
Ustad Fariz kembali ke rumah Umi Sarifah ketika dia sudah berada di pondok, karena perasaannya tak tenang melihat Ustad Jaki yang dekat dengan Rhea.
"Zahra, apa kita bisa bicara?" tanya Ustad Fariz pada Rhea.
Rhea kaget mendengar suara Ustad Fariz yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Sedangkan Rhea sedang asyik dengan laptopnya.
"Ada apa ya Ustad?" tanya Rhea bingung karena baru saja beberapa yang lalu Ustad Fariz dan Ustad Jaki berpamitan kembali ke Pondok Pesantren.
"Bismillahirrahmanirrahim... Zahra, apa... apa kamu...," Ustad Fariz gerogi, kata-kata yang akan dia katakan tidak bisa keluar dari mulutnya.
"Aku kenapa Ustad?" tanya Rhea bertambah bingung dengan sikap Ustad Fariz yang aneh menurutnya.
"Emm itu... apa.. itu..," sekarang Ustad Fariz malah tidak bisa berkata-kata.
Astaghfirullahaladzim... kenapa aku susah sekali mengatakannya? Ustad Fariz hanya bisa membatin dengan lancar.
"Ustad kenapa? Sakit?" tanya Rhea panik.
Ustad Fariz menggeleng, mulutnya sudah terbuka namun tak keluar kata-kata apapun. Rhea bingung, dia mengambilkan minum untuk Ustad Fariz.
"Buat siapa Nduk?" tanya Umi Sarifah.
"Ustad Fariz Umi, katanya mau ngomong, tapi cuma mangap-mangap doang dari tadi," jawab Rhea sambil membawa dua gelas berisi orange jus.
Rhea memberikan Ustad Fariz satu gelas orange jus dan satu gelas lagi untuknya.
"Ini Ustad, diminum dulu," ucap Rhea seraya memberikan gelas tersebut.
Ustad Fariz menerimanya dan mengangguk, kemudian dia meminumnya.
"Ada apa Le, kok disini?" tanya Umi Sarifah yang keluar dari arah dalam.
Ustad Fariz hanya menggaruk kepalanya yang rasanya tiba-tiba gatal. Dia bingung akan bicara apa jika ada Umi diantara mereka. Sepertinya sekarang ini dia sudah gagal. Dia harus mencari lagi waktu yang tepat untuk memberi tahu Rhea.
"Emm... nanti aja Umi, tadi mau bicara sama Rhea, tapi tiba-tiba lupa. Hehehe...," Ustad Fariz menutupi kegugupannya.
Umi hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Umi merasa tingkah Ustad Fariz sangat lucu. Tidak pernah Umi melihatnya seperti ini.
Rhea menatap heran dengan Ustad Fariz yang seperti orang kebingungan. Sedangkan Ustad Fariz langsung kembali ke Pondok karena ada jam mengajar.
Di jam sebelum adzan duhur berkumandang di Masjid Pondok Pesantren Al-Mukmin, Mirna sudah berada di dalam kantor suaminya.
Ustad Fariz yang baru datang dari mengajar terkejut mendapati Mirna sedang duduk di meja kerja Ustad Fariz dengan membaca buku-buku pemberian Rhea kepada Ustad Fariz tempo hari.
"Mirna? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Ustad Fariz kaget.
"Salam dulu Mas, aku aja dimarahi kalau gak ngucapin salam," sindir Mirna dengan sebal.
"Astaghfirullahaladzim... gara-gara kaget lihat kamu sampai lupa aku ngucapin salam. Assalamu'alaikum," ucap Ustad Fariz sambil melangkah maju mendekati Mirna.
"Wa'alaikumussalam," jawab Mirna singkat.
Ustad Fariz merampas buku di tangan Mirna. Membuat Mirna menjadi tambah sebal karena mendapati buku yang dibahas oleh Rhea di acaranya ditempatkan Ustad Fariz khusus di lacinya, berbeda dengan buku-buku lain yang diletakkannya di rak buku.
"Ngapain kamu masuk kesini tanpa ijin dulu padaku?" tanya Ustad Fariz menahan emosinya.
"Gak boleh? Aku kan istrimu Mas, sejak kapan aku gak boleh masuk kesini?" ucap Mirna kesal dengan nada tinggi.
"Bukannya gak boleh Mirna, ini kan tempat kerjaku, harusnya kamu ijin dulu padaku sebelum masuk kesini," tutur Ustad Fariz dengan nada lembut namun penuh penekanan.
__ADS_1
"Kenapa harus?" tanya Mirna kesal.
"Astaghfirullahaladzim Mirna... bukannya itu sudah menjadi sopan santun kita jika akan masuk ke dalam ruangan orang lain?" Ustad Fariz menghembuskan nafas panjang menghadapi istrinya yang masih saja keras kepala.
"Ck, bilang aja ada banyak rahasia disini, mangkanya aku gak boleh masuk kesini. Dan buku itu, kenapa harus dipisah dengan yang lain? Kenapa gak ditaruh di rak aja?" tanya Mirna menyelidik.
