
Kurang tiga hari pernikahan Ustadz Jaki dan Shinta akan diadakan. Selama tiga hari itu beberapa persiapan sudah dilakukan oleh pihak wedding organizer Pak Adrian.
Semua santri dan para Ustadz dan Ustadzah kaget dengan adanya persiapan pernikahan yang telah diadakan di wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin. Mereka semua bertanya-tanya siapa gerangan yang akan menikah di wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Ustadz, Ustadz Bani... itu persiapan untuk pernikahan kan?" tanya Ustadzah Farida pada Ustadz Bani yang sedang berjalan di hadapannya.
"Oh itu... iya, kenapa?" jawab Ustadz Bani sambil menoleh ke arah tenda-tenda yang sedang dipasang dan dihias.
"Siapa Ustadz yang nikah?" tanya Ustadzah Indri dan Ustadzah Annisa hanya menyimak obrolan mereka saja sambil menempelkan di mading peraturan yang baru saja dicetak.
"Kalian belum tau?" tanya Ustadz Bani sambil memandang mereka dan dijawab gelengan kepala oleh Ustadzah Farida dan Ustadzah Indri.
"Ustadz Jaki yang akan menikah. Palingan nanti atau besok akan ada pengumuman. Sudah kan tanyanya, saya tinggal dulu ya. Assalamu'alaikum...," ucap Ustadz Bani dengan tidak secara langsung menghentikan pertanyaan mereka padanya dan berjalan meninggalkan mereka tanpa mendengarkan jawaban dari mereka terlebih dahulu.
"Wa'alaikumussalam....," ucap mereka bertiga bersamaan.
"Dengan siapa Ustadz?" tanya Ustadzah Indri dnegan setengah berteriak ketika Ustadz Bani sudah berjalan menjauhi mereka dan tidak mendapat respon apa-apa dari Ustadz Bani.
Ustadzah Farida tersenyum melihat Ustadz Bani yang tidak pernah mau merespon pertanyaan dari Ustadzah Farida dan Ustadzah Indri yang selalu mencari tahu tentang sesuatu dari keluarga Umi Sarifah.
Wajah Ustadzah Farida berubah ketika mendengar yang akan menikah adalah Ustadz Jaki. Dia terdiam, tidak sanggup rasanya mendengar jika lelaki yang didambakannya selama ini akan menikah dengan wanita lain.
"Ustadzah, Ustadzah Indri gapapa? Gimana ini, Ustadz Jaki akan menikah dengan wanita lain. Apa Ustadzah Indri akan diam saja?" ucap Ustadzah Indri pada Ustadzah Farida.
"Lah terus mau ngapain? Mau demo menyuruh membatalkan pernikahan itu? Emangnya kita ini siapa? Itu berarti kalian tidak berjodoh. Sudah terima saja, dan cari lelaki lain yang mungkin saja itu jodoh kalian," tutur Ustadzah Anisa setelah merapikan hasil tempelannya di mading.
"Bukan begitu Ustadzah, apa Ustadzah Farida akan menerima begitu saja sebelum menyatakan perasaannya pada Ustadz Jaki?" ucap Ustadzah Indri.
"Ya harus menerima dong, Ustadzah Farida bukan wanita pilihan Ustadz Jaki, dan kita tidak bisa memaksa Ustadz Jaki untuk memilih Ustadzah Farida sebagai istrinya," ucap Ustadzah Anisa sedikit kesal.
__ADS_1
"Ustadzah Anisa ini bagaimana sih, masa' gak dukung teman sendiri?" sewot Ustadzah Indri.
"Astaghfirullahaladzim... Ustadzah, justru karena saya teman Ustadzah Farida saya mengingatkannya agar dia tidak merusak hubungan orang lain, terlebih lagi jika mereka sudah menikah. Tidak baik Ustadzah," kini suara Ustadzah Anisa merendah agar Ustadzah Farida dan Ustadzah Indri benar-benar mengerti keseriusannya.
"Tapi kan maksudku biar Ustadzah Farida bisa menyatakan perasaannya terlebih dahulu, agar dia tidak menyesal, kalah sebelum berperang," ucap Ustadzah Indri yang bermaksud menasehati Ustadzah Farida.
"Terus kalau udah berterus terang dan ditolak apa kamu gak malu jika bertemu dengannya nanti? Lalu jika kamu berterus terang apa pernikahan ini akan batal?" tanya Ustadzah Anisa dengan maksud menyadarkan.
"Siapa tau aja perasaan mereka sama, hanya saja mereka malu atau mungkin ini perjodohan. Dan setelah itu bisa saja pernikahannya dibatalkan dan pengantin wanitanya diganti dengan Ustadzah Farida. Bisa jadi kan? Kita tidak akan bisa tau jika tidak mencobanya," ucap Ustadzah Indri meyakinkan kembali pemikirannya pada Ustadzah Farida dan Ustadzah Anisa.
"Kamu itu ngeyel banget sih Ustadzah Indri. Yo wes lah terserah kalian saja. Pokoknya saya sudah memperingatkan kalian. Jika toh memang benar Ustadz Jaki mempunyai perasaan yang sama dengan Ustadzah Farida, kenapa gak dari dulu aja dia mengkhitbah Ustadzah Farida. Selama ini kan Ustadzah Farida sudah mendekati Ustadz Jaki terus, sudah memberikan sinyal. Kalau toh sinyal itu gak diterima berarti bukan untuknya. Sudah saya permisi dulu. Assalamu'alaikum...," Ustadzah Anisa pergi meninggalkan Ustadzah Farida dan Ustadzah Indri masih di sana berdua.
