Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 114 Pulang


__ADS_3

Selepas shalat isya, Ustadzah Rani datang ke rumah Umi Sarifah untuk memenuhi panggilan dari Umi Sarifah dan Ustadz Fariz.


Di ruang tamu itu Ustadzah Rani berhadapan dengan Umi Sarifah, Ustadz Fariz, dan Ustadz Jaki. Di ruangan itu pertama kalinya Ustadzah Rani berhadapan secara langsung dengan keluarga pemilik dari Pondok Pesantren Al-Mukmin secara bersamaan, biasanya Ustadzah Rani hanya bertatap muka satu persatu dengan mereka dan itupun jika ada keperluan.


Dan kini, Ustadzah Rani harus berhadapan dengan mereka bertiga hanya karena Ustadzah Indri yang berulah di saat menggantikannya untuk mengajar di Pondok Pesantren Al-Mukmin.


"Maaf Umi, sebenarnya ada apa saya dipanggil kemari?" Ustadzah Rani bertanya dengan sopan pada Umi Sarifah.


"Begini Ustadzah, maaf jika mengganggu Ustadzah Rani untuk menyuruh Ustadzah datang kemari, ini ada kaitannya dengan Ustadzah Indri," Umi Sarifah mulai memberitahukan maksud dipanggilnya Ustadzah Rani untuk datang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin menghadap Umi Sarifah.


"Ustadzah Indri? Ada apa dengan dia Umi?" Ustadzah Rani bertanya dengan rasa penasarannya.


"Ustadz Jaki, coba ceritakan pada Ustadzah Rani apa yang terjadi," Umi Sarifah menyuruh Ustadz Jaki untuk menceritakan apa yang diperbuat oleh Ustadzah Indri.


Ustadz Jaki segera menceritakan apa saja yang dilakukan oleh Ustadzah Indri sehingga menimbulkan keresahan bagi keluarga pemilik dari Pondok Pesantren Al-Mukmin. Ustadz Fariz pun menambahi apa yang belum disampaikan oleh Ustadz Jaki pada Ustadzah Rani.


Wajah Ustadzah Rani sangat malu. Dia sudah menjadi Ustadzah di Pondok Pesantren Al-Mukmin dengan predikat baik dan tidak pernah membuat malu dirinya sendiri, keluarga ataupun Pondok Pesantren Al-Mukmin. Tapi kini namanya dipermalukan oleh Ustadzah Indri yang merupakan saudara sepupunya.


Tangan Ustadzah Rani mencengkeram gamisnya karena merasa marah pada Ustadzah Indri. Hatinya dipenuhi amarah karena membuatnya malu di hadapan keluarga pemilik Pondok Pesantren Al-Mukmin yang sudah sangat baik padanya dan keluarganya. Hingga Ustadzah Rani tidak berani menatap ke arah depan di mana Umi Sarifah, Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki duduk tepat di depannya. Ustadzah Rani hanya menundukkan kepalanya karena sangat malu pada mereka.


"Ustadzah Rani, bagaimana menurut Ustadzah? Apa yang sebaiknya kita lakukan pada Ustadzah Indri?" Umi Sarifah bertanya pada Ustadzah Rani setelah Ustadz Jaki dan Ustadz Fariz menceritakan semuanya pada Ustadzah Rani.


"Maaf Umi, Kyai, Ustadz. Maaf atas apa yang dilakukan oleh Ustadzah Indri. Saya sangat malu atas kelakuan Ustadzah Indri. Jujur saya tidak tahu mengapa dia berbuat seperti itu. Saya akan bertanya padanya dan saya akan memarahinya Umi, saya akan melarangnya untuk mendekati Kyai Fariz lagi," ucap Ustadzah Rani dengan kepala tertunduk dan suara yang penuh permohonan.

__ADS_1


"Maaf Ustadzah, apa Ustadzah Rani tidak bisa mengajar lagi secepatnya? Jadi maksud saya agar Ustadzah Rani yang mengajar kembali dan Ustadzah Indri tidak perlu lagi berada di sini," Ustadz Fariz kini berbicara untuk mengatakan keinginannya untuk mengeluarkan Ustadzah Indri dari Pondok Pesantren Al-Mukmin.


"Sebenarnya saya akan kembali mengajar minggu depan Kyai. Apa boleh Ustadzah Indri masih menggantikan saya sampai saya kembali mengajar minggu depan agar tenaga pengajarnya tidak kosong ketika saya belum kembali mengajar? Nanti biar saya yang menegur Ustadzah Indri agar menjaga sikapnya," Ustadzah Rani mengatakannya dengan ragu.


Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Umi Sarifah saling memandang. Mereka bingung akan memutuskan apa. Membiarkan tidak ada tenaga pengajar atau membiarkan Ustadzah Indri untuk tetap mengajar selama Ustadzah Rani belum kembali.


"Bagaimana Umi?" tanya Ustadz Fariz pada Umi Sarifah.


