Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 90 Cieee....


__ADS_3

"Cieee... yang lagi cemburu," ledek Ustad Jaki pada Shinta yang kini sedang menunggu kendaraan online yang dia pesan.


Shinta memang sengaja tidak membawa mobilnya karena sesuai dengan permintaan dari Ustad Jaki yang akan mengantarkannya pulang setelah acara selesai.


"Apaan sih. Udah sana balik lagi ke Pondok, pasti Ustadzah Farida lagi nyariin kamu sekarang," Shinta mengatakannya dengan sewot bercampur dengan kekesalannya.


"Ngapain nyariin, orang kita gak ada hubungan apa-apa kok. Mendingan nganterin kamu pulang, kan kamu calon istri aku," Ustad Jaki menebar senyum manisnya ketika mengatakan Shinta adalah calon istrinya, dan itu sukses membuat Shinta merona karena malu.


Jujur saja hanya dengan diakui seperti itu hati Shinta tenang dan berbunga-bunga. Dia merasa aman karena diakui menjadi calon istrinya Ustad Jaki.


Tin... tin... tin...


"Dengan Mbak Shinta?" seorang pengendara kendaraan online berhenti di depan Shinta dan Ustad Jaki.


"Iya, sebentar ya," jawab Shinta.


"Aku pulang dulu," Shinta berpamitan pada Ustad Jaki, namun tidak di jawab oleh Ustad Jaki.


"Gak jadi Bang, tapi tetap saya bayar kok," Ustad Jaki memberikan lembaran uang lima puluh ribuan pada pengendara kendaraan online tersebut.


"Eh enak aja, aku mau pulang," Shinta mengucapkannya dengan besungut kesal pada Ustad Jaki.


"Jadi Bang, tunggu bentar," Shinta meralat permintaan Ustad Jaki pada pengendara kendaraan online tersebut.


"Shin, udah ya marahnya. Aku antar kamu pulang sekarang. Ayo kita balik ke rumah, lagian kamu belum pamitan sama Umi kan?" Ustad Jaki mencoba membujuk kembali Shinta agar dia mau diantar pulang olehnya.


"Mbak, jadi gak nih?" sela Abang supir yang masih berada di balik kemudinya.


"Jadi Bang," jawab Shinta sambil membuka pintu mobil penumpang.


"Shin...," Ustad Jaki kembali memanggil nama Shinta sambil menahan pintu mobil yang di buka oleh Shinta dan menatap Shinta dengan tatapan mengiba.


Shinta sebenarnya berhati lembut, sama seperti Rhea yang selalu tidak tega dengan orang lain. Oleh karena itu Shinta memilih profesi sebagai seorang Dokter yang ingin selalu bisa menolong orang lain.


Shinta tidak tega dengan Ustad Jaki yang menatapnya dengan iba, sehingga dia menutup kembali pintu mobil tersebut.


"Ustad Jaki....," terdengar suara seorang wanita yang berseru tidak jauh dari mereka.


Ustad Jaki dan Shinta menoleh. Namun Shinta yang tadinya sudah luluh hatinya, kini kembali kesal karena melihat kedatangan Ustadzah Farida yang memanggil Ustad Jaki dengan menyusulnya hingga kembali mengganggu mereka berdua.

__ADS_1


"Tuh dicariin kan? Palingan alasannya tetap aja tentang acara, padahal acara udah selesai," Shinta menatap kesal Ustadzah Farida kemudian mengalihkan pandangannya pada Ustad Jaki dengan tersenyum penuh dengan kekecewaan.


"Kamu tunggu dulu sebentar," ucap Ustad Jaki.


"Mbak, gimana jadi gak?" supir yang masih anteng di belakang kemudinya kembali bertanya pada Shinta.


"Sebentar Bang," jawab Ustad Jaki.


"Ada apa Ustadzah?" tanya Ustad Jaki pada Ustadzah Farida yang kini sudah berada di dekat mereka.


"Itu Ustad, ini acaranya kan udah selesai, jadi-" ucapan Ustadzah Farida belum selesai karena di sela oleh Shinta.


"Bener kan?" Shinta menyela pembicaraan Ustadzah Farida dengan tersenyum menyeringai.


