
"Gak terlalu asam Nduk?" tanya Umi Sarifah pada Rhea yang kini sedang menikmati mangga muda yang diambilkan oleh Ustad Jaki.
"Enak Umi," jawab Rhea sambil mengunyah mangga muda tersebut.
Umi hanya berekspresi seolah dia juga merasakan asamnya mangga muda tersebut.
"Umi aja gak ikut makan tapi ikut merasakan asam dan ngilunya gigi Umi," ucap Umi Sarifah sambil bergidik.
"Hehehe... gak tau nih Umi tiba-tiba aja aku pengen mangga muda. Tapi beneran seger loh Umi. Mau coba gak Umi?" Rhea mengulurkan piring yang berisi irisan mangga muda.
Umi Sarifah menggeleng, "Buat Rhea aja."
"Assalamu'alaikum....," salam diucapkan Ustad Jaki ketika masuk rumah Rhea yang pintunya tidak ditutup.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Umi Sarifah dan Rhea bersamaan.
Ustad Jaki duduk, dia memperhatikan Rhea yang sedang memakan mangga muda dengan lahap tanpa merasakan asam dan ngilu pada giginya.
"Apa kamu tadi menghubungi Dokter Shinta?" tanya Ustad Jaki pada Rhea.
Pandangan Rhea beralih ke Ustad Jaki.
"Apa Dokter Shinta mengatakannya pada Ustad?" tanya Rhea balik.
"Kamu masih merasakan kram perut?" Ustad Jaki bertanya kembali.
"Udah enggak Ustad. Tadi cuma sebentar aja. Kata Dokter Shinta gak boleh kelelahan dan stress," jawab Rhea disertai cengirannya agar Umi Sarifah dan Ustad Jaki tidak khawatir.
Mendengar percakapan Rhea dan Ustad Jaki yang membicarakan tentang kondisi kandungan Rhea, Umi Sarifah menjadi trenyuh dan khawatir.
Umi Sarifah memeluk tubuh Rhea dan mengusap-usap punggungnya.
"Sabar ya Nduk, kamu harus kuat agar bayi mu juga kuat dan sehat. Apa kamu mau tinggal di rumah Umi saja?" tutur Umi Sarifah sangat khawatir.
"Rhea disini aja Umi. Kan rumah Umi deket situ, kalau ada apa-apa Rhea pasti langsung ke rumah Umi," jawab Rhea dengan senyum cerianya agar Umi Sarifah tidak lagi khawatir padanya.
"Oiya, apa Mbak Mirna belum tau tentang kehamilanmu?" tanya Ustad Jaki pada Rhea.
"Aku rasa Mbak Mirna belum tau Ustad," jawab Rhea sambil meneruskan makan mangganya.
"Kamu gak berniat memberitahunya?" tanya Ustad Jaki kembali.
"Biar Mbak Mirna tau sendiri nanti Ustad," jawab Rhea.
"Kenapa?" tanya Ustad Jaki menyelidik.
"Aku gak mau kehamilanku membuat Mbak Mirna bersedih. Biarlah dia tau sendiri nantinya," jawab Rhea disertai senyumannya.
"Ck, kenapa Mbak Mirna gak bisa pengertian seperti kamu ya? Kasihan Ustad Fariz," oceh Ustad Jaki.
__ADS_1
Plak!
Punggung Ustad Jaki dipukul Umi Sarifah, namun tidak keras. Umi hanya mengingatkan agar Ustad Jaki tidak keceplosan jika berbicara.
"Sakit Umi...," rintih Ustad Jaki sambil mengusap punggungnya.
Umi Sarifah memelototkan matanya pada Ustad Jaki, namun disambut tawa oleh Rhea dan Ustad Jaki.
Dering ponsel Rhea menghentikan tawa mereka. Tertera nama Ibunya di layar ponselnya. Segera diangkat ponsel itu oleh Rhea. Ternyata Ayah dan Ibunya sekarang berada di rumah nenek Rhea. Sedangkan Rendi, adik Rhea tidak ikut, dia berada di rumah dengan Bik Atin yang membantu Ibu di rumah.
"Siapa Nduk?" tanya Umi Sarifah.
"Ibu dan Ayah sudah sampai di rumah Nenek sekarang Umi. Emmm... apa Rhea boleh kesana?" tanya Rhea penuh harap.
Umi memperhatikan raut wajah Rhea yang sepertinya sangat ingin bertemu dengan orang tuanya. Dan menurut Umi Sarifah ini yang terbaik agar Rhea tidak stress dan sakit hati dengan kelakuan Mirna.
Umi Sarifah mengangguk.
"Boleh, tapi kamu ijin suamimu dulu ya Nduk."
Rhea tersenyum lebar dan mengangguk.
"Apa perlu diantarkan oleh Ustad Jaki Nduk?" tanya Umi Sarifah.
"Jangan Umi, bisa-bisa aku habis dipukuli suaminya. Tadi aja matanya seolah mengeluarkan laser untuk membunuhku cuma gara-gara aku mengambilkan mangga untuk istri tercintanya ini," sahut Ustad Jaki.
"Baiklah terserah kamu, nanti kabari Umi jika kamu berangkat ya," tutur Umi Sarifah pada Rhea.
"Rhea pasti pamit pada Umi jika berangkat, Umi tenang aja," ucap Rhea menenangkan.
"Udah Umi, aku mau tadarusan dulu. Assalamu'alaikum....," pamit Ustad Jaki pada Umi dan mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Umi Sarifah dan Rhea bersamaan.
