Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 93 Akhirnya...


__ADS_3

"Tumben nyusul ke sini? Takut itu ya.... ehemmm....," Ustad Jaki meledek Rhea ketika Rhea duduk di kursi di sebelah Ustad Fariz.


"Niatnya sih mau menyampaikan pesan dari Shinta, tapi.... gak usah deh kayaknya," Rhea tersenyum meledek pada Ustad Jaki ketika berbicara, namun setelah berbicara Rhea melihat Ustad Fariz dengan senyum yang penuh kekhawatiran.


"Pesan apa dari Shinta?" Ustad Jaki bertanya dengan sangat antusias.


"Kenapa Sayang?" tanya Ustad Fariz ketika melihat senyum Rhea yang aneh menurutnya, karena biasanya Rhea hanya memberi senyuman manisnya saja padanya.


Drrt...drrtt...


Ponsel Rhea bergetar, mengalihkan perhatian Rhea yang akan menjawab pertanyaan dari Ustad Fariz dan Ustad Jaki.


Karena ponselnya berada di genggamannya, Rhea langsung melihat ponselnya, ternyata terdapat nama Shinta pada layar ponselnya. Rhea memperlihatkan dari jauh layar ponselnya yang tertera nama Shinta itu pada Ustad Jaki dengan senyum jahilnya.


"Ada apa sih? Pesan apa, buruan jangan bikin orang penasaran deh," Ustad Jaki memprotes Rhea yang dengan jahilnya tidak memberitahukan pesan dari Shinta padanya.


"Nanti aja kalau udah selesai urusannya," Rhea menahan keingintahuan Ustad Jaki karena dia menikmati ekspresi Ustad Jaki yang tidak seperti biasanya.


Ustad Bani tidak berani menyela perbincangan mereka, akhirnya dia duduk dengan tenang mendengarkan perdebatan Ustad Jaki dengan Rhea.


"Udah selesai kan Ustad?" kini Ustad Jaki bertanya pada Ustad Bani.


Ustad Bani yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan mereka merasa kaget pada saat namanya disebutkan oleh Ustad Jaki.


"I-iya Ustad," jawab Ustad Bani yang gugup sehingga terbata-bata menjawabnya.


"Ya udah, yuk kita pulang Sayang, kamu pasti capek nyusulin ke sini," Ustad Fariz membantu Rhea berdiri dari duduknya.


"Apaan cuma jalan dikit dari rumah ke sini aja capek, lebay," Ustad Jaki ngedumel karena Rhea belum menyampaikan pesan Shinta padanya.


Kini mereka sudah keluar dari ruangan dan berjalan di sepanjang koridor menuju rumah Umi Sarifah.

__ADS_1


"Dih biarin, bilang aja iri," Rhea terkekeh melihat ekspresi kesal dari Ustad Jaki.


"Udah kalian ini gara-gara kejadian tadi jadi ribut aja terus tiap ketemu," sahut Ustad Fariz menengahi.


"Ustad Fariz yang terhormat, tolong istrinya disuruh untuk segera menyampaikan pesan dari saudari Shinta pada saya," ucap Ustad Jaki dengan menggunakan dialog berpidato.


"Sayang, itu udah disampaikan aja buruan biar gak kayak bocah minta permen aja," Ustad Fariz menengahi perdebatan Rhea dan Ustad Jaki dengan tetap berjalan beriringan.


Ustad Bani berada di belakang mereka dnegan tersenyum mendengar perdebatan lucu antara mereka bertiga. Jujur saja Ustad Bani baru mengetahui sekarang ini sikap lain dari Ustad Fariz dan Ustad Jaki yang tidak seperti biasanya. Biasanya mereka berdua sangat menjaga ucapan dan wibawanya, namun jika bersama seperti ini ternyata mereka sangat asyik dan lucu menurut Ustad Bani.


"Dih, siapa yang mau permen? Gak level mah kalau cuma permen," jawab Ustad Jaki.


"Lalu maunya apa?" tanya Ustad Fariz kembali.


"Coklat yang lebih elitan dikit," jawab Ustad Jaki yang terpancing ucapan Ustad Fariz sehingga melupakan tentang pesan Shinta.


