Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 152 Awal atau akhir?


__ADS_3

"Bunda... Izam mau makan bubur ayam," ucap Izam yang baru selesai memakai bajunya setelah mandi bersama Abi nya.


"Ok, siap komandan. Bunda buatkan yang spesial khusus untuk anak Bunda tersayang ini," jawab Rhea sambil menciumi pipi gembul Izam yang sudah wangi semerbak bedak bayi.


"Anak Abi juga dong," sahut Ustadz Fariz yang tidak mau kalah dengan Rhea.


"Iiih... pipi Izam habis nanti diciumi terus sama Bunda, sama Abi juga," ucap Izam dengan wajah yang sangat menggemaskan.


Tawa Ustadz Fariz dan Rhea pecah dalam kamar mereka. Riuh terdengar dari luar tawa membahagiakan dari keluarga kecil Ustadz Fariz dan Rhea.


Tok... tok... tok...


Suara pintu kamar mereka yang diketuk oleh seseorang membuat tawa mereka berhenti. Ustadz Fariz beranjak dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.


"Mbak Atik, ada apa?" tanya Ustadz Fariz ketika membuka pintu dan mendapati Mbak Atik berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Itu Ustadz, ada yang mencari Ustadz sedang menunggu di ruang tamu," jawab Mbak Atik yang terpanah melihat Ustadz Fariz yang sedang menggunakan kaos dan celana dibawah lutut, penampilan yang tidak pernah dilihat oleh Mbak Atik selama dia berada di rumah Umi Sarifah.


Ustadz Fariz memang hanya menggunakan kaos dan celana pendek saja jika berada di dalam kamar, dan jika dia keluar dari kamar pasti akan menggunakan pakaian kebesarannya sebagai seorang Ustadz atau kyai dari Pondok Pesantren Al-Mukmin. Dan hal itu menambah kadar ketampanan Ustadz Fariz bertambah yang kini diturunkannya pada Izam.


"Ya udah, Mbak Atik duluan saja. Saya akan menyusul sebentar lagi," ucap Ustadz Fariz yang kemudian menutup pintu kamarnya setelah Mbak Atik pergi dari depan pintu kamarnya.


Pantas aja banyak yang suka sama Ustadz Fariz, lah wong orangnya berkharisma gitu, Mbak Atik berkata dalam hatinya sambil tersenyum menuruni tangga.


"Abi mau ke ruang tamu dulu ya, udah ditunggu tamu di sana," ucap Ustadz Fariz sambil memakai baju koko dan sarungnya.


"Tamu siapa pagi-pagi Bi?" tanya Rhea sambil bersiap memakai hijabnya.


"Entahlah Sayang. Duh cantiknya istrinya aku, jadi pengen di kamar aja gak usah ke mana-mana," ucap Ustadz Fariz yang sangat sering menggoda bahkan mengeluarkan rayuannya kapanpun pada Rhea.


"Dih, bisa-bisanya Abi aja tuh... Udah sana keluar, udah ditungguin juga. Sebentar lagi Bunda sama Izam juga mau turun. Iya kan Izam?" ucap Rhea yang salah tingkah karena malu mendengar ucapan dari suaminya.


"Nanti Izam bantuin ya Bunda bikin bubur ayamnya," jawab Izam dengan wajah yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


Hal itu membuat Ustadz Fariz dan Rhea tertawa. Semua tingkah laku dan celotehan Izam sangat menghibur mereka. Hingga membuat Ustadz Fariz tidak henti-hentinya bersyukur karena kebahagiaan yang diberikan Allah padanya saat ini.


"Anak saleh nya Abi sama Bunda pinter banget sih," ucap Ustadz Fariz sambil mencium kembali pipi Izam yang gembul seperti bakpau.


"Abi ih... Bunda... pipi Izam penyet dicium sampai gini sama Abi," Izam berseru sambil menekan pipinya menirukan ciuman Abi nya yang sangat dalam.


Rhea tertawa sambil mencium kembali pipi Izam, sedangkan Ustadz Fariz tertawa seraya berjalan keluar kamar mereka.


"Ada tamu siapa Umi?" tanya Ustadz Fariz pada Umi Sarifah yang sedang membuatkan teh hangat untuk tamu yang sedang menunggu Ustadz Fariz di ruang tamu.


"Nanti kamu pasti tau sendiri. Ayo kita temui mereka," ucap Umi Sarifah sambil berjalan terlebih dahulu menuju ruang tamu.


Ustadz Fariz mengikuti Umi Sarifah berjalan di belakangnya. Setelah itu mereka memperkenalkan dirinya kepada Ustadz Fariz dan ketika tamu tersebut mengutarakan niatnya, Ustadz Fariz meminta Umi Sarifah untuk memanggilkan Ustadz Jaki.


"Salsa, Izam dong mau makan bubur ayam buatan Bunda," ucap Izam yang berniat pamer pada Salsa ketika Salsa akan memakan rotinya.


"Manda... Salsa mau bubur buatan Bunda juga," seru Salsa dari ruang tengah yang sedang duduk bersama dengan Izam menonton tayangan kartun kesayangan mereka.


"Iya Bunda bikinkan sebentar lagi sama punya Izam. Biar Manda sarapan dulu ya, kan Manda mau berangkat kerja," ucap Rhea sambil meletakkan masakan untuk mereka sarapan sebentar lagi, sedangkan Shinta sudah sedari tadi kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kerja.


