Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 226 Kehidupan Zahra


__ADS_3

Setiap hari Yasmin berada dalam asuhan Maria. Bu Yati dan Pak Anto menitipkannya ketika mereka berangkat bekerja pagi hari dan pulang di tengah malam.


Maria yang memang juga mempunyai bayi, kini seperti dia mempunyai dua orang anak. Yasmin sudah seperti anaknya sendiri sebab sering sekali Bu Yati dan Pak Anto kelupaan membelikan susu formula untuk Yasmin, sehingga Maria yang memang masih memberikan ASI pada anaknya, dia juga memberikan ASI pada Yasmin.


Ibu susu Yasmin, sebutan bagi Maria saat ini. Beruntung Yasmin diasuh oleh Maria yang meskipun mempunyai latar belakang wanita malam, namun sisi keibuannya sangat besar.


Maria sangat menyayangi Yasmin, hingga dia memberitahu anak kandungnya jika Yasmin dan Tian, anaknya, mereka bersaudara.


Waktu berlalu begitu cepat. Sedangkan hutang-hutang Bu Yati dan Pak Anto bertambah banyak. Ditambah lagi Pak Anto yang sering sakit-sakitan, dan Bu Yati semakin kesusahan ketika harus merawat Pak Anto yang sedang sakit dan harus tetap bekerja mulai pagi hingga malam.


Bertambah hari pertumbuhan badan Yasmin semakin berubah. Kini Yasmin menjelma sebagai gadis cantik yang tumbuh di daerah klub malam tersebut.


Yasmin memang dijaga benar-benar oleh Maria agar tidak terjerumus dengan pergaulan sekitar mereka. Maria tidak ingin jika Yasmin nantinya menyesal sepertinya.


Namun sayangnya, Yasmin tidak mempelajari tentang agama karena tidak ada yang mengajarkannya. Hanya pelajaran agama di sekolah saja yang dia pelajari. Pelajaran agama yang minim itu bahkan bagai angin lalu saja bagi Yasmin.


"Zahra, apa kamu gak pengen bersekolah lagi?" tanya Maria pada Yasmin.


Yasmin menghentikan makannya, dia beralih menatap Maria. Kemudian Yasmin menunjukkan senyum manisnya pada Maria. Dan senyuman Yasmin itu mampu menghipnotis Maria. Bahkan selama Maria merawatnya hingga sebesar itu, dia tidak pernah bisa memarahinya. Senyuman Yasmin yang sangat cantik itu membuat Maria luluh dan tidak bisa marah padanya.


"Bu Maria pasti tau jawabannya meskipun Zahra gak jawab. Sudah bisa sekolah sampai SMP aja Zahra udah beruntung banget Bu."


"Kamu itu pintar, seharusnya kamu bisa meneruskan sekolah dengan menerima beasiswa yang ditawarkan padamu," ucap Maria dengan sedikit kesal.


Yasmin kembali tersenyum, dia meletakkan sendoknya dan memegang tangan Maria yang berada di atas meja. Kemudian dia berkata,


"Sekarang yang terpenting bagi Zahra adalah Bapak dan Ibu. Mereka sudah tua dan sakit-sakitan. Sedangkan hutang mereka masih sangat banyak pada Bos Leo. Zahra harua bekerja Bu, Zahra harus bisa membayarkan hutang mereka. Dan hutang-hutang mereka itu sebagian besar karena Zahra bukan?"


Maria menatap intens manik mata Yasmin, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar ucapan Yasmin. Dia tidak mengira jika anak yang diakui sebagai anak Bu Yati dan Pak Anto itu memiliki hati yang sangat mulia dan sangat baik. Bahkan dia tidak pernah membantah ataupun menyusahkan Maria sebagai pengasuhnya.

__ADS_1


"Kamu anak yang baik Zahra. Semoga setelah semua ini, kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini belum pernah kamu rasakan," ucap Maria tulus pada Yasmin.


Yasmin tersenyum dan mengangguk, kemudian dia meneruskan makannya sebelum dia harus kembali berangkat kerja.


"Bu Maria, Zahra berangkat dulu ya. Doakan semua dagangan Zahra laku tak bersisa," ucap Yasmin dengan memberikan senyum lebarnya dan melambaikan tangannya.


Maria pun mengangguk dan melepas kepergian Yasmin dengan membalas lambaian tangannya.


"Sebenarnya kamu siapa sih Zahra? Kamu sangat cantik dan baik. Semoga saja kamu segera bertemu dengan keluargamu," Maria mendoakan Yasmin saat melihat kepergiannya.


