Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 20 Menanti kepastian


__ADS_3

Rhea tersedak makanannya mendengar perkataan Ustad Fariz. Umi segera memberikan minum pada Rhea dan menepuk-nepuk punggungnya agar cepat reda.


Rhea masih kaget dengan apa yang dia dengar. Dan sekarang dia bingung harus bagaimana, apakah dia harus pura-pura tidak dengar dan meneruskan makannya, atau dia harus pergi dari ruang makan itu, semua pertanyaan itu memutar-mutar di otaknya.


Hingga ada suara yang mengagetkannya kembali.


Prang...


Suara piring yang dibanting oleh Mirna mengagetkan semua orang, dan membuat Ustad Fariz bertambah marah. Mirna langsung keluar dari rumah Umi Sarifah setelah membanting piringnya ke lantai.


Ustad Fariz menangis minta maaf dengan berlutut di hadapan Umi Sarifah yang sedang duduk di kursi makan.


"Umi, maafkan Fariz yang telah gagal mendidik istri Fariz," ucap Ustad Fariz disela tangisnya.


Umi Sarifah mengelus-elus puncak kepala Ustad Fariz untuk menenangkannya.


" Udah, tidak apa-apa Le, ini juga bukan sepenuhnya salahmu. Mungkin dia benar-benar tidak mau berubah," Umi Sarifah menenangkan Ustad Fariz dan menyuruhnya untuk makan kembali.


Ustad Jaki sedari tadi diam karena dia menahan kekesalannya pada Mirna. Dia tidak suka jika Mirna melawan Ustad Fariz yang sudah dianggap menjadi kakaknya dan dia juga tidak suka Mirna kurang ajar pada Umi Sarifah yang sudah dianggap jadi Ibunya sendiri karena Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.


"Kenapa gak ditalak aja sih istri kayak gitu? Kerjaannya bikin orang darah tinggi mulu," ucap Ustad Jaki sambil meneruskan makannya.


"Ustad," ucap Rhea dengan memelototkan matanya pada Ustad Jaki.


"Udah dari dulu harusnya mereka cerai, sikap Mbak Mirna semakin menjadi, gak pernah bisa menghormati suaminya apalagi Umi," ucap Ustad Jaki.


Ustad Fariz hanya tertunduk sambil mengaduk-aduk makanannya. Dia sangat malu atas sikap istrinya pada keluarganya, apalagi disaat mereka sedang makan.


Rhea yang merasa canggung dengan situasi tersebut, dia berdiri dan pamit kebelakang beralasan jika makannya sudah selesai.


Sengaja Rhea berlama-lama berada di dapur agar dia selesai pas mereka semua sudah selesai makannya.


"Zahra, apa bisa kita bicara? Umi juga menunggu di ruang tengah," Ustad Fariz mengagetkan Rhea dengan suaranya.


Rhea berjingkat kaget, kemudian dia menoleh,


"Eh U-ustad, emm... ada apa?" lidah Rhea seakan kelu dan mulutnya seakan kaku untuk digerakkan.


Ustad Fariz tersenyum melihat Ekspresi Rhea saat kaget. Serasa mendapat obat dari rasa sakitnya, kini Ustad Fariz tak lagi sedih dengan perbuatan Mirna tadi.


"Yuk ke depan, Umi udah nunggu," ajak Ustad Fariz pada Rhea.

__ADS_1


"Hah?" ucap Rhea yang seperti orang linglung.


"Udah yuk sana, tinggal aja itu, nanti biar dibantu Mbak Atik yang bereskan," Ustad Fariz terlebih dulu meninggalkan dapur dan mau tidak mau Rhea mengikutinya dari belakang.


"Rhea, sini Nduk," Umi menepuk kursi yang berada di dekatnya.


Rhea duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Umi Sarifah. Tiba-tiba atmosfer menjadi hening, sebelum ada yang mengeluarkan suaranya.


"Maaf untuk semua sikap Mirna padamu," Ustad Fariz memandang wajah Rhea.


"Gapapa Ustad," jawab singkat Rhea dengan canggung.


"Bismillahirrahmanirrahim, Zahra apa kamu mau menikah denganku?" tanya Ustad Fariz pada Rhea dengan menatap intens matanya.


