Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 82 Buah dari kesabaran


__ADS_3

"Wa'alaikumussalam....," jawab Umi Sarifah, Ustad Fariz, Ustad Jaki dan Rhea bersamaan.


Ustad Jaki berdiri dan melihat siapa tamu yang datang.


"Silahkan Pak masuk," Ustad Jaki mempersilahkan Pak Ratmo masuk dan duduk di ruang tamu.


"Maaf Ustad mengganggu, apa Ustad Fariz ada di rumah?" Pak Ratmo bertanya dengan sungkan.


"Ada Pak, mau dipanggilkan?" Ustad Jaki mengerti maksud kedatangan Pak Ratmo kemungkinan ada hubungannya dengan Mirna.


"Iya Ustad," jawab Pak Ratmo dengan sungkan.


Setelah itu Ustad Jaki memanggilkan Ustad Fariz untuk menemui Pak Ratmo.


"Assalamu'alaikum Ustad, maaf menggangu. Saya hanya mau meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh Mirna tadi. Saya sungguh menyesal. Saya tidak tau lagi bagaimana caranya membuat Mirna jera. Padahal semalam saya sudah menguncinya di dalam kamarnya saat mau datang kemari. Saya kira dia sudah tidak akan datang lagi kemari, ternyata tanpa sepengetahuan saya dia datang dan membuat onar lagi di sini," Pak Ratmo berbicara dengan penuh penyesalan.


"Seharusnya yang meminta maaf bukan Pak Ratmo, karena Pak Ratmo tidak bersalah. Mirna lah yang harusnya meminta maaf pada Rhea, karena selama ini Rhea yang selalu menjadi korban keegoisannya," Ustad Fariz tidak menyalahkan Pak Ratmo karena dia tahu jika Mirna memang ngeyel, susah diatur dan keras kepala.


"Tetap saja saya merasa tidak enak Ustad, karena sekarang saya yang bertanggung jawab atas diri Mirna. Sekali lagi saya meminta maaf pada Ustad dan Bu Rhea atas semua perlakuan Mirna selama ini. Dan saya akan mencoba memberitahu Mirna agar Mirna mau meminta maaf pada kalian," terlihat dari wajah dan ucapannya, Pak Ratmo sungguh sangat menyesal.


"Tidak usah Pak, biarlah Mirna meminta maaf atas inisiatifnya sendiri, tidak usah disuruh ataupun dipaksa, takutnya nanti malah dia salah sangka dan kembali menyakiti Rhea. Saya hanya meminta tolong saja pada Bapak agar menjaga Mirna supaya tidak datang kemari lagi. Bukannya saya melarang Mirna datang kemari Pak, bukan seperti itu, hanya saja saya takut nantinya Mirna kembali emosi jika bertemu dengan Rhea. Kami hanya ingin ketenangan Pak. Mohon dimaklumi," Ustad Fariz meminta Pak Ratmo untuk mengawasi Mirna agar tidak kembali berbuat onar di Pondok Pesantren Al-Mukmin.


"Insya Allah saya akan usahakan Ustad. Saya mau pamit undur diri, tolong sampaikan maaf saya pada Bu Rhea. Assalamu'alaikum....," Pak Ratmo menjabat tangan Ustad Fariz.


Ustad Fariz mengangguk dan menjawab salam Pak Ratmo, "Wa'alaikumussalam...."


"Ada apa Bie?" Rhea bertanya ketika Ustad Fariz sudah duduk di sebelahnya.


"Pak Ratmo meminta maaf atas perbuatan Mirna pada Bu Rhea," Ustad Fariz menirukan cara bicara Pak Ratmo.

__ADS_1


"Iiih kok aneh ya Bie dipanggil Bu Rhea gitu," ucap Rhea sambil terkekeh.


"Maunya kamu dipanggil siapa Sayang?" Ustad Fariz bertanya dengan mengambil tangan Rhea dan menautkan pada tangannya.


"Emmm gak tau, nanti aja kalau mau lahiran dipikirin lagi," Rhea tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


Ustad Fariz hanya tersenyum sambil mengusap kepala Rhea yang berbalut hijab.


"Eh Ustad Jaki sama Umi kemana?" tanya Ustad Fariz sambil matanya mencari keberadaan Ustad Jaki dan Umi Sarifah.


"Umi tadi ke kamar mandi katanya, kalau Ustad Jaki ke kamarnya, mau mempersiapkan diri buat nanti pas ketemu sama Dokter Shinta," jawab Rhea.