Ustadz Fariz tidak bisa memaksakan kehendaknya karena masalah ini menyangkut Pondok Pesantren Al-Mukmin. Oleh karena itu dia meminta saran dari Umi Sarifah. Jika memang Ustadzah Indri harus tetap berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk sementara waktu, Ustadz Fariz tidak bisa mencegahnya.


"Kalau menurut kamu gimana Le?" Umi Sarifah bertanya balik pada Ustadz Fariz.


"Maaf Umi, sebenarnya Fariz lebih memilih amannya saja Umi. Fariz tidak ingin terjadi lagi masalah dan akhirnya akan membahayakan Rhea dan kandungannya. Sudah berkali-kali seperti ini Umi, dan itu.. itu sulit buat Fariz untuk memaafkan diri sendiri. Tapi jika Umi ingin Ustadzah Indri masih berada di sini untuk sementara waktu, Fariz mengerti Umi, Fariz akan terima," Ustadz Fariz memberanikan dirinya untuk mengatakan keinginannya.


"Jadi, Ustadzah Indri diberhentikan saja Umi?" Ustadz Jaki bertanya untuk menyatakan hasil pembicaraan.


Umi Sarifah mengangguk setuju dan meminta pada Ustadzah Rani agar secepatnya kembali mengajar karena posisinya tidak ada yang mengisi dan juga Umi Sarifah meminta agar Ustadzah Rani mengajak Ustadzah Indri untuk berkemas dan meninggalkan Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Dengan perasaan bersalah Ustadzah Rani meninggalkan rumah Umi Sarifah menuju kamar Ustadzah Indri untuk mengajaknya pergi dari Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Awalnya Ustadzah Indri menolak, namun keras kepalanya bisa ditaklukan oleh Ustadzah Rani karena Ustadzah Rani tahu kelemahan dari Ustadzah Indri. Akhirnya dengan berat hati Ustadzah Indri mau menuruti perintah Ustadzah Rani untuk ikut pulang bersamanya dan tidak kembali mengajar di Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Ustadzah Rani dan Ustadzah Indri berpamitan ke rumah Umi Sarifah, namun Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki sudah tidak berada di ruang tamu, hanya Umi Sarifah yang menemui mereka dan Umi Sarifah memang sengaja tidak memanggil Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki karena Umi Sarifah tidak mau terjadi masalah lagi.

__ADS_1


Terlihat dengan jelas bahwa Ustadzah Indri mencari-cari Ustadz Fariz. Matanya menyisir setiap inci ruangan tersebut hingga bisa dilihat dari gerak-geriknya matanya mencuri pandang dengan melongok ke ruangan lain.


Akhirnya Ustadzah Indri pulang tanpa bertemu dan berpamitan dengan Ustadz Fariz. Dia memang tidak bertemu dengan Ustadz Fariz, namun dia yakin jika mereka akan bertemu lain waktu karena dia yakin bahwa mereka berjodoh hanya karena dia merasakan suka dan ingin memiliki Ustadz Fariz pada pandangan pertama.


......................


Semilir angin malam mengenai kulit Rhea yang sedang berada di balkon kamarnya. Tiba-tiba ada lengan kekar yang melingkar di pinggang Rhea. Harum parfum tang melekat di tubuh Ustadz Fariz sudah melekat di hidung dan ingatan Rhea, sehingga tanpa menoleh pun Rhea tahu jika itu suaminya.


Ustadz Fariz meletakkan dagunya di ceruk leher Rhea yang masih berbalut hijab dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang sudah sangat hafal.


"Kalian pikir lagi naik Titanic apa?" suara Ustadz Jaki membuat adegan romantis Ustadz Fariz dan Rhea terjeda.


Ustadz Fariz dan Rhea menoleh ke samping dan ternyata di balkon kamar Ustadz Jaki terdapat Ustadz Jaki dan Shinta dengan jarak balkon mereka sekitar tujuh meter.


"Ck, ganggu aja. Ngapain sih ikut-ikutan di sini?" Ustadz Fariz kesal acara mereka terganggu.


"Kita kan lagi liat bintang, iya gak Sayang?" Ustadz Jaki meminta dukungan Shinta.


"Biasanya juga gak pernah liat bintang, ngapain sekarang jadi merhatiin bintang?" Ustadz Fariz mencibir Ustadz Jaki.


"Dulu kan sendirian, kalau sekarang udah punya istri ya disempat-sempatin dong menyapa bintang, biar romantis. Emangnya situ aja yang bisa romantis?" Ustadz Jaki menjawab tidak mau kalah dengan Ustadz Fariz.


"Ya udah yuk Sayang, kita masuk aja," Ustadz Fariz mengajak Rhea masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Sayang... kita main Titanic-Titanic an yuk kayak mereka," Ustadz Jaki mengajak Shinta dengan suara manja dan menaik turunkan alisnya membuat Shinta lari ke dalam kamar meninggalkan Ustadz Jaki dengan keinginannya.


__ADS_2