
Poligami, kata yang paling ditakuti dan bahkan dibenci oleh banyak kaum wanita. Sama halnya dengan Shinta, dia juga tidak menginginkan untuk dimadu oleh suaminya. Dalam umur pernikahan yang baru beberapa bulan dan baru saja dia kehilangan janin dalam kandungannya, dalam waktu itu juga dia mendengar seorang wanita yang rela menjadi istri kedua untuk suaminya.
Dunia Shinta terasa gelap, tenaga yang dia kumpulkan sedari tadi untuk bisa berjalan dari kamar menuju ruang tamu terasa sudah mulai surut. Kepalanya berputar-putar seiring rasa sakit hati, ketakutan dan keinginannya untuk memberontak, namun semakin kuat keinginannya itu, semakin melemah tubuhnya, sehingga dalam waktu sekejap saja Shinta tidak merasakan apa-apa. Bahkan teriakan Ustadz Jaki yang kini menjadi suami yang dicintainya pun tidak bisa menyadarkannya.
"Shinta! Sayang... bangun!" teriak Ustadz Jaki ketika mendapati istrinya pingsan dalam pelukannya.
Umi Sarifah, Rhea dan Ustadz Fariz pun kaget dengan teriakan Ustadz Jaki yang meneriakkan nama istrinya, mereka mendekat untuk melihat keadaan Shinta.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit," ucap Ustadz Fariz khawatir.
Ustadz Jaki membawa masuk tubuh istrinya dengan menggendongnya menuju ke dalam kamar yang biasanya digunakan untuk tamu menginap yang berada di bawah.
"Loh kenapa gak dibawa ke rumah sakit Le?" tanya Umi Sarifah dengan cemas.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Umi Sarifah, Ustadz Jaki segera keluar kamar setelah meletakkan tubuh Shinta di atas ranjang. Umi Sarifah, Ustadz Fariz dan Rhea merasa heran dan bingung dengan apa yang dilakukan oleh Ustadz Jaki.
"Mbak Atik, tolong panggilkan dokter di klinik Pondok Pesantren!" Ustadz Jaki berteriak memerintahkan pada Mbak Atik.
Mbak Atik tergopoh-gopoh berlari dari arah dapur, dia tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
"Iya Ustadz, kenapa?" tanya Mbak Atik dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Tolong panggil dokter di klinik Pondok Pesantren sekarang, dan tolong suruh pulang mereka yang ada di ruang tamu," Ustadz Jaki mengulang kembali perintahnya pada Mbak Atik dengan suara yang keras agar terdengar dari ruang tamu.
"Yang di ruang tamu? Ustadzah Farida? Kok disuruh pulang Ustadz?" Mbak Atik malah bertanya balik karena bingung.
"Cepetan Mbak, kebanyakan nanya. Jam bertamu sudah habis!" Ustadz Jaki lebih mengeraskan suaranya agar didengar oleh Ustadzah Farida dan ibunya yang masih berada di ruang tamu.
__ADS_1
"Ba-baik Ustadz," ucap Mbak Atik kemudian berlari kecil menuju ruang tamu.
Mbak Atik menyampaikan agar Ustadzah Farida dan ibunya segera pulang dan tanpa menunggu mereka pergi, Mbak Atik segera berlari ke klinik Pondok Pesantren untuk memanggil dokter yang sedang berjaga. Namun sayangnya dokternya sedang tidak ada yang berjaga, hanya ada perawat yang berjaga malam itu. Terpaksa perawat tersebut yang diajak oleh Mbak Atik untuk segera ke rumah Umi Sarifah.
"Bu, ayo pergi," Ustadzah Farida mengajak ibunya untuk segera pergi, namun ibunya masih saja bertahan di sana, tidak mau pergi.
"Kita tunggu dulu di sini, kita lihat dulu apa yang terjadi, siapa tau kita bisa bantu," jawab ibu dari Ustadzah Farida.
"Malu Bu... udah ayo pergi sekarang," Ustadzah Farida berdiri dan menarik tangan ibunya untuk segera keluar dari rumah Umi Sarifah.
Sedangkan di dalam kamar, Ustadz Jaki masih saja cemas dan berusaha menyadarkan istrinya yang sedang pingsan.