Setelah Umi Sarifah pulang ke rumah, Rhea menghubungi Pak Sardi agar menjemputnya. Sekitar 20 menit Pak Sardi datang dan mengantar Rhea untuk berpamitan ke rumah Umi Sarifah.
Tring!
Suara notifikasi pesan dari Rhea membuat Ustad Fariz penasaran. Dibukanya pesan tersebut ketika Mirna sedang mencuci piring.
[ Assalamu'alaikum...
Bie, aku ijin menemui Ayah dan Ibu. Maaf aku tidak menghubungi Hubby terlebih dahulu karena aku takut Mbak Mirna marah. Aku harap Hubby gak marah sama aku. Aku mencintaimu suamiku ❤️😘 ]
Melihat pesan dari Zahra nya, Ustad Fariz sangat kaget, nafasnya tidak beraturan, dia tidak ingin jauh dari istri tercintanya itu.
Ustad Fariz berlari ke rumah Rhea namun rumahnya gelap, dan itu menandakan bahwa Rhea tidak ada di rumah. Di ketuk pintu rumahnya namun tidak ada yang menyahut. Seketika tubuh Ustad Fariz lemas, dia terduduk di lantai depan pintu rumah Rhea.
Ustad Fariz merasa sangat kecewa dengan Rhea yang dia pikir lari dari keadaan. Kemudian dia berjalan cepat menuju rumah Umi Sarifah, karena menurutnya Rhea mungkin berada di rumah Umi Sarifah, karena tidak mungkin Rhea pulang ke rumah orang tuanya pada malam yang larut seperti ini.
__ADS_1
Ternyata sampai di rumah Umi Sarifah, dia tidak menemukan Zahra nya.
"Apa Mirna memperbolehkan mu kesini?" tanya Umi Sarifah kesal.
"Umi kenapa Zahra jadi seperti ini?" tanya Ustad Fariz.
"Biarkan dia menenangkan dirinya dulu agar dia dan kandungannya sehat," jawab Umi Sarifah.
"Tapi Umi, pantaskah dia malam-malam begini dia pergi ke rumah orang tuanya di kota?" Ustad Fariz meluapkan kekesalannya.
"Jaga bicaramu Le. Kamu gak tau apa yang sebenarnya terjadi, jika kamu tau pasti kamu akan menyesal," ucap Umi Sarifah dengan tegas.
"Maaf Umi, tapi-"
"Istighfar Le. Kamu sedang dikuasai amarah dan kecewa pada dirimu sendiri. Jangan salahkan Rhea atas apa yang kamu rasakan itu," tutur Umi Sarifah menyela ucapan Ustad Fariz.
"Astaghfirullahaladzim.... Umi benar, aku marah dengan keadaan ini dan aku kecewa pada diriku sendiri dan juga pada Rhea. Aku sangat mengkhawatirkannya Umi," ucap Ustad Fariz yang kemudian memeluk Umi Sarifah untuk menyembunyikan air matanya yang menetes di pipinya.
"Sebaiknya sekarang kamu pulang saja daripada Mirna berulah lagi. Rhea tidak apa-apa, dia sekarang ada bersama kedua orang tuanya di rumah neneknya. Sebaiknya kamu menemuinya besok," ucap Umi Sarifah ketika Ustad Fariz melepaskan pelukannya pada Umi Sarifah.
Dengan berat hati Ustad Fariz mengangguk dan pamit pada Umi Sarifah untuk pulang kembali ke rumah Mirna.
Sesampainya di rumah Mirna, Ustad Fariz disambut ocehan Mirna karena pergi tanpa sepengetahuannya. Ustad Fariz mengacuhkan Mirna, dia lebih memilih membaca Al-Quran untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Keesokan harinya, setelah kegiatan Ramadhan di Pondok Pesantren, Ustad Fariz berada di danau yang menjadi tempat favorit Rhea. Dia menatap air danau yang gemerlap terkena cahaya matahari.
Ustad Jaki yang kebetulan melewati jalan tersebut melihat Ustad Fariz yang sedang melamun. Di dekatinya Ustad Fariz dan ketika sudah dekat, Ustad Jaki mengagetkannya seperti biasanya mereka bercanda.
"Astaghfirullahaladzim... kamu ini selalu ngagetin aja," ucap Ustad Fariz kesal dengan mengusap-usap dadanya.
"Abisnya dari tadi ngelamun aja," ucal Ustad Jaki.
"Siapa yang melamun?" tanya Ustad Fariz.
"Ente, siapa lagi," jawab Ustad Jaki kesal.
"Bukan melamun tapi merenung," elak Ustad Fariz.
"Emmm... Ustad udah tau keadaan kandungan Rhea?" tanya Ustad Jaki yang tidak tega melihat Ustad Fariz dalam kebingungan.
"Ada apa dengan kandungan Rhea?" tanya Ustad Fariz kaget dan menoleh pada Ustad Jaki.
Kemudian Ustad Jaki menceritakan yang dia ketahui dari Dokter Shinta dan dia juga mengatakan semua obrolannya semalam dengan Rhea pada saat di rumah Rhea dengan Umi Sarifah.
Ustad Fariz berteriak dengan lantang ke arah danau guna melampiaskan kemarahannya yang begitu menyesakkan dadanya diiringi air matanya yang menandakan kesakitan hatinya.
"Mau kemana Ustad?" teriak Ustad Jaki ketika melihat Ustad Fariz berlari.
"Menemui bidadari ku," teriaknya sambil berlari.
__ADS_1