Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 167 Aku tahu rasanya


__ADS_3

Mirna terdiam mendengar kabar bahwa Ani meninggal setelah melahirkan bayinya. Air mata Mirna menetes tanpa sadar. Doa tahu betul bagaimana perasaan Hana dan bayi yang baru lahir itu.


"Bawa ke sini Nit, biarkan Hana tidur di sini," Mirna memanggil Anita ketika dia tersadar dari lamunannya.


Anita pun membawa Hana yang baru saja tertidur dalam gendongannya untuk ditidurkan di bed pasien bersama dengan Mirna.


"Kasihan dia Mbak, mungkin dia terlalu capek menangis hingga ketiduran," ucap Anita ketika menidurkan Hana di samping Mirna.


"Pantas saja suara tangisnya semakin kecil dan lama-lama hilang, ternyata dia tidur Nit," Mirna berucap sambil menyingkirkan rambut Hana yang sebagian menutupi wajah Hana karena menempel pada air mata yang menyelimuti wajahnya.


"Mbak, apa Hana boleh tidur di sini dulu? Kasihan dia Mbak, bapaknya sedang mengurus jasad ibunya Hana.


"Lalu bayinya di mana Nit?" tanya Mirna reflek pada Anita.


"Ada di ruang perawatan bayi Mbak, karena bayinya lahir prematur," jawab Anita yang melihat raut kesedihan di wajah Mirna.


"Kenapa Mbak?" tanya Anita kembali pada Mirna.


"Aku tau Nit gimana rasanya ditinggal ibu setelah dilahirkan," ucap Mirna sambil tersenyum getir melihat wajah Hana yang tertidur dengan bercak air mata yang ada di wajahnya.


Mirna memang sangat tahu rasanya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu kandung. Ibunya meninggal setelah melahirkannya. Jadi dia tahu betul bagaimana rasanya hidup dan tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.


Berbeda dengan Anita, ibunya meninggal ketika Anita berada di bangku SMA dan waktu itu Anita sudah berada di pondok pesantren. Anita memang berada di pondok pesantren itu ketika masuk SMP, jadi dia sudah terbiasa hidup jauh dari kedua orang tuanya, termasuk ibunya.


"Aku tau Mbak. Tapi Mbak Mirna hebat bisa melalui semua itu. Semoga Hana dan adiknya bisa seperti Mbak Mirna, semoga mereka bisa menjadi anak yang kuat menghadapi semuanya seperti Mbak Mirna," ucap Anita menanggapi perkataan Mirna.


Mirna tersenyum dan menoleh memandang Hana. Wajah Hana yang tertidur terlihat polos namun tersirat kesedihan saat ini. Hal itu membuat Mirna merasa iba.

__ADS_1


"Biarkan Hana tidur di sini saja Nit, kasihan dia," ucap Mirna sambil mengusap rambut Hana dan memandang wajah Hana.


Tanpa sadar, Miran tersenyum melihat wajah Hana, kemudian dia membenarkan tubuh Hana dan menyelimuti badannya.


Anita tersenyum melihat Mirna yang terlihat seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya. Dan dia teringat jika mungkin Hana belum mengisi perutnya.


"Mbak Mirna, Anita mau beli makanan dan minuman dulu ya buat Hana. Mungkin aja dia belum mengisi perutnya Mbak, sedari tadi kan dia ikut menunggu ibunya yang sedang operasi," Anita berkata pada Mirna.


"Kasihan dia. Ini Nit uangnya, belikan Hana makanan yang enak," ucap Mirna sambil memberikan uang dari dalam dompetnya.


"Enggak usah Mbak, aku masih ada uang kok. Uang Mbak Mirna untuk membayar biaya perawatan Mbak Mirna saja," setelah mengucapkan itu pada Mirna, Anita pun berlalu pergi keluar dari kamar inap Mirna menuju kantin rumah sakit tersebut.


Berjam-jam jasad Ani diproses oleh pihak rumah sakit. Dan setelah diproses, mereka bingung karena Pandu yang merasa tidak punya uang harus membawa jasad Ani kembali ke rumah mereka untuk dimakamkan.


"Permisi dok," seorang pihak dari rumah sakit menemui Shinta di ruangannya.