Rhea menelan ludahnya, dia kaget dengan pertanyaan Ustad Fariz yang memintanya sebagai istrinya. Sepertinya kerongkongan Rhea tercekat, dia tidak bisa berkata-kata. Dan matanya mengerjap-ngerjap lucu. Dia tidak pernah membayangkan ada dalam situasi seperti ini.


"Gimana Nduk?" tanya Umi Sarifah dengan memegang pundak Rhea yang ada di sebelahnya.


"Hah? Eh... i-iya kenapa?" jawaban Rhea tidak mengarah kemana-mana. Dia hanya spontan mengatakan kata-kata konyol itu.


"Kamu bersedia kan Nduk? Umi sangat senang jika kalian bisa bersatu," ucap Umi yang menurut Rhea seakan Umi tidak ingin mendengar kata tidak.


"Maaf kalau ini terkesan mendadak dan memaksa. Tapi sungguh aku gak maksa kamu, Umi pun juga tidak memaksa. Semuanya terserah kamu. Jika memang kamu setuju, aku pasti akan sangat senang sekali. Jika kamu menolak, tidak apa-apa, mungkin kita memang tidak berjodoh," Ustad Fariz mengatakannya dengan kepala tertunduk karena dia sadar jika mungkin Rhea menolaknya karena dia memiliki seorang istri.


"Umi hanya berpesan agar kamu tanyakan baik-baik pada hatimu Nduk. Dan jangan lupa, mintalah petunjuk pada Allah," Umi memberikan senyumnya agar Rhea tidak terbebani dengan ucapannya.


"Baiklah, akan Rhea pikirkan. Emm... apa Rhea boleh meneruskan pekerjaan Rhea sekarang?" tanya Rhea ragu.


Umi Sarifah mengangguk dan tersenyum padanya.


"Nduk, nanti kalau ada apa-apa temui Umi langsung aja ya. Pertanyaan apapun pasti akan Umi jawab," ucap Umi Sarifah sebelum Rhea meninggalkan tempat itu dan diangguki oleh Rhea.


"Zahra, apa kita bisa bicara berdua. Ada yang ingin aku sampaikan," Ustad Fariz menatap lekat manik mata Rhea.


Rhea seolah terhipnotis dengan pandangan mata Ustad Fariz, dia langsung mengangguk tanpa berpikir panjang.


"Kalian berbicara saja disini, Umi ada di ruang sebelah, agar tidak terjadi fitnah," Umi Sarifah mengingatkan Ustad Fariz karena mereka masih belum halal untuk berduaan.


"Baiklah, kita akan berbicara disini saja," ucap Ustad Fariz yang tadinya sudah berdiri, kini dia duduk kembali.


"Bukannya Umi melarang, hanya saja Umi tidak mau Rhea disalahkan dan dikatakan yang tidak-tidak jika ada yang melihat kalian berdua," Umi menjelaskan perkataannya tadi.

__ADS_1


"Iya Umi, terima kasih sudah diingatkan," Ustad Fariz memberikan senyuman manisnya agar Umi Sarifah tidak merasa sungkan pada mereka.


Umi Sarifah pun meninggalkan mereka untuk menyelesaikan pembicaraan mereka.


Ustad Fariz mengatakan pada Rhea jika keputusannya untuk menikahinya itu bukan karena alasan yang lain. Dia mengatakan tertarik pada Rhea sejak mereka bertemu, dan perasaan itu berganti dengan rasa cinta yang semakin hari semakin tumbuh hingga sulit untuk dilupakan. Dia mengaku jika semua usaha sudah dilakukannya untuk melupakan Rhea, namun usaha itu tidak membuahkan hasil. Bahkan nama Rheina Az Zahra terukir indah di hatinya, tidak bisa dihapus meskipun jarak dan waktu sudah memisahkan mereka.


Tak bisa dibendung lagi, air mata Zahra lolos begitu saja membasahi pipinya. Tak disangka jika orang yang dicintainya selama ini, yang juga merupakan cinta pertamanya, merasakan hal yang sama seperti dirinya.


"Tapi bagaimana dengan Mbak Mirna?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Rhea.


