
Dengan tergesa-gesa Ustadz Fariz membawa Rhea dalam gendongannya menuju ruangan yang ditunjukkan oleh Shinta. Ruangan itu, ruangan yang sama. Ruangan yang bertuliskan nama Shinta sebagai dokter Sp.OG.
"Cepat bawa ke ruanganku. Aku akan meminta kuncinya. Kalian tunggu sebentar di sana," ucap Shinta dengan tergesa-gesa.
Shinta segera berbelok menuju arah lain untuk mengambil kunci ruangannya karena dia sedang tidak praktek, sehingga ruangannya tidak digunakan.
Sedangkan Ustadz Fariz segera membawa Rhea menuju ruangan praktek Shinta.
"Sayang, aku ikut siapa? Kamu atau Ustadz Fariz?" tanya Ustadz Jaki ketika berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Shinta.
"Udah deh kamu tolongin Ustadz Fariz aja. Aku gak bakalan kesasar kok," jawab Shinta dengan terus berjalan tanpa menoleh melihat Ustadz Jaki yang kini sudah menjadi suaminya.
"Kan diantara dua pilihan, ikut istri tercinta atau ikut saudara," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh dengan berjalan mundur ke belakang untuk melihat wajah istrinya.
"Udah-udah kamu ke sana aja," Shinta mengucapkannya dengan mengarahkan tubuh Ustadz Jaki menuju arah ruangan prakteknya di mana Ustadz Fariz sedang menuju ke sana sekarang.
Dengan malu-malu Shinta tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju ruangan yang menyimpan kunci ruangannya. Sedangkan Ustadz Jaki tersenyum puas bisa menggoda teman sekolahnya yang kini telah menjadi istrinya.
Shinta... Shinta... kamu itu malu-malu tapi mau. Ngegemesin deh, Ustadz Jaki berkata dalam hati dengan senyuman yang mengembang di bibirnya di setiap langkah kakinya untuk menyusul Ustadz Fariz.
"Mas Fariz!" suara itu membuat Ustadz Fariz yang sedang menggendong Rhea menoleh ke belakang.
"Mirna?!" Ustadz Fariz kaget melihat Mirna sedang berada di belakangnya dengan Anita.
Sontak saja Rhea membuka matanya ketika mendengar nama Mirna disebut oleh suaminya dan dia melihat arah pandang Ustadz Fariz. Rhea kaget karena benar-benar melihat sosok Mirna di hadapannya.
"Ngapain berhenti di sini? Buruan bawa Rhea ke ruangan Shinta," seru Ustadz Jaki yang berjalan di belakang Mirna tanpa tahu jika orang yang di depannya sedang berdiri di tengah lorong itu adalah Mirna.
Mirna, Anita, Ustadz Fariz dan Rhea menoleh ke arah suara Ustadz Jaki. Dan seketika Ustadz Jaki terbelalak mendapati Mirna berada di depannya.
"Mbak Mirna ngapain di sini?" tanya Ustadz Jaki heran.
"Mbak Mirna sedang berobat Ustadz," Anita yang menjawab pertanyaan Ustadz Jaki.
"Ooooh.... ya udah kalau gitu. Semoga cepat sembuh Mbak," ucap Ustadz Jaki yang kemudian berjalan melewatinya.
"Ayo Ustadz bawa istrimu ke ruangan Shinta," Ustadz Jaki merangkul pundak Ustadz Fariz dan membalikkan tubuhnya untuk mengajaknya berjalan menuju ruangan Shinta.
Dari belakang Shinta berlari kecil melewati Mirna dan Anita. Shinta sendiri tidak memperhatikan sekitarnya. Dia hanya fokus agar cepat sampai di ruangannya untuk segera memeriksa keadaan kandungan Rhea.
"Ayo cepat kalian masuklah," ucap Shinta sambil membuka pintu ruangannya dengan nafas yang tersengal-sengal.
Ustadz Fariz segera membawa Rhea masuk ke dalam ruangan praktek Shinta setelah pintunya terbuka, dan Ustadz Jaki pun ikut masuk mengikuti Ustadz Fariz.
"Loh Bu Mirna? Bu Mirna ada di sini? Tapi tidak ada jadwal dengan saya kan?" pertanyaan yang dilayangkan Shinta pada Mirna beruntun karena saking kagetnya melihat Mirna yang secara bersamaan berada di sana dengan Rhea.
