Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 172 Suatu Permintaan


__ADS_3

Ternyata masih ada orang baik di sini yang mau membantuku. Anita ini orang yang baik, hampir sama dengan Ani, apa mungkin karena nama mereka hampir sama? Ah, entahlah apa yang ku pikirkan saat ini. Aku harus mulai memikirkan nasib ku dan anak-anak untuk ke depannya. Bagaimana aku bisa melewati hari-hari ku bersama dengan kedua anakku? Huffttt.... Pandu mengeluh dalam hatinya sambil memakan nasi bungkus pemberian dari Anita.


Di taman yang indah itu sayangnya tidak membuat Pandu merasa bahagia atau berbunga-bunga ketika berada di sana. Taman yang berada di rumah sakit itu membuat orang lain yang berada di sana untuk merasa lebih baik ketika berada di sana, namun tidak dengan Pandu yang merasa nasibnya sedang dipermainkan oleh sang kuasa.


"Makanlah dulu Nit. Hana masih tertidur, biarkan dia menikmati tidurnya. Lebih baik makanannya kamu simpan dulu saja agar dia bisa makan nanti kalau sudah bangun," Mirna berkata pada Anita dengan merapikan rambut Hana yang masih tertidur.


"Baiklah Mbak, Anita makan dulu ya. Mbak Mirna gak makan?" Anita bertanya pada Mirna sambil membuka bungkusan makanannya.


"Mbak makan nanti saja nunggu makanan dari rumah sakit Nit. Mbak ingin sembuh, kali ini Mbak harus menuruti semua yang diperintahkan oleh dokter, termasuk larangan-larangannya," Mirna tersenyum ketika mengatakan itu pada Anita dengan melihat wajah Hana yang sangat tenang dalam tidurnya.


"Mbak Mirna pasti bisa sembuh Mbak," Anita menanggapi perkataan Mirna.


"Terima kasih Nit. Bantu Mbak ya Nit, ingatkan kalau Mbak melanggar perintah dokter," ucap Mirna kemudian sambil melihat ke arah Anita.


"Dengan senang hati Mbak, Anita pasti mengingatkan Mbak Mirna, asalkan Mbak Mirna menurut saja, gak marah kalau diingatkan," ucap Anita sambil terkekeh.


Mirna tidak menimpali perkataan Anita, dia lebih tertarik pada Hana. Gadis mungil itu terlihat damai dalam tidurnya, wajahnya yang polos membuat Mirna merasa kasihan dan teringat akan dirinya sendiri ketika ditinggal pergi untuk selamanya oleh ibunya.


Mirna tidak bisa membayangkan Hana akan melewati hari-harinya dengan adiknya yang barus aja dilahirkan. Berbeda dengan Mirna yang menjadi anak terakhir dan mempunyai Bapak serta kakak-kakaknya yang masih bisa menjaganya.


Beban Hana sebagai anak pertama yang ditinggal ibunya setelah melahirkan adiknya terasa sangat berat bagi Mirna.


Bagaimana dia bisa melewati hari-harinya kelak? Kasihan sekali dia, Mirna berkata dalam hatinya sambil membawa Hana dalam dekapannya seolah memberi perlindungan pada Hana.


Anita senang melihat Mirna yang terlihat sayang pada Hana. Anita tahu jika sebenarnya Mirna memiliki sikap baik yang tidak diketahui oleh orang lain, namun sikap baik Mirna itu tertutupi oleh keegoisan Mirna.


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang membuat Mirna dan Anita mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu yang diketuk tersebut yang memang tidak ditutup oleh Anita.


"Maaf, apa Hana masih ada di sini?" Pandu bertanya dengan perasaan malu dan merendahkan harga dirinya.


"Itu Hana Pak," jawab Anita yang menghentikan makannya sambil menunjuk ke arah Hana yang tertidur di dalam pelukan Mirna.


Pandu mengikuti arah telunjuk Anita yang mengarah pada bed pasien yang berada di sana.


