
Pak Ratmo segera berlari menghentikan Mirna, untung saja Mirna masih bisa dicegah oleh Pak Ratmo. Tangan Mirna digapai oleh Pak Ratmo dan diseretnya masuk ke dalam rumah kembali.
"Lapaskan, lepaskan Paman, aku ingin menanyakan tentang ini. Aku gak bisa diam saja seperti ini. Dari kemarin aku diam saja dan sekarang aku dibuang seperti barang yang sudah tidak bisa digunakan lagi," Mirna mengoceh seiring langkah kakinya masuk ke dalam rumah dengan ditarik tangannya oleh Pak Ratmo.
"Ini sudah malam Mirna, sebaiknya kamu selesaikan besok pagi saja. Jangan bikin keributan yang membuat semua orang bertambah benci sama kamu," Pak Ratmo juga menceramahi Mirna sepanjang langkah kakinya masuk ke dalam rumah dengan menarik tangan Mirna erat-erat agar tidak bisa lepas darinya.
"Mana bisa aku tenang Paman, aku tidak bisa menerima semua ini. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu, seperti sebelum wanita itu kembali ke kehidupan Mas Fariz. Lepaskan aku Paman, biarkan aku ke sana untuk menyelesaikannya. Auwww...," tangan Mirna dihempaskan oleh Pak Ratmo dengan kasarnya memaksa Mirna masuk ke dalam kamarnya dan mengambil kunci yang masih bertengger pada tempat kuncinya yang berada di sisi dalam pintu kamar Mirna untuk mengunci Mirna dari luar.
Brak... brak... brak...
"Paman... Paman... buka pintunya, Paman... jangan dikunci pintunya. Paman mau membunuhku? Cepat buka pintunya Paman," Mirna berteriak dan menggebrak-gebrak pintu kamarnya secara brutal.
"Paman tidak akan membunuhmu Mirna, Paman hanya menguncimu dalam kamar untuk sementara saja sampai kamu bisa tenang kembali. Dan Paman harap kamu bisa menenangkan dirimu agar tidak melakukan hal-hal bodoh yang nantinya akan kamu sesali," Pak Ratmo meninggalkan depan kamar Mirna setelah berbicara.
Ternyata Pak Ratmo tidak benar-benar meninggalkan Mirna, Pak Ratmo menunggu Mirna dengan duduk di depan TV dan meneruskan memakan singkong rebus dan meminum kopinya.
Anita sedari tadi hanya diam menyaksikan Mirna dan Bapaknya yang sedang berdebat. Dia tidak menyangka jika Bapaknya bisa setegas itu, karena selama ini Bapaknya hanya menuruti saja kemauan dari Anita dan adiknya, tak terkecuali dengan Mirna juga.
Dan Anita pun tidak menyangka jika Mirna bisa melawan semua orang yang menghalangi rencananya demi tercapai semua keinginannya.
"Apa Mbak Mirna baik-baik aja Pak di kunci dari luar?" Anita sedikit ragu untuk bertanya karena melihat Bapaknya masih diselimuti emosi.
Pak Ratmo mengusap wajahnya dengan kasar seraya beristighfar.
"Astaghfirullahaladzim.....," dilafalkan Pak Ratmo dengan hembusan nafas yang panjang.
Brak... brak.... brak...
__ADS_1
Masih saja terdengar dari dalam kamar Mirna suara gedoran pintu dan barang-barang yang dibanting oleh Mirna disertai teriakan-teriakan omelannya.
"Kita tunggu saja sampai dia tenang, setelah itu kita bukakan pintunya," Pak Ratmo berat mengucapkan kata-kata tersebut.
Anita hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dia merasa kasihan pada Bapaknya yang terlihat memiliki beban berat. Anita berjanji pada dirinya akan menuruti apapun perintah Bapaknya agar tidak menjadi beban berat dalam hidup Bapaknya seperti Mirna saat ini.
Setelah sekitar satu jam, Mirna sudah tenang. Karena sudah tidak ada suara apapun dari dalam kamar Mirna, Pak Ratmo membuka kunci kamar Mirna dan melihat keadaan Mirna.
Ternyata diluar dugaannya, Pak Ratmo mengira Mirna akan menangis meratapi nasibnya, tapi ternyata dugaan Pak Ratmo keliru. Mirna kini sedang tidur dengan nyenyaknya dengan memakai selimut layaknya orang yang benar-benar berniat untuk tidur.
