Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 171 Kegembiraan vs kesedihan


__ADS_3

Semenjak Rhea pulang dari rumah sakit membawa kabar gembira itu, Umi Sarifah bertambah bahagia dan selalu mengucap syukur atas kebahagiaan yang diberikan oleh Allah padanya dan keluarganya.


Begitupula dengan Izam, dia sangat senang ketika Bunda dan Abi nya memberi kabar padanya tentang kehamilan bundanya.


"Izam, Bunda sama Abi punya kabar bahagia buat Izam," Ustadz Fariz berkata pada Izam dengan berjongkok di depan Izam untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Izam.


"Kabar bahagia apa Abi?" tanya Izam pada Ustadz Fariz.


"Izam akan punya adik sebentar lagi," jawab Ustadz Fariz dengan senyumnya yang tidak pernah luntur sedari tadi sejak mendengar kabar kehamilan istrinya.


"Adiknya di mana Abi?" tanya Izam dengan menunjukkan wajah herannya.


Ustadz Fariz berdiri dan menggandeng Izam untuk berjalan mendekati istrinya. Rhea menyambut Izam yang mendekat padanya dengan membuka lebar tangannya dan Izam pun berhambur memeluk Bundanya.


"Adiknya Izam masih ada di dalam sini," Ustadz Fariz memberitahu Izam sambil mengusap perut Rhea yang masih rata.


"Di dalam perutnya Bunda?" Izam bertanya dengan wajah bingungnya.


"Iya Sayang... nanti kalau perut Bunda sudah semakin besar berarti adiknya di dalam semakin besar juga, setelah itu adiknya bisa keluar dari perut Bunda," kini Rhea yang menjelaskan pada Izam.


"Ooooh... gitu.... keluarnya gimana Bunda?" tanya Izam kemudian.


"Ehem... nanti ya Izam minta Manda suruh menjelaskan sama Izam, Manda kan dokter," ucap Ustadz Fariz yang mencari alasan agar tidak menjelaskan pada anaknya.


"Ok Abi," ucap Izam sambil memperlihatkan jempol tangannya pada Abi nya.


"Yeee... Izam punya adik. Punya adik... punya adik...!" Izam berseru kegirangan sambil berjalan mencari Shinta.


Seketika Salsa yang berpapasan dengan Izam ikut berseru menirukan Izam.


"Yeee... punya adik... punya adik....," Salsa berseru kegirangan menirukan Izam dengan berjoged-joged dan melonjak-lonjak kegirangan.


"Ah udah ah, kebelet pipis. Mau pipis dulu," ucap Izam tiba-tiba setelah menghentikan keseruannya.


"Aku juga... aku juga...," ucap Salsa yang berjalan mengikuti Izam.


Tiba-tiba terdengar teriakan dari Salsa yang berada di dalam kamar mandi bersama dengan Izam.


"Manda.... Abi....!!!" Salsa berteriak dengan suara cemprengnya itu hingga membuat semua orang di rumah itu berkumpul di depan kamar mandi.

__ADS_1


"Salsa, ada apa?" Ustadz Jaki bertanya pada Salsa.


"Kenapa Salsa berteriak Izam?" Ustadz Fariz bertanya pada Izam.


Izam hanya menggeleng sambil menyiram bekas pipisnya di toilet.


Salsa, kenapa Salsa berteriak begitu? Ada apa Sayang?" Ustadz Jaki bertanya kembali pada Salsa.


"Abi, kok Salsa gak punya itu?" Salsa bertanya pada Ustadz Jaki sambil menunjuk milik Izam.


"Itu apa?" tanya Ustadz Jaki untuk memperjelas pertanyaan Salsa.


"Itu Abi... yang buat pipis Kak Izam sama Salsa kok beda? Salsa kok gak punya itu kayak punya Kak Izam?" Salsa bertanya dengan polosnya.


"Astaghfirullahaladzim....," Ustadz Jaki beristighfar sambil menutup mata Salsa dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Ustadz Fariz, Rhea, Shinta dan Umi Sarifah menahan tawanya melihat kepolosan Salsa dan Ustadz Jaki yang bingung menjawab pertanyaan Salsa.


"Ternyata bukan Abi aja yang dibuat bingung sama pertanyaan Izam, Ustadz Jaki juga dibuat bingung sama pertanyaan Salsa," ucap Rhea sambil terkekeh.


"Salsa Sayang, kalau ke kamar mandi mau pipis atau mau mandi gak boleh barengan sama Kak Izam ya. Harus sendiri-sendiri. Mengerti?" tutur Ustadz Jaki pada Salsa ketika sudah berada di luar kamar mandi.


Astaghfirullahaladzim... ini anak ngeselin juga, segala eek pakai ditanyain, Ustadz Jaki berkata dalam hatinya.


"Gak boleh! Pokoknya kalau ke kamar mandi mau ngapain aja harus sendiri, atau kalau mau minta bantuan sama Manda aja atau sama Bunda, Umi, Mbak Atik juga boleh. Pokoknya yang perempuan, yang sama kayak Salsa, perempuan," jawab Ustadz Jaki dengan sedikit kesal.