Terlihat di sana Mirna yang mendekap Hana seperti Ani sedang menidurkan Hana setiap harinya. Hati Pandu trenyuh melihat itu, dia kini merasa sangat kehilangan Ani.


Sungguh tidak disadarinya bahwa Ani mampu membuatnya merasa kosong seperti kehilangan sesuatu yang berharga.

__ADS_1


Sepertinya Hana memang masih butuh sosok ibu. Ani... kenapa kau tinggalkan kami secepat ini? Aku dan anak-anak kita masih membutuhkanmu, Pandu meronta dalam batinnya.


"Masuk saja Pak, duduk saja di sini sambil menunggu Hana bangun," Anita mempersilahkan Pandu untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya.


"Apa Hana sudah lama tertidur di sana?" Pandu bertanya pada Anita.


"Sudah sejak tadi Pak. Kata Mbak Mirna biarkan saja Hana tidur bersama dengan dia. Biar Bapak bisa mengurus jenazah ibu Hana terlebih dahulu," jawab Anita sambil tersenyum pada Pandu.


"Kalau begitu saya tinggal Hana di sini dulu sebentar, saya mau mengurus jenazah istri saya dulu," ucap Pandu yang sebenarnya sungkan berada di sana bersama dengan Anita, sedangkan Mirna sudah terlelap bersama dengan Hana di pelukannya.


"Biarkan Hana di sini dulu Pak. Makanan Hana masih belum dimakan. Biar dia makan setelah dia terbangun nanti," Anita berkata pada Pandu disertai senyumnya yang menenangkan bagi orang yang melihatnya, termasuk Pandu.


"Baiklah Mbak Anita, terima kasih. Saya permisi dulu, mari Mbak," Pandu berpamitan pada Anita.


"Iya Pak silahkan, wa'alaikumussalam," ucap Anita seolah menyindir Pandu agar mengucapkan salam ketika berpamitan, namun sayangnya Pandu tidak mendengarkannya.


Pandu menemui pihak rumah sakit yang mengurusi jenazah Ani. Setelah itu dia menuju ruangan bayinya. Dia melihat bayi mungil itu yang terdapat di dalam inkubator, rasanya hatinya sakit melihat bayi mungil itu nantinya tumbuh tanpa kehadiran dan kasih sayang ibunya.


Seorang perawat menghampiri Pandu yang melihat bayinya melalui kaca ruangan tersebut dan berkata,


"Pak, mau dikasih nama siapa anaknya? Tadi Ustadz Jaki, suami dari dokter Shinta yang mengadzani bayi Bapak. Katanya Bapak sendiri yang menyuruh Ustadz Jaki untuk mengadzani bayi Bapak. Maaf kami tidak bertanya dulu sama Bapak, karena kami tadi kesusahan mencari Bapak."


"Baiklah Pak, saya permisi dulu," perawat itupun berpamitan pada Pandu dan Pandu pun mengangguk tanpa melihat perawat tersebut.


Pandu masih melihat bayi mungil itu dan dia teringat akan peristiwa memalukan yang dia hadapi tadi pada saat menemui bayi tersebut.


Tadi, pada saat Pandu ingin melihat bayinya, ternyata di sana ada dokter Shinta dan Ustadz Jaki yang sedang melihat bayi yang ditinggalkan oleh Ani yang merupakan pasien Shinta dan dibiayai oleh Shinta.


"Pak, apakah Bapak sudah mengadzani bayi ini? Kata perawat di sini Bapak belum melakukannya. Sedari tadi mereka mencari Bapak untuk mengadzani bayi ini," Shinta berbicara pada Pandu ketika bertemu dengan Pandu di ruangan perawatan bayi.


Pandu terdiam, dia malu menjawabnya. Tapi kini dia harus mengenyahkan harga dirinya untuk saat ini saja.


