
"Hana mau ikut Mbak Anita," rengek Hana pada Anita ketika Mirna sudah berjalan satu langkah meninggalkan mereka.
"Hana sekarang sama Bapak Hana dulu ya, Mbak Anita mau menemani Bu Mirna periksa dulu, nanti kita bertemu lagi ya," Anita mencoba membujuk Hana agar mau lepas darinya.
"Nit, ayo buruan!" Mirna berseru memanggil Anita dengan wajah kesalnya.
"Maaf ya Mbak," ucap Pandu dengan wajah menyesal.
"Gapapa Pak," jawab Anita dengan tersenyum.
"Hana, yuk kita ke Ibu dulu. Ibu pasti lagi nyariin Hana," Pandu mencoba mengalihkan perhatian Hana.
Akhirnya Hana mau melepaskan pelukannya dari Anita dan beralih memegang tangan Pandu.
Anita pun berjalan cepat mendekati Mirna, karena Anita tahu pasti Mirna akan sangat marah padanya.
"Lama banget sih!" ucap Mirna dengan ketus ketika Anita sudah berada di sampingnya.
Jutek banget sih dia, sombong banget. Beda sekali dengan wanita muda tadi yang sangat sabar dan kalem pada anak kecil, Pandu menggerutu dalam hatinya sambil melihat punggung Mirna dan Anita.
Mirna masuk ke dalam ruang pemeriksaan dengan penuh ketegangan. Sungguh dia sangat tidak suka berada di rumah sakit, selain karena takut disuntik, dia juga tidak mau mendengar penyakit apapun yang dia idap saat ini. Dia tidak siap jika harus menerima kenyataan buruk tentang kesehatannya.
Dokter yang menanganinya itu merupakan dokter Mirna yang sudah menanganinya dari dulu, sehingga dia tahu persis riwayat penyakit Mirna.
"Bu Mirna, apa Bu Mirna merasakan sakit seperti dulu?" tanya dokter tersebut sambil menatap Mirna yang sedang diperiksa olehnya.
Mirna diam, dia ragu untuk menjawab. Pasalnya jika dia jujur, dia takut menerima kenyataan bahwa penyakit itu kembali, tapi jika dia berbohong, pasti dokter itupun akan tahu.
"Bu Mirna tidak usah ragu, jujur saja Bu. Di sini ini Bu, coba Bu Mirna lihat," ucap dokter tersebut sambil menunjuk layar USG.
"Mustahil jika Bu Mirna tidak merasakan apapun. Dan menurut saya, lebih baik kita lakukan sama seperti dulu mumpung masih dini Bu," dokter tersebut memberitahukan hasil pemeriksaannya.
"Apa harus dok? Percuma saja nanti jika ada lagi sama seperti sekarang ini," ucap Mirna dengan suara yang lemah.
"Kita berdoa saja Bu agar penyakit itu tidak kembali, dan bukankah kita harus berusaha mencari obat jika sedang sakit Bu? Bu Mirna berusaha untuk mencari kesembuhan dan tugas kami membantu Bu Mirna agar bisa sembuh," dokter tersebut berusaha meyakinkan Mirna kembali, karena dia tidak ingin jika Mirna hampir terlambat mengambil keputusan seperti waktu itu.
"Udah Mbak, turuti aja apa yang dikatakan oleh dokter biar Mbak Mirna cepat sembuh," Anita ikut membujuk Mirna.
__ADS_1
Mirna masih saja diam memikirkannya. Di samping itu, dia juga marah pada dirinya sendiri yang idak juga mendapatkan kebahagiaan.
Namun ucapan Pak Ratmo yang selalu hadir disaat dia kesal pada hidupnya membuatnya ingin mengubah hidupnya agar bertemu dengan kebahagiaannya.
"Baiklah dok, kapan saya bisa melakukannya?" kalimat ini lolos begitu saja dari mulut Mirna tanpa sadar.
"Alhamdulillah... akhirnya Mbak Mirna mau juga," ucap syukur Anita dengan senyum kebahagiaannya dan dokter yang berada di depannya pun tersenyum senang.
"Hah? Apa? Mau?" Mirna mempertanyakan keputusannya yang tanpa sadar dia ucapkan tadi.