"Oh gitu.... Oce Abi," ucap Salsa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Udah kan Abi? Kalau udah Salsa mau main dulu sama Kak Izam. Da da Abi....," Salsa melambaikan tangannya sambil berlari mencari keberadaan Izam.


Ustadz Jaki menghela nafasnya dan mengusap dadanya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Ustadz? Merasa kesal ya? Biar tau rasa, biasanya kan anda yang suka ngeselin," ucap Rhea sambil terkekeh.


"Bener-bener nih bumil satu ini. Kenapa selalu nyebelin sih pas lagi hamil?" Ustadz Jaki berkata pada Rhea.


"Eh awas ya kalau macam-macam sama istriku," sahut Ustadz Fariz sambil memeluk Rhea dari depan agar tidak terlihat oleh Ustadz Jaki.


"Ck, dasar bucin!" seru Ustadz Jaki dengan kesal pada Ustadz Fariz.

__ADS_1


"Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya, jadi selamat merasakan kekesalan yang sama dengan orang lain yang biasanya kamu bikin kesal. Hahahaha....," Shinta berbicara dengan menirukan cara bicara tokoh kartun yang biasanya ditonton oleh Izam dan Salsa.


Ustadz Jaki melongo melihat istrinya yang sama sekali tidak membantunya, dan istrinya itu malah mengoloknya sama dengan yang lainnya.


Suasana kebahagiaan yang terjadi di rumah Umi Sarifah berbanding terbalik dengan suasana hati Pandu yang berada di rumah sakit.


Pandu merasa Allah tidak adil dengannya. Dia merasa sangat terpuruk dan tidak berdaya. Di sebuah daerah yang tidak ada sanak saudara dan orang yang dikenalnya, serta dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, istrinya meninggal dunia dengan meninggalkan dua orang anak padanya.


Kenapa Allah tidak adil padaku? Kenapa aku harus merasakan semua ini? Kenapa aku sama sekali tidak pernah merasakan kebahagiaan? Lalu sekarang aku harus bagaimana? Kedua anakku ini harus bagaimana ketika aku tinggal bekerja nanti? Pandu memaki dalam hatinya.


"Hana... di mana dia? Kenapa aku sampai melupakannya?" Pandu berkata sambil kebingungan mencari sosok Hana di tiap koridor rumah sakit.


Sampai ketika dia berada di lorong kamar inap Mirna, Pandu bertemu dengan Anita yang sedang berjalan dari kantin rumah sakit membawa bungkusan makanan untuk mereka.


"Mbak Anita!" Pandu memanggil Anita yang berjalan dengan melihat layar ponselnya dan tidak memperhatikan sekitarnya.


Anita mengalihkan pandangannya dari ponselnya menuju ke arah sumber suara.


"Pak Pandu, ada apa?" tanya Mirna yang merasa kaget dipanggil oleh Pandu.


"Maaf Mbak, saya cuma mau tanya. Hana di mana ya Mbak? Saya dari tadi mencarinya keliling rumah sakit ini tapi tidak menemukannya," Pandu berbicara dengan wajah sedikit malu pada Anita.


"Oh Hana ya Pak. Bapak tenang aja, Hana sedang tidur di kamar inap Mbak Mirna Pak. Biarkan dia istirahat dulu di sana Pak," jawab Anita sambil tersenyum.


"Tapi Mbak-"


"Udah Pak gapapa. Mbak Mirna sendiri kok yang nyuruh. Bahkan Hana sekarang sedang tidur di ranjang bersama Mbak Mirna," Anita menyela ucapan Pandu.


Terlihat wajah kaget Pandu yang membuat Anita tanpa sadar tertawa melihat ekspresi wajah kaget Pandu.


"Gak usah kaget gitu Pak. Mbak Mirna itu aslinya baik kok Pak. Hanya saja sekarang dia sedang mempunyai masalah, mangkanya kadang-kadang dia jadi pemarah," Anita menjelaskan pada Pandu.


Pandu pun mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengerti apa yang dijelaskan Anita padanya.


"Oh iya, apa Pak Pandu sudah makan?" tanya Anita pada Pandu.


Pandu hanya diam. Dia memang belum makan dan saat ini perutnya memang dalam keadaan lapar. Pandu melirik bungkusan plastik yang menampakkan bungkusan makanan di dalamnya. Namun dia ragu untuk mengatakan yang sesungguhnya bahwa dia sedang lapar saat ini pada Anita karena dia malu pada Anita yang sudah sangat baik padanya dan Hana.


"Ini Pak, makan saja. Saya memang membelinya untuk Bapak, Hana dan saya. Pasti Bapak belum makan bukan?" Anita tersenyum sambil berucap pada Pandu dengan menyerahkan satu kantong plastik yang berisikan satu bungkus makanan yang memang sudah disiapkan oleh Anita untuk diberikan pada Pandu nantinya.

__ADS_1


__ADS_2