Pak Ratmo tersenyum melihat Mirna yang sedang tidur dan berkata dalam hatinya,
Owalah Mir... Mir... kamu itu aneh, habis marah-marah dan teriak-teriak, sekarang kamu malah tidur nyenyak. Mungkin kamu terlalu banyak memakai energimu untuk marah-marah jadinya kamu kecapekan sekarang.
Kemudian Pak Ratmo menutup pintunya kembali dengan pelan dan hati-hati agar Mirna tidak terganggu dan terbangun mendengar suara pintu.
Karena Mirna sudah mengetahui jam berapa Pak Ratmo berangkat tiap hari, jadi dia menunggu Pamannya itu berangkat kerja, setelah itu dia keluar dari kamarnya.
Mirna sudah merencanakan semuanya semalam dan dia sudah bertekad untuk menemui Ustad Fariz dan memohon padanya dengan cara apapun agar dia bisa kembali bersamanya.
Mirna celingak-celinguk mengamati keadaan sekitarnya, merasa aman tidak ada Anita ataupun Pak Ratmo, segera Mirna keluar dari kamarnya dan dengan langkah cepatnya dia keluar rumah menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Mirna berjalan tergesa-gesa menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin dengan membawa lembaran surat hasil dari persidangan perceraiannya dengan Ustad Fariz.
Dengan hati yang kesal penuh amarah Mirna mendatangi Pondok Pesantren Al-Mukmin. Sesampainya di sana, dia melihat Rhea sedang menjemur pakaian dengan mendendangkan shalawat Nabi.
Senang sekali dia udah bikin aku menderita. Lihat wajahnya itu, seolah mengejekku. Awas aja, aku akan membalasmu! Mirna berkata dalam hati dengan penuh emosi, matanya penuh kebencian melihat Rhea, nafasnya naik turun dan hidungnya kembang kempis menahan amarahnya.
__ADS_1
Mirna menghampiri Rhea yang sedang asyik dengan kegiatan jemur menjemurnya dan bersenandung shalawat dengan riangnya.
Tiba-tiba Mirna menjambak hijab Rhea ke belakang dengan kuatnya hingga Rhea berteriak kesakitan. Namun Mirna tidak begitu saja melepaskannya. Semakin Rhea berteriak kesakitan semakin kuat tangan Mirna menjambak hijabnya.
"Dasar pelakor, bisanya kamu tertawa di atas penderitaanku. Perebut suami orang, perebut kebahagiaan, dasar tidak tau diri!" Mirna menjambak hijab Rhea semakin kuat seiring perkataan kebenciannya pada Rhea.
"Aduh... aduh.... sakit Mbak, lepasin....," Rhea berteriak semakin kencang tatkala tangan Mirna semakin kuat menjambaknya.
"Enak aja lepasin, ini masih kurang buat kamu. Aku lebih menderita dari kamu," Mirna bertambah kencang menarik-narik hijab Rhea.
Mirna tidak sadar jika banyak santri yang melihatnya dan teriakan kemarahan serta teriakan kesakitan Rhea mengundang banyak perhatian dari para santri yang ada di sekitar dan tentunya orang yang berada di dalam rumah Umi Sarifah.
"Suara apa itu?" Umi Sarifah kaget mendengar suara teriakan dari luar rumah.
Ustad Fariz dan Ustad Jaki mencoba mendengarkan dengan seksama.
"Astaghfirullahaladzim... Rhea...," Ustad Fariz berlari menuju luar dimana Rhea sedang menjemur pakaian.
Ustad Jaki dan Umi Sarifah tegopoh-gopoh mengikuti Ustad Fariz di belakangnya.
"Mirna, apa yang kamu lakukan?!" teriak Ustad Fariz dari kejauhan ketika melihat Mirna masih menjambak dan menarik hijab Rhea dengan sangat kuat.
Mendengar suara Ustad Fariz, Mirna jadi sadar jika dia membuat Ustad Fariz kembali memarahinya. Sontak saja tangan Mirna lepas dari hijab Rhea dan mendorongnya menjauh dari dirinya sehingga badan Rhea terhuyung dan jatuh terduduk di tanah.
"Astaghfirullahaladzim Zahra....," Ustad Fariz segera berlari ke arah Rhea.
Rhea meringis memegang perutnya. Dia khawatir jika terjadi apa-apa dengan kandungannya.
__ADS_1