
Mirna yang masih dalam keadaan mengantuk, dia mengusap-usap matanya sambil bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Pandu yang sedari tadi mengganggu tidurnya.
"Ada apa sih Mas?" tanya Mirna dengan sangat malas karena masih merasa ngantuk.
"Aku... aku..."
"Aku apa?" tanya Mirna dengan suara lemah dan sedikit kesal.
Tiba-tiba saja Pandu meraih tengkuk Mirna dan menciumnya dengan paksa. Awalnya Mirna memberontak karena dia tidak mau disentuh oleh Pandu. Namun lama-kelamaan Mirna berhenti memberontak, dia menikmati ciuman tersebut hingga lama kelamaan dia terbuai dan membalas ciuman tersebut.
Merasa Mirna sudah tidak menolaknya, Pandu segera memberikan sentuhan-sentuhannya pada tubuh Mirna yang sekarang sudah menjadi istri sahnya.
Tidak ada penolakan dari Mirna, dia malah menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh Pandu. Sehingga membuat Pandu bertambah semangat dan memberikan yang lebih dari hanya sekedar sentuhan.
Ternyata malam ini benar-benar malam pengantin mereka. Ranjang yang tadinya dingin, kini menjadi panas dan penuh dengan peluh mereka.
Kamar yang tadinya sunyi, kini tidak menjadi sunyi lagi. Suara erangan dan lenguhan memenuhi kamar pengantin baru itu. Hingga tuntaslah semuanya setelah mereka merasakan keinginannya sudah terpenuhi.
Pandu merebahkan tubuhnya di atas ranjang bersebelahan dengan Mirna yang nafasnya masih tidak beraturan.
Pandu tersenyum puas dan Mirna pun demikian. Mereka berdua tidak menyangka jika akan melakukan hal itu di malam pertama pernikahan mereka.
Mereka berdua sudah sama-sama tidak melakukan hal itu sejak berpisah dengan pasangan mereka. Kini mereka merasakan kembali kenikmatan dunia pernikahan yang sering dibicarakan oleh banyak orang.
Mirna sendiri tidak mengira jika yang dia rasakan saat ini sangat berbeda dengan apa yang dia pernah rasakan dengan mantan suaminya dulu. Yang dia rasakan saat ini lebih memuaskan hati dan pikirannya.
Sedangkan Pandu, merasakan hal yang berbeda dengan apa yang dulu dia lakukan dengan Ani. Mirna jauh lebih agresif dari Ani. Dan tentunya Mirna lebih bisa membuatnya puas setelah melakukan hal itu bersamanya.
Pandu meraih tubuh Mirna dan membawanya dalam dekapannya. Mirna pun membalas memeluk tubuh suaminya. Tangan Mirna melingkar di pinggang suaminya dengan erat. Begitupula dengan Pandu.
Diciumnya kening Mirna dan kemudian dia berkata,
"Tidurlah."
Setelah itu dia mencium kembali kening Mirna dan mendekapnya lebih erat sambil memejamkan matanya untuk beristirahat setelah pergulatan panas mereka untuk menyambut pagi di hari baru dalam kehidupan mereka.
Pagi harinya, Mirna terbangun terlebih dahulu. Dia sempat kaget karena posisi tidurnya sekarang ini sedang berada dalam pelukan Pandu yang tidak memakai baju. Dan dia pun melihat dirinya sendiri yang sama dengan Pandu, tidak memakai apapun di tubuh bagian atasnya.
Dibukanya kain penutup yang digunakan mereka berdua sebagai selimut. Betapa kagetnya Mirna ketika melihat tubuh bagian bawah mereka juga tidak memakai apapun.
__ADS_1
Namun beberapa detik kemudian dia mengingat malam panas mereka yang dilaluinya dengan penuh senyuman dan kepuasan, sehingga kini dia tidak menjadi kesal ataupun marah pada Pandu yang sudah menjadi suaminya sekarang ini.
Tidak dipungkiri oleh Mirna jika memang dia juga membutuhkan hal itu. Sebagai wanita dewasa yang sudah pernah menikah dan pernah melakukan hal tersebut, tidak diragukan lagi jika ada kalanya dia merasa membutuhkan hal tersebut.
Mirna menatap wajah Pandu yang masih tertidur lelap. Dia tersenyum melihat Pandu yang sebenarnya wajahnya bisa meluluhkan hatinya.
"Ganteng," ucap Mirna lirih tanpa bersuara, dia hanya menggerakkan mulutnya untuk mengeluarkan kata tersebut.
Mirna segera turun dari ranjangnya dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya sebelum Pandu membuka matanya. Dia masih belum terbiasa dan dia masih malu pada Pandu yang kini sudah menjadi suaminya dan sudah melakukan malam pengantin bersamanya.
Setelah Mirna berpakaian rapi, dia membangunkan Pandu karena jam di dinding kamar mereka sudah menunjukkan pukul enam kurang lima menit.