Tiba-tiba Umi Sarifah masuk ke dalam dan bertemu dengan Ustadz Jaki yang sedang berjalan menuju ruang makan.


"Jaki, itu dipanggil Ustadz Fariz di ruang tamu, ada tamu di sana," ucap Umi Sarifah pada Ustadz Jaki.


"Siapa sih Umi pagi-pagi gini?" tanya Ustadz Jaki yang dengan ogah-ogahan menuruti Umi karena tubuhnya di dorong oleh Umi Sarifah dari belakang untuk berjalan menuju ruang tamu.


"Udah lihat dulu sana," jawab Umi Sarifah yang masih mendorong tubuh Ustadz Jaki agar berjalan ke ruang tamu.


Setelah Ustadz Jaki duduk di ruang tamu menemani Ustadz Fariz, Umi Sarifah lebih memilih menemani cucu-cucunya yang setiap hari sangat menghiburnya.


"Umi, ini minuman untuk tamu yang di depan?" tanya Rhea sambil membawa nampan yang berisi gelas-gelas berisi teh hangat.


"Astaghfirullahaladzim... iya Umi lupa. Rhea, tolong antarkan minuman itu ke ruang tamu. Mbak Atik sedang menjemur baju di belakang," ucap Umi Sarifah sambil bermain bersama Izam dan Salsa.

__ADS_1


"Siap Umi....," jawab Rhea dengan candaannya membuat Umi Sarifah menoleh padanya sambil terkekeh.


Rhea pun mengantarkan minuman tersebut ke ruang tamu. Rhea tersenyum pada suaminya ketika masuk ke dalam ruang tamu tanpa melihat tamu yang datang, karena Rhea merasa jika ada seseorang yang terus memperhatikannya.


"Rheina Az Zahra!" ucap Pandu lirih tanpa sadar ketika melihat Rhea membawa nampan yang berisi minuman untuk mereka.


Rhea merasa diperhatikan oleh seseorang, sehingga Rhea hanya memandang gelas yang dengan hati-hati diletakkannya di atas meja tamu tersebut. Setelah itu dia kembali tersenyum pada Ustadz Fariz dan pergi dari ruang tamu setelah mendapat anggukan dari suaminya itu.


"Rhea! Benarkah kamu Rhea? Rheina Az Zahra?" suara Pandu menghentikan langkah kaki Rhea yang sudah akan pergi dari ruang tamu tersebut.


Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Rhea kaget mendengar tamu yang ada di hadapan Ustadz Fariz memanggil nama Rhea. Bahkan Ani pun merasa kaget karena dia sekali lagi mendengar nama Rhea keluar dari mulut suaminya.


Rhea pun menghentikan langkah kakinya karena merasa mengenali suara laki-laki yang memanggilnya dengan nama panggilannya dan bahkan laki-laki tersebut mengetahui nama lengkapnya.


Dengan dada yang berdebar, Rhea memberanikan dirinya untuk berbalik melihat tamu yang memanggilnya itu.


Mata Rhea membelalak sempurna ketika melihat sosok yang sudah beberapa tahun tidak dilihatnya. Wajahnya, tubuhnya dan senyumnya masih sama seperti waktu terakhir Rhea bertemu dengannya. Hanya saja penampilannya saat ini sedikit memprihatinkan, tidak seperti dirinya yang dulu sangat suka berpenampilan rapi meskipun berada di mana pun.


"An-dri... Andri Brahmana?" ucap Rhea dengan ragu dan takut.


Pandu pun mengangguk sambil tersenyum senang. Hal itu sukses membuat Ustadz Fariz membelalakkan matanya, dia merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi di pagi hari yang sebelumnya tadi mereka lalui dengan gembira sebelum bertemu dengan tamu di hadapannya ini.


Memang Ustadz Fariz tidak mengenali sosok di depannya ini adalah Andri, mantan suami istrinya. Karena Ustadz Fariz sendiri hanya bertemu Andri pada saat pernikahan Rhea dengan Andri waktu itu. Bahkan Ustadz Fariz tidak berani melihat Rhea dan suaminya karena merasakan hatinya sangat sakit kala itu.


Hal yang sama dirasakan oleh Ani. Dia kaget mendengar nama Rhea yang diucapkan oleh Pandu. Dan sekarang suaminya itu membenarkan jika namanya adalah Andri Brahmana saat Rhea menyebutkannya.


Apakah ingatan Mas Pandu sudah kembali? Lalu bagaimana dengan nasibku dan anak-anak kami? Bahkan aku sekarang sedang mengandung anak Mas Pandu, Ani berkata dalam hatinya, sangat khawatir dengan nasibnya setelah ini.


Dengan segera Rhea berjalan cepat masuk ke dalam ruang tengah, duduk bersama dengan Umi Sarifah, Izam dan Salsa.


"Ada apa Nduk?" tanya Umi Sarifah pada Rhea.


"Bunda ayo bikin bubur ayamnya," Izam menggerak-gerakkan lengan Rhea yang masih berwajah syok duduk diantara mereka.

__ADS_1


Ya Allah... cobaan apa lagi ini? Rhea berkata dalam hati.


__ADS_2