Kemudian dia membuka pintu mobil kembali dan masuk kedalam mobil serta menutup pintu mobil itu dengan cepat dan menguncinya.


"Jalan Bang," perintah Shinta pada supir tersebut.


Benar dugaan Shinta, Ustad Jaki berusaha membuka pintu mobil tersebut dan mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil ketika pintu mobil tidak bisa terbuka.


Sungguh sangat kesal sekali Shinta pada Ustadzah Farida yang selalu mencari-cari alasan untuk dekat dengan Ustad Jaki. Dan Shinta pun kesal pada Ustad Jaki yang tidak mengerti jika Ustadzah Farida hanya mencari-cari kesempatan untuk dekat dengannya.


Tak bisa dipungkiri jika Shinta memang terlihat kekanak-kanakan karena cemburunya. Maklum saja ini kali pertamanya dia mencintai seseorang dan ini juga pertama kalinya dia menjalin hubungan dengan seseorang, dan ditambah lagi karena dia sedang mendapatkan tamu bulanannya yang mengakibatkan emosinya tidak stabil.


"Ada apa Ustadzah?" tanya Ustad Jaki dengan malas.


"Itu Ustad, setelah ini apa mungkin ada acara yang lain untuk santri atau untuk Ustad dan Ustadzah nya?" Ustadzah Farida memberikan senyum manisnya ketika berbicara.


Dengan malas dan mengedarkan pandangan ke lain arah Ustad Jaki menjawab,


"Belum tau, nanti coba saya tanyakan lagi pada Kyai Fariz dan Umi Sarifah."


Kemudian Ustad Jaki meninggalkan Ustadzah Farida yang masih berdiri di tempatnya berada. Ustadzah Farida menatap punggung Ustad Jaki dengan helaan nafas kekecewaan.


"Huffft... owalah Ustad, sulit sekali bisa dekat denganmu. Dari dulu aku selalu mendekatimu dengan cara ini dan itu, sampai sekarang pun gak ada hasilnya. Apa aku harus langsung terus terang aja ya mengenai perasaanku padanya? Atau.... aku harus langsung melamarnya aja?" Ustadzah Farida berbicara pada dirinya sendiri dengan menatap punggung Ustad Jaki yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.


Di dalam kamar, Ustad Fariz masih mencoba menjelaskan pada Rhea tentang kejadian tadi dimana dirinya, Ustad Jaki, Ustadzah Farida dan Ustadzah Indri sedang berbicara.


Ustad Fariz menjelaskan yang sebenarnya terjadi dan mencoba membujuk serta merayu Rhea agar tidak marah dan tidak salah paham lagi.

__ADS_1


"Sayang, udah ya jangan marah lagi, kan udah dijelasin tadi ngomong apa aja sama mereka. Dan gak usah cemburu karena aku gak akan pindah ke lain hati, apalagi niatan untuk nikah lagi, sungguh tidak pernah terpikirkan sama sekali dan itu tidak akan pernah terjadi. Apa kamu lupa hati ini masih tetap milikmu mulai dari awal sampai sekarang pun hati ini tidak akan terisi oleh nama wanita lain, buktinya meskipun dulu kita udah sama-sama menikah perasaan itu tetap ada di dalam hatiku. Kamu percaya kan Sayang?" Ustad Fariz memegang erat kedua tangan Rhea agar istrinya itu tidak bisa melepaskan kembali genggaman tangannya.


Rhea mendengarkan semua perkataan Ustad Fariz dan mengurut semua kejadian dari dulu hingga sekarang. Dia memang sangat percaya pada suaminya akan cinta suaminya padanya, namun entah kenapa dia sangat kesal pada Ustadzah Indri yang sepertinya punya niatan untuk mendekati suaminya.


Selama ini dengan Ustadzah yang lain Rhea tidak pernah merasa cemburu dan kesal seperti itu meskipun suaminya berbicara lama ataupun tertawa dengan Ustadzah lain. Dia merasa heran pada dirinya sendiri, entah karena pengaruh hormon kehamilannya yang sensitif pada semua hal atau mungkin memang Ustadzah Indri mempunyai niatan lain pada suaminya, Rhea sendiri tidak mengerti. Dia hanya berdoa agar suaminya tetap pada pendiriannya untuk menjadikannya istri satu-satunya dan tidak membagi cintanya.