"Saya usahakan secepatnya Bu. Lebih baik Bu Mirna mulai sekarang dirawat di sini saja. Dan Bu Mirna, ini juga untuk pelajaran Bu Mirna, karena ada riwayat seperti ini, paling tidak Bu Mirna harus memeriksakan meskipun sudah selesai operasi, karena ya... takutnya seperti ini, untung saja Bu Mirna mau periksa sekarang, kalau tidak, pasti akan terjadi seperti dulu lagi," dokter tersebut mengingatkan Mirna.
Setelah itu Mirna diantar menuju kamar inapnya setelah Anita melakukan pendaftaran pasien.
"Mbak Anita....!" Hana memanggil Anita ketika Anita berjalan di koridor yang melewati UGD.
Anita berhenti karena melihat Hana yang berlari ke arahnya. Dengan senyumnya Anita bertanya pada Hana,
"Hana sedang apa?"
"Mbak Anita ngapain masih di sini? Masih belum selesai ya periksanya?" tanya Hana dengan polosnya.
"Bu Mirna harus dirawat di sini, dan Mbak Anita menunggui Bu Mirna," jawab Anita.
"Bu Mirna takut ya sendirian di sini?" Hana bertanya kembali pada Anita.
Anita pun terkekeh dan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang ditanyakan Hana padanya.
"Hana mau ketemu sama Bu Mirna dong Mbak," ucap Hana dengan wajah memohon.
"Boleh, tapi Hana harus bicara dulu dengan Bapak ya, biar nanti Bapak Hana gak bingung nyariin Hana," Anita mengatakannya dengan senyumnya.
Hana mengangguk kemudian berlari menuju Bapaknya uang sedang berbicara dengan dokter.
"Pak, Hana mau ke Bu Mirna. Kata Mbak Anita Bu Mirna dirawat di sini. Hana mau ke sana sebentar, boleh ya?" Hana bertanya pada Pandu.
Shinta yang sedang berbicara dengan Pandu setelah memeriksa keadaan Ani, kini menoleh pada Hana yang membicarakan tentang Mirna, nama yang tidak asing bagi Shinta.
__ADS_1
Dan benar saja, sekarang Anita terkejut melihat Shinta yang berada di sana.
"Eh dokter," Anita menyapa Shinta.
"Apa Bu Mirna sakit Mbak?" tanya Shinta pada Anita.
"Iya dok, ternyata penyakitnya yang dulu ada lagi, jadi mumpung masih dini, akan dilakukan operasi seperti dulu," jawab Anita sambil tersenyum sungkan pada Shinta.
"Hana boleh ya Pak ke Bu Mirna," Hana merengek pada Pandu.
"Iya, tapi jangan merepotkan," jawab Pandu dengan mengusap kepala Hana.
"Loh kalian saling kenal?" tanya Shinta pada Hana dan Anita.
"Iya dok, Mbak Anita dan Bu Mirna ini yang menolong Ibunya Hana," jawab Hana.
Kemudian Hana menarik tangan Anita untuk segera berjalan menuju ruang inap Mirna setelah mereka berpamitan pada Pandu dan Shinta.
"Bu Mirna... Bu Mirna gak usah takut ya, ada Hana di sini. Bu Mirna tenang aja ya," Hana berbicara membujuk Mirna layaknya membujuk temannya setelah dia masuk ke dalam kamar inap Mirna.
Ngapain anak ini bisa ada di sini? Mirna berkata dalam hatinya sambil menatap tajam pada Anita.
Sedangkan Pandu yang kini sedang berbicara dengan dokter Shinta dan dokter Dion yang baru saja bergabung dengan mereka, bahasan mereka kini mengarah pada operasi kelahiran bayi yang ada dalam kandungan Ani.
"Apa sudah dipertimbangkan Pak?" tanya dokter Shinta pada Pandu.
"Saya menurut saja dok, asalkan mereka bisa diselamatkan," jawab Pandu dengan lemah.
"Bagaimana dengan pasien, apa dia setuju? Dan bagaimana dengan keadaannya?" Shinta bertanya pada dokter Dion.
Dokter Dion hanya menggeleng lemah. Dia sudah berusaha untuk membujuk Ani, namun sepertinya Ani banyak sekali pertimbangannya.
"Entahlah apa yang dia pikirkan," jawab Dion dengan menghela nafasnya.
Dalam hatinya, Pandu bingung antara menjawab iya atau tidak. Karena jika dia menjawab iya, dia pasti akan kesulitan untuk membayar tagihan rumah sakitnya. Tapi jika dia berkata tidak, dia takut jika anak dan istrinya tidak akan selamat.
Bagaimana ini? Bagaimana aku akan membayarnya? Pandu bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1