun tidak nyaman mengingat tadi dirinya ditinggalkan oleh Salsa begitu saja tanpa memberitahukan apapun padanya. Dan Yasmin juga menolak untuk memberitahukan yang dia ketahui pada kakaknya.
Kegelisahannya bertambah ketika acara makan mereka sudah mulai tanpa kehadiran Salsa dan Yasmin di sana.
Rhea dan Ustadz Fariz mengerti jika putranya itu sedang gelisah dan tidak nyaman berada di sana. Ingin rasanya Rhea bertanya pada putranya itu, tapi semua itu diurungkannya karena situasinya tidak mendukung.
Adiba yang suka mencuri pandang pada Izam juga merasakan jika Izam tidak nyaman saat ini, sehingga dia sedikit kecewa.
Setelah acara makan selesai, keluarga Kyai Anwar berpamitan pulang.
"Zam, adik-adik kamu ke mana?" tanya Ammar pada Izam yang kini berjalan dengannya untuk mengantarkan mereka menuju mobilnya.
"Aku juga gak tau ke mana mereka pergi. Sedari tadi aku mencarinya. Tidak biasanya mereka seperti itu," ucap Izam cemas.
Ammar tersenyum, dia salut pada Izam yang sangat memperhatikan adik-adiknya.
"Kamu kakak yang baik Zam. Aku jadi tenang jika menyerahkan adikku, Adiba padamu," ucap Ammar sambil tersenyum.
"Bukannya setiap Kakak seperti itu ya? Aku sangat menyayangi mereka dan aku harus memperhatikan serta melindungi mereka," tutur Izam kemudian.
"Hebat kamu Zam. Aku senang bisa berkenalan denganmu," tukas Ammar sambil menepuk-nepuk pelan pundak Izam.
Izam pun terkekeh mendapatkan pujian seperti itu dari Ammar. Mereka cepat sekali akrab dan mereka berdua berharap bisa menjadi teman meskipun acara perjodohan itu tidak terjadi.
Adiba sesekali menoleh ke belakang ketika mendengar tawa Izam dan Ammar, kakaknya. Dia tidak berjalan dengan mereka berdua, melainkan berjalan bersama Umi nya di depan mereka, dengan jarak yang lumayan jauh.
Sedangkan di dapur rumah Rhea, Mbak Atik direpotkan oleh Salsa untuk membantunya membuat rujak dengan cabai yang super banyak.
"Ini beneran gapapa mbak?" tanya Mbak Atik pada Salsa.
"Iya Mbak, kita buat aja bumbunya pakai cabai segitu," jawab Salsa sambil mengupas buah-buahan yang akan dijadikan rujak oleh mereka.
"Mbak Yasmin, ini beneran nanti gak sakit perut?" tanya Mbak Atik pada Yasmin.
__ADS_1
"Turuti aja Mbak, sepertinya Kak Salsa lagi ngidam," jawab Yasmin sambil terkekeh.
Sama seperti Izam yang belum mau untuk dipanggil dengan sebutan Gus. Yasmin pun belum mau untuk dipanggil dengan sebutan Ning. Bukan mereka tidak mau, hanya saja mereka masih merasa belum mampu untuk menyandang gelar sebutan tersebut. Mereka masih dalam proses untuk bisa menyandang gelar tersebut.
Tidak lama proses pembuatan rujak dan bumbunya sudah selesai. Salsa mengajak Yasmin untuk membawa bahan-bahan rujak dan bumbu itu ke gazebo belakang rumah yang sangat rindang, cocok sekali untuk memakan rujak di siang hari seperti itu.
Mbak Atik hanya sekali mencoba dan dia menyerah, dia tidak kuat dengan rasa pedas yang luar biasa dari bumbu yang dibuatnya.
"Mbak, udah ya, Mbak Atik gak kuat," ucap Mbak Atik yang sedang kepedasan.
"Ih Mbak Atik cemen ah. Masa' gini aja udah nyerah kepedesan," tukas Salsa sambil mendesis kepedasan.
"Kamu aja yang kelewatan Kak. Ini benar-benar pedas loh," ucap Yasmin setelah meminum air dari botol.
"Udah ah, Mbak Atik ke dapur dulu. Assalamu'alaikum," ucap Mbak Atik sebelum meninggalkan tempat tersebut.