"Apa suami dokter bisa menggantikan saya untuk mengadzani bayi saya?" Pandu bertanya dengan rasa malu yang ditutupinya.


"Saya? Kenapa bukan Bapak sendiri?" Ustadz Jaki menanggapi permintaan dari Pandu.


"Tolonglah Pak, tolong bantu saya" Pandu mengenyahkan harga dirinya memohon pada Ustadz Jaki.

__ADS_1


Shinta pun memegang tangan Ustadz Jaki untuk menghentikannya ketika suaminya itu akan menjawab permohonan dari Pandu. Karena Shinta yakin jika suaminya itu akan mengorek lebih dalam lagi alasan Pandu meminta tolong padanya untuk mengadzani bayinya.


"Baiklah Pak, biar suami saya yang mengadzani bayi ini," Shinta menyetujui permintaan dari Pandu.


"Tapi Sayang, Bapaknya kan ada di-"


"Udah ayo...," Shinta menyela ucapan Ustadz Jaki dan menariknya untuk mengambil bayi tersebut dan melakukan permintaan Pandu padanya.


Pandu merasa malu karena dia tidak bisa melakukan adzan dengan benar, dulu saja ketika Hana lahir, dia selalu salah ketika mencoba sebelum mengadzani Hana, sehingga Pak Minto lah yang mengadzani Hana pada saat itu.


Setelah Ustadz Jaki melakukan permintaan dari Pandu, dia melihat Rhea dan Ustadz Fariz berjalan di lorong menuju ruang perawatan bayi tersebut. Secepatnya Pandu berpamitan dan meninggalkan ruangan tersebut sebelum Rhea dan Ustadz Fariz sampai di ruangan itu.


Untung saja yang aku mintai tolong suami dokter Shinta, coba kalau suami Rhea, pasti aku sangat malu pada mereka. Hufffttt.... bodoh sekali aku ini. Sangat memalukan! Sepertinya aku harus belajar tentang agama islam, dan lihat saja Rhea yang sekarang sangat anggun dengan berbalut baju seperti itu. Padahal dia sangat seksi memakai baju yang seperti biasanya, Pandu berkata dalam hatinya seiring langkah kakinya menapaki lorong rumah sakit.


"Yuk kita pulang sekarang," Ustadz Fariz berbicara pada Ustadz Jaki.


"Udah selesai nebus obatnya?" tanya Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz dan Rhea.


"Udah, nih, bener gak Shin ini vitaminnya?" Rhea bertanya pada Shinta sambil memperlihatkan obat-obatan yang terdapat di dalam kantong plastik di tangannya.


"Iya benar, yuk pulang," jawab Shinta sambil menerima bayi yang diberikan Ustadz Jaki padanya.


"Eh ini bayinya siapa?" tanya Rhea pada Shinta sambil memegang pipi bayi tersebut.


"Bayi yang ditolong Shinta tadi," jawab Ustadz Jaki mewakili istrinya.


"Jadi ini bayi....," ucapan Rhea tidak diteruskannya karena dia tidak mau menyebut nama mantan suaminya lagi.


Shinta dan Ustadz Jaki pun menganggukkan kepalanya untuk membenarkan tebakan Rhea.


"Lalu, sedang apa kalian dengan bayi itu?" tanya Ustadz Fariz dengan wajah heran.


"Barusan aku mengadzani bayi ini sesuai dengan permintaan Bapaknya," jawab Ustadz Jaki dengan tenang.


"Hah?! Kenapa bukan Bapaknya sendiri?" Ustadz Fariz bertanya kembali pada Ustadz Jaki dengan rasa ingin tahunya.


Ustadz Jaki hanya menjawabnya dengan menaikkan bahunya tanda dia tidak tahu. Sedangkan Rhea tersenyum, dalam hatinya berkata,

__ADS_1


Kamu tidak berubah, dengan hilangnya ingatanmu tidak merubahmu untuk lebih baik dan lebih dekat dengan Allah.


__ADS_2