
Tadinya Pak Ratmo hanya lewat saja setelah mengantarkan barang-barang yang diserahkan pada Panti Asuhan milik Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Namun pada saat Pak Ratmo melewati warung milik Mirna, Pak Ratmo melihat Mirna dan Ani sedang berada di depan warungnya dengan seorang laki-laki berwajah panik yang menggendong seorang wanita dan seorang gadis kecil yang sedang menangis.
Pak Ratmo segera menghampiri mereka, dan benar saja mereka sedang membutuhkan bantuan. Dan dengan segera Pak Ratmo mengantarkan mereka menuju rumah sakit dengan Mirna yang berada di dalam mobil dan dipeluk oleh Hana yang menangis dalam pelukannya.
Pak Ratmo melihat sekilas dari kaca spion yang berada di tengah. Dia tersenyum melihat Mirna yang mengusap dengan lembut kepala Hana untuk menenangkannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Mir?" Pak Ratmo mengeluarkan suaranya, bertanya pada Mirna untuk mengurangi rasa canggung diantara mereka.
"Tadi Ibu ini datang ke warung untuk mencari pekerjaan, dan setelah kita mengobrol sebentar tiba-tiba dia jatuh pingsan. Bahkan kita belum tau dia siapa," jawab Mirna yang menceritakan hanya garis besarnya saja pada pamannya dan Pandu.
"A-apa? Dia... dia mencari pekerjaan?" tanya Pandu untuk membuktikan apa yang dia dengar barusan.
"Iya, katanya dia dan suaminya butuh pekerjaan dan kalian butuh uang untuk mencari tempat tinggal," jawab Mirna setelah menganggukkan kepalanya ketika Pandu bertanya padanya.
Pandu menghela nafasnya, ada rasa sedikit lega karena Ani pergi bukan karena masalah yang mereka ributkan tadi, dan ada rasa khawatir karena Ani belum juga sadar dari pingsannya. Dan parahnya lagi Ani dalam keadaan hamil yang tergolong besar.
Sesampainya di rumah sakit, Pandu segera berlari dengan membawa tubuh Ani dalam gendongannya menuju ruang UGD. Sedangkan Hana duduk bersama Mirna di ruang tunggu dengan Hana yang selalu memeluk tubuh Mirna dan sesenggukan dalam pelukannya.
Pak Ratmo memperhatikan dari jauh Mirna terlihat sayang pada gadis kecil tersebut. Dan gadis kecil itu juga terlihat sangat dekat dengan Mirna.
Ah... seandainya saja Mirna mempunyai anak, pasti akan terlihat seperti itu. Kira-kira, apa Mirna bisa berkeluarga lagi? Pak Ratmo berkata dalam hatinya sambil menyunggingkan senyumnya melihat Hana dam Mirna layaknya anak dengan ibunya.
"Mir, Paman tinggal dulu ya. Tidak enak dari tadi Paman belum juga kembali, padahal sudah sangat lama perginya. Kalau perlu bantuan hubungi Paman saja. Insya Allah jika bisa Paman pasti membantu," Pak Ratmo berpamitan pada Mirna.
"Sabar ya cah ayu," ucap Pak Ratmo sambil mengusap rambut Hana yang masih dalam pelukan Mirna.
__ADS_1
"Hana, nama saya Hana Kek," ucap Hana yang masih sedikit sesenggukan.
Pak Ratmo tersenyum melihat Hana, rasanya dia senang sekali dipanggil Kakek oleh Hana.
"Baiklah, Kakek pulang dulu ya Hana," Pak Ratmo berpamitan pada Hana.
Hana mengangguk dan mengambil tangan Pak Ratmo untuk dicium punggung tangannya. Pak Ratmo sungguh senang, menurutnya sekarang dia benar-benar seperti seorang kakek.
Kemudian Pak Ratmo pergi dengan membalas lambaian tangan Hana, seperti dulu dia melambaikan tangan pada Pak Minto ketika kakeknya itu pergi keluar rumah.
"Bu Mirna, apa Ibu Hana akan baik-baik saja?" tanya Hana pada Mirna dengan suara seraknya sehabis menangis.
"Hana berdoa ya, semoga Ibu Hana baik-baik saja," jawab Mirna seadanya.
Di ruang UGD, tampak Ani sedang ditangani oleh beberapa perawat dan seorang dokter yang bertugas di ruang UGD tersebut.