Ustadzah Farida hanya diam mendengarkan perdebatan antara Ustadzah Indri dengan Ustadzah Anisa. Dalam hati kecilnya yang paling dalam, dia membenarkan ucapan Ustadzah Anisa, namun perkataan dari Ustadzah Indri membuatnya ingin mencari tahu kebenaran dari perasaan Ustadz Jaki padanya. Dia tidak mau disebut kalah sebelum berperang oleh Ustadzah Indri.
"Ustadzah... Ustadzah Farida gima-"
Tangisan Ustadzah Farida tidak bisa lagi dibendung. Air matanya begitu deras jatuh mengiringi luka sakit hatinya yang baru saja hadir ketika mendengar berita pernikahan Ustadz Jaki tadi.
Ya Allah... Kenapa kisah cintaku harus seperti ini? Baru kali ini aku menyukai lelaki dan baru kali ini juga aku merasakan sakit hati. Rasanya sakit sekali Ya Allah.... Ustadzah Farida berkata dalam hati mengiringi isakan tangisnya.
"Ustadzah... Ustadzah... Ustadzah Farida," Ustadzah Indri memanggil Ustadzah Farida dengan mengusap-usap punggungnya.
"Tolong, tinggalkan saya sendiri," ucap Ustadzah Farida disela isakan tangisnya.
"Tapi-"
"Ustadzah... tolonglah....," dengan suara bergetar diselingi isakan tangisnya, Ustadzah Farida memohon pada Ustadzah Indri agar meninggalkannya sendiri.
Dan akhirnya mau tidak mau Ustadzah Indri meninggalkannya sendiri di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Ustadzah Farida, mumpung belum terjadi pernikahannya, sebaiknya kamu menyatakan perasaanmu, sebelum kamu menyesal nantinya," seru Ustadzah Indri dari depan pintu kamar Ustadzah Farida.
Ustadzah Anisa yang kebetulan akan kembali ke kamar mendengar ucapan Ustadzah Indri, dia menggelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya dan beristighfar.
"Astaghfirullahaladzim... Ustadzah Indri, kapan jalan pikiranmu bisa berubah?" ucap Ustadzah Anisa lirih masih menatap heran pada Ustadzah Indri yang akan pergi dari depan kamar Ustadzah Farida.
Di rumah Umi Sarifah sudah sangat ramai dengan persiapan acara pernikahan Ustadz Jaki dan Shinta. Aura kebahagiaan dari Ustadz Jaki terlihat jelas di wajahnya. Semua orang sibuk mempersiapkannya tak terkecuali dengan Rhea dan kedua orang tuanya.
Rhea dan Ibunya membuat kue untuk acara tersebut. Namun Bu Ratih, Ibu Rhea itu melarang Rhea untuk mengerjakan hal yang berat dan harus istirahat di jam tertentu. Begitu pula dengan Umi Sarifah yang menyarankan hal yang sama dengan Bu Ratih, dia juga tidak mau terjadi hal yang buruk pada calon cucunya yang masih dalam kandungan.
Beberapa Ustadzah dan Ustadz datang untuk membantu persiapan acara tersebut. Dan disitu pula terdapat Ustadzah Farida yang datang dengan Ustadzah lainnya karena dimintai tolong oleh Umi Sarifah untuk membuat hiasan untuk seserahan.
Hati Ustadzah Farida sangat sakit ketika melihat semua barang seserahan yang akan dia hias untuk calon istri laki-laki yang dicintainya, laki-laki yang selalu diimpikannya untuk jadi suaminya.
"Ustadzah, Ustadzah Farida baik-baik aja?" tanya Ustadzah Indri pada Ustadzah Farida.
Ustadzah Farida menahan air matanya, dia hanya mengangguk tidak berani menjawab pertanyaan dari Ustadzah Indri karena takut nantinya suara tangisnya yang akan keluar.
"Nah sudah selesai, Ustadzah Indri dan Ustadzah Farida tolong yang dua ini ditaruh di dalam ruang tengah ya," Ustadzah Nurul meminta pada Ustadzah Indri dan Ustadzah Farida.
Tanpa menjawab mereka langsung berdiri dan membawa seserahan yang sudah dihias itu ke dalam ruang tengah sesuai dengan perintah Ustadzah Nurul. Mereka tidak berani mendebat ataupun menolak permintaan dari Ustadzah Nurul karena Ustadzah Nurul merupakan Ustadzah senior yang umurnya lebih tua dari mereka dan sudah lebih lama mengabdi di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Ustadzah Indri berjalan di depan Ustadzah Farida. Dan setelah mereka meletakkan seserahan itu, mereka keluar dari ruang tengah dan ternyata di situ terdapat foto keluarga yang beranggotakan Umi Sarifah, Ustadz Fariz, Rhea dan Ustadz Jaki. Kemudian di sampingnya terdapat foto pernikahan Ustadz Fariz dan Rhea.
Ustadzah Indri berhenti untuk melihat foto tersebut, dia berandai-andai jika dirinya ada di dalam foto tersebut bersebelahan dengan Ustadz Fariz yang merupakan Kyai dari Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Sedangkan Ustadzah Farida langkah kakinya terhenti ketika berpapasan dengan Ustadz Jaki ketika dia akan keluar ruang tengah dan Ustadz Jaki akan memasuki ruang tengah. Dengan reflek Ustadzah Farida menghentikan langkahnya dan berkata,
"Apa Ustadz Jaki pernah menyukai saya?"
__ADS_1