Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 197 Bertemu mantan


__ADS_3

Hana sangat senang ketika sudah sampai di pasar malam. Banyak sekali yang dia inginkan, namun dia takut untuk memintanya.


Matanya masih menatap jajanan dan mainan yang ingin dia beli. Tapi Hana tidak ingin memintanya, dia tahu jika Bapaknya sedang tidak memiliki uang untuk membeli apa yang dia inginkan.


Matanya beralih mendongak ke atas melihat Mirna yang menggandengnya. Ingin rasanya dia meminta Mirna untuk dibelikan sesuai dengan janjinya tadi. Namun lagi-lagi dia takut jika nantinya Bapaknya atau Mirna marah padanya jika kekurangan uang.


Setiap melewati jajanan, Hana hanya menelan ludahnya saja. Dan jika melihat mainan yang diinginkannya, dia hanya bisa membayangkannya saja memainkan mainan tersebut.


"Hana mau ke mana?" tanya Pandu pada Hana.


Hana mendongak melihat Bapaknya, kemudian dia menggelengkan kepalanya dan menunduk.


Pandu tahu jika Hana menginginkan sesuatu. Dia sangat mengerti jika Hana anak yang penurut dan tidak menyusahkan siapapun. Tapi dia juga sangat mengerti akan keuangannya sehingga tidak bisa menawari apapun pada Hana.


"Aku naik yang putih. Kudaku yang putih," Izam berseru sambil berlari menuju komidi putar yang ada dihadapannya.


"Salsa mau yang pink," ucap Salsa berlari mengikuti Izam.


Sontak saja Hana melihat ke arah dua anak yang berlari masuk ke komidi putar karena suaranya yang menyita perhatian.


"Jangan lari-lari Izam, Salsa!"


"Awas hati-hati!"


Rhea dan Shinta berseru secara bergantian memperingati Izam dan Salsa.


"Loh kalian di sini juga?"


Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang tidak asing di telinga Mirna.


Pandu dan Mirna menoleh ke arah sumber suara dan mata mereka membola ketika melihat orang yang pernah ada dalam hidup mereka kini ada di depan mereka dengan pasangan mereka masing-masing.


Seperti biasa, Ustadz Jaki yang jahil menyapa Mirna dan Pandu ketika matanya mendapati sosok merek berdua.


"Mas Fariz!"


"Rhea!"


Pandu dan Mirna tanpa sadar memanggil nama mantan pasangan hidup mereka dengan serentak.

__ADS_1


Sontak saja Rhea mundur satu langkah dari tempatnya dan dia memegang tangan Ustadz Fariz seolah dia ketakutan pada saat melihat Pandu, yang dulunya adalah Andri, mantan suaminya.


Dengan segera Ustadz Fariz meraih pundak Rhea dengan memandang Pandu seolah memberi peringatan melalui matanya.


"Abi.... Bunda... tolongin!"


Izam berteriak dari dalam komidi putar di samping kuda yang ingin dia naiki.


Salsa pun mengikuti Izam, dia berteriak memanggil Abi dan Mandanya untuk menolongnya naik ke atas kuda-kudaan yang akan dia naiki.


"Manda... Abi... naikin!"


Dengan cepat Ustadz Fariz membawa Rhea untuk masuk ke dalam komidi putar menolong Izam dan Salsa menaiki kuda-kudaan yang sudah mereka pilih.


"Kudaku dong bagus, pink," Salsa pamer pada Izam.


"Bagusan punyaku, kuda putih," Izam pun memamerkan kuda-kudaan yang dinaikinya.


"Kuda putih itu punyanya pangeran," celetuk suara anak perempuan yang tiba-tiba ada di dekat mereka.


"Karena aku Pangeran Izam," sahut Izam sambil tertawa sombong.


Tadi tiba-tiba Hana memberanikan diri untuk meminta pada Pandu dan Mirna untuk naik komidi putar.


"Bapak, Hana boleh ya naik itu? Boleh ya Bu?" Hana bertanya pada Pandu dan Mirna karena ingin menaiki kuda-kudaan komidi putar itu bersama dengan Izam dan Salsa.