"Mungkin sebentar lagi sadar dok. Silahkan dokter Shinta memeriksa kandungannya, karena setelah ini kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut," jawab dokter UGD tersebut.
"Apa ada masalah dengan si ibu?" tanya Shinta sambil mempersiapkan alat yang akan dia gunakan untuk memeriksa.
"Kita belum berani memastikan dok, karena belum memeriksa secara keseluruhan," jawab dokter UGD tersebut.
Sinta mengangguk dan memulai memeriksa kandungan Ani. Di saat memeriksa kandungan Ani, Shinta merasa jika dia tidak asing dengan wajah Ani. Dia mengingat-ingat wajah si ibu hamil tersebut secara menyeluruh.
Namun sialnya, wajah pasien yang ditemuinya sebelum Ani datang tadi sudah lumayan banyak, sehingga Shinta tidak bisa mengingat bahwa Ani lah yang menjadi tamunya pagi tadi.
Shinta memeriksa secara keseluruhan kandungan Ani. Wajah Shinta gusar karena dari hasil pemeriksaannya, bayi yang ada di dalam kandungan Ani harus segera dilahirkan. Shinta mengulangi pemeriksaannya dengan teliti dan memang benar jika bayi itu harus dilahirkan secepatnya.
__ADS_1
Setelah Shinta mendapatkan hasil pemeriksaannya, dia segera mendiskusikan dengan dokter UGD tersebut. Dan mereka sepakat akan membicarakannya dengan keluarga pasien tersebut dan tentunya berbicara dengan pasien tersebut setelah pasien tersebut sadar.
Mereka akan menunggu Ani sadar terlebih dahulu untuk melakukan operasi kelahiran bayinya. Dan apabila Ani belum sadar, dengan terpaksa mereka akan melakukan operasi pembedahan jika memang sangat dibutuhkan saat itu juga.
Shinta dan dokter UGD tersebut berbicara pada Pandu mengenai keadaan Ani dan kandungannya. Di saat Shinta berbicara dengan Pandu, dia baru sadar jika Pandu adalah tamu mereka pagi tadi yang membuat suasana kacau pagi hari mereka semua.
Dan Shinta baru sadar jika pasien yang dia tangani saat ini adalah istri dari mantan suami Rhea.
Ah... pantas saja aku seperti mengenalnya.
Ternyata dia istri dari pria brengsek itu, Shinta berkata dalam hati ketika berhadapan dengan Pandu dan mendengarkan dokter UGD menjelaskan padanya.
Bukankah dia yang tadi berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin tadi pagi? Atau aku yang salah orang? Tapi sepertinya memang benar dialah orangnya, Pandu berkata dalam hatinya sambil sesekali memperhatikan Shinta yang kini berada di depannya.
"Bagaimana Pak?" tanya Dion yang merupakan dokter UGD pengganti dokter Randi pada Pandu.
Dokter Randi digantikan oleh dokter Dion ketika Shinta akan melahirkan. Dokter Randi merasa sudah tidak ada kesempatan lagi karena sikap Shinta yang selalu menolaknya sehingga dia sakit hati jika selalu melihat Shinta bersama dengan suaminya dan apalagi Shinta yang akan melahirkan anaknya dengan Ustadz Jaki.
Oleh karena itu dokter Randi memilih resign dari rumah sakit tersebut untuk menyembuhkan luka hatinya. Hal itu membuat Ustadz Jaki bersorak ria penuh kemenangan ketika mengetahui dokter Randi sudah tidak lagi bekerja di rumah sakit tersebut.
"Lakukan saja yang terbaik dok untuk istri saya dan anak saya," jawaban Pandu itu membaut Shinta tersenyum.
Shinta merasa geli dan tidak habis pikir melihat Pandu saat ini. Menurut Shinta, apa yang dilakukannya saat ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Pandu pagi tadi ketika bertemu dengan Rhea.
"Dokter, sepertinya kita harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya sekarang juga," seorang bidan dengan tergesa-gesa memberitahukan pada Shinta sebagai dokter yang menangani kandungan pasien yang bernama Ani.
Shinta dan dokter Dion saling menatap, kemudian mereka berjalan cepat dengan sedikit berlari menuju tempat Ani berada.
__ADS_1