"Sepertinya dengan dokter yang lain dok," jawab Anita mewakili Mirna yang selalu diam jika ditanya sedari tadi.
__ADS_1
"Ayo cepat masuk, periksa itu Mbak ipar kamu," Ustadz Jaki merangkul bahu Shinta dan mengajaknya untuk segera memeriksa Rhea.
"Oh ya sudah, silahkan tunggu disitu, sepertinya nanti dengan dokter Dita," ucap Shinta dan pintu ruangan praktek Shinta ditutup oleh Ustadz Jaki.
Anita melihat Mirna dengan iba, apalagi melihat wajah Mirna yang sepertinya merasa iri dengan Rhea.
Seharusnya Mbak Mirna juga diperlakukan seperti itu jika Mbak Mirna dulu bisa menjaga rumah tangganya. Seharusnya Mbak Mirna tidak berbuat hal yang membuat Mbak Mirna akhirnya di ceraikan oleh suaminya, Anita hanya bisa mengatakan itu dalam hatinya saja, karena bisa dipastikan jika Mirna pasti akan marah jika Anita memberikan nasehat padanya.
"Yuk Mbak kita tunggu di sana," ucap Anita sambil menarik tangan Mirna dan mengarahkannya untuk duduk di depan ruangan praktek di sebelah ruangan praktek dokter Shinta.
Mirna menurut saja, dia duduk bersama dengan Anita karena rasa sakit di perutnya kini mulai menyerangnya kembali.
Tangan Mirna reflek memegang perutnya yang terasa sakit dengan menahan rasa sakitnya.
"Kenapa Mbak, sakit lagi?" tanya Anita yang khawatir melihat kondisi Mirna sekarang ini.
Tiba-tiba saja wajah Mirna agak sedikit pucat ketika rasa sakitnya itu kembali menyerangnya.
Mirna masih menunggu namanya dipanggil oleh perawat. Sedangkan dia berharap-harap cemas melihat pintu ruangan praktek dokter Shinta yang di dalamnya sedang ada Rhea melakukan pemeriksaan kandungannya.
"Mbak, Mbak Mirna mencemaskan Mbak Rhea?" tanya Anita yang ingin tahu, karena sedari tadi Mirna melihat ke arah pintu ruangan praktek dokter Shinta.
Mirna menggelengkan kepalanya dan sekarang dia melihat ke arah ruangan praktek yang berada di depannya.
Anita heran dengan Mirna, dia ingin tahu apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Mirna disaat dia sedang sakit seperti sekarang ini.
"Alhamdulillah tidak ada yang salah dengan kandungannya. Mungkin hanya efek syok dan kaget saja dari ibunya. Dan larangan ini tetap terus berlaku untuk ibu hamil yang satu ini. Tidak boleh terlalu banyak pikiran. Mengerti Bu....?" Shinta melayangkan candaannya pada Rhea agar dia tidak terlalu tegang dan berakibat terjadinya kram di perutnya.
"Tuh dengerin apa kata istrinya Ustadz Jaki," ucap Ustadz Jaki sambil mendekat ke arah Shinta dan merangkul pundak istrinya.
"Apaan sih," wajah Shinta merona, malu mendengar candaan suaminya.
"Keren kan, istrinya Ustadz Jaki," ucap Ustadz Jaki dengan menekankan di setiap katanya.
Rhea tersenyum melihat Ustadz Jaki dan Shinta yang bercanda di depannya, namun senyumnya berurai luntur mendapati wajah suaminya yang sendu menatapnya.
Rhea tidak ingin membuat suaminya khawatir padanya. Senyum manisnya dikembangkan dan tangannya mengusap pipi suaminya. Dengan penuh cinta dia menatap mata suaminya untuk memberitahukan bahwa dia baik-baik saja.
Ustadz Fariz mengambil tangan Rhea yang berada di pipinya dan menciumnya lama dengan penuh perasaan, sehingga membuat Rhea tersenyum senang dan bersyukur mempunyai suami yang sangat mencintainya dan selalu menjaga hati dan cintanya hanya untuk istrinya.
"Apa kita akan pulang sekarang?" tanya Rhea yang merasa tidak suka berlama-lama berada di rumah sakit.