"Mas, mas Pandu, Mas...," Mirna duduk di dekat Pandu dan menggoyang-goyangkan lengan Pandu agar Pandu terbangun dari tidurnya.
Mata Pandu mengerjap dan terbuka menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam retina matanya.
"Ada apa?" tanya Pandu dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sudah pagi," jawab Mirna lirih sambil menatap ke lain arah karena malu pada suaminya.
"Jam berapa?" tanya Pandu yang masih mengusap-usap matanya.
Pandu pun membuka kain penutup yang dia gunakan menjadi selimut, tanpa dia sadari jika dia tidak memakai apapun di tubuhnya.
Dengan segera Mirna mengambil kain selimut tersebut dan dililitkan pada tubuh Pandu. Tentu saja Pandu merasa kaget ketika Mirna dengan cepatnya bergerak ke arahnya dan menutupi tubuhnya.
"Malu mas kalau dilihat orang," ucap Mirna yang kemudian berjalan dengan cepat sambil berlari kecil keluar dari kamar tersebut.
Pandu melihat dirinya sendiri setelah mendengar ucapan dari Mirna sebelum keluar dari kamar mereka.
"Ya ampun.... aku lupa jika semalam kita....."
Pandu tertegun setelah mengucapkannya, dia mengingat kejadian semalam yang dilakukannya bersama dengan Mirna.
Bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman. Pandu bersyukur karena Mirna tidak menolaknya.
Dulu, sebelum mereka menikah, Pandu takut jika Mirna menolaknya dan menghinanya karena dia tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakannya.
Namun kini dia bisa tersenyum lega karena Mirna tidak menolaknya meskipun pernikahan mereka karena keadaan dan paksaan.
__ADS_1
"Mas, diminum dulu tehnya. Dan ini, aku udah siapkan sarapannya," ucap Mirna yang sudah duduk di kursi makan yang sederhana, terbuat dari kayu dan terkesan sudah berumur tua.
Pandu pun meletakkan handuk yang dipakainya untuk mengeringkan rambutnya di punggung kursi makan yang akan didudukinya.
"Sini Mas handuknya biar aku jemur dulu," ucap Mirna sambil mengulurkan tangannya untuk meminta handuk yang tadi digunakan oleh Pandu.
"Minum dulu teh hangatnya, mumpung masih hangat," ucap Mirna sebelum berjalan untuk menjemur handuk tersebut.
"Mir, apa ini... mmm..."
"Apa sih Mas?" tanya Mirna yang heran melihat suaminya ragu berbicara padanya.
"Ini... ini bukan minuman seperti kemarin kan?" tanya Pandu pada Mirna sambil memegang gelas yang berisi teh.
"Yang kemarin? Oh yang semalam? Memangnya kenapa Mas? Apa capek Mas Pandu langsung hilang setelah meminum teh herbal yang semalam aku buatkan?" Mirna memberondong Pandu dengan beberapa pertanyaan sambil tersenyum tanpa sadar karena merasa apa yang dilakukannya dihargai oleh suaminya.
"Bukan begitu Mir. Minuman herbal yang kamu maksud kemarin adalah obat herbal yang dibuatkan oleh bapaknya Ani untukku," Pandu menjawab pertanyaan Mirna.
"Obat? Apa Mas Pandu sakit? Mas Pandu sakit apa?" ucap Mirna sambil mendekat dan duduk di kursi depan Pandu sambil membawa handuk yang akan dijemurnya tadi.
"Aku gak sakit. Obat itu hanya untuk memulihkan ingatanku yang dulu pernah hilang karena kecelakaan," jawab Pandu kemudian.
Pandu menghela nafasnya, dia kini merasa harus menceritakan pada Mirna agar dia tidak dipandang sebelah mata oleh Mirna.
Menurutnya kini dia bisa menyombongkan masa lalunya ketika masih dalam keadaan berjaya, tidak kurang suatu apapun. Berbeda sekali dengan saat ini.
Pandu tetaplah Andri yang masih saja ada sikap sombong dan penuh percaya diri sama seperti dirinya di masa lalu.
Apa yang dilaluinya sekarang ini tidak merubah watak, sikap dan sifat dari seorang Andri meskipun sudah berganti nama menjadi Pandu.
"Hah? Maksudnya?" Mirna kaget mendengar penjelasan dari Pandu.
"Sepertinya aku harus menceritakannya padamu," ucap Pandu kemudian yang diangguki dengan cepat oleh Mirna.
Pandu pun menceritakan tentang masa lalunya bersama dengan Rhea dan menceritakan kecelakaannya di hutan yang mempertemukannya dengan Pak Minto dan Ani.
Hanya saja Pandu tidak menceritakan tentang perselingkuhannya dengan Silvi, karena menurutnya itu akan membuat nilai plus dalam dirinya berkurang.
Rhea lagi? Kenapa hidupku selalu berhubungan dengan dia? Apa ini seperti jodoh yang tertukar? Aku tidak akan mengalah lagi padanya. Lihat saja nanti. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk sekarang, batin Mirna sambil mendengarkan cerita Pandu.
__ADS_1