"Begini dok, saya dengar dokter Shinta yang membiayai perawatan dari pasien yang bernama Ani yang kebetulan menjadi pasien dokter dan sudah meninggal tadi setelah operasi," ucap salah satu pihak administrasi dari rumah sakit tersebut.


"Iya Pak benar. Ada apa ya? Apa saya harus membayar sekarang? Lalu bayinya bagaimana?" Shinta memberondong orang tersebut dengan beberapa pertanyaan.


"Tidak dok, hanya saja suaminya sedang bingung tentang pemakamannya. Jika dimakamkan di sini dia tidak tahu harus dimakankan di mana dan tidka punya biaya untuk membeli tanah makamnya. Dan jika dibawa ke rumah mereka yang berada jauh dari sini, dia tidak mempunyai biaya untuk biaya ambulans nya," orang tersebut menjelaskan pada Shinta.


Shinta diam, dia berpikir sejenak bagaimana caranya membantu pasiennya itu sampai tuntas.


"Begini saja Pak, saya akan bertanya pada suami pasien terlebih dahulu. Nanti saya akan memberi kabar bapak setelah saya bertanya pada suami pasien," ucap Shinta setelah dia memikirkannya.


"Baiklah dok, saya permisi dulu," orang tersebut berpamitan pada Shinta untuk keluar dari ruangan Shinta.

__ADS_1


Shinta segera keluar dari ruangannya untuk menemui Pandu.


"Pak, maaf untuk jasad istri Bapak bagaimana?" Shinta bertanya pada Pandu.


"Itulah dok yang membuat saya bingung. Untuk dimakamkan di sini saya tidak mempunyai biaya pemakamannya dan untuk pemakaman di sana saya tidak mempunyai biaya untuk transportasinya," ucap Pandu lesu dengan suara lirih.


"Maaf saya ingin tahu, sebenarnya Bapak akan memakamkan istri Bapak di sini atau di tempat asal Bapak kalau misalnya Bapak tidak terhalang oleh biaya?" Shinta bertanya pada Pandu.


"Sebenarnya tujuan saya keluar dari tempat asal kami karena saya ingin mencari kerja di kota. Di sana saya tidak memiliki pekerjaan, sedangkan saya harus membiayai dua orang anak, dan Hana sebentar lagi akan bersekolah. Oleh sebab itu saya ingin bekerja di sini ataupun di kota dok, yang penting kami tidak lagi tinggal di daerah hutan," Pandu menjawab pertanyaan dari dokter Shinta.


"Jadi, Bapak tidak mau kembali ke tempat asal Bapak?" tanya Shinta kembali untuk memperjelas jawaban Pandu.


"Iya dok. Apa dokter tahu di mana saya bisa mencari pekerjaan yang bisa membayar saya dimuka untuk biaya pemakaman istri saya di sini?" Pandu bertanya pada Shinta.


"Sebentar, saya akan cari tau dulu. Saya tinggal dulu Pak, permisi," ucap Shinta sebelum pergi meninggalkan Pandu yang merasa frustasi dengan kehidupannya.


Shinta kembali ke ruangannya dan dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya.


Shinta menceritakan semuanya pada Ustadz Jaki, dan dia meminta pendapatnya tentang apa yamg harus dia lakukan. Karena Shinta takut salah langkah.


Di sisi lain Shinta ingin menolong Pandu agar tetap di sini karena seperti keinginannya untuk bisa mencari uang di sini. Namun di sisi lain Shinta takut jika membantu Pandu menetap di sini, karena jika Pandu masih berniat mengganggu Rhea kembali, otomatis Shinta membantu Pandu untuk melancarkan niatnya itu.


Apalagi Ani, istri Pandu sudah meninggal. Shinta lebih takut jika Pandu melancarkan niatnya kembali dengan menjadikan anak-anaknya mengambil simpati Rhea.


Katakanlah Shinta suudzon, dia tidak keberatan dikatakan seperti itu daripada nantinya dia salah langka dan mengakibatkan keluarga Rhea dan Ustadz Fariz terganggu.


"Jadi apa aku harus melakukan itu Sayang?" tanya Shinta pada Ustadz Jaki yang berada di seberang sana.

__ADS_1


"Baiklah, akan aku lakukan," ucap Shinta kembali masih dengan menempelkan ponselnya di telinganya.


__ADS_2