"Le, kenapa gak dibawa ke rumah sakit aja langsung?" Umi Sarifah kembali bertanya pada Ustadz Jaki.
"Iya Ustadz, biar cepat sadar," Rhea menimpali ucapan Umi Sarifah.
"Eh... eh... ngapain kamu?" tanya Ustadz Fariz yang kaget dengan apa yang akan dilakukan oleh Ustadz Jaki.
"Cuma mau kasih nafas buatan aja kok biar cepat sadar," jawab Ustadz Jaki yang bersiap akan memberikan nafas buatan untuk istrinya.
"Eh pakai minyak angin atau minyak kayu putih aja, kalau pakai nafas buatan yang keenakan kamu," Ustadz Fariz menghentikan aksi nafas buatan yang akan diberikan Ustadz Jaki pada Shinta.
"Ck, kan biar cepet," ucap Ustadz Jaki yang bersiap akan memberikan nafas buatan pada istrinya.
"Nanti aja di kamar kalau gak ada orang, sekarang pakai ini aja dulu," Ustadz Fariz memberikan minyak angin pada Ustadz Jaki yang barusan diambilnya dengan cepat.
"Buruan Le, biar cepat sadar istrimu," Umi Sarifah memerintahkan pada Ustadz Jaki.
__ADS_1
Rhea tersenyum dari tempat duduknya melihat Ustadz Jaki yang menurutnya masih sempat cemburu dan bertingkah konyol dalam keadaan istrinya sedang pingsan. Rhea duduk di kursi yang ada di dalam kamar tersebut, karena kehamilannya yang sudah besar itu membuatnya sering kelelahan.
"Ustadz... Ustadz... ini adanya cuma perawatnya saja, dokternya gak ada," Mbak Atik mengatakannya dengan nafas yang tersengal-sengal dengan seorang perawat wanita yang mengikutinya di belakang.
"Ya udah, coba kamu tolong sadarkan istri saya, tadi dia pingsan," Ustadz Jaki memberi perintah agar perawat tersebut mendekat pada istrinya untuk memeriksanya.
Perawat tersebut pun mendekat, namun perlahan mata Shinta mulai terbuka. Shinta mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan binar cahaya dari lampu yang masuk ke retina matanya.
"Shinta, Sayang kamu udah sadar?" ucap Ustadz Jaki senang melihat istrinya yang sudah membuka matanya.
Ustadz Jaki menciumi tangan istrinya berkali-kali dan mendekatkan wajahnya, namun ada suara yang menghentikannya.
"Udah sadar, gak usah kasih nafas buatan. Boleh cium tapi yang di atas aja, masih banyak orang," Ustadz Fariz menghentikan Ustadz Jaki yang menurutnya akan menyosor bibir istrinya.
Ustadz Jaki menoleh pada Ustadz Fariz dan menatapnya dengan tajam, sedangkan Ustadz Fariz yang ditatap hanya tersenyum jahil pada Ustadz Jaki. Setelah itu Ustadz Jaki mencium kening istrinya dan berucap,
"Makasih ya kamu udah sadar," sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua pipi istrinya dan ibu jarinya mengusap-usap pipi istrinya.
"Ehemm... yuk pada keluar, sepertinya ada yang kebelet mau kasih nafas buatan dari tadi," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh menggoda Ustadz Jaki sambil menggandeng Rhea untuk keluar kamar tersebut diikuti oleh Mbak Atik dan perawat itu pun ikut keluar dari kamar tersebut.
"Ya sudah, Umi keluar dulu. Kalau ada apa-apa langsung bilang aja ya. Oh iya Le, kalau mau pindah ke kamar kalian juga gapapa, barangkali kalian gak nyaman kalau tidur di kamar ini," ucap Umi Sarifah sebelum keluar dari kamar tersebut.
"Siap Umi ku yang cantik," jawab Ustadz Jaki sambil tersenyum lebar pada Umi Sarifah.
Umi Sarifah menggeleng sambil tersenyum, dia sungguh heran dan terhibur dengan tingkah Ustadz Jaki yang kadang masih seperti anak kecil menurut Umi Sarifah.
"Sayang, apa ada yang sakit?" Ustadz Jaki bertanya pada istrinya dengan cemas melihat semua tubuh istrinya.
__ADS_1
"Apa kamu akan menikah lagi?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Shinta.