Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 91 Sebelum janur kuning melengkung


__ADS_3

Shinta masih merasa kesal, padahal dia sudah mampir ke taman untuk meredakan kekesalannya dengan melihat anak-anak kecil yang sedang bermain, namun tetap saja kekesalannya itu berlanjut hingga sampai di dalam kamarnya, tas dan hijabnya dia lemparkan ke sofa yang ada di dalam kamarnya.


"Iiih... nyebelin... nyebelin... awas aja kalau kamu sampai bohongin aku, pasti aku gak akan maafin kamu Jaki!" Shinta berteriak di dalam kamar sambil memukul-mukul bantal untuk melampiaskan kekesalannya.


Waktu Shinta memaki Ustad Jaki, pas banget Ustad Jaki sedang makan, alhasil bibir Ustad Jaki tergigit olehnya sendiri.


"Aduh...," Ustad Jaki berseru kesakitan.


"Kenapa Le?" tanya Umi Sarifah dan Ustad Fariz serta Rhea menyimaknya.


"Kegigit, apa ada yang lagi ngomongin aku ya?" jawab Ustad Jaki sambil memegang bibirnya yang tergigit.


Umi Sarifah, Ustad Fariz dan Rhea tertawa mendengar jawaban dari Ustad Jaki.


"Pasti Shinta lagi ngumpat Ustad Jaki nih," Rhea terkekeh meledek Ustad Jaki.


"Hah, beneran?" Ustad Jaki melepaskan tangannya dari bibirnya.


"Ya kali aja Ustad, kan biasanya kalau kegigit katanya sih lagi diomongin sama orang. Kali aja Shinta lagi ngumpat Ustad Jaki saking kesalnya," Rhea menahan senyumnya melihat Ustad Jaki yang tiba-tiba serius berpikir.


"Mana pesannya gak dibaca lagi, padahal udah beberapa jam yang lalu kirimnya," Ustad Jaki mengutak-atik ponselnya melihat pesan yang dia kirim untuk Shinta sejak tadi setelah Shinta pulang menggunakan kendaraan online.


"Shinta?" tanya Ustad Fariz yang sedari tadi hanya memperhatikan.


"Iya, sepertinya dia benar-benar marah," Ustad Jaki menjawab dengan lesu.


"Samperin aja ke rumahnya," Rhea memberikan masukan pada Ustad Jaki.


"Orang tuanya lagi gak di rumah. Hufft...," Ustad Jaki menghela nafas kekecewaan.


"Ya udah telpon aja sekarang," kini giliran Ustad Fariz yang memberikan masukan pada Ustad Jaki.


"Ada apa sih sebenarnya?" Umi Sarifah bertanya untuk memastikan kecurigaannya.

__ADS_1


"Ini loh Umi para wanita sedang cemburu berjamaah," sindir Ustad Jaki dengan melirik Rhea.


"Yeee.... salah siapa yang gak peka sama keadaan?" Rhea menjawab sindiran dari Ustad Jaki sambil menatapnya dengan tajam.


"Udah... udah, diselesaikan dulu makannya," Umi Sarifah melerai perdebatan mereka.


Mereka menurut pada Umi Sarifah, acara makan diselesaikan tanpa perdebatan, namun sesekali Ustad Jaki mengejek Rhea dengan menjulurkan lidahnya dan senyum mengejek pada Rhea, dibalas Rhea dengan tatapannya yang menghunus seolah ingin menghabisinya.


Setelah acara makan selesai, Ustad Fariz dan Ustad Jaki kembali ke Pondok Pesantren karena ada sesuatu hal yang harus mereka urus di sana.


Di perjalanannya ke Pondok Pesantren, Ustad Jaki mencoba menghubungi Shinta sambil berjalan berdampingan dengan Ustad Fariz.


"Kenapa gak di angkat-angkat sih?" Ustad Jaki kembali menghubungi Shinta ketika teleponnya beberapa kali tidak diangkat.


"Angkat dong Shin...," Ustad Jaki menghubungi Shinta kembali, namun panggilannya di reject oleh Shinta.


"Loh kok di reject sih. Hufftt.... gini banget ya wanita kalau sedang marah, bikin pusing," Ustad Jaki mengeluarkan kegundahannya.


"Sabar Ustad, nanti juga pasti dibalas pesannya kalau dia udah tenang," Ustad Fariz hanya bisa memberikan saran seperti itu karena dia sendiri baru merasakan kali ini istrinya sedang cemburu.


"Nduk, Rhea, sini... Umi mau bicara," Umi Sarifah memanggil Rhea.


"Ada apa Umi?" Rhea duduk di dekat Umi Sarifah.


"Sebenarnya ada apa toh kamu sama Shinta? Apa kalian cemburu?" Umi Sarifah dengan suara lembutnya tersenyum ketika bertanya pada Rhea.


"Hehehe... itu Umi, emmm...," Rhea merasa sungkan jika curhat masalah cemburunya pada Umi Sarifah, padahal selama ini dia selalu curhat pada Umi Sarifah masalah Mirna, tapi hanya ketika Umi Sarifah yang bertanya padanya, jika Umi Sarifah tidak bertanya padanya, Rhea enggan bercerita, karena dia merasa sungkan pada Umi Sarifah.