Namun perbincangan mereka terhenti karena ada beberapa Ustad dan Ustadzah yang berada di sana sedang memilah-milah buku-buku yang masih layak di baca dan yang sudah tidak bisa di baca.


Namun Ustad Fariz tidak berani menanggapi lebih, dia hanya menanggapinya seperti biasanya, Ustad Fariz mengangguk ketika disapa. Rhea melihat keseriusan dalam mata Ustadzah Indri dan Ustadzah Farida. Sedangkan Ustad Bani sudah membaur dengan yang lainnya.


"Coklat? Bie, tiba-tiba aku pengen es krim coklat deh, beli yuk Bie," Rhea meminta pada Ustad Fariz dengan menggerak-gerakkan matanya sambil tersenyum lucu yang membuat Ustad Fariz jadi gemas melihatnya.


Reflek Ustad Fariz mencubit dengan gemas hidung Rhea dan mereka tertawa bersama.


"Gemes banget sih... istrinya siapa sih ini?" Ustad Fariz bersikap seperti biasanya mereka di rumah, dia lupa jika kini mereka berada di wilayah Pondok Pesantren dan dihadapan para Ustad dan Ustadzah.


"Istrinya Hubby dong. Yuk Bie udah ngiler ini," Rhea tersenyum lebar membuat Ustad Fariz bertambah gemas.


Reflek Ustad Fariz mencubit pipi Rhea yang kelihatan chubby karena tersenyum lebar dan berkata,


"Ya udah, yuk beli sekarang kalau gitu."

__ADS_1


Kemudian Ustad Fariz meletakkan tangannya di pinggang Rhea dan mengajaknya berjalan.


"Lihat itu, mereka sangat romantis sekali kan? Apa kamu bisa masuk ke dalam hubungan mereka? Mending urungkan aja niatmu itu. Mereka berdua itu saling mencintai. Kagumi aja orangnya dan jangan ganggu kebahagiaan mereka," Ustadzah Anisa berucap lirih pada Ustadzah Indri dan tanpa sengaja Ustad Jaki mendengarnya karena Ustad Jaki berada di belakang mereka.


"Eh... eh mau kemana?" Ustad Jaki berseru pada Ustad Fariz dan Rhea yang sudah beberapa langkah meninggalkan mereka.


Ustadzah Anisa dan Ustadzah Indri kaget karena mendengar suara Ustad Jaki dibelakang mereka.


"Kira-kira Ustad Jaki dengar gak ya?"Ustadzah Anisa bertanya dengan berbisik-bisik pada Ustadzah Indri karena khawatir Ustad Jaki mendengar ucapannya tadi.


"Gak mungkin dengar Ustadzah. Dan kalaupun dengar juga gapapa. Rasa suka, sayang dan cinta itu hak kita kok," Ustadzah Indri menjawab juga dengan berbisik-bisik di telinga Ustadzah Anisa.


Ustad Fariz menghentikan langkahnya dan menoleh. Dia benar-benar lupa jika tadi bersama yang lainnya, dia pikir hanya bersama Ustad Jaki seperti biasanya.


"Astaghfirullahaladzim... lupa kalau ada mereka," ucap Ustad Fariz lirih dan Rhea terkekeh mendengarnya.


Ustad Fariz dan Rhea menoleh ke belakang dan berpamitan pada mereka dari tempatnya kini berada.


"Maaf saya tinggal dulu. Assalamu'alaikum...," Ustad Fariz berpamitan pada mereka semua dari jarak beberapa langkah dari mereka.


"Ustad Jaki gak jadi pengen tau pesan dari Shinta nih?" Rhea mengingatkan Ustad Jaki akan pesan dari Shinta.


"Astaghfirullahaladzim... aku lupa. Mana? Apa pesannya," Ustad Jaki berjalan cepat mengikuti Ustad Fariz dan Rhea berjalan.


"Ustad Jaki disuruh Shinta telepon sekarang," Rhea menyampaikan pesan Shinta pada Ustad Jaki.


"Beneran? Serius?" Ustad Jaki bertanya seolah dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"100% serius," jawab Rhea dengan tegas.


"Yess! Akhirnya...."

__ADS_1


__ADS_2