"Sebelumnya aku sangat marah pada Mirna karena dia selalu menghinamu, tapi semuanya aku tahan, namun beberapa hari yang lalu dia sendiri yang memintaku untuk menikahimu asal dia tidak diceraikan. Awalnya aku bimbang, namun Allah selalu memberiku petunjuk yang sama. Dan ternyata banyak yang mendukungku untuk menikahimu. Emm... bagaimana denganmu, apa kamu mau menikah denganku?" Ustad Fariz menjelaskan dengan memandang wajah Rhea yang selalu menunduk mendengarkannya berbicara.


"Nanti Rhea pikirkan dulu ya Ustad, juga Rhea akan tanya pada Ayah dan Ibu dulu," jawab Rhea yang mendongak melihat wajah Ustad Fariz ketika menjawab dan menunduk kembali ketika melihat Ustad Fariz tersenyum padanya.


"Untuk Ayah dan Ibu, biar aku aja yang memberitahu mereka. Karena jujur, waktu itu aku meminta alamat rumah kamu di desa ini pada mereka dan mereka memintaku untuk menjagamu," Ustad Fariz berbicara dengan memperhatikan Rhea.


Rhea kaget dan mendongakkan kepalanya ketika mendengar jika Ayah dan Ibunya sudah berbicara pada Ustad Fariz.


Karena Rhea merasa sangat bingung dan canggung saat ini, jadi dia tidak mau berlama-lama berbicara dengan Ustad Fariz. Rhea segera pamit untuk belajar bersama Umi Sarifah. Dan Ustad Fariz pun pamit pada Umi untuk kembali ke pondok.


Malam harinya, Ustad Fariz menghubungi Pak Adrian dan Bu Ratih, yang sebenarnya adalah Ayah dan Ibu Rhea. Ustad Fariz memberitahukan keinginannya untuk menikahi Rhea. Ayah dan Ibu menyerahkan semuanya pada Rhea.


Sebenarnya Ayah dan Ibu sangat berat untuk melepaskan Rhea menjadi istri kedua, tak terbayangkan oleh mereka jika anak kesayangannya akan dihujat dan diperlakukan buruk karena menjadi istri kedua. Namun Ayah dan Ibu tidak mau lagi salah mengambil keputusan dan mereka tidak mau lagi memaksakan kehendaknya pada Rhea.


Ustad Fariz berjanji pada mereka akan menjaga dan melindungi Rhea apapun yang terjadi karena seperti yang mereka tahu jika Ustad Fariz sangat mencintainya.


Pak Adrian dan Bu Ratin akan segera berkunjung menemui Rhea karena mereka ingin bertanya langsung pada Rhea. Dan Ustad Fariz pun mengatakan bahwa sudah beberapa hari ini Rhea menginap di Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk memperdalam agamanya.


Tentu saja kabar itu membuat Ayah dan Ibu sangat senang. Mereka berjanji akan segera menemui Rhea di Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Di ruangan lain tampak seorang wanita yang sedang berpikir keras. Rhea sangat bingung untuk menjawab permintaan Ustad Fariz. Tak bisa dipungkiri bahwa Rhea sangat senang jika mereka berdua bisa bersatu. Namun dia Sangat takut dengan resikonya. Dia takut jika dia disebut sebagai pelakor. Dan dia sungguh tidak ingin ribut dengan Mirna.


Rhea memejamkan matanya berharap besok dia akan menemukan jawabannya. Namun pada saat jam 3 tepat, seperti alarm, matanya tiba-tiba terbuka lebar dam tidak mau terpejam kembali. Dia ingat jika dia berjanji pada Umi Sarifah untuk meminta petunjuk pada Allah.


Setelah bangun di pagi harinya, Rhea mengingat jelas mimpinya. Dia melihat sosok yang sama seperti petunjuknya sebelum dia menikah dengan Andri. Seorang lelaki memakai baju koko putih dan bersarung tersenyum manis padanya dan Rhea menyebutnya sebagai Pangeran bersarung. Rhea yakin jika itu adalah Ustad Fariz sejak dulu. Namun dia takut salah dalam menafsirkan mimpinya dan dia takut salah melihat orang yang ada dalam mimpinya.


Di siang harinya setelah Rhea dan Umi sarifah belajar kitab, mereka menyempatkan ke danau untuk menyegarkan pikiran mereka.


"Nduk bagaimana, apa kamu udah ada jawaban?" tanya Umi Sarifah membuka percakapan ketika sudah duduk di tepi danau.


"Emmm... Rhea... ," ucapan Rhea menggantung karena ragu.

__ADS_1


__ADS_2