"Kemarin habis di baca lupa dikembalikan ke rak," jawab Ustad Fariz malas.
"Bukannya itu buku yang di bahas wanita itu dalam acaranya waktu itu? Apa buku itu dikasih sama wanita itu?" cerca Mirna banyak pertanyaan pada Ustad Fariz.
"Udah.. udah, aku malas menanggapi semua pertanyaan kamu," Ustad Fariz beranjak pergi keluar dari ruangannya.
"Mas... mau kemana? Aku ikut...," Mirna berlari menyusul Ustad Fariz.
Ustad Fariz sungguh kesal menghadapi sikap Mirna yang selama ini tidak pernah berubah. Mood paginya yang bagus karena sarapan yang dihidangkan oleh Rhea berganti menjadi buruk dengan sikap Mirna yang merasa paling benar.
Mirna mengikuti Ustad Fariz yang ternyata sedang menghadiri pertemuan dengan para Ustad dan Ustadzah di ruang rapat. Mirna dengan santainya duduk diantara mereka sampai acara selesai.
"Tumben Bu Mirna ikut kegiatan Kyai di Pondok?" tanya Bu Yati salah satu Ustadzah di Pondok Pesantren Al-Hikmah setelah acara pertemuan selesai.
"Iya Ustadzah, takut digondol pelakor. Jaman sekarang, pelakor-pelakor suka nekat," jawab Mirna penuh sindiran dan melirik Ustad Fariz.
Ustad Fariz merasa sangat geram dengan mulut tajam istrinya yang tidak bisa menempatkan dirinya serta ucapannya. Ustad Fariz keluar dari ruangan tersebut dengan wajah penuh kesal.
Para Ustad dan Ustadzah hanya saling memandang melihat Kyai mereka dan istrinya sepertinya sedang menghadapi masalah.
Mirna segera bangkit dari duduknya menyusul kepergian suaminya. Dia bertekad akan selalu berada di dekat suaminya agar tidak ada celah untuk bertemu dengan Rhea yang kini makin dekat dengan suaminya karena Rhea menginap di rumah Umi Sarifah.
"Mas...," Mirna meraih tangan suaminya untuk digandeng.
"Mir, sampai kapan kamu akan berbuat seperti ini? Aku capek Mir harus meladeni kamu yang seenaknya aja kayak gini," Ustad Fariz mendengus kesal.
"Astaghfirullahaladzim... Mirna, kapan sih aku pernah lupa kalau aku punya istri?" tanya Ustad Fariz semakin kesal.
"Buktinya kalian bisa bertemu lagi tanpa aku ketahui," jawab Mirna tidak kalah kesal dari Ustad Fariz.
"Itu tidak sengaja Mir. Mungkin udah takdirnya kita bertemu kembali," jawab Ustad Fariz yang sudah kembali agak tenang.
"Halah palingan dia pura-pura aja supaya kelihatan seperti takdir yang mempertemukan kalian," jawab Mirna dengan nada puitis.
"Terserah kamu Mirna. Aku sudah muak seharian ini mendengar ocehan-ocehan mu," Ustad Faris menghempaskan tangan Mirna kemudian berjalan cepat setengah berlari menuju ruangan kantornya.
Mirna tersenyum miring penuh kemenangan. Kini para Ustad dan Ustadzah sudah mendengar kecemasan Mirna tentang pelakor. Dan sebentar lagi Rhea pasti akan disalahkan dan dilabeli sebagai seorang pelakor oleh semua penghuni Pondok Pesantren Al-Hikmah.
Di rumah Umi Sarifah tampak Rhea sedang belajar membaca kitab bersama Umi Sarifah. Umi Saridah senang karena mengajari Rhea tidak sesulit yang diperkirakannya. Memang benar jika orang-orang mengatakan Rhea seorang wanita pintar dan cerdas, buktinya saja Umi hanya mengajarinya sedikit dan dengan kemauan kerasnya untuk belajar, Rhea sudah bisa dengan mudah membacanya.
Umi tersenyum puas mendengar Rhea membaca dengan benar salah satu kitab yang diajarkan oleh Umi Sarifah. Kemudian mereka berdua pergi ke danau untuk mendengarkan Umi Sarifah yang bercerita tentang kisah para Nabi dan sahabatnya.
Tentu saja Rhea sangat senang sekali mendengarkan Umi Sarifah bercerita. Dengan suasana danau yang menenangkan dan kisah para Nabi dan sahabatnya yang begitu menarik sehingga waktu pun tak terasa berlalu bagi mereka berdua.
Ustad Jaki tidak sengaja melewati danau melihat Umi Sarifah dan Rhea sedang duduk di tepi danau. Lalu dia mendekat ke arah mereka.
"Kayaknya lagi seru nih," suara Ustad Jaki membuat Umi Sarifah dan Rhea menoleh ke belakang.
"Ah kamu ini bikin kaget aja," ucap Umi Sarifah.
"Ngapain Umi dan Rhea disini?" tanya Ustad Jaki yang sudah duduk di sebelah Umi Sarifah.