"Ya udah yuk ke kamar, kamu harus istirahat dulu," Ustad Fariz berdiri dan menggendong tubuh Rhea menuju kamarnya.


...----------------...


Malam harinya Ustad Jaki menemui Dokter Shinta di tempat yang mereka janjikan. Niat hati Ustad Jaki langsung bertamu ke rumah Dokter Shinta untuk menemui kedua orang tuanya, namun Dokter Shinta mengajaknya untuk bertemu di sebuah cafe.


Sesuai dengan harapan Dokter Shinta, Ustad Jaki langsung bisa mengetahui dimana letak tempat duduk Dokter Shinta ketika dia akan masuk ke dalam cafe.


"Assalamu'alaikum Shinta, udah lama nunggunya? Maaf tadi shalat isya' dulu sebentar.


"Gapapa Bapak Ustad yang terhormat, akan saya tunggu anda sampai kapanpun asal anda yang membayar semua tagihannya," canda Dokter Shinta sambil tersenyum untuk mengurangi debaran hatinya.


"Kalau itu mah beres, mau makan apa aja Abang yang bayarin," ucap Ustad Jaki menanggapi candaan dari Dokter Shinta.


"Becanda Ustad.... gitu aja dibawa serius," kini Dokter Shinta meralat candaannya.


"Serius juga gapapa Shin, bentar lagi juga aku yang bayarin semua kebutuhan kamu," kini giliran Ustad Jaki yang memberikan candaannya pada Dokter Shinta.

__ADS_1


Dan hal itu mampu membuat wajah Dokter Shinta merona karena malu. Sampai-sampai dia tidak mampu menyembunyikan rasa malunya pada Ustad Jaki.


"Shinta, apa pesan yang kamu kirim tadi merupakan jawaban dari ungkapan hatiku selama ini?" Ustad Jaki mulai menanyakan rasa penasarannya sejak tadi siang.


Dokter Shinta mengangguk malu, kepalanya masih menunduk untuk menyembunyikan rona merah pada wajahnya.


Ustad Jaki tersenyum senang mendapatkan jawaban dari Dokter Shinta yang merupakan pujaan hatinya semenjak mereka satu kelas di SMA.


"Shinta, kenapa nunduk ke bawah?" tanya Ustad Jaki yang berniat menggoda Dokter Shinta.


"Gapapa. Kamu pesan makanan aja, aku udah pesan tadi," Dokter Shinta masih saja menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya.


"Shinta, apa kamu mau kita nikah besok?" Ustad Jaki memberikan pertanyaan yang tidak diduga sama sekali oleh Dokter Shinta.


Sontak saja kepala Dokter Shinta terangkat setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ustad Jaki padanya.


"Apa?" Dokter Shinta spontan mendongakkan kepalanya.


"Hahahaha... gitu dong liatnya ke sini, jangan liat bawah terus. Masa' wajah tampan gini kalah sama semut? Yang diperhatikan malah semut, bukannya merhatiin wajah calon suaminya yang tampan ini," protes Ustad Jaki pada Dokter Shinta.


Dokter Shinta hanya melongo mendengar Ustad Jaki yang menyebut dirinya calon suaminya dan terlebih lagi Ustad Jaki menyebut dirinya tampan.


"Kenapa Shin?" tanya Ustad Jaki ketika melihat Dokter Shinta tertegun melihatnya dengan sedikit membuka mulutnya.


"Eh, enggak... gapapa. Kamu kok percaya diri sekali sih nyebut diri sendiri tampan?" Shinta keceplosan menanyakan apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Hahahaha... ternyata dari tadi kamu mikirin aku toh ternyata," Ustad Jaki terkekeh sambil membuka-buka buku menu yang ada di depannya.


"Eh bukannya begitu, cuma... ah udahlah, kamu ini dari dulu memang suka menggoda dan menjahiliku," Dokter Shinta tidak bisa meneruskan ucapannya karena dia merasa gugup dan terjebak oleh kejahilan Ustad Jaki.

__ADS_1


Akhirnya obrolan mereka terhenti ketika makanan pesanan Dokter Shinta sudah datang, sedangkan Ustad Jaki baru saja memesan makanan.


"Shint.... suapin dong, itung-itung latihan buat besok kita kalau udah nikah biar udah terbiasa," ucap Ustad Jaki sambil tersenyum jahil pada wanita pujaan hatinya yang sedang berada di depannya dan itu membuat Dokter Shinta kembali melongo tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


__ADS_2