Pandu melihat Mirna. Sebenarnya dia ingin menolak keinginan Hana, tapi di sana masih ada Ustadz Jaki bersama dengan Shinta yang masih menunggu Izam dan Salsa. Sedangkan Ustadz Fariz dan Rhea masih membantu Izam dan Salsa menaiki kuda-kudaan mereka.


"Anaknya gak dinaikin tuh Bu Mirna? Kasihan loh semua anak kecil pada naik."


Mulut Ustadz Jaki yang gatal mulai membuat Mirna terbakar emosi. Ucapan Ustadz Jaki dari dulu selalu bisa membuat darah Mirna mendidih.


"Hana mau naik yang mana?" tanya Mirna tanpa melihat Hana melainkan matanya memandang kesal pada Ustadz Jaki.


"Naik kuda-kudaan itu Bu," jawab Hana sambil menunjuk komidi putar yang terletak tidak jauh dari hadapannya.


Ustadz Jaki yang mengerti Mirna memandangnya dengan kesal saat itu, dia tersenyum seolah menertawakan Mirna.


Shinta hanya diam saja melihat tingkah suaminya yang tidak pernah bisa dia hentikan.

__ADS_1


Mirna menggandeng tangan Hana untuk membeli tiket di loket tiket, kemudian Hana berlari sendiri untuk masuk ke dalam komidi putar tersebut.


"Ibu turun aja, Hana bisa sendiri kok," ucap Hana yang sebenarnya tidak mau merepotkan Mirna.


Hana mencoba main kuda-kudaan yang berada di belakang Izam dan Salsa. Namun seberapa kuat usahanya masih saja dia tidak bisa naik ke atas kuda tersebut.


Rhea yang memang berhati baik dan suka dengan kecil mendekatinya dan mencoba untuk menolongnya.


"Sayang, jangan!"


Ustadz Fariz berseru ketika melihat Rhea akan mengangkat tubuh Hana untuk menolongnya naik ke atas kuda-kudaan yang telah dipilihnya.


Rhea pun melepaskan tangannya dari tubuh Hana dan menoleh pada suaminya.


"Kamu sedang hamil. Gak boleh ngangkat yang berat-berat. Izam sama Salsa aja Abi yang naikin," ucap Ustadz Fariz sambil mengangkat Hana ke atas kuda-kudaan yang dipilihnya.


Rhea bergeser dari tempatnya semula dan merasa bersalah karena dia melupakan kondisinya saat ini.


Tangan Rhea melingkar di lengan Ustadz Fariz dengan mengembangkan senyum manisnya dengan melihat ke arah suaminya sambil berkata,


"Seneng banget deh punya suami perhatian banget sama istrinya kayak gini."


Ustadz Fariz tersenyum malu mendengar pujian dari istri tercintanya dan dia melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya untuk diajak berjalan turun dari komidi putar tersebut.


Ustadz Fariz ragu untuk kembali mengajak Rhea ke tempat di mana Ustadz Jaki dan Shinta berada. Karena di dekat Ustadz Jaki berdirilah Mirna dan Pandu yang juga menunggu Hana yang masih berada di komidi putar.


"Gapapa Bie, di sini aja dekat Shinta," ucap Rhea yang mengerti akan kegundahan suaminya.


Dan Rhea pun berdiri di dekat Shinta menunggu permainan anak-anak mereka selesai.


Mirna yang melirik Rhea dengan Ustadz Fariz merasa kesal karena Ustadz Fariz selalu saja melingkarkan tangannya pada pinggang Rhea.


Mirna melihat ke arah pinggangnya yang tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh Pandu. Dengan segera tangan Pandu ditarik oleh Mirna untuk melingkar di pinggangnya.


Pandu sangat kaget melihat tangannya yang kini sudah berada di pinggang Mirna. Dia beralih memandang Mirna seolah bertanya ada apa, dan Mirna hanya tersenyum manis padanya.


Ustadz Jaki yang tidak jauh dari mereka melirik setiap gerak-gerik Mirna dan dia menahan tawanya ketika mengetahui Mirna dengan sendirinya melingkarkan tangan Pandu pada pinggangnya.


Ada apa ini? Kenapa Mirna jadi aneh begini? Pandu bertanya-tanya dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2