"Urusan wanita, kamu tidak perlu tau," jawab Umi Sarifah yang membuat Rhea tertawa kecil.
__ADS_1
"Umi, udah jamnya mau adzan ashar, kita balik aja ke rumah," ajak Rhea pada Umi Sarifah.
"Loh... loh kok Jaki ditinggalin?" ucap Ustad Jaki sambil berdiri ketika Umi Sarifah sudah berjalan beberapa langkah.
Dalam perjalanan menuju rumah, Umi Sarifah dan Rhea bertemu dengan para Ustadzah dan mereka memberi salam pada Umi Sarifah.
"Assalamu'alaikum Umi mbak Rhea, habis dari mana? tanya Ustadzah Ami mewakili Ustadzah yang lain.
"Dari danau sama Rhea. Kalian mau ke kantor?" tanya Umi pada Ustadzah-Ustadzah yang ada di hadapannya.
"Iya Umi, loh Mbak Rhea ada jadwal acara hari ini? kok jam segini ada disini?" tanya Ustadzah Dina pada Rhea.
"Enggak Ustadzah, Rhea menginap disini dari kemarin untuk belajar dengan Umi lebih dalam lagi tentang agama Islam," jawab Rhea dengan tersenyum seperti biasanya.
"Oooh mungkin ini yang dimaksud Bu Mirna tadi pada saat di ruang pertemuan," ceplos Ustadzah Santi yang memang suka ceplas-ceplos.
"Maksud kalian apa?" tanya Ustad Jaki yang baru datang menyusul Umi Sarifah.
"Tadi pada saat di ruang pertemuan Bu Mirna ikut dari awal sampai akhir Ustad, dan ketika ditanya Ustadzah Yati alasannya, katanya Bu Mirna takut suaminya digondol pelakor Ustad, pelakor sekarang suka nekat katanya," jawab Ustadzah Santi jujur karena dia menaruh hati pada Ustad Jaki.
Ustadzah Ami segera menarik tangan Ustadzah Santi pergi agar tidak berbicara lebih banyak lagi.
"Kami pergi dulu Umi, Assalamu'alaikum," ucap Ustadzah Ami seraya menarik tangan Ustadzah Santi pergi meninggalkan Umi Sarifah, Rhea dan Ustad Jaki.
Dan Ustadzah-Ustadzah yang lain pun ikut pergi menyusul Ustadzah Ami.
"Ck, cari perkara dia," ucap Ustad Jaki kesal.
"Kamu gak tau Le?" tanya Umi Sarifah pada Ustad Jaki.
"Jaki tadi masih ada kelas Umi, gak bisa ditinggal, jadi gak ikut pertemuan," ucap Ustad Jaki penuh sesal.
"Sabar ya Nduk," Umi Sarifah mengelus pundak Rhea untuk menguatkannya.
Rhea hanya bisa tersenyum paksa mendengar ucapan Umi Sarifah padanya.
Pada saat makan malam, Mirna datang sebelum Ustad Jaki dan Ustad Fariz pulang dari Masjid Pondok. Mirna sudah duduk di meja makan yang sudah tersusun semua hidangannya yang tentu saja di masak oleh Rhea.
Umi menggeleng melihat tingkah Mirna yang tidak sebanding meskipun dibandingkan dengan Rhea. Mungkin karena itulah selama bertahun-tahun suaminya tidak bisa move on dari cinta pertamanya. Mungkin saja Ustad Fariz bisa move on jika istrinya memang lebih baik dari cinta pertamanya.
Ustad Jaki wajahnya berubah kesal ketika melihat Mirna berada di meja makan. Mirna meladeni Ustad Fariz layaknya istri salihah, dari mengambilkan nasi dan lauk ke dalam piringnya serta minumannya. Ustad Jaki memandang sinis Mirna dan tidak suka dengan kepura-puraannya. Umi Sarifah memberikan lauk di piring Rhea dan Rhea pun melakukan hal yang sama pada Umi Sarifah.
"Pinter banget ngambil hati orang," sindir Mirna pada Rhea, namun dihiraukan oleh Rhea.
"Gak usah pura-pura jadi istri salihah deh Mbak, biasanya juga kamu gak pernah melayani suamimu seperti sekarang ini. Kamu malah asyik makan sendiri," cibir Ustad Jaki sambil menyuapkan makanan di mulutnya.
"Apa maksudmu?" tanya Mirna sinis dan menghadap ke Ustad Jaki.
"Sudahlah, gak baik bertengkar di depan makanan," lerai Umi Sarifah pada Mirna dan Ustad Jaki.
"Disini gak ada yang belain aku," sahut Mirna dengan nada tinggi.
Umi Sarifah mengelus dadanya seraya beristighfar.
"Mirna, kamu semakin kurang ajar, aku sangat kecewa sama kamu" dengus kesal terdengar dari mulut Ustad Fariz.
"Kenapa? Karena mau menikahi wanita ini?" tanya Mirna emosi dan sudah hilang kendali.
"Memang aku akan menikahinya, sesuai dengan keinginanmu," jawab Ustad Fariz dengan suara tegas.
__ADS_1