"Ya udah, sini sekarang bantu aku supaya cepat tidur, aku lelah," Rhea menepuk ranjang disebelahnya agar suaminya berpindah ke sana.


Alhamdulillah..., batin Ustad Fariz.


Ustad Fariz tersenyum lega dan dia berpindah ke samping istrinya, berbaring dan memeluk istrinya agar tidur dengan nyaman.


"Tapi janji, gak akan nikah lagi dan gak akan mencintai wanita lain," Rhea mendongakkan kepalanya ketika kepalanya sudah berada di dada suaminya ketika akan tidur.


"Iya janji, pasti. Gak kamu suruh janji aja aku udah berjanji pada diriku sendiri. Jadi kamu gak usah khawatir ya Sayang," Ustad Fariz menatap mata Rhea penuh dengan cinta, kemudian dia mencium lama kening Rhea sebelum akhirnya mereka kembali berpelukan dan tertidur.


Awalnya Ustad Fariz juga ikut tertidur, namun matanya terbuka karena dia merasakan tenggorokannya kering sekarang. Dilihatnya tempat air minumnya kosong di atas nakas yang berada di meja dekat ranjang mereka.


Pelan-pelan Ustad Fariz mengurai pelukannya pada tubuh istrinya agar Rhea tidak terbangun. Dia berniat mengisi tempat air minum yang kosong itu agar istrinya tidak harus mengambil air minum ke bawah jika sedang haus.


"Gimana Shinta? Kok kayaknya lesu gitu?" Ustad Fariz terkekeh menertawakan Ustad Jaki yang berwajah kusut.


"Ck, hampir aja berhasil tadi, eh malah Ustadzah Farida datang nyamperin kita. Akhirnya Shinta langsung pulang naik mobil taksi online yang udah nungguin dari tadi," Ustad Jaki menjelaskannya dengan lesu dan menghela nafas kecewa.


"Yang sabar Ustad, pasti nanti Shinta gak marah lagi. Buktinya Zahra udah gak marah setelah aku ceritain yang sebenarnya tadi. Eh tapi kenapa Ustadzah Farida menghampiri kalian?" Ustad Fariz tadinya terkekeh pada saat menenangkan Ustad Jaki, namun setelah itu dia merasa heran ketika menanyakan tentang Ustadzah Farida pada Ustad Jaki.


"Ck, gak taulah Ustad. Apa mungkin benar ya yang diomongkan Shinta sama Rhea tadi tentang Ustadzah Farida dan Ustadzah Indri?" kini Ustad Jaki mulai penasaran dengan apa yang terjadi.


"Gak tau Ustad, kata Zahra tadi insting wanita itu kuat jika menyangkut pasangannya, jadi kalau suami berbuat yang tidak-tidak, pasti istri akan merasakannya," Ustad Fariz menjelaskan pada Ustad Jaki apa yang disampaikan Rhea tadi padanya.


"Eh udah baikan dong kalian?" tanya Ustad Jaki antusias.


Ustad Fariz menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Cieee... yang udah baikan bisa senyum-senyum gitu sekarang," Ustad Jaki meledek Ustad Fariz agar pikirannya tentang Shinta sedikit teralihkan.


"Cieee... yang lagi galau karena marahan, takut gak jadi nikah," balas Ustad Fariz meledek Ustad Jaki.


Ustad Jaki tidak balas meledek Ustad Fariz, namun tatapan matanya pada Ustad Fariz memberitahukan bahwa dia seperti ingin menghabisinya.

__ADS_1


Dengan segera Ustad Fariz beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur untuk mengisi air minum dan kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Ustad Jaki yang kembali lesu karena galau.


Shinta... Shinta... baru aja maju selangkah, eh masa' harus diam ditempat? Kapan bisa majunya? Hufft... nasib.. nasib... ngenes banget dah, Ustad Jaki membatin sambil memandang foto profil Shinta pada kontak di aplikasi chat miliknya, kemudian dia menuliskan sesuatu untuk mengirim pesan pada Shinta.


__ADS_2