"Wa'alaikumussalam," jawab Salsa dan Yasmin sambil mendesis kepedasan.
"Eh sini, kita makan rujak sama-sama," seru Salsa pada beberapa santriwati yang sedang melewati mereka.
Sebenarnya mereka sungkan, tapi bukan Salsa namanya jika tidak bisa membuat mereka bergabung bersamanya dan Yasmin untuk menikmati rujak buatan mereka.
Namun, rasa cintanya pada Izam membuatnya kesal ketika melihat Izam bersama dengan Adiba, gadis yang akan dijodohkan dengannya.
Bahkan karena dia merasakan hatinya sangat sakit jika dekat dengan Izam, kini Salsa lebih memilih menghindari Izam agar dia tidak lagi merasakan sakit hati.
Ketika mereka sedang memakan rujak, tampak Izam berjalan kembali ke rumahnya. Dan itu tak sengaja tertangkap oleh mata Salsa. Kini dia kembali mengingat tentang perjodohan Izam dengan Adiba.
"Mbak Salsa kenapa nangis?" tanya seorang santriwati yang sedang memakan rujak bersama mereka.
Air mata Salsa tak kunjung reda, bahkan dia terisak karena rasa sakit yang menghimpit dalam hatinya.
"Kak Salsa kenapa nangis?" tanya Yasmin sambil memberikan satu botol air minum pada Salsa.
Salsa menghapus air matanya dengan kasar menggunakan gamis yang menutupi tangannya. Kemudian dia memakai ujung hijabnya untuk mengelap ingusnya yang keluar seiring tangisnya.
__ADS_1
Setelah itu dia menerima botol air minum yang diberikan oleh Yasmin padanya.
"Pedes banget ini rujaknya. Mangkanya aku sampai nangis," ucap Salsa dengan sesenggukan habis menangis.
"Oh...," ucap mereka semua dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah itu mereka meneruskan kembali memakan rujaknya. Memang pedas sih, tapi bikin nagih kata mereka semua.
"Salsa sama Yasmin ke mana sih Mba" tanya Izam pada Mbak Atik yang sedang membereskan makanan di meja makan.
"Ada di gazebo belakang Ustadz, sedang makan rujak," jawab Mbak Atik sambil meneruskan pekerjaannya.
"Makan rujak? Mereka kan belum makan nasi Mbak, kok malah makan rujak?" tanya Izam heran.
"Ya itu dia Ustadz. Tadi udah Mbak Atik bilang gitu, tapi Mbak Salsa lagi pengennya sekarang katanya. Mana rujaknya super pedas lagi. Mbak Atik aja gak kuat sama pedasnya," jawab Mbak Atik.
"Ada-ada aja mereka ini," ucap Izam sambil berjalan menuju gazebo belakang.
"Assalamu'alaikum," Izam mengucap salam ketika sudah berada di depan gazebo tempat Salsa dan Yasmin memakan rujaknya.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua yang ada di sana.
Semua santriwati yang sedang menikmati rujak menoleh ke belakang, mereka terkejut ketika melihat Ustadz mereka, Izam berada di sana.
Dengan segera mereka berpamitan meninggalkan tempat itu.
"Eh... eh... kalian ngapain pergi sih? Ini rujaknya masih banyak," seru Salsa pada mereka yang sudah berjalan meninggalkan gazebo tersebut.
Izam duduk di gazebo tersebut dan mencoba memakan rujak yang ada di hadapannya itu.
Namun, setelah memakan satu kali dia membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya seolah lidahnya itu sedang terbakar.
"Pedas sekali. Kalian belum makan nasi tapi sudah memakan rujak sepedas ini? Apa kalian mau meracuni diri kalian sendiri?" ucap Izam sambil mendesis kepedasan.
"Baiklah, tukang racun ini mau undur diri. Assalamu'alaikum," tukas Salsa dengan tegas dan dia dengan segera meninggalkan gazebo tersebut dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Kak Izam sih," ucap Yasmin sambil menatap Izam dengan ekspresi kesalnya.
Izam bertambah bingung, karena kini bukannya dia bisa mengembalikan sikap Salsa, malah kini dia membuat Salsa dan Yasmin kesal padanya.