"Kenapa? Tidak apa-apa cerita saja sama Umi seperti biasanya," Umi Sarifah mengusap punggung Rhea agar dia merasa nyaman.


Akhirnya Rhea menceritakan semua yang terjadi yang menyebabkan dirinya dan Shinta merasakan kecemburuan, dan juga tentang Ustadzah Farida dan Ustadzah Indri.


Umi Sarifah tersenyum dan memberikan nasehatnya. Umi Sarifah mengatakan bahwa boleh mereka cemburu asal jangan berlebihan dan alangkah baiknya jika mereka menjaga pasangan masing-masing dari wanita-wanita yang membuatnya cemburu dari pada menjauhi pasangan mereka karena kemarahan mereka.

__ADS_1


"Benar juga ya Umi. Astaghfirullahaladzim... kenapa kita termakan cemburu hingga marah pada pasangan kita dan menjauhkan kita dari pasangan kita ya?" Rhea menyalahkan dirinya dan Shinta yang termakan oleh kecemburuan.


"Kecemburuan memang membuat orang lupa akan segalanya, yang ada hanya kemarahan. Jadi, daripada kalian menjauhi pasangan kalian mending kalian mempertahankan pasangan kalian. Kasih tau Shinta juga agar tidak marah lagi sama Ustad Jaki biar mereka cepat nikah," Umi Sarifah tersenyum di sela penuturannya.


"Beres Umi, Rhea kasih tau Shinta dulu. Permisi Umi," Rhea meninggalkan Umi Sarifah setelah mendapatkan anggukan darinya.


Rhea segera menghubungi Shinta dan menyampaikan semua nasehat yang diberikan oleh Umi Sarifah.


Shinta berpikir sejenak, akhirnya dia sadar bahwa memang benar apa yang dikatakan oleh Umi Sarifah. Akhirnya Shinta meminta Rhea untuk menyampaikan pada Ustad Jaki agar menghubunginya. Karena dia merasa malu jika dia duluan yang menghubungi Ustad Jaki setelah tadi menolak beberapa kali telepon dari Ustad Jaki.


Setelah itu Rhea pergi ke Pondok Pesantren untuk memberitahu Ustad Jaki sekaligus ingin melihat suaminya, seperti nasehat dari Umi Sarifah, dia harus menjaga suaminya dari wanita-wanita yang mendekatinya, karena entahlah perasaan Rhea mengatakan bahwa dia harus ke sana sekarang, jadilah Rhea mengikuti perasaannya untuk pergi ke Pondok Pesantren agar perasaannya menjadi tenang.


Rhea berjalan di sepanjang koridor dengan berbalas pesan dengan Shinta. Namun langkahnya terhenti ketika dia mendengar percakapan dari sesama wanita.


"Ustadzah Anisa, gimana menurut Ustadzah kalau aku menyatakan perasaanku pada Ustad Jaki?" Ustadzah Farida bertanya pada Ustadzah Anisa.


"Apa Ustadzah Farida yakin?" Ustadzah Anisa menanyakan kesiapan Ustadzah Farida.


"Yakinlah. Aku udah siap dengan jawaban yang diberikan Ustad Jaki. Siapa tau Ustad Jaki juga sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya padaku," Ustadzah Farida merasa percaya diri.


"Kalau ditolak gimana?" tanya Ustadzah Anisa penasaran.


"Ya bismillah aja Ustadzah, semoga aja diterima," Ustadzah Farida optimis dengan rencananya.


"Ustadzah maaf, apa Ustadzah Farida tidak curiga dengan hubungan Ustad Jaki dengan wanita yang tempo hari datang di acara perpisahan para santri?" Ustadzah Anisa bertanya pada Ustadzah Farida.


"Yang duduk dengan Mbak Rhea dan Umi Sarifah?" Ustadzah Farida menyakinkan apa yang ada dipikirannya.


"Iya, sepertinya mereka semua dekat," Ustadzah Anisa memberitahukan penilaiannya.


"Maksud Ustadzah Anisa wanita itu ada hubungan dengan Ustad Jaki gitu?" tanya Ustadzah Farida kembali.


"Mungkin aja, kita kan gak tau. Bisa aja dia calon istri Ustad Jaki," Ustadzah Anisa kini memberitahukan apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


"Gapapa lah Ustadzah, selama janur kuning belum melengkung mereka masih belum halal, jadi masih bisa diusahakan. Hehehehe....," Ustadzah Farida bermaksud bercanda dengan ucapannya karena mereka belum tahu hubungan yang sebenarnya dari Ustad Jaki dan Shinta.


"Masih bisa ditikung lah Ustadzah. Meskipun udah nikah, kalau laki-lakinya menghendaki pasti dia bisa nikah lagi bukan?" tiba-tiba ada suara wanita yang menyela pembicaraan mereka.


__ADS_2