"Sebentar, istirahat dulu. Itu palingan suamimu juga capek dari tadi gendongin kamu," jawab Ustadz Jaki sambil duduk santai.
"Iya Bie?" tanya Rhea merasa sungkan pada suaminya.
"Enggaklah. Untuk istri tercinta gak ada kata capek," Ustadz Fariz tersenyum pada Rhea ketika berbicara.
__ADS_1
"Prett! Gaya ngomong gak capek, tau-tau minum jamu biar pegelnya ilang," Ustadz Jaki meledek Ustadz Fariz.
Dengan gerak cepat Shinta menggunting lakban hitam yang ada di lacinya dan memasangkan lakban hitam tersebut pada mulut Ustadz Jaki.
Sontak saja semua orang tertawa melihat Ustadz Jaki yang kaget mulutnya ditutup lakban hitam oleh istrinya. Hanya Ustadz Jaki saja yang berwajah kesal dan membuka lakban hitam tersebut yang menutupi mulutnya.
"Sayang, kok tega sih mulutnya suaminya ditutup ginian," ucap Ustadz Jaki yang merajuk pada istrinya dan memperlihatkan lakban hitam yang dia lepas dari mulutnya.
"Habisnya kamu kebanyakan omong, gak tau apa kalau ini rumah sakit," ucap Shinta sambil terkekeh.
"Ya udah kalau gitu pesenin minuman aja dari kantin ya Sayang. Suamimu ini haus," ucap Ustadz Jaki sambil tersenyum manis.
"Kamu pikir ini warung?" jawab Shinta sambil melempar gulungan lakban pada Ustadz Jaki.
"Ck, sukanya main lempar-lemparan, padahal kemarin minta gendong-gendongan," Ustadz Jaki kembali menggoda istrinya sambil berdiri dan mengembalikan gulungan lakban yang dilempar Shinta tadi di atas meja Shinta.
Wajah Shinta sangat merah merona menahan malu mendengar ucapan-ucapan dari suaminya.
"Eh Sayang, kenapa kamu gak periksa sekalian aja, biar ketahuan sejak dini kamu hamil atau tidak," Ustadz Jaki berkata ketika melihat alat USG yang berada tidak jauh dari tempat duduk Shinta.
"Mana bisa gitu?" tanya Shinta heran.
"Lah kali aja berkembangnya cepat saking suburnya, kemarin kan aku udah nanam ucet disitu," ucap Ustadz Jaki sambil menunjuk perut Shinta.
Rhea dan Ustadz Fariz terkekeh mendengar perkataan dari Ustadz Jaki. Sedangkan Shinta bertambah malu mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Oooh jadi sudah bercocok tanam semalam meskipun gelap-gelapan?" Ustadz Fariz kini membalas menggoda Ustadz Jaki.
"Gelap bukan berarti menjadi halangan Mas Bro. Tetap teguh melakukan apa yang harus kita lakukan," ucap Ustadz Jaki penuh percaya diri.
Rhea dan Ustadz Fariz tidak bisa lagi menahan tawanya. Mereka tertawa di samping Shinta yang kesal dengan wajah merah menahan malunya.
"Yakin gak nyasar?" tanya kembali Ustadz Fariz yang masih terkekeh.
"Enggak lah, kan pakai GPS," jawab Ustadz Jaki sangat yakin.
"Kalau ternyata nyasar gimana?" Ustadz Fariz kembali melayangkan godaannya pada Ustadz Jaki dan Shinta.
"Udah-udah, ayo kita pulang sekarang," tukas Shinta yang masih sangat malu tapi merasa kesal dengan suaminya.
Mereka semua tertawa melihat Shinta yang malu. Hanya Shinta yang tertawa dalam hati mendengar kekonyolan dari suaminya.
Shinta mengambilkan kursi roda yang berada di pojokan ruangannya untuk Rhea agar Ustadz Fariz tidak lagi menggendongnya. Rhea duduk di kursi roda dengan di dorong oleh Ustadz Fariz di belakangnya.
Sedangkan Shinta akan mengembalikan kunci ruangannya terlebih dahulu sebelum mereka pulang kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin. Dan Ustadz Jaki mengikuti Rhea yang didorong oleh Ustadz Fariz di kursi roda sesuai dengan instruksi dari Shinta.
"Mas Fariz aku ingin bicara," lagi-lagi suara itu menghentikan perjalanan mereka.
__ADS_1