Yasmin menyempatkan diri untuk mampir di klub malam tempat Bu Yati dan Pak Anto bekerja. Dia meminta pada para penjaga agar mau memanggilkan Bapak dan Ibunya.


Pak Anto dan Bu Yati pun keluar untuk bertemu dengan anaknya. Mereka tahu jika pasti Zahra yang ingin menemui mereka untuk mengantarkan bekal makanan bagi mereka.


"Siapa itu?" tanya Bos Leo pada penjaga yang berada di sana.


Bos Leo tersenyum melihat Yasmin dari atas sampai bawah. Dia melihatnya seperti orang yang sedang mendambanya.


Setelah memberikan makanan untuk Pak Anto dan Bu Yati, Yasmin membawa barang dagangannya untuk berkeliling menjajakannya.


Dia menjajakan barang dagangan dari toko kelontong yang ada di sekitar daerah tersebut.


"Eh ada cewek cantik tuh. Sayang ya cantik-cantik jualan cangcimen," ucap seorang pemuda yang menutup seragam sekolah yang dipakainya dengan menggunakan hoodie berwarna hitam.


Ada tiga orang pemuda yang duduk bersama dengan pemuda tersebut. Mereka semua mengalihkan pandangannya mengikuti arah telunjuk temannya itu.


"Sembarangan. Dia saudaraku!" Tian berseru sambil memukul tangan temannya yang menunjuk ke arah Yasmin.


"Saudara? Kok kita gak tau? Saudara apaan?" tanya salah satu dari mereka yang sangat penasaran dengan hubungan Tian dan cewek cantik yang mereka lihat.

__ADS_1


"Gak usah banyak tanya. Pokoknya awas aja jika kalian mengganggunya. Bakal aku habisi kalian!" Tian mengancam teman-temannya dengan memperlihatkan wajah bengisnya.


Seketika mereka semua mengangkat kedua tangan mereka ke atas sebagai tanda mereka menyerah, mereka tidak akan mengganggu cewek yang diakui Tian sebagai saudaranya.


Tian memang sangat menjaga Yasmin sebagai saudaranya, seperti yang selalu dikatakan oleh Maria, ibunya. Namun rasa tertarik pada Yasmin itu datang karena seringnya mereka bersama dan karena kecantikan Yasmin yang tidak bisa ditampiknya.


Dengan seketika rasa itu dia hilangkan karena mengetahui jika ibunya adalah ibu susu dari Yasmin, perempuan yang dicintainya.


Sempat Tian menyalahkan ibunya karena menjadi ibu susu dari Yasmin, namun bagaimanapun dia tidak bisa merubah keadaan yang sudah berlalu.


Zahra, nama gadis itu tetap menjadi penghuni dalam hatinya dan dia berjanji akan terus menjaganya. Apalagi Maria, ibu mereka selalu memperingatkan agar Yasmin yang mereka panggil dengan nama Zahra itu harus berhati-hati di lingkungan mereka. Dan Maria melarang Yasmin masuk ke dalam klub malam tersebut apapun alasan dan kondisinya saat itu.


Beberapa minggu berselang, Pak Anto kembali jatuh sakit. Parahnya lagi kini Pak Anto hanya bisa terbaring di tempat tidurnya.


"Sepertinya pengobatan di puskesmas tidak ada hasilnya," ucap Bu Yati pada Yasmin ketika mereka menunggu Pak Anto yang sedang tidur di tempat tidurnya setelah meminum obatnya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Bu? Apa perlu kita bawa Bapak ke rumah sakit?" tanya Yasmin pada Bu Yati.


"Kita sudah tidak punya uang. Hutang kita saja di Bos Leo tidak ada habisnya. Malah tiap hari hutang kita bertambah," ucap Bu Yati sambil menghela nafasnya.


"Zahra akan coba usahakan untuk meminjam uang di tempat kerja Zahra Bu," ucap Yasmin yang berharap bisa menenangkan Bu Yati.


"Pinjam di toko kelontongan itu? Mana mungkin bisa?" sahut Bu Yati lemah.


"Zahra usahakan dulu ya Bu. Pasti nanti ada jalannya. Ibu jangan terlalu banyak berpikir. Zahra tidak bisa jika melihat Ibu dan Bapak sama-sama sakit," ucap Yasmin sambil memeluk tubuh ringkih Bu Yati.


Bu Yati tersenyum dan memeluk erat tubuh Yasmin, kemudian dia berkata,


"Kamu benar-benar anak kami."

__ADS_1


__ADS_2